MANAGED BY:
MINGGU
30 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 18 April 2017 10:56
Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Kisah yang Perlu Diketahui

Kumpulan Masjid Kecil, Peribadatan Selalu Ramai

BERTAHAN: Masjid Jami Sungai Jingah dibangun dengan bahan kayu ulin.

PROKAL.CO, Sebagai salah satu masjid tertua di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tentu memiliki kisah historis. Bagaimana ceritanya?

------------------------------------------------

Donny Muslim, Banjarmasin

------------------------------------------------

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” azan Zuhur kembali berkumandang pada siang (17/4) di masjid yang diceritakan nomer dua tertua di Banjarmasin itu. Satu persatu jemaah salat Zuhur berdatangan memenuhi panggilan.

Setelah masuk dalam bangunan masjid, corak-corak arsitektur khas Joglo dari Jawa akan kita temukan. Nilai historis akan terasa karena masjid ini hanya direnovasi sedikit-sedikit saja tanpa mengurangi keaslian gaya bangunan masjid. Misalnya, kayu ulin dipertahankan sebagai bahan bangunan masjid. Ini menjadi bukti bahwa Masjid Jami masih menjaga rasa otentikannya.

Seraya menunggu ikamah, para jemaah disibukkan dengan berbagai aktivitasnya masing-masing. Ada yang membaca kitab suci Alquran, ada yang melaksanakan salat sunah, ada juga yang sibuk mengobrol dengan rekan-rekannya. “Masjid ini tidak hanya termasuk tertua. Tapi, masjid ini juga lumayan aktif melakukan kegiatan peribadatan dan sosial kemasyarakatan,” ujar Radiansyah, Sekretaris Umum Pengurus Masjid Jami Sungai Jingah.

Masjid ini didirikan tahun 1777 pada masa Sultan Tamjidillah. Sultan Tamjidillah adalah Sultan Sepuh dari Kerajaan Banjar. “Jadi sudah sekitar 240-an tahun,” tutur Radi.

Pada awalnya, masjid ini didirikan bukan berada di tempat yang sering Anda lihat sekarang. “Namun dulu di tepian Sungai Martapura,” tuturnya. Bentuknya saja bukan masjid kala itu. Hanya sebatas langgar atau surau. “Di Jalan Panglima Batur,” jelas Radi.

Namun karena terjadinya longsor pada tanah masjid tersebut, akhirnya masjid dipindah menuju Kelurahan Antasan Kecil. “Ini karena pengikisan air sungai atau erosi,” tuturnya.

Dinamakan Masjid Jami atas inisiatif warga untuk membentuk sebuah masjid besar dari yang awalnya hanya masjid-masjid berskala kecil di Kota Banjarmasin. “Makanya namanya Masjid Jami yang berarti mengumpulkan masjid-masjid berskala kecil,” tuturnya.

Dengan semangat gotong royong warga Kota Banjarmasin pada kala itu, Masjid Jami akhirnya didirikan hasil keringat dan tangan warga-warga Kota Banjarmasin secara gotong-royong.

“Pada saat itu masyarakat banyak yang merelakan hartanya hanya semata untuk pembangunan masjid,” tuturnya. Barang-barang yang dimaksud adalah hasil-hasil dari pertanian, emas, atau uang.

Tenaga masyarakat juga berkontribusi luar biasa untuk pembangunan masjid. “Misalnya ada dari pihak warga yang mengangkut pasir dari Pulau Kembang menuju lokasi pembangunan masjid,” tuturnya. Pada kala itu, seruan Sultan Tamjidillah diterima oleh masyarakat.

Sampai sekarang masjid ini berkembang begitu pesatnya. Berbagai kegiatan peribadatan selalu ramai berjejal diisi oleh jemaah dari berbagai kalangan. “Apalagi jika ada pengajian Guru Zuhdianoor, membeludak sampai keluar masjid,” jelasnya. Masjid ini memiliki daya tampung 3.000 manusia.(az/dye)


BACA JUGA

Minggu, 30 April 2017 16:51

Mengikuti Kampung Purun Banjarbaru Studi Banding ke Desa Palimbangan Sari

Pagi masih buta. Tiga buah mobil dipenuhi para pengrajin purun yang kebanyakan perempuan terlihat melaju…

Sabtu, 29 April 2017 12:50

Melihat Indahnya Masjid Agung Al-Falah di Batulicin

Mengunjungi masjid dengan gaya arsitektur timur tengah tidak perlu ke Arab. Di Batulicin sudah berdiri…

Sabtu, 29 April 2017 12:34

Lihat Nih Aksi Nyentrik Aiptu Mujianto, Acara Nikahan Jadi Heboh

Masih ingat dengan polisi yang suka bagi-bagikan sembako ke fakir miskin? Usai ledakan popularitasnya…

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Sabtu, 22 April 2017 13:25

Kisah Warga Banua Bantu Pengungsi Suriah di Eropa

Niat awal Oce Oktoman Anggakusumah hanya ingin jalan-jalan ke Eropa. Namun, rasa kemanusiaan pemuda…

Sabtu, 22 April 2017 12:46

Yulianti, Kartini dari Pedalaman Meratus, Mengajar Bermodal Ijazah Paket C

Mentari belum sempurna menampakkan diri, Yulianti (24) sudah bergegas mengenakan pakaian rapi untuk…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .