MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 14:25
Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Ganti Buta Kala, Enggang dan Naga dengan Jeruju

BUBUNGAN TINGGI: Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dari Teluk Selong Martapura di Museum Lambung Mangkurat. Tampak di belakangnya Tawing Halat yang dipajang di ruang depan museum. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan. Bukti Islam diterima dengan damai dalam alam pikiran masyarakat Banjar.

-------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-------------------------------------------

MEMPERHATIKAN ornamen Rumah Bubungan Tinggi, kita menikmati ukiran daun yang jalin-menjalin. Kadang diselipi kaligrafi ayat Alquran, syahadat atau doa. Yang tidak banyak diketahui, ornamen-ornamen itu sebenarnya terbilang baru. Baru ngetren setelah Islam dipeluk masyarakat Banjar.

Anda bisa melihat contoh-contoh ornamen itu di Museum Lambung Mangkurat Jalan Ahmad Yani kilometer 37. Disitu ada Dahi Lawang, Tawing Halat, dan miniatur Bubungan Tinggi dari Teluk Selong, Martapura.

Yang pertama kali ditunjukkan Ikhlas Budi Prayogo adalah Dahi Lawang. Yakni hiasan di atas pintu. "Dulu Dahi Lawang diukir dengan menggambarkan Buta Kala. Contoh jelasnya ada di candi-candi Hindu," kata Kepala Seksi Edukasi Museum Lambung Mangkurat tersebut pada Radar Banjarmasin, Kamis (25/5).

Buta Kala dalam mitologi Hindu adalah monster yang menyeramkan. Ukiran berupa sorot mata, rahang atas yang menyeringai dan tangan yang mencengkeram untuk menyambut masuk pemilik rumah dan tamu. Masyarakat Banjar pra Islam percaya, Buta Kala sanggup menghalau marabahaya yang mengintai rumah.

Karena Islam menolak ukiran atau lukisan yang menyerupai makhluk hidup, sosok Buta Kala lalu disamarkan agar tak kelewat kentara. Seiring waktu, hilang sama sekali digantikan ukiran daun jeruju atau kaligrafi. Jeruju adalah tumbuhan jalar dan liar yang marak tumbuh di padang rawa Kalimantan.

"Jadi prosesnya bertahap, awalnya penyamaran, lalu dihilangkan sama sekali. Ini bukti bahwa Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Banjar. Tak ada paksaan perubahan yang sifatnya mendadak," tegas Ikhlas.

Buta Kala juga sering muncul di Tawing Halat. Tawing Halat adalah dinding pemisah atau penyekat. Antara ruang tamu (paluaran) dan ruang keluarga (paledangan). "Saya pernah melihat satu Tawing Halat dengan hiasan kaligrafi. Isinya doa, bunyi terjemahnya begini, terpujilah Allah sebagai zat yang maha menjaga," jelasnya.

Ornamen penting lain adalah hiasan di ujung atap dan ujung lantai Bubungan Tinggi yang lazim disebut Jamang. Kali ini bukan pengaruh Hindu, tapi pengaruh Suku Dayak. Hiasannya berupa kepala burung enggang dan naga.

"Enggang dalam kosmologi Dayak berarti dewa atas. Sementara naga adalah dewa bawah. Penguasa di langit dan di bumi," tukas Ikhlas. Serupa dengan Buta Kala, enggang dan naga juga digantikan atau disamarkan dengan ukiran daun jeruju.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, secara filosofi, masyarakat Banjar percaya ornamen-ornamen yang mereka ukir bisa menangkal bahaya atau penyakit dari tempat tinggal mereka. "Dengan Buta Kala atau ukiran doa, substansinya sama. Yang berubah hanya tampilan atau cara pengungkapan. Itu yang saya anggap mengagumkan," pungkas Ikhlas. (by/ram/ema) 


BACA JUGA

Minggu, 19 November 2017 10:39

Jalan Panjang Nelayan Berjuang Merancang Alat Penangkap Ikan

BANJARBARU - Puluhan nelayan kecil yang tergabung dalam Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru beberapa…

Sabtu, 18 November 2017 13:51

Asma, Penulis Cilik Peraih Penghargaan Nasional

Banua patut berbangga karena telah memiliki penulis cilik bernama Asma Taqiyya Jihada Fama. Bocah berusia…

Sabtu, 18 November 2017 13:17

Bangganya..!! Nur Aimah Akan Tampil di Kejuaraan Difabel Asia

Bangga, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Nur Aimah. Betapa tidak, atlet renang difabel…

Jumat, 17 November 2017 13:44

Laporan dari Kelas Inspirasi GMC+ di SMPN 8 Banjarbaru

Meski menjadi pengalaman pertamanya menjadi pembicara di hadapan para siswa, tak membuat GM TIKI Banjarmasin…

Kamis, 16 November 2017 14:12

Bripka Ronny Setiadi, Polisi yang Jual Tanah demi Beli Mobil Ambulans

Menolong seorang wanita hamil yang hampir tak dapat tumpangan ke rumah sakit, membuat Bripka Ronny Setiadi…

Kamis, 16 November 2017 11:52

Kelas Inspirasi GMC+ di SMPN 4 dan 5 Banjarbaru

Kelas Inspirasi Rabu (15/11) kemarin dilaksanakan di dua sekolah sekaligus, yaitu di SMPN 4 Banjarbaru…

Kamis, 16 November 2017 10:34

Mengenal Lebih Dekat Sosok Pelatih Futsal di Banjarmasin

Sempat membela Yellow Alligator, Peseban Banjarmasin yang kini akan bertarung di babak nasional Liga…

Rabu, 15 November 2017 15:30

Wahyudi, GM Bandara Syamsuddin Noor yang Baru Bertugas

Namanya pendek dan mudah diingat, Wahyudi. Mantan General Manager Bandara El Tari Kupang itu buka-bukaan…

Rabu, 15 November 2017 11:13

Mengenal Komunitas N Gage Lovers Banjarmasin

bentuk yang unik, bak mangkuk yang dibelah, membuat handphone (HP) Jadul berupa N Gage sangat digemari.…

Selasa, 14 November 2017 15:12

Werner Laule - Siti Farida Elyanor, pasangan Jerman-Kelua yang Suka Bertualang

Werner Laule dan Siti Farida Elyanor berlibur di Banua sejak 28 September lalu. Pasangan Jerman-Kelua…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .