MANAGED BY:
SABTU
22 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 14:25
Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Ganti Buta Kala, Enggang dan Naga dengan Jeruju

BUBUNGAN TINGGI: Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dari Teluk Selong Martapura di Museum Lambung Mangkurat. Tampak di belakangnya Tawing Halat yang dipajang di ruang depan museum. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan. Bukti Islam diterima dengan damai dalam alam pikiran masyarakat Banjar.

-------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-------------------------------------------

MEMPERHATIKAN ornamen Rumah Bubungan Tinggi, kita menikmati ukiran daun yang jalin-menjalin. Kadang diselipi kaligrafi ayat Alquran, syahadat atau doa. Yang tidak banyak diketahui, ornamen-ornamen itu sebenarnya terbilang baru. Baru ngetren setelah Islam dipeluk masyarakat Banjar.

Anda bisa melihat contoh-contoh ornamen itu di Museum Lambung Mangkurat Jalan Ahmad Yani kilometer 37. Disitu ada Dahi Lawang, Tawing Halat, dan miniatur Bubungan Tinggi dari Teluk Selong, Martapura.

Yang pertama kali ditunjukkan Ikhlas Budi Prayogo adalah Dahi Lawang. Yakni hiasan di atas pintu. "Dulu Dahi Lawang diukir dengan menggambarkan Buta Kala. Contoh jelasnya ada di candi-candi Hindu," kata Kepala Seksi Edukasi Museum Lambung Mangkurat tersebut pada Radar Banjarmasin, Kamis (25/5).

Buta Kala dalam mitologi Hindu adalah monster yang menyeramkan. Ukiran berupa sorot mata, rahang atas yang menyeringai dan tangan yang mencengkeram untuk menyambut masuk pemilik rumah dan tamu. Masyarakat Banjar pra Islam percaya, Buta Kala sanggup menghalau marabahaya yang mengintai rumah.

Karena Islam menolak ukiran atau lukisan yang menyerupai makhluk hidup, sosok Buta Kala lalu disamarkan agar tak kelewat kentara. Seiring waktu, hilang sama sekali digantikan ukiran daun jeruju atau kaligrafi. Jeruju adalah tumbuhan jalar dan liar yang marak tumbuh di padang rawa Kalimantan.

"Jadi prosesnya bertahap, awalnya penyamaran, lalu dihilangkan sama sekali. Ini bukti bahwa Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Banjar. Tak ada paksaan perubahan yang sifatnya mendadak," tegas Ikhlas.

Buta Kala juga sering muncul di Tawing Halat. Tawing Halat adalah dinding pemisah atau penyekat. Antara ruang tamu (paluaran) dan ruang keluarga (paledangan). "Saya pernah melihat satu Tawing Halat dengan hiasan kaligrafi. Isinya doa, bunyi terjemahnya begini, terpujilah Allah sebagai zat yang maha menjaga," jelasnya.

Ornamen penting lain adalah hiasan di ujung atap dan ujung lantai Bubungan Tinggi yang lazim disebut Jamang. Kali ini bukan pengaruh Hindu, tapi pengaruh Suku Dayak. Hiasannya berupa kepala burung enggang dan naga.

"Enggang dalam kosmologi Dayak berarti dewa atas. Sementara naga adalah dewa bawah. Penguasa di langit dan di bumi," tukas Ikhlas. Serupa dengan Buta Kala, enggang dan naga juga digantikan atau disamarkan dengan ukiran daun jeruju.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, secara filosofi, masyarakat Banjar percaya ornamen-ornamen yang mereka ukir bisa menangkal bahaya atau penyakit dari tempat tinggal mereka. "Dengan Buta Kala atau ukiran doa, substansinya sama. Yang berubah hanya tampilan atau cara pengungkapan. Itu yang saya anggap mengagumkan," pungkas Ikhlas. (by/ram/ema) 


BACA JUGA

Jumat, 21 Juli 2017 17:12

Ini Alasan Mengapa Orang Banua Susah Menjadi Pramugari

Pramugari masih menjadi profesi idaman. Gaji besar dan bisa terbang ke mana-mana membuat pendaftar sekolah…

Kamis, 20 Juli 2017 15:52

Melihat Aktivitas Belajar di SDN Jawa 5 Pasca Kebakaran

Mengalami musibah kebakaran beberapa hari sebelum masa liburan berakhir, membuat pihak SDN Jawa 5 kelabakan.…

Kamis, 20 Juli 2017 15:12

Menengok Pemilihan Anggota Badan Permusyawaratan Desa di Kabupaten Balangan

Kabupaten Balangan menjadi pilot project penyelenggaraan pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa…

Rabu, 19 Juli 2017 19:37

Pasar Loak Mess Kalteng, Tetap Eksis di Tengah Gempuran Penjual Onderdil Baru

Saat ini penjual onderdil sepeda motor tersebar di pinggir pinggir jalan raya. Bahkan, ada yang berjualan…

Selasa, 18 Juli 2017 14:02

Di Pelosok Masih Ada Pasar Keliling, Bukan Semata untuk Jual Beli

Minggu (16/7) kemarin, sejuk kaki pegunungan di sebelah timur Pulau Laut. Tepatnya di Desa Seratak Kecamatan…

Sabtu, 15 Juli 2017 15:59

Kiprah Pebasket Banjarmasin Trisna Gama Putri di PT DBL Indonesia

Trisna Gama Putri sukses menembus Honda DBL Indonesia All Star dan dikirim ke Australia pada tahun 2008…

Jumat, 14 Juli 2017 11:21

Kisah Sukses Habib Zaid Shabab Merintis Bisnis Konter Handphone Syihab

Meski baru berusia 28 tahun, namun Habib Zaid Shahab telah sukses mengelola bisnis konter ponsel. Sekarang…

Kamis, 13 Juli 2017 14:36

Mengunjungi Sentra Perajin Atap Rumbia di Baringin A

Zaman yang sudah berubah membuat kerajinan tradisional tinggal ditekuni hanya oleh segelintir orang.…

Selasa, 11 Juli 2017 14:27

Begini Kiprah Mahasiswa ULM Melestarikan Budaya Banjar

Permainan tradisonal Banjar kian tergerus dengan perkembangan zaman. Di era teknologi sekarang ini,…

Jumat, 07 Juli 2017 11:14

Keren! Transformasi Rantau Baru Menjadi Kawasan Pariwisata

Kawasan Rantau Baru akan terus diperindah. Setelah tercipta danau buatan di tengahnya, pemerintah setempat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .