MANAGED BY:
JUMAT
25 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 31 Mei 2017 14:25
Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Ganti Buta Kala, Enggang dan Naga dengan Jeruju

BUBUNGAN TINGGI: Miniatur Rumah Bubungan Tinggi dari Teluk Selong Martapura di Museum Lambung Mangkurat. Tampak di belakangnya Tawing Halat yang dipajang di ruang depan museum. | Foto Syarafuddin/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan. Bukti Islam diterima dengan damai dalam alam pikiran masyarakat Banjar.

-------------------------------------------

SYARAFUDDIN, Banjarbaru

-------------------------------------------

MEMPERHATIKAN ornamen Rumah Bubungan Tinggi, kita menikmati ukiran daun yang jalin-menjalin. Kadang diselipi kaligrafi ayat Alquran, syahadat atau doa. Yang tidak banyak diketahui, ornamen-ornamen itu sebenarnya terbilang baru. Baru ngetren setelah Islam dipeluk masyarakat Banjar.

Anda bisa melihat contoh-contoh ornamen itu di Museum Lambung Mangkurat Jalan Ahmad Yani kilometer 37. Disitu ada Dahi Lawang, Tawing Halat, dan miniatur Bubungan Tinggi dari Teluk Selong, Martapura.

Yang pertama kali ditunjukkan Ikhlas Budi Prayogo adalah Dahi Lawang. Yakni hiasan di atas pintu. "Dulu Dahi Lawang diukir dengan menggambarkan Buta Kala. Contoh jelasnya ada di candi-candi Hindu," kata Kepala Seksi Edukasi Museum Lambung Mangkurat tersebut pada Radar Banjarmasin, Kamis (25/5).

Buta Kala dalam mitologi Hindu adalah monster yang menyeramkan. Ukiran berupa sorot mata, rahang atas yang menyeringai dan tangan yang mencengkeram untuk menyambut masuk pemilik rumah dan tamu. Masyarakat Banjar pra Islam percaya, Buta Kala sanggup menghalau marabahaya yang mengintai rumah.

Karena Islam menolak ukiran atau lukisan yang menyerupai makhluk hidup, sosok Buta Kala lalu disamarkan agar tak kelewat kentara. Seiring waktu, hilang sama sekali digantikan ukiran daun jeruju atau kaligrafi. Jeruju adalah tumbuhan jalar dan liar yang marak tumbuh di padang rawa Kalimantan.

"Jadi prosesnya bertahap, awalnya penyamaran, lalu dihilangkan sama sekali. Ini bukti bahwa Islam diterima dengan damai oleh masyarakat Banjar. Tak ada paksaan perubahan yang sifatnya mendadak," tegas Ikhlas.

Buta Kala juga sering muncul di Tawing Halat. Tawing Halat adalah dinding pemisah atau penyekat. Antara ruang tamu (paluaran) dan ruang keluarga (paledangan). "Saya pernah melihat satu Tawing Halat dengan hiasan kaligrafi. Isinya doa, bunyi terjemahnya begini, terpujilah Allah sebagai zat yang maha menjaga," jelasnya.

Ornamen penting lain adalah hiasan di ujung atap dan ujung lantai Bubungan Tinggi yang lazim disebut Jamang. Kali ini bukan pengaruh Hindu, tapi pengaruh Suku Dayak. Hiasannya berupa kepala burung enggang dan naga.

"Enggang dalam kosmologi Dayak berarti dewa atas. Sementara naga adalah dewa bawah. Penguasa di langit dan di bumi," tukas Ikhlas. Serupa dengan Buta Kala, enggang dan naga juga digantikan atau disamarkan dengan ukiran daun jeruju.

Dari sini bisa diambil kesimpulan, secara filosofi, masyarakat Banjar percaya ornamen-ornamen yang mereka ukir bisa menangkal bahaya atau penyakit dari tempat tinggal mereka. "Dengan Buta Kala atau ukiran doa, substansinya sama. Yang berubah hanya tampilan atau cara pengungkapan. Itu yang saya anggap mengagumkan," pungkas Ikhlas. (by/ram/ema) 


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…

Selasa, 08 Mei 2018 14:35

Kisah Hidup Mahmud Ropi, Ayah Dua Anak Penyandang Disabilitas

Mahmud Ropi banyak bersyukur dalam hidupnya. Meski mengalami berbagai kesulitan hidup, dia bangkit dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .