MANAGED BY:
SELASA
26 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 14:25
Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Ganti Buta Kala, Enggang dan Naga dengan Jeruju

BUBUNGAN TINGGI: Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dari Teluk Selong Martapura di Museum Lambung Mangkurat. Tampak di belakangnya Tawing Halat yang dipajang di ruang depan museum. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan. Bukti Islam diterima dengan damai dalam alam pikiran masyarakat Banjar.

-------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-------------------------------------------

MEMPERHATIKAN ornamen Rumah Bubungan Tinggi, kita menikmati ukiran daun yang jalin-menjalin. Kadang diselipi kaligrafi ayat Alquran, syahadat atau doa. Yang tidak banyak diketahui, ornamen-ornamen itu sebenarnya terbilang baru. Baru ngetren setelah Islam dipeluk masyarakat Banjar.

Anda bisa melihat contoh-contoh ornamen itu di Museum Lambung Mangkurat Jalan Ahmad Yani kilometer 37. Disitu ada Dahi Lawang, Tawing Halat, dan miniatur Bubungan Tinggi dari Teluk Selong, Martapura.

Yang pertama kali ditunjukkan Ikhlas Budi Prayogo adalah Dahi Lawang. Yakni hiasan di atas pintu. "Dulu Dahi Lawang diukir dengan menggambarkan Buta Kala. Contoh jelasnya ada di candi-candi Hindu," kata Kepala Seksi Edukasi Museum Lambung Mangkurat tersebut pada Radar Banjarmasin, Kamis (25/5).

Buta Kala dalam mitologi Hindu adalah monster yang menyeramkan. Ukiran berupa sorot mata, rahang atas yang menyeringai dan tangan yang mencengkeram untuk menyambut masuk pemilik rumah dan tamu. Masyarakat Banjar pra Islam percaya, Buta Kala sanggup menghalau marabahaya yang mengintai rumah.

Karena Islam menolak ukiran atau lukisan yang menyerupai makhluk hidup, sosok Buta Kala lalu disamarkan agar tak kelewat kentara. Seiring waktu, hilang sama sekali digantikan ukiran daun jeruju atau kaligrafi. Jeruju adalah tumbuhan jalar dan liar yang marak tumbuh di padang rawa Kalimantan.

"Jadi prosesnya bertahap, awalnya penyamaran, lalu dihilangkan sama sekali. Ini bukti bahwa Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Banjar. Tak ada paksaan perubahan yang sifatnya mendadak," tegas Ikhlas.

Buta Kala juga sering muncul di Tawing Halat. Tawing Halat adalah dinding pemisah atau penyekat. Antara ruang tamu (paluaran) dan ruang keluarga (paledangan). "Saya pernah melihat satu Tawing Halat dengan hiasan kaligrafi. Isinya doa, bunyi terjemahnya begini, terpujilah Allah sebagai zat yang maha menjaga," jelasnya.

Ornamen penting lain adalah hiasan di ujung atap dan ujung lantai Bubungan Tinggi yang lazim disebut Jamang. Kali ini bukan pengaruh Hindu, tapi pengaruh Suku Dayak. Hiasannya berupa kepala burung enggang dan naga.

"Enggang dalam kosmologi Dayak berarti dewa atas. Sementara naga adalah dewa bawah. Penguasa di langit dan di bumi," tukas Ikhlas. Serupa dengan Buta Kala, enggang dan naga juga digantikan atau disamarkan dengan ukiran daun jeruju.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, secara filosofi, masyarakat Banjar percaya ornamen-ornamen yang mereka ukir bisa menangkal bahaya atau penyakit dari tempat tinggal mereka. "Dengan Buta Kala atau ukiran doa, substansinya sama. Yang berubah hanya tampilan atau cara pengungkapan. Itu yang saya anggap mengagumkan," pungkas Ikhlas. (by/ram/ema) 


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Rabu, 30 Agustus 2017 14:32

Menengok Tradisi Warga Kandangan Membawa Senjata Tajam

Kandangan dikenal sebagai tanah jawara. Konon dulu di daerah ini ada banyak jagau. Warganya dikenal…

Selasa, 29 Agustus 2017 16:31

Fotografer Banua Menggali Ilmu Fotografi Komersial

Selain dituntut profesional, seorang fotografer komersial juga harus pintar mengkhayal. Pelajaran itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .