MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 06 Juni 2017 20:18
Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi
ZIARAH: Tim Ekspedisi Islam berziarah ke makam Syeikh Habib Abu Bakar Assegaf atau kerap dikenal dengan sebutan Habib Lumpangi.

PROKAL.CO,  

Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib yang datang punya tradisi belarut untuk ajarkan Islam kepada warga setempat.  

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Lumpangi, Hulu Sungai Selatan

 

Di Hulu Sungai Selatan (HSS), kami banyak menghabiskan waktu di Kecamatan Loksado. Kawasan yang masih masuk dalam punggung Pegunungan Meratus ini punya banyak cerita menarik tentang Islam dan penyebarannya. Salah satunya, liputan pertama kami soal kunjungan ke makam Syeikh Habib Abu Bakar Assegaf atau kerap dikenal dengan sebutan Habib Lumpangi. Konon, habib turut ambil peran penting terhadap proses syiar Islam di beberapa kawasan Kecamatan Loksado arah bawah. 

Lokasi makamnya cukup mudah dicari. Jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari pusat kota Kandangan. Jalan mudah ditempuh lantaran beraspal. Papan plang makam berukuran besar juga memudahkan pencarian. Namun, kami juga tetap harus hati-hati lantaran rutenya penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam, serta tikungan yang tajam. Beruntung, medan yang ekstrem lumayan terbayar dengan pemandangan di sekitar. Pegunungan meratus yang menjulang tinggi serta pepohonan yang rimbun memanjakan mata. Tak ada kami lihat aktivitas penambangan di Loksado.

Kesulitan datang ketika penjaga makam kurang tahu banyak mengenai riwayat hidup sang habib. "Saya takut salah, kalau mau langsung hubungi juriat beliau lah," katanya. Penjaga makam itu merujuk kami pada salah satu juriat habib yang tak mau disebut identitasnya. Panggil saja dengan sebutan HA. Kabar kurang sedapnya, rumahnya berada di Kota Kandangan. Tepatnya di daerah Muara Banta. Otomatis, kami harus turun gunung kembali.

HA kami temui saat di kediamannya waktu jam istirihat, Senin (29/5). Pria ini ternyata berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia menyambut kami dengan baik. Perlahan, ia menceritakan sedikit cerita yang dia ketahui secara turun temurun dari orang-orang terdekat serta masyarakat. "Tidak ada catatan khusus, jadi mohon maaf apabila ada kekurangan," katanya. 

Awal tahun 1800 menjadi tahun pijakan awal Islam masuk di Loksado. Sebelum lahirnya Abu Bakar atau Habib Lumpangi, para habaib seperti Habib Idrus serta Habib Hasan terlebih dahulu datang ke Loksado menyiarkan Islam. Dua bersaudara keturunan ini jalan kaki dari Banjarmasin. "Dulu, jalan masih setapak," ujar HA. Seperti biasa, para habaib ini berasal dari Hadramaut. 

Tujuan mereka adalah menuju Lumpangi. Dulunya kawasan Lumpangi adalah wilayah kehidupan masyarakat adat meratus atau orang akrab menyebutnya dayak meratus. Di sana dulunya juga ada sebuah balai adat yang besar. Pantai Ulin adalah nama balai tersebut. "Kompleks pemakaman habib di Lumpangi sekarang itu dulu adalah pusat kehidupan masyarakat adat," kata dia. Walaupun berbeda keyakinan, Habib Idrus tinggal di sana untuk menyiarkan ajaran Islam di daerah pegunungan.

Tak ada yang protes dengan kedatangannya. "Soalnya, mereka datang dengan sikap yang santun serta sering bergaul dengan masyarakat," tutur HA. Menurut sumber lain, Habib Idrus dikenal hebat dalam ilmu medis. Keahliannya membuat warga terpukau hingga akhirnya mereka berguru dengan Idrus dan belajar mengenai ajaran Islam. Sebagian masyarakat yang menolak ajarannya memilih untuk berpindah ke kampung lain.

Tak lama, lahirlah seorang anak bernama Abu Bakar. Ia adalah anak dari Habib Hasan. Info mengenai apakah Habib Hasan beristri dengan penduduk setempat masih samar-samar. Abu Bakar lahir pada akhir abad 18 dan menetap di Lumpangi. "Ayahnya pindah ke Taniran. Di sana setelah Abu Bakar cukup dewasa. Ia diminta untuk menetap di Lumpangi," jelasnya.

Hasilnya, Abu Bakar melanjutkan perjuangan Habib Idrus dan Habib Hasan untuk menyiarkan Islam di Lumpangi dan sekitarnya. Lantaran jalan di Lumpangi waktu itu masih berupa tanah setapak, Abu Bakar lebih suka menggunakan rakit untuk berpindah dari desa ke desa. Ia menyusuri Sungai Amandit yang arusnya sangat deras. 

Wilayah dakwahnya tersebar sampai ke bagian bawah pegunungan. "Dari Lumpangi, ia balarut (mengikuti arus sungai) sampai ke daerah Halunuk," kata dia. Untuk kawasan Kecamatan Loksado yang desa-desanya berada di atas Lumpangi,HA kurang mengetahui apakah Abu Bakar pernah menyiarkan sampai daerah tersebut. "Saya kira belum ada terdengar kisahnya beliau sampai ke atas," kata HA. 

Menurut saksi sejarah yang pernah bercerita ke HA, Habib Abu Bakar yang dulunya berdakwah semasa penjajahan Belanda mempunyai karamah-karamah tertentu. "Misalnya soal menginang, dulu Habib Abu Bakar seringkali menyarankan kepada warga untuk menginang selama berperang. Konon, cara tersebut dapat membuat tubuh menjadi kebal kala melawan penjajah," ujarnya. 

Selain itu, habib juga pernah membuat Belanda kocar-kacir. Bagaimana tidak, awalnya habib ingin diusir oleh Belanda dari Pantai Ulin. Namun, ia sekali lagi menunjukkan karamahnya. "Waktu itu, ketika Belanda hendak mengusir, Belanda menantang habib untuk bertaruh," katanya. Ceritanya, ada sebuah kelapa yang dibawa oleh Belanda di hadapannya. "Tunjukkan kalau kau hebat! apakah ada kehidupan makhluk dalam nyiur ini," kata HA menirukan perkataan para penjajah. Sontak, habib langsung saja menebas kelapa. Tak disangka, bagian dalam kelapa keluarlah seekor ikan bersama air kelapa di dalamnya. Belanda langsung keheranan dan tak berani lagi mengusir sang habib. 

Pasca kejadian itu, Habib Abu Bakar terus menularkan ghirah Islam kepada masyarakat sekitar Loksado. Desa Lumpangi dan beberapa desa di daerah bawah yang masih masuk kecamatan Loksado kini penuh dengan pemeluk ajaran Islam berkat peranan dakwah antar generasi ini. Ia juga meninggalkan masjid pertama di Loksado. Namanya Jannatul Anwar. Hingga kini, masjid tersebut terus dijadikan masyarakat sekitar untuk menyiarkan Islam di Lumpangi dan sekitarnya. 

Ia wafat pada tahun 1902. Tepatnya pada tanggal 17 Djulhizzah. Setiap satu minggu selepas Idul Adha, masyarakat acap kali memperingati haul ulama bersejarah di Loksado ini. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Jumat, 09 Juni 2017 16:37

Ekspedisi Islam Jilid 3: Oase Islam di Punggung Meratus

  Keberadaan pondok pesantren Raudhatul Ulum yang persis berada di punggung pegunungan meratus…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .