MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 09 Juni 2017 16:37
Ekspedisi Islam Jilid 3: Oase Islam di Punggung Meratus

PROKAL.CO,  

Keberadaan pondok pesantren Raudhatul Ulum yang persis berada di punggung pegunungan meratus Hulu Sungai Tengah menjadi oase tersendiri bagi warga Muslim sekitar Hantakan. Bagaimana kisahnya? 

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Hantakan, Hulu Sungai Tengah

 

Usai menjajal wilayah Loksado, Hulu Sungai Selatan kami melanjutkan perjalanan menuju Hulu Sungai Tengah. Guyuran hujan sepanjang jalan membuat kondisi kami agak sedikit tidak karuan ketika kami sampai di pusat kota Barabai. Untungnya, kami dijamu dengan baik oleh Muhammad Amin, wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Hulu Sungai Tengah. "Istirahat dulu sejenak, nanti kita liputan di wilayah pegunungan meratus," sarannya. 

 

Titik liputan kami di Hulu Sungai Tengah tak banyak. "Untuk syiar Islam pedalaman di HST, rata-rata datangnya lewat pengaruh pondok pesantren," kata dia. Pondok Pesantren Raudhatul Ulum menjadi rekomendasinya lantaran lokasi ponpes yang berada di punggung Pegunungan Meratus. Beberapa jam melepas penat, kami langsung minta ajak untuk melipir ke sana. 

 

Hujan gerimis menyambut saat kami menapak kaki di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum pada Kamis (1/6). Lokasinya berada di Desa Tanjung Hulu, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah. Jarak dari pusat kota kira-kira 20 kilometer. Benar belaka kata Amin. Letaknya persis berada di punggung Pegunungan Meratus. "Jadi posisinya berada ditengah-tengah, antara desa-desa pemukiman Muslim dan desa-desa penganut kepercayaan yang lain," jelasnya. Rimbun pepohonan, kicauan burung yang salih bersahutan, serta pemandangan pegunungan meratus yang terlihat indah membuat mata menjadi dimanjakan. 

 

Kompleks pondok pesantren cukup luas. Selain ponpes, di kompleks ini juga berdiri panti asuhan, musala, jejeran kios, serta kantor-kantor. Haji Muhammad Yasin adalah orang yang menyambut kami ketika sampai di kantor pondok pesantren. "Silakan masuk, guru Arsyad sedang istirahat datang dari ibadah umrah, jadi saya yang mewakili," perintah Yasin yang waktu itu mengenakan kaus putih polos serta sarung. 

 

Yasin adalah salah satu guru pondok pesantren yang terbilang senior. "Saya mengajar sejak awal-awal waktu berdirinya pondok sampai dengan sekarang," ceritanya. Pondok pesantren ini sendiri berdiri pada 07 Juli 1986, didirikan oleh KH Sayuti. "Kemudian, pada tahun 1990 oktober, kepengurusan dilimpahkan kepada KH Muhammad Arysad hingga sekarang," jelasnya.

 

KH Muhammad Arsyad atau yang kerap disapa Guru Arsyad selain dikenal sebagai pengasuh ponpes, ia juga diketahui aktif berdakwah menyiarkan agama Islam sampai ke pedalaman Pegunungan Meratus. Wilayah dakwahnya ada di desa-desa yang berada di Kecamatan Hantakan. Ia melakukan dakwah dari rumah ke rumah dan langgar ke langgar untuk mengayomi warga Muslim yang notabenenya menjadi kaum minoritas ketika berada di pegunungan. 

 

Gairah dakwah guru Arsyad tak habis dalam dirinya. "Santri kami meneruskan perjuangannya berdakwah ke daerah pedalaman Hantakan," kata Yasin. Diceritakannya, dalam pondok pesantren ada program mengirimkan para santri ke wilayah pelosok di Hantakan. "Tapi tidak tinggal di desa, hanya pulang pergi," ujarnya.

 

Para santri ditugaskan untuk mengajari warga Muslim pedalaman agar pengetahuan tentang ajaran Islam lebih kuat. Kata Yasin, pemuka agama di wilayah pedalaman sulit dicarinya. "Misalnya untuk para muallaf ya diajari tata cara salat. Soalnya, tidak ada pihak lain yang mengajari selain kami," tambahnya.  

 

Lantaran ponpes punya program mengirimkan para santri ke wilayah pelosok, warga Muslim pelosok Hantakan pasti biasanya juga bergantung ke ponpes untuk mengisi kegiatan keagamaan. "Misalnya ada syukuran, atau kegiatan lain seperti kami sering mengirimkan orang untuk membacakan dan menggiring amalan Talqin kepada warga yang meninggal dunia," kata dia. Hebatnya, para santri naik ke gunung tanpa bayaran sepeserpun. "Kami murni berdakwah menyiarkan Islam," ujarnya. 

 

Menariknya, warga desa-desa terpencil di Kecamatan Hantakan yang pernah dibimbing oleh para santri biasanya memilih menyekolahkan anak-anaknya ke pondok ini. "Banyak orang-orang asli Hantakan yang nyantri, lalu setelah tuntas mereka kembali ke desa masing-masing. Harapannya bisa jadi kader dakwah disana," kata dia.

 

Hingga kini, pondok pesantren sudah memiliki santri/santriwati sebanyak kurang lebih 300 orang. Rata-rata adalah orang asli Hantakan. Berkat banyaknya minat warga untuk menyekolahkan anaknya ke ponpes, syiar Islam di Hantakan sudah berkembang pesat. Para muallaf terus bertambah setiap tahunnya. "Meski begitu, pondok pesantren kami punya amanah besar untuk menjaga peradaban Islam hingga nanti," kata dia. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .