MANAGED BY:
MINGGU
22 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 08 Juni 2017 03:49
Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)
PENUH PERJUANGAN - Masjid Darussholihin inilah yang menjadi masjid pertama dan satu-satunya di Loksado hingga sekarang. Bangunan yang sudah dirombak total ini juga jadi saksi bisu bagaimana Islam masuk di desa Loksado. Selain sebagai tempat ibadah umat muslim, dalam proses pembangunannya masjid ini penuh kisah dan perjuangan. Dimana masyarakat muslim baik laki-laki dan perempuan di loksado kala itu harus turun naik gunung untuk memikul bahan baku seperti pasir ataupun pohon ulin untuk tiang masjid. | Foto : muhammadrifani / Radar Banjarmasin

PROKAL.CO,  

Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya. Mereka rela berjalan kaki naik turun gunung untuk mendirikan masjid tersebut. Semangat keimanan telah membuat mereka melampau rasa lelah. 

------------------------------------------------------

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Desa Loksado, Hulu Sungai Selatan

------------------------------------------------------

"Allahu akbar, Allahu Akbar," lantunan adzan pertanda masuknya waktu Ashar keluar dari pengeras suara masjid ketika kami sampai di Desa Loksado. Suara muadzin terdengar menyeru dengan merdu. Warga-warga berbondong-bondong menapak kaki menuju Masjid untuk menunaikan salat. Desa ini  menjadi titik liputan pilihan kami setelah dari Desa Muara Ulang. 

Siapa yang tak kenal dengan salah satu desa yang terletak di bagian Pegunungan Meratus ini? Air yang mengalir deras dari Sungai Amandit serta pemandangan hutan di Pegunungan Meratus cukup menjadi magnet bagi kalangan wisatawan. Kami hanya bisa sekadar menelan ludah. Niat kami bukan untuk berwisata. Tujuan utama ekspedisi adalah melacak jejak Islam di Masjid Darussholihin, masjid pertama di Desa Loksado.

Letak masjidnya berada di tengah pemukiman warga. Ukuran masjidnya lumayan lebar. Cukup untuk menampung 40 lebih jemaah. Konstruksinya bahkan sudah dipugar. Sekilas, masjid tampak layaknya tempat peribadatan pada umumnya. Namun, menurut warga ada ada kisah menarik yang tidak diketahui orang banyak mengenai berdirinya Darussholihin. 

Penasaran, usai salat kami langsung menemui Abu Salam. Menurut warga, pria ini adalah pelaku sejarah berdirinya masjid yang masih bertahan hingga sekarang. Teman satu angkatan Abu Salam dalam mendirikan masjid banyak yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah. 

Kami menemui Salam di kediamannya. Ia tinggal di dekat pemandian air panas Tanuhi yang masih satu kawasan loksado dengan Loksado. Lantaran kami tak bikin janji dengannya, Salam tampak menatap kebingungan. "Dari mana," tanya pria yang tampak sudah renta ini. Umurnya sekitar tujuh puluh tahun. Kerut muka di sekitar wajahnya menegaskan umurnya sudah lebih setengah abad. Setelah menjelaskan tujuan kami, akhirnya dia mengerti dan mulai tebar cerita. Namun, terbatasnya ingatannya membuat kami agak kesulitan.

Sebelum bercerita mengenai pembangunan masjid, ia lebih dulu mengisahkan kami tentang hadirnya Islam di sekitaran Desa Loksado. Ternyata, ceritanya hampir mirip dengan Desa Muara Ulang yang kami kunjungi kemarin. Para pedagang muslim juga hadir di desa mereka. "Kawasan jual belinya diberi nama Kulampayan," ceritanya. Lokasi pasar waktu itu berada di tepian sungai tak jauh dari pemukiman warga. Buka setiap hari Kamis. Namun, kata warga bekas peninggalan pasar sudah tak tersisa satupun. 

Masyarakat adat yang tinggal di sekitar Kulampayan pasti membeli keperluan ke kawasan tersebut. "Dulu ada sebuah balai bernama Balai Palupuh, yang tinggal dekat dengan pasar Kulampayan. Nah, karena pergaulan dengan para pedagang Muslim, mereka beberapa memilih masuk Islam," kata dia. Sebagian besar masuk Islam lantaran melihat sikap para pedagang Muslim yang sopan dan jujur dalam berdagang. Sisanya, tidak ada pilihan lain selain ikut keluarga.

Para muallaf akhirnya sepakat untuk berpindah ke pemukiman baru . "Kami turun sedikit ke bawah, mendirikan pemukiman di sana. Bangun sedikit-demi sedikit. Sampai sekarang, jadilah sampai sekarang desa ini disebut sebagai Desa Loksado," jelasnya. Sayangnya, salam tak tahu persis kapan waktu berpindahnya warga ke sini. "Yang pasti setelah kemerdakaan," jelasnya. 

Lalu, waktu akhir tahun 60, para muallaf Desa Loksado memang punya keinginan besar untuk mendirikan sebuah masjid. "Belum ada bantuan dimana-mana, jadi warga sendiri yang berencana membuat," tuturnya. Waktu itu, warga urunan untuk mengumpulkan dana. "Bahkan, sampai ada usaha untuk membuat usaha sendiri untuk masjid," tambah Salam. Usaha sarang walet dan membuka warung amal menjadi pilihan warga kala itu.

Usaha tersebut digerakkan oleh tokoh-tokoh masyarakat sekitar. "Nama-nama mereka Mansuri, Tandung, Palen, Masran, dan Ikal, seingatku," bebernya. Hasil usaha tersebut tidak dinikmati oleh mereka yang menggerakan usaha. Namun, keuntungan dilimpahkan untuk pembangunan masjid. Sampai akhirnya dana terkumpul, warga sepakat untuk membeli salah satu tanah yang ada di desa tersebut. "Tanahnya dari seorang Dayak Meratus, kita beli untuk membangun masjid," katanya. 

Menariknya, lantaran masjid ini akan dibangun dengan konstruksi beton, warga harus naik turun gunung untuk mengambil bahan bakunya. "Waktu itu Desa masih seperti hutan belantara, jalannya juga masih setapak, jadi kita jalan kaki saja" katanya. Bahan baku semen diambil dari sebuah kawasan bernama Padang Batung. Jarak antara Desa Loksado menuju Padang Batung tidak main-main: 35 kilometer.  

Tak hanya semen, warga juga memikul kayu ulin, pasir serta batu sebagai material tambahan. "Saya ikut bantu memikul. Tapi, itu bukan cuma laki-laki aja, perempuan juga tidak mau kalah membantu memikul material, mereka semangat sekali membangun masjid. Biasanya, jika berangkat jam 8 pagi, maka mereka akan kembali lagi ke desa ketika sore hari sekitar jam 4 sore," ujar Salam. Namun, bagi mereka jalan kaki dengan memikul barang bawaan seperti itu sudah hal biasa. 

Pembangunan masjid berlangsung selama kurang lebih satu tahun dan kegiatan naik turun gunung terus berulang tidak dalam satu waktu. Sampai pada akhirnya, tepat 17 Agustus 1970, mesjid tersebut didirikan. Kondisi awalnya dilengkapi dengan tiang penyangga ulin. Namun, kini masjid sudah direnovasi total. "Kayu ulin yang menyangga masjid waktu pertama kali sudah tidak ada lagi di masjid," kata dia. 

Perjuangan mendirikan Darusshoolihin tak akan dilupakan oleh Abu Salam. Meskipun masjid serta langgar lain sudah banyak berdiri, masjid tak akan lekang dikenalnya sebagai pusat syiar Islam di Desa Loksado dari dulu hingga sekarang. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 11:58

Jasa Ojek Online Khusus Perempuan di Banjarmasin ini Banjir Orderan

Nafisah boleh dibilang perempuan zaman now. Yang mampu mandiri mencari pendapatan sendiri. Menggunakan…

Sabtu, 21 April 2018 11:48

Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan…

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…

Sabtu, 14 April 2018 11:48

Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya

Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap…

Jumat, 13 April 2018 13:11

Perjuangan Heri Hadi Saputra Keliling Dagang Sule

Heri Hadi Saputra dulu berprofesi sebagai ojek. Penghasilannya pas-pasan. Sekarang pria berusia 38 tahun…

Kamis, 12 April 2018 14:45

Mantan Gubernur Kalsel Terpesona Keindahan Desa Kiram

MANTAN Gubernur Kalimantan Selatan, HM Said, terpesona ketika berkunjung ke Desa Kiram, Kecamatan Karang…

Selasa, 10 April 2018 20:30

Perjuangan Siswa Kotabaru Ikuti UNBK: 10 Jam Arungi Laut, Dihantam Gelombang 2 Meter

Mereka mesti berjibaku arungi ombak dua meter, arungi laut selama 10 jam hanya untuk ikut UNBK. ==========================…

Senin, 09 April 2018 15:36

Beratnya Perjuangan Nurjenah, Bidan Desa Terpencil di Pulau Burung

Nama Nurjenah tidak asing lagi bagi Warga Desa Pulau Burung Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu. Dia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .