MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 08 Juni 2017 03:49
Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)
PENUH PERJUANGAN - Masjid Darussholihin inilah yang menjadi masjid pertama dan satu-satunya di Loksado hingga sekarang. Bangunan yang sudah dirombak total ini juga jadi saksi bisu bagaimana Islam masuk di desa Loksado. Selain sebagai tempat ibadah umat muslim, dalam proses pembangunannya masjid ini penuh kisah dan perjuangan. Dimana masyarakat muslim baik laki-laki dan perempuan di loksado kala itu harus turun naik gunung untuk memikul bahan baku seperti pasir ataupun pohon ulin untuk tiang masjid. | Foto : muhammadrifani / Radar Banjarmasin

PROKAL.CO,  

Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya. Mereka rela berjalan kaki naik turun gunung untuk mendirikan masjid tersebut. Semangat keimanan telah membuat mereka melampau rasa lelah. 

------------------------------------------------------

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Desa Loksado, Hulu Sungai Selatan

------------------------------------------------------

"Allahu akbar, Allahu Akbar," lantunan adzan pertanda masuknya waktu Ashar keluar dari pengeras suara masjid ketika kami sampai di Desa Loksado. Suara muadzin terdengar menyeru dengan merdu. Warga-warga berbondong-bondong menapak kaki menuju Masjid untuk menunaikan salat. Desa ini  menjadi titik liputan pilihan kami setelah dari Desa Muara Ulang. 

Siapa yang tak kenal dengan salah satu desa yang terletak di bagian Pegunungan Meratus ini? Air yang mengalir deras dari Sungai Amandit serta pemandangan hutan di Pegunungan Meratus cukup menjadi magnet bagi kalangan wisatawan. Kami hanya bisa sekadar menelan ludah. Niat kami bukan untuk berwisata. Tujuan utama ekspedisi adalah melacak jejak Islam di Masjid Darussholihin, masjid pertama di Desa Loksado.

Letak masjidnya berada di tengah pemukiman warga. Ukuran masjidnya lumayan lebar. Cukup untuk menampung 40 lebih jemaah. Konstruksinya bahkan sudah dipugar. Sekilas, masjid tampak layaknya tempat peribadatan pada umumnya. Namun, menurut warga ada ada kisah menarik yang tidak diketahui orang banyak mengenai berdirinya Darussholihin. 

Penasaran, usai salat kami langsung menemui Abu Salam. Menurut warga, pria ini adalah pelaku sejarah berdirinya masjid yang masih bertahan hingga sekarang. Teman satu angkatan Abu Salam dalam mendirikan masjid banyak yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah. 

Kami menemui Salam di kediamannya. Ia tinggal di dekat pemandian air panas Tanuhi yang masih satu kawasan loksado dengan Loksado. Lantaran kami tak bikin janji dengannya, Salam tampak menatap kebingungan. "Dari mana," tanya pria yang tampak sudah renta ini. Umurnya sekitar tujuh puluh tahun. Kerut muka di sekitar wajahnya menegaskan umurnya sudah lebih setengah abad. Setelah menjelaskan tujuan kami, akhirnya dia mengerti dan mulai tebar cerita. Namun, terbatasnya ingatannya membuat kami agak kesulitan.

Sebelum bercerita mengenai pembangunan masjid, ia lebih dulu mengisahkan kami tentang hadirnya Islam di sekitaran Desa Loksado. Ternyata, ceritanya hampir mirip dengan Desa Muara Ulang yang kami kunjungi kemarin. Para pedagang muslim juga hadir di desa mereka. "Kawasan jual belinya diberi nama Kulampayan," ceritanya. Lokasi pasar waktu itu berada di tepian sungai tak jauh dari pemukiman warga. Buka setiap hari Kamis. Namun, kata warga bekas peninggalan pasar sudah tak tersisa satupun. 

Masyarakat adat yang tinggal di sekitar Kulampayan pasti membeli keperluan ke kawasan tersebut. "Dulu ada sebuah balai bernama Balai Palupuh, yang tinggal dekat dengan pasar Kulampayan. Nah, karena pergaulan dengan para pedagang Muslim, mereka beberapa memilih masuk Islam," kata dia. Sebagian besar masuk Islam lantaran melihat sikap para pedagang Muslim yang sopan dan jujur dalam berdagang. Sisanya, tidak ada pilihan lain selain ikut keluarga.

Para muallaf akhirnya sepakat untuk berpindah ke pemukiman baru . "Kami turun sedikit ke bawah, mendirikan pemukiman di sana. Bangun sedikit-demi sedikit. Sampai sekarang, jadilah sampai sekarang desa ini disebut sebagai Desa Loksado," jelasnya. Sayangnya, salam tak tahu persis kapan waktu berpindahnya warga ke sini. "Yang pasti setelah kemerdakaan," jelasnya. 

Lalu, waktu akhir tahun 60, para muallaf Desa Loksado memang punya keinginan besar untuk mendirikan sebuah masjid. "Belum ada bantuan dimana-mana, jadi warga sendiri yang berencana membuat," tuturnya. Waktu itu, warga urunan untuk mengumpulkan dana. "Bahkan, sampai ada usaha untuk membuat usaha sendiri untuk masjid," tambah Salam. Usaha sarang walet dan membuka warung amal menjadi pilihan warga kala itu.

Usaha tersebut digerakkan oleh tokoh-tokoh masyarakat sekitar. "Nama-nama mereka Mansuri, Tandung, Palen, Masran, dan Ikal, seingatku," bebernya. Hasil usaha tersebut tidak dinikmati oleh mereka yang menggerakan usaha. Namun, keuntungan dilimpahkan untuk pembangunan masjid. Sampai akhirnya dana terkumpul, warga sepakat untuk membeli salah satu tanah yang ada di desa tersebut. "Tanahnya dari seorang Dayak Meratus, kita beli untuk membangun masjid," katanya. 

Menariknya, lantaran masjid ini akan dibangun dengan konstruksi beton, warga harus naik turun gunung untuk mengambil bahan bakunya. "Waktu itu Desa masih seperti hutan belantara, jalannya juga masih setapak, jadi kita jalan kaki saja" katanya. Bahan baku semen diambil dari sebuah kawasan bernama Padang Batung. Jarak antara Desa Loksado menuju Padang Batung tidak main-main: 35 kilometer.  

Tak hanya semen, warga juga memikul kayu ulin, pasir serta batu sebagai material tambahan. "Saya ikut bantu memikul. Tapi, itu bukan cuma laki-laki aja, perempuan juga tidak mau kalah membantu memikul material, mereka semangat sekali membangun masjid. Biasanya, jika berangkat jam 8 pagi, maka mereka akan kembali lagi ke desa ketika sore hari sekitar jam 4 sore," ujar Salam. Namun, bagi mereka jalan kaki dengan memikul barang bawaan seperti itu sudah hal biasa. 

Pembangunan masjid berlangsung selama kurang lebih satu tahun dan kegiatan naik turun gunung terus berulang tidak dalam satu waktu. Sampai pada akhirnya, tepat 17 Agustus 1970, mesjid tersebut didirikan. Kondisi awalnya dilengkapi dengan tiang penyangga ulin. Namun, kini masjid sudah direnovasi total. "Kayu ulin yang menyangga masjid waktu pertama kali sudah tidak ada lagi di masjid," kata dia. 

Perjuangan mendirikan Darusshoolihin tak akan dilupakan oleh Abu Salam. Meskipun masjid serta langgar lain sudah banyak berdiri, masjid tak akan lekang dikenalnya sebagai pusat syiar Islam di Desa Loksado dari dulu hingga sekarang. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Jumat, 09 Juni 2017 16:37

Ekspedisi Islam Jilid 3: Oase Islam di Punggung Meratus

  Keberadaan pondok pesantren Raudhatul Ulum yang persis berada di punggung pegunungan meratus…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .