MANAGED BY:
SELASA
20 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28
Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)
PENUH KARAMAH - Diceritakan dalam Manakib kalau ternyata saat Datu Kabul atau Syeikh Abubakar ingin dimakamkan jasadnya seketika lenyap. Sehingga hanya kain kafannya saja yang dimakamkan di makamnya yang terletak di Desa Sungai Banar, Kecamatan Amuntai Selatan, Hulu Sungai Utara. Selain itu nama Datu Kabul juga disematkan oleh peziarah yang mempercayai kalau nazar atau doanya terkabul tatkala datang ke makam. | Foto : Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini, namanya begitu masyhur dikenal masyarakat sebagai Datu "Kabul".

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Amuntai, Hulu Sungai Utara

 

Sangat mustahil bagi kami mencari wilayah Pegunungan Meratus di HSU. "Tidak bakal ada, adanya cuma daerah rawa dan sungai," ujar Muhammad Akbar, wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kota Amuntai ini. Akhirnya, makam Datu Kabul kami putuskan menjadi salah satu titik liputan ekspedisi kami di Hulu Sungai Utara (HSU). Tentunya, rute menuju makam dipandu Akbar. Bagi orang awam seperti kami, memahami jalanan di Amuntai sungguh sulit dan memakan waktu. "Amuntai punya jalanan yang bercabang-cabang," kata Akbar. 

Lokasi makam berada di Desa Sungai Banar. Makamnya berdekatan dengan sungai dan bersebelahan dengan Masjid Sungai Banar. Jaraknya 15 kilometer dari pusat Kota Amuntai. Terdapat makam-makam orang lain di sekitarnya. Namun, Makam Datu Kabul adalah satu-satunya makam yang mempunyai kubah. 

Di sana kami menemui Herman. Pria berumur 40 tahun itu terlihat sedang khusyuk merapal do'a di depan makam Datu Kabul. Makamnya penuh dengan kain kuning yang disematkan para penziarah. Wangi kembang kubur juga terendus hidung ketika kami sampai di sekitar makam. "Inilah makam datuk kami, orang-orang mengenalnya sebagai Datuk Kabul," ujarnya. 

Diceritakan Herman, nama aslinya datuknya bukanlah Kabul. "Itu peziarah saja yang memberi nama," katanya sambil terkekeh. Nama asli Datuk Kabul adalah Syekh Abubakar. Konon, banyaknya do'a peziarah yang terkabul ketika datang ke makam membuat ia dijuluki Datu Kabul. "Tapi beliau sebagai perantara saja ya," tegasnya. Semasa hidup, do'a dari Syekh Abubakar diketahui selalu ijabah atau dikabulkan oleh Allah SWT.

Lalu, siapakah Syekh Abubakar ini? Syekh Abubakar menurut cerita Herman adalah anak dari Sayyid Husin atau Pangeran Sebrang Wethan dan cucu dari Syarif Hidayatullah atau kerap dikenal sebagai Sunan Gunung Djati. Ia lahir pada 13 Dzulhijjah 1102 Hijriah di Banten. 

Semasa kecil, Abubakar sudah mendapatkan pendidikan agama Islam langsung oleh Sunan Gunung Djati. Namun, meskipun belum beranjak dewasa ia sudah menunjukkan karamahnya. "Ketika Abubakar sedang tidur di malam bulan Ramadan, ayahnya pernah melihat tubuh Abubakar mengeluarkan cahaya," ujar Herman. Kejadian itu langsung diceritakan ayahnya kepada Sunan Gunung Djati. "Kata Sunan Gunung Djati, kejadian itu jadi pertanda bahwa Abubakar kelak akan menjadi orang besar yang dicintai orang banyak. Tapi tidak di tanah Banten," katanya.

Benar belaka perkataan Sunan Gunung Djati. Ketika Abubakar berumur 21 tahun, ayahnya bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. "Nabi Muhammad dalam mimpi tersebut memerintahnya untuk mengirim Abubakar hijrah ke ke Tanah Banjar untuk berdakwah," ceritanya. Setelah mimpi tersebut, ayahnya langsung menyampaikan perintah nabi. Jawabannya? Abubakar menerima dengan ikhlas berpisah dengan kedua orang tuanya untuk menyiarkan ajaran Islam di Tanah Banjar.

Sebelum berangkat, Sunan Gunung Djati memberikan amanah untuk mengajarkan kitab pemberiannya yang bernama Bayannullahul Haq yang berarti Bayang-Bayang Dalam Kebenaran. Gunung Djati berpesan, kitab tersebut diajarkan kepada masyarakat yang tinggal sekitar wilayah dakwahnya di Amuntai agar selamat hidup di dunia maupun di akhirat.  

Ketika sampai di Pelabuhan Banua Lima, Abubakar disambut baik Syekh Sayyid Sulaiman. Ia adalah pendakwah yang lebih dulu datang ke Amuntai. Sebelumnya mereka tidak saling kenal. Namun, lantaran Sulaiman ternyata juga mendapat mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad ia bergegas menjemput Abubakar. "Kata Nabi diceritakan oleh Sayyid Sulaiman, jika ingin bertemu aku dalam keadaan sadar, maka jemputlah zuriatku di Pelabuhan Banua Lima," tutur Herman.

Di Amuntai, Abubakar dibantu oleh Sayyid Sulaiman mendirikan tempat tinggal. "Tempat tinggalnya di daerah Kabun Sari," kata Herman. Lantaran misi Abubakar ke Tanah Banjar adalah berdakwah, tempat tinggal tersebut dibuatnya menjadi pusat majelis dakwah. Ilmu-ilmu yang diajarkannya antara lain, Ilmu Fiqh, Tauhid, maupun Tasawuf. Sayyid Sulaiman pula yang mengajak umat Muslim di sekitar untuk berguru kepada Abubakar

Seiring berjalannya waktu, jamaah terus bertambah. Rumahnya tak memungkinkan lagi menampung jamaah majelis yang datang untuk belajar ilmu agama Islam. Akhirnya, sekitar abad 17 Masehi, dibangunlah masjid untuk menjadi tempat ibadah salat ataupun dijadikan tempat majelis. "Namanya Masjid Sungai Banar, masjid ini adalah masjid yang pertama berdiri di Amuntai," tuturnya.

Konon, menurut Herman, nama Masjid Sungai Banar adalah hasil pemberian dari Nabi Khaidir. Kami seketika agak terkejut. "Itulah karamahnya," kata dia. Saat salat jum'at perdana dilaksanakan di masjid tersebut, ada seorang pemuda yang berparas tampan yang memohon izin menitipkan tasnya di masjid lalu kemudian pergi. Setelah beberapa saat, pemuda itu datang kembali dan pemuda itu berpesan bahwa masjid ini harusnya diberi nama Masjid Sungai Banar. Makna dari nama tersebut adalah masjid yang dibangun di tepi sungai dengan para jemaah yang jujur. Pemuda itulah yang diceritakan Herman adalah sosok Nabi Khaidir.

Namun, usai tuntas mendirikan masjid Abubakar. Tak beberapa lama kemudian, ia menderita sakit. "Sekitar 17 hari," kata Herman. Tepat pada tanggal 7 Muharram 1195 Hijriah, Syekh Abubakar wafat pada usia 93 tahun.

Karamahnya tak berhenti saat ia meninggal, kata Herman saat hendak dimakamkan, jasadnya tiba-tiba menghilang dari bungkusan kain kafan. "Jadi yang dimakamkan di tempat ini hanya kain kafannya saja," jelasnya. 

Karamah-karamah yang dimiliki Syekh Abubakar tersebut hingga kini membuat makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah. "Pasti ada saja yang datang, rata-rata bercerita bahwa mereka ingin menunaikan nazar lantaran do'anya sudah dikabulkan Allah SWT," kata Herman. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Senin, 19 Februari 2018 14:01

Jasa Foto dan Cetak Kilat Hanya 5 Menit di Siring Tendean

Mencetak foto dengan hitungan satu jam sudah biasa. Lalu, percayakah Anda jika ada jasa cetak lima menit?…

Jumat, 16 Februari 2018 14:36

Soetji Nurani sebagai Kelenteng Dewi Kwan Im

Bangunan tempat ibadah, berdiri megah di beberapa ruas jalan di Kota Banjarmasin. Salah satunya adalah…

Kamis, 15 Februari 2018 14:57

Fakta Menarik Di Balik Pesta Perkawinan Anak Bos Binuang

Publik Indonesia tersentak acara pernikahan Muhammad Prayudha anak pengusaha terkenal Tapin, Muhammad…

Rabu, 14 Februari 2018 15:14

Bauntung Evo 04, Mobil Hemat Energi Karya FT ULM

Shell Eco Marathon Asia 2018 akan dihelat 8-11 Maret mendatang di Changi Exhibition Center Singapore.…

Selasa, 13 Februari 2018 14:49

Kala Dekranasda Jawa Barat Kepincut Cara Mewarnai Sasirangan

Corak warna warni dan cara pewarnaan kain sasirangan yang unik membuat Ketua Dewan Kerajinan Nasional…

Senin, 12 Februari 2018 15:01

Melihat Aktivitas Akhir Pekan Anak Desa Nelayan Bajau Pulau Laut

Pernah kangen masa kecil lepas ceria, bermain tanpa harus menunduk melihat hape? Di pesisir Pulau Laut,…

Senin, 12 Februari 2018 12:50

Monolog Luka Persembahan Teater Dapur Kalsel

Luka tidak bicara tentang roman picisan. Tapi bicara tentang luka yang diderita bumi. Tempat kita lahir,…

Sabtu, 10 Februari 2018 14:39

Kiprah Urang Banua Menjadi Komisioner Komnas HAM

Sudah tiga bulan Hariansyah di ibu kota Jakarta mengemban tugas sebagai Wakil Ketua Bidang Internal…

Sabtu, 10 Februari 2018 14:25

Mengenal Komunitas The Kutu Buku, Gelar Lapak Baca, Punya Perpus Binaan

Banyak orang beranggapan membaca itu membosankan. Tapi tidak bagi The Kutu Buku. Sekelompok anak muda…

Jumat, 09 Februari 2018 11:53

Daryll Alfaraby Noorlaksono, Penabuh Drum Cilik Beraliran Cadas

Aliran hard rock dan heavy metal identik dengan kalangan sesepuh. Namun, bagi Daryll Alfaraby Noorlaksono…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .