MANAGED BY:
JUMAT
25 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 21 April 2017 16:10
Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Di Pulau Sembilan listrik hanya menyala pada malam hari, dan sinyal seluler hanya ada di titik tertentu. Para pelajar kekurangan informasi. Jangankan baca berbagai macam tulisan di internet, buku cetak saja sangat minim. Terkadang dengan hanya mengandalkan kualitas jaringan EDGE dia menjalin komunikasi dengan teman dan keluarganya.

Nurhikmah adalah lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2008. Dari muda sudah sering berkegiatan dalam tema pendidikan. Lepas kuliah dia sibuk mengajar, di Pinrang, NTT, balik ke Gowa Makassar dan kemudian ke Pulau Sembilan.

Kepada para sahabatnya Nurhikmah menceritakan keterbatasan Pulau Sembilan. Anak-anak yang hanya kenal laut namun punya semangat tinggi. Dia pun meminta bantuan buku-buku. Dan dalam waktu singkat Rumah Baca Ceria Ana' Eke berdiri. Ana' Eke berasal dari bahasa lokal, Mandar, yang artinya anak-anak.
Tina Kartina, bersama guru wanita lainnya Reni Novika asal Jatim yang mengajar di SD. Kemudian Arni Anissa dan May Sarah honor yang sudah hampir sepuluh tahun, bersama-sama mengembangkan Rumah Baca Ana' Eke.

Buku-buku terus berdatangan. Bukan cuma buku anak-anak, tapi juga untuk remaja dan dewasa. Bahkan buku kisah Dahlan Iskan juga ada. Novel, buku Iptek semuanya. Juga buku untuk warga seperti beternak, melaut, pertukangan dan lainnya. "Sudah banyak, sudah ratusan buku," ungkap Nurhikmah.

Buku-buku itu datang dari segala penjuru, dari orang-orang yang peduli. Sulawesi, Pulau Jawa dan lainnya. "Dan banyak juga kiriman dari Banjarmasin. Kan ada beberapa anak sini yang kuliah di Banjarmasin, mereka yang kemudian galang bantuan untuk buku," jelasnya.

Para guru wanita ini rutin di hari tertentu keliling pulau membawa buku. Buku dimasukkan dalam tas dan dibagikan kepada warga atau anak-anak. Nanti mereka ke sana lagi mengambil untuk dibagikan ke desa atau pulau lainnya. Kadang naik kapal kadang jalan kaki saja menerabas kebun atau padang ilalang.

Dan sekarang sudah ada beberapa rumah baca. Masyarakat menyambutnya antusias. Anak-anak pada sore hari ramai di pinggir pantai, duduk membaca buku. Yang belum bisa membaca diajarkan. Kadang juga di rumah warga yang tinggi, membaca ditemani pemandangan indah gugusan pulau. Betapa gembiranya Hikmah melihat buku bisa digandrungi anak-anak, meski pada sebagian waktu anak-anak itu harus membagi waktunya membantu orang tua.

Dari semua keterbatasan saran di pulau terpencil Nurhikmah belajar satu hal: usahakan jangan sakit. Jika sudah sakit berat urusannya. Dia pernah suatu waktu diserang penyakit sampai muntah darah. Puskesmas di sana tidak sanggup, ingin ke kota kapal Perintis belum datang. Naik speedboat atau nyewa kapal sendiri berat di kantong. Terpaksa Hikmah harus bersabar menunggu Perintis yang datang seminggu sekali. "Itu susahnya di sana," ujarnya.

Juga kalau musim buruk, gelombang besar. Kapal tidak ada berani ke luar pulau atau masuk. Sembako pun jadi mahal. Apa boleh buat tabungan untuk mudik kembali berkurang. Juga kalau musim kemarau mereka harus ke desa paling ujung hanya untuk mendapatkan air minum.

Sama saja dengan Kartina, Hikmah pun sering merindukan keluarga di kampung halaman. Jika sudah sakit dan tidak berdaya luasnya lautan kadang ingin direnangi. Andai laut itu sekeras daratan, bisa dipijak untuk sampai ke Pinrang Sulawesi Selatan. Sayang beberapa kali ditanya apa penyakitnya Nurhikmah enggan membahasnya.

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Selasa, 08 Mei 2018 13:36

Bukan Sibuk Main Mobile Legends, Bocah ini Malah Asik Koleksi Perangko

Kecil-kecil, berani tampil beda. Itulah Muhammad Fahriza. Hobinya tak biasa. Jika anak seusianya sibuk…

Senin, 07 Mei 2018 14:17

Mengunjungi Pasar Kajut Edisi ke-IV, Menjual Apa Saja yang Penting Keren

Orang Indonesia mengenal Pasar Kaget. Anak muda Banjarmasin mengenal Pasar Kajut. Inilah wadah banyak…

Sabtu, 05 Mei 2018 19:41

Curahan Lirih dari Pulau Laut: "Mau Tinggal di Mana Kami"

Aksi menolak penambangan batubara di Pulau Laut, Kotabaru, terus dilancarkan. Beragam cara dilakukan…

Sabtu, 05 Mei 2018 12:39

Kisah Mereka yang Ditolak Pulang dari Rumah Singgah Baiman

Rumah Singgah Baiman didirikan untuk menampung ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), pengemis, gelandangan,…

Jumat, 04 Mei 2018 14:17

Mengintip Aktifitas Pelatih Karate Cantik di Banjarmasin

Helda Wahdini punya paras cantik. Tapi di balik kecantikannya orang tidak menduga kalau dia ternyata…

Kamis, 03 Mei 2018 12:27

Eter Nabiring, Penjaga Adat dan Tradisi Suku Dayak Halong

Gelisah akan kemajuan zaman yang menggerus kearifan lokal dan budaya warisan nenek moyang, Eter Nabiring,…

Kamis, 03 Mei 2018 12:03

Hardiknas Berbarengan dengan USBN SLB

Ricky Joevani begitu pendiam. Saat diwawancara, dia lebih banyak mengangguk dan tersenyum. Sesekali…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .