MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28
Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)
PENUH KARAMAH - Diceritakan dalam Manakib kalau ternyata saat Datu Kabul atau Syeikh Abubakar ingin dimakamkan jasadnya seketika lenyap. Sehingga hanya kain kafannya saja yang dimakamkan di makamnya yang terletak di Desa Sungai Banar, Kecamatan Amuntai Selatan, Hulu Sungai Utara. Selain itu nama Datu Kabul juga disematkan oleh peziarah yang mempercayai kalau nazar atau doanya terkabul tatkala datang ke makam. | Foto : Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini, namanya begitu masyhur dikenal masyarakat sebagai Datu "Kabul".

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Amuntai, Hulu Sungai Utara

 

Sangat mustahil bagi kami mencari wilayah Pegunungan Meratus di HSU. "Tidak bakal ada, adanya cuma daerah rawa dan sungai," ujar Muhammad Akbar, wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kota Amuntai ini. Akhirnya, makam Datu Kabul kami putuskan menjadi salah satu titik liputan ekspedisi kami di Hulu Sungai Utara (HSU). Tentunya, rute menuju makam dipandu Akbar. Bagi orang awam seperti kami, memahami jalanan di Amuntai sungguh sulit dan memakan waktu. "Amuntai punya jalanan yang bercabang-cabang," kata Akbar. 

Lokasi makam berada di Desa Sungai Banar. Makamnya berdekatan dengan sungai dan bersebelahan dengan Masjid Sungai Banar. Jaraknya 15 kilometer dari pusat Kota Amuntai. Terdapat makam-makam orang lain di sekitarnya. Namun, Makam Datu Kabul adalah satu-satunya makam yang mempunyai kubah. 

Di sana kami menemui Herman. Pria berumur 40 tahun itu terlihat sedang khusyuk merapal do'a di depan makam Datu Kabul. Makamnya penuh dengan kain kuning yang disematkan para penziarah. Wangi kembang kubur juga terendus hidung ketika kami sampai di sekitar makam. "Inilah makam datuk kami, orang-orang mengenalnya sebagai Datuk Kabul," ujarnya. 

Diceritakan Herman, nama aslinya datuknya bukanlah Kabul. "Itu peziarah saja yang memberi nama," katanya sambil terkekeh. Nama asli Datuk Kabul adalah Syekh Abubakar. Konon, banyaknya do'a peziarah yang terkabul ketika datang ke makam membuat ia dijuluki Datu Kabul. "Tapi beliau sebagai perantara saja ya," tegasnya. Semasa hidup, do'a dari Syekh Abubakar diketahui selalu ijabah atau dikabulkan oleh Allah SWT.

Lalu, siapakah Syekh Abubakar ini? Syekh Abubakar menurut cerita Herman adalah anak dari Sayyid Husin atau Pangeran Sebrang Wethan dan cucu dari Syarif Hidayatullah atau kerap dikenal sebagai Sunan Gunung Djati. Ia lahir pada 13 Dzulhijjah 1102 Hijriah di Banten. 

Semasa kecil, Abubakar sudah mendapatkan pendidikan agama Islam langsung oleh Sunan Gunung Djati. Namun, meskipun belum beranjak dewasa ia sudah menunjukkan karamahnya. "Ketika Abubakar sedang tidur di malam bulan Ramadan, ayahnya pernah melihat tubuh Abubakar mengeluarkan cahaya," ujar Herman. Kejadian itu langsung diceritakan ayahnya kepada Sunan Gunung Djati. "Kata Sunan Gunung Djati, kejadian itu jadi pertanda bahwa Abubakar kelak akan menjadi orang besar yang dicintai orang banyak. Tapi tidak di tanah Banten," katanya.

Benar belaka perkataan Sunan Gunung Djati. Ketika Abubakar berumur 21 tahun, ayahnya bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. "Nabi Muhammad dalam mimpi tersebut memerintahnya untuk mengirim Abubakar hijrah ke ke Tanah Banjar untuk berdakwah," ceritanya. Setelah mimpi tersebut, ayahnya langsung menyampaikan perintah nabi. Jawabannya? Abubakar menerima dengan ikhlas berpisah dengan kedua orang tuanya untuk menyiarkan ajaran Islam di Tanah Banjar.

Sebelum berangkat, Sunan Gunung Djati memberikan amanah untuk mengajarkan kitab pemberiannya yang bernama Bayannullahul Haq yang berarti Bayang-Bayang Dalam Kebenaran. Gunung Djati berpesan, kitab tersebut diajarkan kepada masyarakat yang tinggal sekitar wilayah dakwahnya di Amuntai agar selamat hidup di dunia maupun di akhirat.  

Ketika sampai di Pelabuhan Banua Lima, Abubakar disambut baik Syekh Sayyid Sulaiman. Ia adalah pendakwah yang lebih dulu datang ke Amuntai. Sebelumnya mereka tidak saling kenal. Namun, lantaran Sulaiman ternyata juga mendapat mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad ia bergegas menjemput Abubakar. "Kata Nabi diceritakan oleh Sayyid Sulaiman, jika ingin bertemu aku dalam keadaan sadar, maka jemputlah zuriatku di Pelabuhan Banua Lima," tutur Herman.

Di Amuntai, Abubakar dibantu oleh Sayyid Sulaiman mendirikan tempat tinggal. "Tempat tinggalnya di daerah Kabun Sari," kata Herman. Lantaran misi Abubakar ke Tanah Banjar adalah berdakwah, tempat tinggal tersebut dibuatnya menjadi pusat majelis dakwah. Ilmu-ilmu yang diajarkannya antara lain, Ilmu Fiqh, Tauhid, maupun Tasawuf. Sayyid Sulaiman pula yang mengajak umat Muslim di sekitar untuk berguru kepada Abubakar

Seiring berjalannya waktu, jamaah terus bertambah. Rumahnya tak memungkinkan lagi menampung jamaah majelis yang datang untuk belajar ilmu agama Islam. Akhirnya, sekitar abad 17 Masehi, dibangunlah masjid untuk menjadi tempat ibadah salat ataupun dijadikan tempat majelis. "Namanya Masjid Sungai Banar, masjid ini adalah masjid yang pertama berdiri di Amuntai," tuturnya.

Konon, menurut Herman, nama Masjid Sungai Banar adalah hasil pemberian dari Nabi Khaidir. Kami seketika agak terkejut. "Itulah karamahnya," kata dia. Saat salat jum'at perdana dilaksanakan di masjid tersebut, ada seorang pemuda yang berparas tampan yang memohon izin menitipkan tasnya di masjid lalu kemudian pergi. Setelah beberapa saat, pemuda itu datang kembali dan pemuda itu berpesan bahwa masjid ini harusnya diberi nama Masjid Sungai Banar. Makna dari nama tersebut adalah masjid yang dibangun di tepi sungai dengan para jemaah yang jujur. Pemuda itulah yang diceritakan Herman adalah sosok Nabi Khaidir.

Namun, usai tuntas mendirikan masjid Abubakar. Tak beberapa lama kemudian, ia menderita sakit. "Sekitar 17 hari," kata Herman. Tepat pada tanggal 7 Muharram 1195 Hijriah, Syekh Abubakar wafat pada usia 93 tahun.

Karamahnya tak berhenti saat ia meninggal, kata Herman saat hendak dimakamkan, jasadnya tiba-tiba menghilang dari bungkusan kain kafan. "Jadi yang dimakamkan di tempat ini hanya kain kafannya saja," jelasnya. 

Karamah-karamah yang dimiliki Syekh Abubakar tersebut hingga kini membuat makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah. "Pasti ada saja yang datang, rata-rata bercerita bahwa mereka ingin menunaikan nazar lantaran do'anya sudah dikabulkan Allah SWT," kata Herman. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .