MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 04 Juni 2017 17:28
Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)
JALUR SUNGAI: Untuk menempuh makam harus menempuh jalur sungai.

PROKAL.CO, Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil menangkal kapal para penjajah yang ingin menduduki Tanah Banjar.

-----------------------------------------

Donny Muslim & Muhammad Rifani

-----------------------------------------

Ekspedisi menapak jejak Islam di wilayah terpencil sudah sampai di Kabupaten Tapin. Rasidi Fadli, wartawan Radar Banjarmasin yang bertugas di Tapin berjasa betul dalam memandu arah jalan. "Di daerah Tapin, ada makam ulama yang lokasinya terpencil sekali. Harus pakai klotok menuju kesana," saran salah satu wartawan muda yang dimiliki koran dengan tagline Paling Paham Soal Banua ini. Lagi-lagi naik perahu. Untungnya, kata Fadli waktu tempuhnya tak seperti saat kami menuju desa Rantau Bujur yang memerlukan waktu 2,5 jam. Menuju makam, kami hanya perlu waktu 30 menit.

Tempat yang kami tuju adalah makam Syekh Muhammad Ilyas bin Muhammad Hasan. Masyarakat kerap menyebutnya Datu Muning. Menurut kisah, ia adalah muridnya Datu Sanggul yang diperkirakan datang dari Hadramaut untuk belajar sekaligus menyebarkan ajaran Islam. Wilayah dakwahnya diceritakan membentang di sepanjang wilayah pesisir Margasari, Tapin. Kedatangannya diperkirakan sekitar kurang lebih 200 tahun yang lalu. 

Akses jalan darat ditempuh selama kurang lebih 25 menit dari pusat kota Rantau. Jalan sudah mulus tanpa hambatan. Jaraknya hanya 15 kilometer menuju dermaga. Namun, perjalanan menggunakan klotok yang membuat perjalanan menjadi cukup memakan waktu. Soal tarif, sopir klotok menganggarkan harga 200 ribu.

Tarif klotok senilai 200 ribu terbayarkan kembali saat melihat pemandangan di tepian Sungai Muning yang kami susuri. Eksotik. Airnya jernih. Tumbuhan jungkal, sejenis tanaman pandan tumbuh subur di tepian. Sesekali, kami juga menemukan beberapa Kera Hitam sedang bertengger di pohon. Kalau beruntung, Bekantan juga dapat muncul. "Di daerah sungai ini memang habitat asli mereka," kata Fadli. Kami akhirnya sampai di dermaga setelah 30 menit memandangi cantiknya Sungai Muning. Dermaganya cukup terawat dengan pondasi kayu ulin.

Makamnya terletak di tengah-tengah hutan dan rawa. Makam Datu Muning berada dalam sebuah kubah. Seperti pada ulama-ulama lainnya, banyak kain kuning disematkan. Lokasi makam tak hanya diisi oleh Syekh Muhammad Ilyas belaka. Murid-murid yang sempat belajar dengannya juga bermakam di lokasi ini. Rata-rata juga memiliki kubah. Setelah puas memotret, kami ingin menunaikan niat awal: bertemu juru kunci makam untuk menggali informasi. Tapi sekali lagi kami kecele. Penjaga makam tidak ada di tempat. "Aku mengira mau ziarah saja, penjaga makamnya tadi berpapasan dengan klotok kita menuju pulang ke rumah," kata supir klotok yang membawa kami. Untungnya, kediaman si penjaga makam hanya berseberangan dengan dermaga. 

Namanya Fahruddin. Pria berumur 45 tahun itu dipercaya menjaga makam oleh orang-orang terdahulunya. Dia sedang duduk melendeh di teras rumah ketika kami temui. "Mau tanya soal riwayat Datu Muning kah," tanyanya. Namun, sebelum bercerita ia tak bisa janji memberikan banyak informasi mengenai riwayat Datu Muning. Karya tulis mengenai Datu Muning sangat sukar dilacak. 

Diceritakan Fahruddin, banyak habib datang ke Indonesia mengasingkan diri ke wilayah pedalaman untuk menghindar dari serangan para kolonial. Termasuk Syekh Muhammad Ilyas yang mengasingkan diri menuju Kampung Muning. Dulu, masyarakat di sana begitu ramai. Ia juga dikisahkan pernah berguru dengan Datu Sanggul.

Sikapnya yang suka menolong terhadap sesama membuatnya begitu melekat di hati masyarakat sekitar Kampung Muning. "Apabila melihat segala macam warga kesusahan, ia pasti menolong, misalnya dulu ada cerita seorang pedagang sedang melalui sungai di depan kampungnya. Tiba-tiba kapal tersebut terbalik. Datu Muning yang melihatnya langsung menolong," katanya. Anehnya, kata pedagang Datu Muning menolongnya dengan berjalan dari atas air. "Kejadian itu benar adanya. Beliau tidak basah. Pedagang langsung datang kepada keluarga kami untuk menceritakan hal tersebut," katanya.

Banyak warga-warga belajar agama kepadanya. "Sepengatahuan kami, sidin mengajarnya di rumah saja waktu di Kampung Muning," ujar Fahruddin. Dengan menggunakan sampan, pada saat itu banyak warga hilir mudik datang ke tempatnya untuk belajar agama. Maklum era itu transportasi air lah yang bisa digunakan warga untuk beraktivitas.

Muhammad Ilyas juga mempunyai semangat anti-kolonialisme. Konon, sewaktu kapal inggris datang ke Tanah Banjar, ia paling getol menolaknya. "Keluarga kami bercerita, bahwa Datu pernah menangkal kedatangan kapal tersebut dengan cara memahat bagian buritan kapal selama tujuh hari tujuh malam dalam air, itu salah satu karamah yang dimilikinya," kata Fahruddin. Karamah sendiri Dalam terminologi ulama ilmu tauhid adalah hal/perkara atau suatu kejadian yang luar biasa di luar nalar dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seorang wali Allah.

Secara mengejutkan, menurut kisah turun-temurun dari keluarganya, Syekh Muhammad adalah sosok dibalik munculnya Pulau Kembang, sebuah delta/pulau di Banjarmasin yang sekarang terkenal dengan habitat keranya. "Setelah dipahat, kapal jadi bocor dan karam ke dasar, beberapa waktu kemudian, kapal tersebut berubah menjadi delta yang ditumbuhi berbagai tanaman, akhirnya sampai sekarang dikenal sebagai Pulau Kembang," tuturnya.

Datu Muning juga dipercaya punya kemampuan lain. Bisa berbicara dengan binatang-binatang di sekitarnya adalah karamah yang dimilikinya. Konon, semasa hidup Datu Muning sempat memelihara buaya. Dua ekor buayanya masih hidup hingga sekarang, cuma orang-orang yang diberi kelebihan yang bisa melihat," jelas Fahruddin. Kurang diketahui pasti, mengapa Datu Muning memelihara buaya tersebut.

Kala Datu Muning sudah tiada, karamah-karamah yang dimilikinya masih tetap nampak. Misalnya, saat kebanjiran pada tahun 1992 lalu. Cuma makamnya yang luput dari banjir. Selain itu, makamnya juga tak mau ditumbuhi tumbuhan liar dan hewan-hewan. Padahal di daerah makam merupakan belantara dan semak belukar. 

Haulnya diperingati 24 Rajab. Setiap kali haul datang, komplek pemakaman sering membludak. Kapal klotok harus dipersiapkan lebih dari lima buah agar para penumpang tak membludak di dermaga. "Jadi berkah tersendiri bagi masyarakat serta para sopir," ujarnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Minggu, 20 Agustus 2017 13:19

Sejarah Panjang Kain Sasirangan: Hasil Bertapa Patih Lambung Mangkurat 40 Hari 40 Malam

Seperti kain nusantara umumnya, kain sasirangan punya banyak cerita. Kain khas Kalsel ini dipercaya…

Sabtu, 19 Agustus 2017 12:25

Hunting Bareng di  Desa Wisata Wadian Tambai Halong

Keelokan Desa Wisata Wadian Tambai, Kabupaten Balangan, yang menyimpan ragam seni  dan budaya serta…

Jumat, 18 Agustus 2017 16:33

Begini Kemeriahaan Hari Kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan

Hari Kemerdekaan menjadi hari yang selalu ditunggu para narapidana setiap tahunnya. Alasannya lebih…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:54

Ketika Warga Angkasa Gelar Apel Sendiri

Upacara bendera 17 Agustus bukan milik kantor pemerintah atau sekolah semata. Itulah yang coba dibuktikan…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:37

Ketika Tahanan Polsekta Banjarmasin Timur Ikut Rayakan Kemerdekaan RI

Para tahanan Polsekta Banjarmasin Timur juga bisa merasakan kemeriahan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Bahkan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 15:30

Melihat Kondisi Rehabilitasi Pecandu Narkoba di Kalsel

Meski gencar diperangi, kasus-kasus narkoba di Kalsel terus meningkat. Hukuman mati yang diterapkan…

Kamis, 10 Agustus 2017 11:14

Mengenal Komunitas Yamaha Vixion Club Indonesia Chapter Seribu Sungai

BANJARMASIN – Jika club motor pada umumnya melakukan touring di wilayah perkotaan dengan menyusuri…

Rabu, 09 Agustus 2017 15:02

Rio, Remaja Penderita Leukimia Perlu Pengobatan

Di saat teman-teman sebayanya sedang asik menikmati masa sekolah, M Rio Ramadhan terbaring lemas di…

Sabtu, 05 Agustus 2017 18:10

Kisah Jambret Muda yang Sudah Tiga Kali Masuk Penjara

Baru berumur 18 tahun, LB sudah punya riwayat kejahatan yang panjang. Aksi terakhirnya menjambret di…

Kamis, 03 Agustus 2017 15:46

Kisah Ahmad Sofyan, Tukang Urut yang Akhirnya Naik Haji

Kisah perjuangan yang luar biasa dari orang biasa, untuk pergi berhaji mampu memotivasi siapapun. Seperti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .