MANAGED BY:
MINGGU
30 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 21 April 2017 16:10
Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Di Pulau Sembilan listrik hanya menyala pada malam hari, dan sinyal seluler hanya ada di titik tertentu. Para pelajar kekurangan informasi. Jangankan baca berbagai macam tulisan di internet, buku cetak saja sangat minim. Terkadang dengan hanya mengandalkan kualitas jaringan EDGE dia menjalin komunikasi dengan teman dan keluarganya.

Nurhikmah adalah lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) tahun 2008. Dari muda sudah sering berkegiatan dalam tema pendidikan. Lepas kuliah dia sibuk mengajar, di Pinrang, NTT, balik ke Gowa Makassar dan kemudian ke Pulau Sembilan.

Kepada para sahabatnya Nurhikmah menceritakan keterbatasan Pulau Sembilan. Anak-anak yang hanya kenal laut namun punya semangat tinggi. Dia pun meminta bantuan buku-buku. Dan dalam waktu singkat Rumah Baca Ceria Ana' Eke berdiri. Ana' Eke berasal dari bahasa lokal, Mandar, yang artinya anak-anak.
Tina Kartina, bersama guru wanita lainnya Reni Novika asal Jatim yang mengajar di SD. Kemudian Arni Anissa dan May Sarah honor yang sudah hampir sepuluh tahun, bersama-sama mengembangkan Rumah Baca Ana' Eke.

Buku-buku terus berdatangan. Bukan cuma buku anak-anak, tapi juga untuk remaja dan dewasa. Bahkan buku kisah Dahlan Iskan juga ada. Novel, buku Iptek semuanya. Juga buku untuk warga seperti beternak, melaut, pertukangan dan lainnya. "Sudah banyak, sudah ratusan buku," ungkap Nurhikmah.

Buku-buku itu datang dari segala penjuru, dari orang-orang yang peduli. Sulawesi, Pulau Jawa dan lainnya. "Dan banyak juga kiriman dari Banjarmasin. Kan ada beberapa anak sini yang kuliah di Banjarmasin, mereka yang kemudian galang bantuan untuk buku," jelasnya.

Para guru wanita ini rutin di hari tertentu keliling pulau membawa buku. Buku dimasukkan dalam tas dan dibagikan kepada warga atau anak-anak. Nanti mereka ke sana lagi mengambil untuk dibagikan ke desa atau pulau lainnya. Kadang naik kapal kadang jalan kaki saja menerabas kebun atau padang ilalang.

Dan sekarang sudah ada beberapa rumah baca. Masyarakat menyambutnya antusias. Anak-anak pada sore hari ramai di pinggir pantai, duduk membaca buku. Yang belum bisa membaca diajarkan. Kadang juga di rumah warga yang tinggi, membaca ditemani pemandangan indah gugusan pulau. Betapa gembiranya Hikmah melihat buku bisa digandrungi anak-anak, meski pada sebagian waktu anak-anak itu harus membagi waktunya membantu orang tua.

Dari semua keterbatasan saran di pulau terpencil Nurhikmah belajar satu hal: usahakan jangan sakit. Jika sudah sakit berat urusannya. Dia pernah suatu waktu diserang penyakit sampai muntah darah. Puskesmas di sana tidak sanggup, ingin ke kota kapal Perintis belum datang. Naik speedboat atau nyewa kapal sendiri berat di kantong. Terpaksa Hikmah harus bersabar menunggu Perintis yang datang seminggu sekali. "Itu susahnya di sana," ujarnya.

Juga kalau musim buruk, gelombang besar. Kapal tidak ada berani ke luar pulau atau masuk. Sembako pun jadi mahal. Apa boleh buat tabungan untuk mudik kembali berkurang. Juga kalau musim kemarau mereka harus ke desa paling ujung hanya untuk mendapatkan air minum.

Sama saja dengan Kartina, Hikmah pun sering merindukan keluarga di kampung halaman. Jika sudah sakit dan tidak berdaya luasnya lautan kadang ingin direnangi. Andai laut itu sekeras daratan, bisa dipijak untuk sampai ke Pinrang Sulawesi Selatan. Sayang beberapa kali ditanya apa penyakitnya Nurhikmah enggan membahasnya.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 18 April 2017 10:56

Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Kisah yang Perlu Diketahui

Sebagai salah satu masjid tertua di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tentu memiliki kisah…

Minggu, 16 April 2017 18:39

Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai

Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup…

Jumat, 14 April 2017 18:27

Mahasiswa Asal Tanbu Rancang Jembatan Kaca Khusus Pejalan Kaki

Kabupaten Tanah Bumbu boleh berbangga memiliki mahasiswa berprestasi seperti Khairul Ahmad (22). Mahasiswa…

Jumat, 14 April 2017 18:09

Kala Gubernur Keliling Naik Sepeda Motor, Curi Kesempatan Lepas Pengawalan

Mengikuti atau mengawal Gubernur Sahbirin Noor bukan perkara mudah, ketika Gubernur melakukan kunjungan…

Minggu, 09 April 2017 17:06
Kiprah Para Novelis Wanita Kalsel

Cantik itu Pujangga

Dunia kepenulisan di Kalimantan Selatan semakin bergairah akhir-akhir ini karena diramaikan para novelis…

Jumat, 07 April 2017 15:14

Kisah Abdulrahman, Lulusan Sarjana Teknik yang Setia Berjualan Koran

Pelintas Jalan A Yani Km 33, Banjarbaru pasti pernah melihatnya. Abdulrahman, adalah lulusan sarjana…

Jumat, 07 April 2017 11:22

Mengunjungi Rumah Lanting Tersisa di Kampung Sasirangan

Di tengah gencarnya pembangunan siring beton yang menggusur pinggiran sungai, masih ada tersisa warga…

Kamis, 06 April 2017 16:30

Saprah Amal, Tradisi Lelang Tradisional yang Masih Dipertahankan di HSU

Saprah Amal atau proses lelang jajanan atau barang lekat pada tradisi masyarakat Hulu Sungai Utara.…

Rabu, 05 April 2017 16:10

Kisah Pilu Yuda, Pengamen Banjarmasin Bersuara Mirip Charly Setia Band

Yuda Karsa Saputra, pengamen bersuara merdu yang suaranya mirip Charly ‘Setia Band’ belakangan…

Rabu, 05 April 2017 15:21

Mengenal LK3, Pengawal Keberagaman di Banua

Di tengah hiruk-pikuk persoalan sentimen SARA yang terjadi akhir-akhir ini, di Banjarmasin ternyata…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .