MANAGED BY:
SABTU
23 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 21 April 2017 14:25
Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Dilupakan BLT dan Raskin, Alhamdulillah dapat Rumah

TERTAWA: Sekdako Banjarbaru Said Abdullah dan Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan mengapit Heri Suntara dan Mugniansyah dalam peresmian rumah difabel di Jalan Trikora.

PROKAL.CO, Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni perdana rumah difabel, terobosan yang terbilang baru di Kalimantan Selatan.

-----------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-----------------------------------------------

SELAMA ini Heri tinggal di sebuah perumahan tipe sederhana di kawasan Landasan Ulin bersama istri dan putrinya yang masih balita. Di situ ia membuka praktek pijat tradisional, pekerjaan yang akrab dilakoni seorang (maaf) tunanetra.

Heri tertarik menghuni rumah difabel karena rumahnya jauh dari jalan raya. "Rumahnya di pelosok, jauh masuk ke dalam. Jadi usaha saya sepi, tidak berkembang sejak buka tiga tahun lalu," ujarnya, Kamis (13/4) saat peresmian rumah difabel.

Sementara perumahan difabel itu memilih lokasi di Jalan Trikora, Kelurahan Guntung Manggis, sekitar 200 meter dari Rumah Sakit Idaman. Trikora masih banyak memiliki lahan kosong. Masih punya potensi besar untuk berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

"Ini bukan di tengah hutan, Trikora strategis. In shaa Allah bakal cocok untuk usaha saya. Yang terpenting mensyukuri nikmat yang ada," tukas pria 36 tahun itu sumringah. Heri tidak buta sejak lahir, ia kehilangan daya penglihatan pada usia tujuh tahun karena sakit.

Heri dan Mugniansyah, 40 tahun, calon penghuni rumah di sebelahnya, digandeng Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan dan Sekdako Banjarbaru Said Abdullah. Berkeliling meraba-raba tembok ruang tamu, kamar, dan toilet.

Sebelum peresmian rumah, mereka unjuk kebolehan melantunkan syair dan memukul rebana, memainkan Maulid Habsyi di depan para tamu undangan dan awak media.

"Kalau saya tinggal di belakang Kolam Renang Idaman, di Kemuning. Sampai sekarang masih ngontrak. In shaa Allah saya mau tinggal di sini," sambung Mugniansyah.

Mahyuni, difabel lainnya, mengaku sekarang merasa diperhatikan pemerintah. "Bagi seorang difabel, sudah biasa dilupakan lurah atau Ketua RT. Ketika ada pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau Raskin (Beras untuk Warga Miskin), sebagian kawan-kawan difabel sering terlewat," kisahnya.

Selain menjadi pemijat, sebagian difabel menjadi pengamen. Sekdako merasa prihatin. Selain diterpa panas dan hujan, usaha itu juga kadang membuat mereka lupa waktu. Terlewat dari salat lima waktu.

"Saya tidak memaksa mereka berhenti ngamen. Tapi alangkah bagusnya mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat. Makanya di perumahan sini bakal ada pendopo yang diisi pelatihan-pelatihan keterampilan kerja," tukas Abdullah.

Perumahan difabel itu digagas Abdullah. Ditargetkan bakal ada 41 rumah untuk 41 kepala keluarga difabel. Menyusul pembangunan musala, pendopo, dan kantor sekretariat pengurus. Lengkap dengan pengadaan Alquran dalam huruf Braille.

Satu rumah ongkosnya mencapai Rp55 juta. Dikumpulkan dari iuran sukarela pejabat dan pegawai Pemko. Ditambah bantuan CSR dari perusahaan dan perbankan. Wawali Darmawan menyebut program ini bukti Banjarbaru sebagai kota ramah difabel. Ia mengimbau pejabat dan pegawainya tak ragu menyumbang sebagai amal jariyah. (by/ram) 


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Rabu, 30 Agustus 2017 14:32

Menengok Tradisi Warga Kandangan Membawa Senjata Tajam

Kandangan dikenal sebagai tanah jawara. Konon dulu di daerah ini ada banyak jagau. Warganya dikenal…

Selasa, 29 Agustus 2017 16:31

Fotografer Banua Menggali Ilmu Fotografi Komersial

Selain dituntut profesional, seorang fotografer komersial juga harus pintar mengkhayal. Pelajaran itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .