MANAGED BY:
SELASA
26 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 30 Mei 2017 15:58
Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar
MENGANYAM PURUN: Perajin Purun Sungai Rutas Norsabitah mengayam purun untuk membuat tas.

PROKAL.CO, Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai Rutas Kecamatan Candi Laras Selatan.

-----------------------------------

RASIDI FADLI, Rantau

-----------------------------------

Untuk sampai ke Desa Sungai Rutas tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 25 menit kita sudah berada di sana. Saat memasuki Desa Sungai Rutas penulis banyak mendapati kerajinan-kerajinan yang terbuat dari Purun.

Di sini, untuk menemukan perajin tas purun tidaklah susah, karena ada beberapa orang yang biasa membuat tas purun. Salah satunya Norsabitah (42).

Wanita yang memiliki dua anak ini sudah belasan tahun menekuni kerajinan purun, karena menurutnya menjadi pengayam purun merupayakan upaya untuk menjaga kelestarian sekaligus menjadi mata pencariannya.

"Sudah hampir sekitar 20 tahunan saya menjadi perajin purun, dari awal ikut orang, sampai saya membuka sendiri," ungkapnya saat dijumpai penulis di rumahnya.

Selama 15 tahun ini dia sudah membuka sendiri usaha pembuatan tas purun di rumahnya. "Saya mencoba membuka sendiri, alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang," lanjutnya.

Bermodal peralatan yang masih manual, Norsabitah dapat membuat lima set tas purun dalam seharinya. "Jadi sehari set itu ada tiga tas, yang terdiri dari tas purun yang besar, tas purun sedang dan tas purun kecil," ucapnya.

Warga Desa Sungai Rutas RT 07 Kelurahan Candi Laras Selatan Kabupaten Tapin ini juga bercerita kalau bahan-bahannya membuat tas purun dia beli dari Kalimantan Tengah.

"Sebenarnya ada bahan dari sini, tetapi kalau bahan dari sini cocoknya hanya membuat tikar purun saja, sedangkan untuk tas kalau bahan dari sini hasilnya kurang bagus," ungkap ibu dua orang anak ini.

Walaupun sudah masuk Ramadan, dia tidak berniat meliburkan pekerjaannya. "Bedanya mungkin kalau bulan Ramadan saya lebih banyak istirahat," akunya.

Dalam membuatnya pun dia banyak menggunakan jasa dari orang lain, mulai dari memotong atau biasa disebut merihit sampai mengayam tidak bisa dikerjakannya sendiri. "Karena alatnya tidak ada terpaksa saya menggunakan jasa orang, merihit dan membabat upahnya sebesar 10 ribu rupiah sedangkan mengayam upahnya 500 rupiah," rincinya.

Norsabitah bercerita sekarang sudah banyak langganannya yang dari Margasari dan dia menjual kepada pelanggannya satu set seharga 50 ribu rupiah.

Kalau menjual tidak untuk langganan harganya berbeda. Untuk tas yang besar seharga Rp30 ribu, tas sedang Rp25 ribu dan tas kecil seharga Rp20 ribu satu buahnya.

Tas purunnya pun ada yang berbentuk segi empat dan ada juga yang berbentuk Bulat. Dan dulunya pun dia juga membuat tikar purun. "Saya sudah berhenti membuat tikar purun, karena penjualannya masih kurang dibandingkan tas purun dan sebenarnya membuat tikar purun lebih mudah dibanding tas purun," jelasnya.

Saat penulis mau tas yang sudah jadi, ternyata cuma ada tas bulat yang tidak ada pegangannya. "Jadi baru kemarin habis dibeli oleh pelanggan saya yang ada di Margasari," ceritanya.

Baginya membuat tas purun adalah hal yang tak bisa ia tinggalkan, karena sudah menjadi mata pencariannya. "Di sini pang sudah pencarian saya bersama keluarga untuk bertahan hidup," pungkasnya. (by/ram/ema)


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Rabu, 30 Agustus 2017 14:32

Menengok Tradisi Warga Kandangan Membawa Senjata Tajam

Kandangan dikenal sebagai tanah jawara. Konon dulu di daerah ini ada banyak jagau. Warganya dikenal…

Selasa, 29 Agustus 2017 16:31

Fotografer Banua Menggali Ilmu Fotografi Komersial

Selain dituntut profesional, seorang fotografer komersial juga harus pintar mengkhayal. Pelajaran itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .