MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 30 Mei 2017 15:58
Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar
MENGANYAM PURUN: Perajin Purun Sungai Rutas Norsabitah mengayam purun untuk membuat tas.

PROKAL.CO, Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai Rutas Kecamatan Candi Laras Selatan.

-----------------------------------

RASIDI FADLI, Rantau

-----------------------------------

Untuk sampai ke Desa Sungai Rutas tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 25 menit kita sudah berada di sana. Saat memasuki Desa Sungai Rutas penulis banyak mendapati kerajinan-kerajinan yang terbuat dari Purun.

Di sini, untuk menemukan perajin tas purun tidaklah susah, karena ada beberapa orang yang biasa membuat tas purun. Salah satunya Norsabitah (42).

Wanita yang memiliki dua anak ini sudah belasan tahun menekuni kerajinan purun, karena menurutnya menjadi pengayam purun merupayakan upaya untuk menjaga kelestarian sekaligus menjadi mata pencariannya.

"Sudah hampir sekitar 20 tahunan saya menjadi perajin purun, dari awal ikut orang, sampai saya membuka sendiri," ungkapnya saat dijumpai penulis di rumahnya.

Selama 15 tahun ini dia sudah membuka sendiri usaha pembuatan tas purun di rumahnya. "Saya mencoba membuka sendiri, alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang," lanjutnya.

Bermodal peralatan yang masih manual, Norsabitah dapat membuat lima set tas purun dalam seharinya. "Jadi sehari set itu ada tiga tas, yang terdiri dari tas purun yang besar, tas purun sedang dan tas purun kecil," ucapnya.

Warga Desa Sungai Rutas RT 07 Kelurahan Candi Laras Selatan Kabupaten Tapin ini juga bercerita kalau bahan-bahannya membuat tas purun dia beli dari Kalimantan Tengah.

"Sebenarnya ada bahan dari sini, tetapi kalau bahan dari sini cocoknya hanya membuat tikar purun saja, sedangkan untuk tas kalau bahan dari sini hasilnya kurang bagus," ungkap ibu dua orang anak ini.

Walaupun sudah masuk Ramadan, dia tidak berniat meliburkan pekerjaannya. "Bedanya mungkin kalau bulan Ramadan saya lebih banyak istirahat," akunya.

Dalam membuatnya pun dia banyak menggunakan jasa dari orang lain, mulai dari memotong atau biasa disebut merihit sampai mengayam tidak bisa dikerjakannya sendiri. "Karena alatnya tidak ada terpaksa saya menggunakan jasa orang, merihit dan membabat upahnya sebesar 10 ribu rupiah sedangkan mengayam upahnya 500 rupiah," rincinya.

Norsabitah bercerita sekarang sudah banyak langganannya yang dari Margasari dan dia menjual kepada pelanggannya satu set seharga 50 ribu rupiah.

Kalau menjual tidak untuk langganan harganya berbeda. Untuk tas yang besar seharga Rp30 ribu, tas sedang Rp25 ribu dan tas kecil seharga Rp20 ribu satu buahnya.

Tas purunnya pun ada yang berbentuk segi empat dan ada juga yang berbentuk Bulat. Dan dulunya pun dia juga membuat tikar purun. "Saya sudah berhenti membuat tikar purun, karena penjualannya masih kurang dibandingkan tas purun dan sebenarnya membuat tikar purun lebih mudah dibanding tas purun," jelasnya.

Saat penulis mau tas yang sudah jadi, ternyata cuma ada tas bulat yang tidak ada pegangannya. "Jadi baru kemarin habis dibeli oleh pelanggan saya yang ada di Margasari," ceritanya.

Baginya membuat tas purun adalah hal yang tak bisa ia tinggalkan, karena sudah menjadi mata pencariannya. "Di sini pang sudah pencarian saya bersama keluarga untuk bertahan hidup," pungkasnya. (by/ram/ema)


BACA JUGA

Jumat, 16 Februari 2018 14:36

Soetji Nurani sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im

Bangunan tempat ibadah, berdiri megah di beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin. Salah satunya adalah…

Senin, 12 Februari 2018 15:01

Melihat Aktivitas Akhir Pekan Anak Desa Nelayan Bajau Pulau Laut

Pernah kangen masa kecil lepas ceria, bermain tanpa harus menunduk melihat hape? Di pesisir Pulau Laut,…

Senin, 12 Februari 2018 12:50

Monolog Luka Persembahan Teater Dapur Kalsel

Luka tidak bicara tentang roman picisan. Tapi bicara tentang luka yang diderita bumi. Tempat kita lahir,…

Sabtu, 03 Februari 2018 14:18

Kreatif, Hasilkan Uang dari Modifikasi Gundam

Penggemar anime Jepang, pasti tahu dengan Gundam. Tak sebatas hanya di film. Karakternya sudah menjelma…

Jumat, 02 Februari 2018 12:15

Ini Jadinya Kalau Polwan Gabung Pasukan Raimas

Polisi harus siap ditugaskan di mana saja. Termasuk ditunjuk sebagai pasukan pengurai massa. Seperti…

Kamis, 01 Februari 2018 15:31

Kisah Syarif, Warga Sungai Besar yang Terbaring Sakit karena Diabetes

Syarif, warga Komplek Jeruk Raya, Kelurahan Sungai Besar sedang memerlukan bantuan. Pria berusia 40…

Kamis, 01 Februari 2018 13:38

Menengok Perajin Ukiran di Pierre Tendean

Orang Banjar pasti tak asing dengan ram angin, les plang, hingga jamang yang terbuat dari kayu ulin.…

Rabu, 31 Januari 2018 14:29

Melukis dengan Kopi di Kedai Hudes

Masih ingat dengan liputan berjudul 'Mengangkat Derajat Kopi Pengaron'? Sang narasumber, pendiri Hudes…

Selasa, 30 Januari 2018 17:45

Ketika Warga "Demo" di Rumah Kepala Dinas Saat Jam Kerja

Entah karena lelah, banyak habis biaya pulang-pergi ke kota, sekelompok warga menumpahkan kekesalannya…

Selasa, 30 Januari 2018 12:06

Mengenal Klub Motor BRIKC, Melanggar Aturan, Dikeluarkan

Sama-sama suka RX King. Itulah yang mengawali terbentuknya Banjarmasin Riders King Club (BRIKC). Sebuah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .