MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 30 Mei 2017 15:58
Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar
MENGANYAM PURUN: Perajin Purun Sungai Rutas Norsabitah mengayam purun untuk membuat tas.

PROKAL.CO, Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai Rutas Kecamatan Candi Laras Selatan.

-----------------------------------

RASIDI FADLI, Rantau

-----------------------------------

Untuk sampai ke Desa Sungai Rutas tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 25 menit kita sudah berada di sana. Saat memasuki Desa Sungai Rutas penulis banyak mendapati kerajinan-kerajinan yang terbuat dari Purun.

Di sini, untuk menemukan perajin tas purun tidaklah susah, karena ada beberapa orang yang biasa membuat tas purun. Salah satunya Norsabitah (42).

Wanita yang memiliki dua anak ini sudah belasan tahun menekuni kerajinan purun, karena menurutnya menjadi pengayam purun merupayakan upaya untuk menjaga kelestarian sekaligus menjadi mata pencariannya.

"Sudah hampir sekitar 20 tahunan saya menjadi perajin purun, dari awal ikut orang, sampai saya membuka sendiri," ungkapnya saat dijumpai penulis di rumahnya.

Selama 15 tahun ini dia sudah membuka sendiri usaha pembuatan tas purun di rumahnya. "Saya mencoba membuka sendiri, alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang," lanjutnya.

Bermodal peralatan yang masih manual, Norsabitah dapat membuat lima set tas purun dalam seharinya. "Jadi sehari set itu ada tiga tas, yang terdiri dari tas purun yang besar, tas purun sedang dan tas purun kecil," ucapnya.

Warga Desa Sungai Rutas RT 07 Kelurahan Candi Laras Selatan Kabupaten Tapin ini juga bercerita kalau bahan-bahannya membuat tas purun dia beli dari Kalimantan Tengah.

"Sebenarnya ada bahan dari sini, tetapi kalau bahan dari sini cocoknya hanya membuat tikar purun saja, sedangkan untuk tas kalau bahan dari sini hasilnya kurang bagus," ungkap ibu dua orang anak ini.

Walaupun sudah masuk Ramadan, dia tidak berniat meliburkan pekerjaannya. "Bedanya mungkin kalau bulan Ramadan saya lebih banyak istirahat," akunya.

Dalam membuatnya pun dia banyak menggunakan jasa dari orang lain, mulai dari memotong atau biasa disebut merihit sampai mengayam tidak bisa dikerjakannya sendiri. "Karena alatnya tidak ada terpaksa saya menggunakan jasa orang, merihit dan membabat upahnya sebesar 10 ribu rupiah sedangkan mengayam upahnya 500 rupiah," rincinya.

Norsabitah bercerita sekarang sudah banyak langganannya yang dari Margasari dan dia menjual kepada pelanggannya satu set seharga 50 ribu rupiah.

Kalau menjual tidak untuk langganan harganya berbeda. Untuk tas yang besar seharga Rp30 ribu, tas sedang Rp25 ribu dan tas kecil seharga Rp20 ribu satu buahnya.

Tas purunnya pun ada yang berbentuk segi empat dan ada juga yang berbentuk Bulat. Dan dulunya pun dia juga membuat tikar purun. "Saya sudah berhenti membuat tikar purun, karena penjualannya masih kurang dibandingkan tas purun dan sebenarnya membuat tikar purun lebih mudah dibanding tas purun," jelasnya.

Saat penulis mau tas yang sudah jadi, ternyata cuma ada tas bulat yang tidak ada pegangannya. "Jadi baru kemarin habis dibeli oleh pelanggan saya yang ada di Margasari," ceritanya.

Baginya membuat tas purun adalah hal yang tak bisa ia tinggalkan, karena sudah menjadi mata pencariannya. "Di sini pang sudah pencarian saya bersama keluarga untuk bertahan hidup," pungkasnya. (by/ram/ema)


BACA JUGA

Kamis, 23 November 2017 14:50

Mengunjungi Danau Biru Berwarna Hijau di Desa Pugaan Tabalong

Kabupaten Tabalong memiliki objek wisata buatan yang cukup menjanjikan sebagai destinasi rekreasi keluarga.…

Rabu, 22 November 2017 09:23
Mengenal Grup Musik Panting Ading Batuah, Angkinang, HSS

Konsisten Melatih Panting Sejak Usia Dini

Ada banyak ragam kesenian daerah yang dapat kita nikmati dan hingga kini masih terjaga. Salah satunya…

Minggu, 19 November 2017 10:39

Jalan Panjang Nelayan Berjuang Merancang Alat Penangkap Ikan

BANJARBARU - Puluhan nelayan kecil yang tergabung dalam Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru beberapa…

Rabu, 15 November 2017 15:30

Wahyudi, GM Bandara Syamsuddin Noor yang Baru Bertugas

Namanya pendek dan mudah diingat, Wahyudi. Mantan General Manager Bandara El Tari Kupang itu buka-bukaan…

Rabu, 15 November 2017 11:13

Mengenal Komunitas N Gage Lovers Banjarmasin

bentuk yang unik, bak mangkuk yang dibelah, membuat handphone (HP) Jadul berupa N Gage sangat digemari.…

Selasa, 14 November 2017 15:12

Werner Laule - Siti Farida Elyanor, pasangan Jerman-Kelua yang Suka Bertualang

Werner Laule dan Siti Farida Elyanor berlibur di Banua sejak 28 September lalu. Pasangan Jerman-Kelua…

Selasa, 14 November 2017 12:19

Pangeran Muhammad Noor Gagal Lagi Jadi Pahlawan Nasional

Perjuangan Pangeran Muhammad Noor dalam merebut kemerdekaan tak berbeda dengan pahlawan nasional lain…

Selasa, 14 November 2017 11:27

Kelas Inspirasi GMC + di SMP Islam Terpadu Qardhan Hasana

Dono Prasetyo menjadi General Manager sebuah hotel berbintang dalam usia begitu muda. Ia percaya, sukses…

Jumat, 10 November 2017 11:33

Sukiman, Pahlawan Pendidikan dari Wilayah Paminggir

Kalau ikhlas semua jadi enteng dan nyaman. Itu semboyan penguat asa Sukiman dalam menjalani perannya…

Jumat, 10 November 2017 11:07

Menengok Kelompok Perajin di Kampung Purun Banjarbaru

Satu tahun sudah destinasi wisata Kampung Purun di Kelurahan Palm, Banjarbaru diperkenalkan. Bagaimanakah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .