MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 21 April 2017 16:10
Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Di Pulau Sembilan listrik hanya menyala pada malam hari, dan sinyal seluler hanya ada di titik tertentu. Para pelajar kekurangan informasi. Jangankan baca berbagai macam tulisan di internet, buku cetak saja sangat minim. Terkadang dengan hanya mengandalkan kualitas jaringan EDGE dia menjalin komunikasi dengan teman dan keluarganya.

Nurhikmah adalah lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2008. Dari muda sudah sering berkegiatan dalam tema pendidikan. Lepas kuliah dia sibuk mengajar, di Pinrang, NTT, balik ke Gowa Makassar dan kemudian ke Pulau Sembilan.

Kepada para sahabatnya Nurhikmah menceritakan keterbatasan Pulau Sembilan. Anak-anak yang hanya kenal laut namun punya semangat tinggi. Dia pun meminta bantuan buku-buku. Dan dalam waktu singkat Rumah Baca Ceria Ana' Eke berdiri. Ana' Eke berasal dari bahasa lokal, Mandar, yang artinya anak-anak.
Tina Kartina, bersama guru wanita lainnya Reni Novika asal Jatim yang mengajar di SD. Kemudian Arni Anissa dan May Sarah honor yang sudah hampir sepuluh tahun, bersama-sama mengembangkan Rumah Baca Ana' Eke.

Buku-buku terus berdatangan. Bukan cuma buku anak-anak, tapi juga untuk remaja dan dewasa. Bahkan buku kisah Dahlan Iskan juga ada. Novel, buku Iptek semuanya. Juga buku untuk warga seperti beternak, melaut, pertukangan dan lainnya. "Sudah banyak, sudah ratusan buku," ungkap Nurhikmah.

Buku-buku itu datang dari segala penjuru, dari orang-orang yang peduli. Sulawesi, Pulau Jawa dan lainnya. "Dan banyak juga kiriman dari Banjarmasin. Kan ada beberapa anak sini yang kuliah di Banjarmasin, mereka yang kemudian galang bantuan untuk buku," jelasnya.

Para guru wanita ini rutin di hari tertentu keliling pulau membawa buku. Buku dimasukkan dalam tas dan dibagikan kepada warga atau anak-anak. Nanti mereka ke sana lagi mengambil untuk dibagikan ke desa atau pulau lainnya. Kadang naik kapal kadang jalan kaki saja menerabas kebun atau padang ilalang.

Dan sekarang sudah ada beberapa rumah baca. Masyarakat menyambutnya antusias. Anak-anak pada sore hari ramai di pinggir pantai, duduk membaca buku. Yang belum bisa membaca diajarkan. Kadang juga di rumah warga yang tinggi, membaca ditemani pemandangan indah gugusan pulau. Betapa gembiranya Hikmah melihat buku bisa digandrungi anak-anak, meski pada sebagian waktu anak-anak itu harus membagi waktunya membantu orang tua.

Dari semua keterbatasan saran di pulau terpencil Nurhikmah belajar satu hal: usahakan jangan sakit. Jika sudah sakit berat urusannya. Dia pernah suatu waktu diserang penyakit sampai muntah darah. Puskesmas di sana tidak sanggup, ingin ke kota kapal Perintis belum datang. Naik speedboat atau nyewa kapal sendiri berat di kantong. Terpaksa Hikmah harus bersabar menunggu Perintis yang datang seminggu sekali. "Itu susahnya di sana," ujarnya.

Juga kalau musim buruk, gelombang besar. Kapal tidak ada berani ke luar pulau atau masuk. Sembako pun jadi mahal. Apa boleh buat tabungan untuk mudik kembali berkurang. Juga kalau musim kemarau mereka harus ke desa paling ujung hanya untuk mendapatkan air minum.

Sama saja dengan Kartina, Hikmah pun sering merindukan keluarga di kampung halaman. Jika sudah sakit dan tidak berdaya luasnya lautan kadang ingin direnangi. Andai laut itu sekeras daratan, bisa dipijak untuk sampai ke Pinrang Sulawesi Selatan. Sayang beberapa kali ditanya apa penyakitnya Nurhikmah enggan membahasnya.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .