MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 07 Juni 2017 02:56
Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)
SAKSI BISU - Di Pasar Muara Ulang inilah dulu yang jadi titik awal bagaimana Islam mulai dikenal oleh masyarakat Muara Ulang dan sekitarnya. Mulanya Islam masuk lewat pedagang muslim dari desa Muui, Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang berjualan di pasar ini. Maklum di zaman dulu, pasar ini merupakan pusat jual beli satu-satunya di kawasan pegunungan meratus di wilayah tanuhi dan sekitarnya, sehingga pasar yang sudah direnovasi ini dimasanya menjadi tempat berkumpul masyarakat banyak. | foto : Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang Muslim yang menjaja dagangannya di punggung Pegunungan Meratus juga tak boleh dilewatkan untuk digurat dalam sebuah catatan sejarah.

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Muara Ulang, Hulu Sungai Selatan

 

Langit sore terlihat temaram ketika kami sampai di kediaman Basri di Desa Muara Ulang pada Rabu (31/5). Dia adalah saksi sekaligus pelaku sejarah berdirinya Pasar Muara Ulang. Konon, pasar yang ada di desa ini merupakan titik awal masuknya ajaran Islam di desa mereka lewat aktivitas dagang. 

Desa ini terletak di ujung Kecamatan Loksado dekat dengan Pemandian Air Panas Tanuhi yang populer. Jika dari pusat Kota Kandangan, jarak menuju desa lumayan jauh. 40 kilometer. Dari titik pemandian air panas jaraknya kurang lebih 8 kilometer untuk sampai di Desa Muara Ulang. Untungnya, kondisi jalan masih layak dilewati sepeda motor meskipun beberapa ruas jalan ada yang bolong. 

Pemandangan selama perjalanan boleh dibilang syahdu. Kami melewati kampung-kampung dengan latar belakang keyakinan yang berbeda hidup dengan rukun. Termasuk desa yang kami kunjungi ini. Pemeluk Islam, Kristen serta Kaharingan hidup berkumpul dalam satu desa.

Kami ngobrol dengan Basri di teras rumahnya. Tatapan Basri terlihat tajam. Dahinya sesekali mengernyit ketika kami mulai menanyakan list pertanyaan. Pria renta ini mencoba meraba kembali ingatannya pada kisaran tahun 1960. Ia kadang melepas sedikit tawa dari bibirnya ketika mengingat kenangan masa lampau. "Dasar bujur, banyak pedagang Muslim datang berdagang di desa kami," kata dia. 

Diceritakan Basri, pada kisaran tahun 1960 warga punya hajat mendirikan sebuah pasar. Alasannya, Desa Muara Ulang dan sekitarnya memang belum ada wadah jual beli. Halimah, yang kebetulan masih satu kerabat dengan Basri menjadi sosok penggaggas pasar tersebut. "Dia warga asli Muara Ulang, pernah tinggal di Banjarmasin selama beberapa waktu dan menjadi muallaf," ceritanya. Ketika datang kembali ke desa, Halimah menyampaikan keinginannya kepada Basri untuk mendirikan kawasan pasar di desanya.

Basri tak ambil pikir dengan ajakan Halimah. "Langsung aku bantu menebas pepohonan di sekitar," ujar Basri. Pada masa 1960an, kawasan Loksado memang masih berupa hutan belantara. Jalannya masih setapak. Warga-warga Desa Muara Ulang juga masih memegang teguh tradisi seperti tinggal di rumah-rumah panggung. 

Akhirnya, tak lebih dari satu tahun pasar Muara Ulang rampung. Halimah mulai menebar info dan mengajak para pedagang dari desa sebelah. Mereka menyambut baik tawaran Halimah. Namun, lantaran kondisi jalan masih setapak dan belum marak alat transportasi, para pedagang tak ada pilihan lain membawa barang dagangannya selain dengan jalan kaki. "Mereka datang dari Desa Muui, Hulu Sungai Tengah dan seluruh pedagang kebetulan Muslim," kata Basri. Jarak antara Desa Muui dan Muara Ulang cukup dekat untuk ditempuh dengan jalan kaki. 

Para pedagang Muslim membuka lapaknya setiap hari Selasa. Jumlah mereka puluhan. "Jadi setiap Senin malam, bubuhan Urang Dagang sudah menginap di desa Muara Ulang untuk menyiapkan pasar besok harinya," tutur Basri. Sekadar info, Urang Dagang adalah panggilan untuk pedagang Muslim yang disematkan oleh masyarakat Pegunungan Meratus kala itu. Mereka membawa bermacam-macam barang untuk dijaja. Sembako menjadi barang paling diserbu warga.

Soal konsumen, rata-rata pembeli di pasar adalah masyarakat adat Pegunungan Meratus yang tinggal di sekitar Muara Ulang. Mereka datang berbondong-bondong untuk memenuhi keperluan sehari-hari. 

Uniknya, warga tak sekadar melakukan jual beli dengan para pedagang. Masyarakat adat dan para pedagang menjalin pertemanan dengan baik. "Kami menganggap urang dagang seperti dangsanak kami sendiri walau berbeda keyakinan," kata Basri. 

Lambat laun, hubungan pertemanan antara masyarakat adat dengan para pedagang Muslim akhirnya membawa warga sekitar mulai mengetahui ajaran-ajaran Islam. "Kami sering mengobrol dan cari tahu soal ajaran agama yang mereka pegang," tuturnya. Sampai akhirnya, waktu itu masyarakat tambah dibuat penasaran dengan sikap para pedagang yang baik dan jujur dalam melakukan aktivitas jual beli. "Dari situ, beberapa warga termasuk aku memilih untuk menjadi muallaf," katanya. 

Ditambahkan Basri, warga rata-rata memilih berislam langsung dengan bantuan para pedagang. "Mereka yang mengajari kami syahadat," katanya. Sebagian warga yang lain memilih untuk berislam di KUA terdekat.

Masyarakat adat yang memilih memeluk Islam juga minta ajari salat dan mengaji dengan para pedagang. Langgar kecil juga didirkan di belakang pasar untuk memenuhi kebutuhan peribadahan mereka. "Tidak ada ulama yang masuk ke sini, awal-awal kami muallaf semuanya dari urang dagang yang melajari," ujarnya.

Namun, lantaran pasar Muara Ulang hanya diadakan setiap hari Selasa saja, ajaran-ajaran yang ditularkan para pedagang belum bisa seutuhnya dimengerti oleh warga. "Banyak dari kami yang salatnya belum benar saat itu," kata Basri.

Untungnya, sekitar tahun 1970 silam, seorang tokoh agama dari desa Datar Belimbing datang ke desa Muara Ulang dan sekitarnya untuk menyiarkan ajaran Islam. Namanya Ustadz Tuhabang. Konon, Ustadz ini memang dikenal suka berkeliling mengenalkan Islam. "Aku kurang ingat latar belakang Ustadz tersebut dari mana, yang pasti dia ustadz tersebut sudah berjasa membina kami," kata dia. 

Tuhabang mengajari warga selama tujuh tahun lebih. "Dari situ, kami mulai diajari tata cara ibadah, bagaimana salat, bagaimana mengaji, dan ibadah-ibadah agama Islam yang lain" kata dia. Dari anak-anak sampai orang dewasa tak malu untuk belajar agama dengannya.

Walaupun jumlah pemeluknya tak banyak, hingga kini, syiar Islam di Muara Ulang sudah mulai cukup berkembang. Langgar kecil yang sebelumnya berada di samping pasar sudah dipindah dan diganti dengan masjid. Para Da'i dari program Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hulu Sungai Selatan juga datang untuk membimbing warga muslim di desa Muara Ulang.

Salah satu Da'i yang kami temui adalah Syaraffudin. Kami menemuinya di kediamannya yang bertempat di dusun Tariban, sekitar 4 kilometer dari Muara Ulang. "Ulun di sini jadi Da'i dari tahun 2007," ujarnya. 

Diceritakan Da'i berusia 28 tahun ini kalau mula kedatangannnya sudah ada beberapa orang muallaf. Namun minimnya ilmu tentang agama dan sosok pembimbing adalah potret di sana sewaktu dulu. "Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang bisa salat dan mengaji. Selain belajar di Langgar, ulun juga datang dari rumah ke rumah warga untuk mengajari," ceritanya.  

Melihat kondisi perkembangan Islam yang jauh lebih baik di desanya, Basri dan warga-warga lainnya tentu tetap tak akan lupa dengan kisah Pasar Muara Ulang. Pasar tersebut telah menjadi cikal bakal peradaban Islam di desanya. Sampai sekarang pasar tersebut masih eksis berdiri. Kondisi pasar dipugar dengan beton. Warga-warga desa sekitar masih mempertahankan transaksi jual beli di sana. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Jumat, 09 Juni 2017 16:37

Ekspedisi Islam Jilid 3: Oase Islam di Punggung Meratus

  Keberadaan pondok pesantren Raudhatul Ulum yang persis berada di punggung pegunungan meratus…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .