MANAGED BY:
RABU
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 16 April 2017 18:39
Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai
MENGGIURKAN: Penjual kue cincin Talipuk di Pasar Amuntai.

PROKAL.CO, Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup tua. Bahan baku kue ini khas karena  terbuat dari biji talipuk atau teratai.

========================== 

MUHAMMAD AKBAR, Amuntai

==========================

Talipuk atau Teratai (Nympheea) dalam bahasa latin, merupakan tanaman air yang memiliki bunga cantik. Didalam bunga yang mekar tersebut terdapat biji-bijian yang dapat disulap menjadi tepung sumber karbohidrat. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tepung ini dapat diolah menjadi kue yang cukup disukai warga.

Di Amuntai,  kue cincin talipuk  hanya dihargai Rp 500 perbuah . Cukup murah untuk proses dan bahan baku kue itu sendiri. Sedihnya kue ini semakin terpinggirkan dengan kue-kue kekinian yang lebih menarik.

Di salah satu sudut Pasar Induk Amuntai, aroma kue yang diproses melalui cara digoreng itu terciumwangi. Membuat  pengunjung pasar terbesar di HSU tersebut tergoda.

Tak sedikit pengujung yang datang menghapiri lapak milik Hj Noor (55). Pedagang wadai asal Kecamatan Danua Panggang itu mengatakan banyak sekali orang yang suka Talipuk.  "Memang orang-orang tertentu saja yang datang mencari kue ini. Entah kangen dengan rasa Wadai talipuk ini. Setidaknya masih ada penggemar kue buatan kami," ujarnya baru-baru ini.

Kalau pembeli dari berbagai latar belakang mulai pelajar, warga umum, pegawai sampai pedagang yang berjualan di pasar ini. "Sehari bisa menghabiskan adonan talipuk sekitar 2 kilo sampai satu belek. Tergantung musim pembeli. Yang jelas saat Pasar Kamis (hari pasar, red) jualan juga laris manis," jawabnya.

Untuk bahan baku kue, Noor yang ramah melayani pembeli ini mengatakan  bahwa Tepung teratai atau talipuk diperoleh dari warga juga di Kecamatan Banjang yang meracik biji teratai menjadi tepung.

Katanya biji teratai dipetik dari bunga lotus tersebut, selanjutnya direndam untuk proses pelepasan daging buah dan biji.

Selanjutnya, biji dikumpulkan dan dijemur lalu kemudian di tumbuk menjadi tepung lalu dijual. Harga satu belek tepung ukuran kurang dari 5 kilogram, sekitar Rp 50 ribu rupiah. Selanjutnya tepung tersebut di campur dengan gula merah.

Dalam sebulan sebut Noor mampu menghabiskan empat belek tepung teratai. Cara menggorengnya pun   pakai kayu dengan panjang sekitar 50 Cm, atau bambu yang dimasukkan ke lubang kue. Sebab model kue ini seperti huruf 'O'.

"Kalau ramai bisa habis empat belek dalam sebulan. Namun apabila sepi pembeli untung bisa habis tiga belek. Namun alhamdulillah lewat jualan ini anak-anak mampu menjadi sarjana. Bahkan ada yang sudah bekerja di kantoran," sebut perempuan yang berhaji melalui berkah jualan kue cinta tersebut.

Saat ini, tersisa dua penjual kue cinta yang masih bertahan di pasar besar HSU tersebut. Regenerasi katanya jangan ditanya, anak sekarang lebih pilih sekolah dibandingkan berjualan seperti ini.

"Ada yang pergi ada yang datang. Mudahan kue tradisional khas Amuntai ini. Bisa tetap ada. Meski banyak kue baru bermunculan saat ini," harapnya. (ran/ema)


BACA JUGA

Senin, 18 September 2017 15:59

Seminar Nasional Dies Natalis ULM ke-59

Tahun ini, usia Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sudah memasuki ke-59. Menyambut bertambahnya usia…

Sabtu, 16 September 2017 17:32

Menengok Kehidupan Pekerja Sosial di Panti Budi Luhur Banjarbaru

Bagi banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) hari Jumat berarti waktunya pulang lebih cepat. Namun, hal tersebut…

Jumat, 15 September 2017 13:47

Mengenal Peserta Duta Damai Dunia Maya Kalsel

Propaganda dan provokasi untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa melalui dunia maya, saat…

Senin, 11 September 2017 15:22

Penyair Joko Pinurbo Bicara Pajak Penulis di Banjarbaru

Komunitas Penulis Banjarbaru menghadirkan Penyair Joko Pinurbo ke Banjarbaru. Banyak hal yang dibincangkan…

Senin, 11 September 2017 12:06

Perjuangan Suratman dan Rusmi, Suami Istri Transmigran Batu Ampar

Andai mereka menyerahkan dan balik kembali ke daerah asalnya di Tuban, tentulah Tanah Laut tidak mengenal…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Jumat, 08 September 2017 14:52

Langka, Aksi Polisi Aribowo “Jinakkan” ODMK

Sepertinya tidak sembarang polisi mampu menjadi Bhabinkamtibmas. Seorang yang serba bisa di samping…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .