MANAGED BY:
MINGGU
21 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 14:25
Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Ganti Buta Kala, Enggang dan Naga dengan Jeruju

BUBUNGAN TINGGI: Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dari Teluk Selong Martapura di Museum Lambung Mangkurat. Tampak di belakangnya Tawing Halat yang dipajang di ruang depan museum. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan. Bukti Islam diterima dengan damai dalam alam pikiran masyarakat Banjar.

-------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-------------------------------------------

MEMPERHATIKAN ornamen Rumah Bubungan Tinggi, kita menikmati ukiran daun yang jalin-menjalin. Kadang diselipi kaligrafi ayat Alquran, syahadat atau doa. Yang tidak banyak diketahui, ornamen-ornamen itu sebenarnya terbilang baru. Baru ngetren setelah Islam dipeluk masyarakat Banjar.

Anda bisa melihat contoh-contoh ornamen itu di Museum Lambung Mangkurat Jalan Ahmad Yani kilometer 37. Disitu ada Dahi Lawang, Tawing Halat, dan miniatur Bubungan Tinggi dari Teluk Selong, Martapura.

Yang pertama kali ditunjukkan Ikhlas Budi Prayogo adalah Dahi Lawang. Yakni hiasan di atas pintu. "Dulu Dahi Lawang diukir dengan menggambarkan Buta Kala. Contoh jelasnya ada di candi-candi Hindu," kata Kepala Seksi Edukasi Museum Lambung Mangkurat tersebut pada Radar Banjarmasin, Kamis (25/5).

Buta Kala dalam mitologi Hindu adalah monster yang menyeramkan. Ukiran berupa sorot mata, rahang atas yang menyeringai dan tangan yang mencengkeram untuk menyambut masuk pemilik rumah dan tamu. Masyarakat Banjar pra Islam percaya, Buta Kala sanggup menghalau marabahaya yang mengintai rumah.

Karena Islam menolak ukiran atau lukisan yang menyerupai makhluk hidup, sosok Buta Kala lalu disamarkan agar tak kelewat kentara. Seiring waktu, hilang sama sekali digantikan ukiran daun jeruju atau kaligrafi. Jeruju adalah tumbuhan jalar dan liar yang marak tumbuh di padang rawa Kalimantan.

"Jadi prosesnya bertahap, awalnya penyamaran, lalu dihilangkan sama sekali. Ini bukti bahwa Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Banjar. Tak ada paksaan perubahan yang sifatnya mendadak," tegas Ikhlas.

Buta Kala juga sering muncul di Tawing Halat. Tawing Halat adalah dinding pemisah atau penyekat. Antara ruang tamu (paluaran) dan ruang keluarga (paledangan). "Saya pernah melihat satu Tawing Halat dengan hiasan kaligrafi. Isinya doa, bunyi terjemahnya begini, terpujilah Allah sebagai zat yang maha menjaga," jelasnya.

Ornamen penting lain adalah hiasan di ujung atap dan ujung lantai Bubungan Tinggi yang lazim disebut Jamang. Kali ini bukan pengaruh Hindu, tapi pengaruh Suku Dayak. Hiasannya berupa kepala burung enggang dan naga.

"Enggang dalam kosmologi Dayak berarti dewa atas. Sementara naga adalah dewa bawah. Penguasa di langit dan di bumi," tukas Ikhlas. Serupa dengan Buta Kala, enggang dan naga juga digantikan atau disamarkan dengan ukiran daun jeruju.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, secara filosofi, masyarakat Banjar percaya ornamen-ornamen yang mereka ukir bisa menangkal bahaya atau penyakit dari tempat tinggal mereka. "Dengan Buta Kala atau ukiran doa, substansinya sama. Yang berubah hanya tampilan atau cara pengungkapan. Itu yang saya anggap mengagumkan," pungkas Ikhlas. (by/ram/ema) 


BACA JUGA

Sabtu, 20 Januari 2018 11:07

Sisi Lain Parade Jukung Barenteng, Berawal dari Request Fotografer Asing

Belakangan sering digelar parade jukung di Kota Banjarmasin. Menampilkan berbagai formasi unik. Di balik…

Kamis, 18 Januari 2018 18:57

Dibalik Kegagalan Rumah Sakit Idaman Meraih Akreditasi Bintang Lima

Dua spanduk besar bertuliskan "RSID Kita Semua, RSID Paripurna, RSID Yes! Yes! Yes!" terpasang di lobi…

Rabu, 17 Januari 2018 15:22

Polres Banjarbaru Luncurkan Aplikasi SIHARAT untuk Layani Publik

Demi melayani masyarakat sesuai dengan program Kapolri yaitu profesional modern dan tepercaya (promoter),…

Rabu, 17 Januari 2018 14:42

Kejar Target Kota Kelima di Indonesia yang Operasikan Bus Wisata

Pernah naik Mpok Siti, Bandros, Werkudara, ataukah Macito saat berkunjung ke kota-kota besar di Pulau…

Rabu, 17 Januari 2018 11:18

WOW! ini Aksi Nekat Siswa SMP di Gedung DPRD Banjarmasin

Serombongan pelajar SMP nekat mendatangi DPRD Banjarmasin. Bukan untuk berunjuk rasa, melainkan beraudiensi.…

Sabtu, 13 Januari 2018 15:55

Salut..!! Ini Nih Para Srikandi Relawan Kebakaran Banjarmasin

Pernah mendengarkan lagu Sang Penakluk Api dari The Cangcuters? Kalau belum, coba saja dengarkan. Liriknya…

Jumat, 12 Januari 2018 13:52

Pelajaran Berharga AKP Ade Papa Rihi dari DEA dan FBI

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Ungkapan itu pantas dialamatkan untuk Ajun Komisaris Polisi (AKP)…

Kamis, 11 Januari 2018 13:19

Darmatasiah, TKW yang Dua Tahun Stroke di Arab Saudi akhirnya Kembali

Darmatasiah tak mampu menutupi rasa harunya, saat diturunkan dari pesawat oleh petugas menggunakan tandu.…

Kamis, 11 Januari 2018 12:39

Rifky, Atlet Muda Banjarmasin. Raih Prestasi Lewat Karate

Muda, berprestasi. Dua kata itu cukup untuk menggambarkan seorang Rifky Akbar Khair. Dia adalah siswa…

Rabu, 10 Januari 2018 15:27

Mengenal Pemeran Saranti Dalam Film Sejarah Perang Banjar

Film Perang Banjar sudah ditayangkan beberapa waktu lalu. Yang menontonnya tentu ingat dengan sosok…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .