MANAGED BY:
MINGGU
22 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 06 Juni 2017 20:18
Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi
ZIARAH: Tim Ekspedisi Islam berziarah ke makam Syeikh Habib Abu Bakar Assegaf atau kerap dikenal dengan sebutan Habib Lumpangi.

PROKAL.CO,  

Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib yang datang punya tradisi belarut untuk ajarkan Islam kepada warga setempat.  

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Lumpangi, Hulu Sungai Selatan

 

Di Hulu Sungai Selatan (HSS), kami banyak menghabiskan waktu di Kecamatan Loksado. Kawasan yang masih masuk dalam punggung Pegunungan Meratus ini punya banyak cerita menarik tentang Islam dan penyebarannya. Salah satunya, liputan pertama kami soal kunjungan ke makam Syeikh Habib Abu Bakar Assegaf atau kerap dikenal dengan sebutan Habib Lumpangi. Konon, habib turut ambil peran penting terhadap proses syiar Islam di beberapa kawasan Kecamatan Loksado arah bawah. 

Lokasi makamnya cukup mudah dicari. Jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari pusat kota Kandangan. Jalan mudah ditempuh lantaran beraspal. Papan plang makam berukuran besar juga memudahkan pencarian. Namun, kami juga tetap harus hati-hati lantaran rutenya penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam, serta tikungan yang tajam. Beruntung, medan yang ekstrem lumayan terbayar dengan pemandangan di sekitar. Pegunungan meratus yang menjulang tinggi serta pepohonan yang rimbun memanjakan mata. Tak ada kami lihat aktivitas penambangan di Loksado.

Kesulitan datang ketika penjaga makam kurang tahu banyak mengenai riwayat hidup sang habib. "Saya takut salah, kalau mau langsung hubungi juriat beliau lah," katanya. Penjaga makam itu merujuk kami pada salah satu juriat habib yang tak mau disebut identitasnya. Panggil saja dengan sebutan HA. Kabar kurang sedapnya, rumahnya berada di Kota Kandangan. Tepatnya di daerah Muara Banta. Otomatis, kami harus turun gunung kembali.

HA kami temui saat di kediamannya waktu jam istirihat, Senin (29/5). Pria ini ternyata berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia menyambut kami dengan baik. Perlahan, ia menceritakan sedikit cerita yang dia ketahui secara turun temurun dari orang-orang terdekat serta masyarakat. "Tidak ada catatan khusus, jadi mohon maaf apabila ada kekurangan," katanya. 

Awal tahun 1800 menjadi tahun pijakan awal Islam masuk di Loksado. Sebelum lahirnya Abu Bakar atau Habib Lumpangi, para habaib seperti Habib Idrus serta Habib Hasan terlebih dahulu datang ke Loksado menyiarkan Islam. Dua bersaudara keturunan ini jalan kaki dari Banjarmasin. "Dulu, jalan masih setapak," ujar HA. Seperti biasa, para habaib ini berasal dari Hadramaut. 

Tujuan mereka adalah menuju Lumpangi. Dulunya kawasan Lumpangi adalah wilayah kehidupan masyarakat adat meratus atau orang akrab menyebutnya dayak meratus. Di sana dulunya juga ada sebuah balai adat yang besar. Pantai Ulin adalah nama balai tersebut. "Kompleks pemakaman habib di Lumpangi sekarang itu dulu adalah pusat kehidupan masyarakat adat," kata dia. Walaupun berbeda keyakinan, Habib Idrus tinggal di sana untuk menyiarkan ajaran Islam di daerah pegunungan.

Tak ada yang protes dengan kedatangannya. "Soalnya, mereka datang dengan sikap yang santun serta sering bergaul dengan masyarakat," tutur HA. Menurut sumber lain, Habib Idrus dikenal hebat dalam ilmu medis. Keahliannya membuat warga terpukau hingga akhirnya mereka berguru dengan Idrus dan belajar mengenai ajaran Islam. Sebagian masyarakat yang menolak ajarannya memilih untuk berpindah ke kampung lain.

Tak lama, lahirlah seorang anak bernama Abu Bakar. Ia adalah anak dari Habib Hasan. Info mengenai apakah Habib Hasan beristri dengan penduduk setempat masih samar-samar. Abu Bakar lahir pada akhir abad 18 dan menetap di Lumpangi. "Ayahnya pindah ke Taniran. Di sana setelah Abu Bakar cukup dewasa. Ia diminta untuk menetap di Lumpangi," jelasnya.

Hasilnya, Abu Bakar melanjutkan perjuangan Habib Idrus dan Habib Hasan untuk menyiarkan Islam di Lumpangi dan sekitarnya. Lantaran jalan di Lumpangi waktu itu masih berupa tanah setapak, Abu Bakar lebih suka menggunakan rakit untuk berpindah dari desa ke desa. Ia menyusuri Sungai Amandit yang arusnya sangat deras. 

Wilayah dakwahnya tersebar sampai ke bagian bawah pegunungan. "Dari Lumpangi, ia balarut (mengikuti arus sungai) sampai ke daerah Halunuk," kata dia. Untuk kawasan Kecamatan Loksado yang desa-desanya berada di atas Lumpangi,HA kurang mengetahui apakah Abu Bakar pernah menyiarkan sampai daerah tersebut. "Saya kira belum ada terdengar kisahnya beliau sampai ke atas," kata HA. 

Menurut saksi sejarah yang pernah bercerita ke HA, Habib Abu Bakar yang dulunya berdakwah semasa penjajahan Belanda mempunyai karamah-karamah tertentu. "Misalnya soal menginang, dulu Habib Abu Bakar seringkali menyarankan kepada warga untuk menginang selama berperang. Konon, cara tersebut dapat membuat tubuh menjadi kebal kala melawan penjajah," ujarnya. 

Selain itu, habib juga pernah membuat Belanda kocar-kacir. Bagaimana tidak, awalnya habib ingin diusir oleh Belanda dari Pantai Ulin. Namun, ia sekali lagi menunjukkan karamahnya. "Waktu itu, ketika Belanda hendak mengusir, Belanda menantang habib untuk bertaruh," katanya. Ceritanya, ada sebuah kelapa yang dibawa oleh Belanda di hadapannya. "Tunjukkan kalau kau hebat! apakah ada kehidupan makhluk dalam nyiur ini," kata HA menirukan perkataan para penjajah. Sontak, habib langsung saja menebas kelapa. Tak disangka, bagian dalam kelapa keluarlah seekor ikan bersama air kelapa di dalamnya. Belanda langsung keheranan dan tak berani lagi mengusir sang habib. 

Pasca kejadian itu, Habib Abu Bakar terus menularkan ghirah Islam kepada masyarakat sekitar Loksado. Desa Lumpangi dan beberapa desa di daerah bawah yang masih masuk kecamatan Loksado kini penuh dengan pemeluk ajaran Islam berkat peranan dakwah antar generasi ini. Ia juga meninggalkan masjid pertama di Loksado. Namanya Jannatul Anwar. Hingga kini, masjid tersebut terus dijadikan masyarakat sekitar untuk menyiarkan Islam di Lumpangi dan sekitarnya. 

Ia wafat pada tahun 1902. Tepatnya pada tanggal 17 Djulhizzah. Setiap satu minggu selepas Idul Adha, masyarakat acap kali memperingati haul ulama bersejarah di Loksado ini. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 11:58

Jasa Ojek Online Khusus Perempuan di Banjarmasin ini Banjir Orderan

Nafisah boleh dibilang perempuan zaman now. Yang mampu mandiri mencari pendapatan sendiri. Menggunakan…

Sabtu, 21 April 2018 11:48

Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan…

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…

Sabtu, 14 April 2018 11:48

Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya

Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap…

Jumat, 13 April 2018 13:11

Perjuangan Heri Hadi Saputra Keliling Dagang Sule

Heri Hadi Saputra dulu berprofesi sebagai ojek. Penghasilannya pas-pasan. Sekarang pria berusia 38 tahun…

Kamis, 12 April 2018 14:45

Mantan Gubernur Kalsel Terpesona Keindahan Desa Kiram

MANTAN Gubernur Kalimantan Selatan, HM Said, terpesona ketika berkunjung ke Desa Kiram, Kecamatan Karang…

Selasa, 10 April 2018 20:30

Perjuangan Siswa Kotabaru Ikuti UNBK: 10 Jam Arungi Laut, Dihantam Gelombang 2 Meter

Mereka mesti berjibaku arungi ombak dua meter, arungi laut selama 10 jam hanya untuk ikut UNBK. ==========================…

Senin, 09 April 2018 15:36

Beratnya Perjuangan Nurjenah, Bidan Desa Terpencil di Pulau Burung

Nama Nurjenah tidak asing lagi bagi Warga Desa Pulau Burung Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Dia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .