MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Senin, 12 Juni 2017 09:05
Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak
MASIH DIJAGA: Mahyuni, Pemegang kunci sejarah Datu Puain memperlihatkan salah satu peninggalannya yang hingga saat ini masih utuh terjaga. Peninggalan ini merupakan tongkat khotbah yang biasa digunakan Datu Puain kala bertausyiah di masjid. foto : Muhammad Rifani

PROKAL.CO, Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah berhasil dibawanya memeluk agama Islam, penghulu dari Kesultanan Demak tersebut bertolak ke wilayah utara Banua untuk memperluas ajaran. Akhirnya, ia bertemu dengan Datu Ranggama, tokoh dayak yang memprakarsai peradaban Islam di wilayah pelosok Tabalong.

 

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Desa Puain Kanan, Tabalong

 

Ekspedisi sudah sampai di Kabupaten Tabalong, wilayah terujung di utara Kalimantan Selatan. Harusnya, kami menuju Kabupaten Balangan terlebih dahulu jika sesuai rute perjalanan. Namun, lantaran posisi kota Amuntai yang lebih dekat menjangkau Tabalong, maka lewat jalur Kelua kami urung niat putar balik ke arah Balangan. 

Tak banyak yang tahu, syiar Islam di Tabalong dan sekitarnya disebarkan oleh empat orang bersaudara keturunan Dayak. Empat orang tersebut diketahui bernama Datu Ranggama, Datu Ugap, Datu Siti Marhaji, dan Datu Ugut. Mereka dulunya memang memeluk kepercayaan adat setempat. Namun, Khatib Dayan punya andil besar dalam mengubah pandangan mereka. "Khatib Dayan, orang yang dulu membawa Pangeran Sultan Suriansyah masuk agama Islam berangkat ke utara Banua dan mencoba bertemu dengan mereka," cerita Mahyuni, pemegang kunci sejarah tentang empat bersaudara ini.

Kami menemui Mahyuni di kediamannya yang berada di Desa Puain Kanan, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong. Lokasi desa berada 20 kilometer dari Tanjung, pusat Kabupaten Tabalong. Jalannya cukup mudah ditempuh meskipun terbilang masuk dalam wilayah pelosok. Konon, desa ini adalah cikal bakal penyebaran Islam di Tabalong dan menjadi pusat wilayah dakwah Datu Ranggama. "Kedatangan Khatib Dayan disambut Datu Ranggama dan saudara yang lainnya, di desa ini Khatib Dayan punya maksud untuk menceritakan ajaran Islam kepada mereka" ceritanya.

Tiga bersaudara akhirnya sepakat memeluk Islam. Namun, tidak bagi Datu Ugut. Awalnya, empat bersaudara ini hampir bertengkar karena melihat sikap Datu Ugut yang enggan memeluk Islam. Namun, setelah mendengarkan alasan Datu Ugut, hati mereka jadi luluh dan mengikhlaskannya tetap berada di kepercayaan adat. 

Adik bungsu dari empat bersaudara ini memilih jalan sunyi untuk melindungi orang-orang Dayak. Hutan dan benda-benda gaib yang tak punya penjaga juga menjadi pertimbangannya tidak memeluk Islam. "Jika Datu Ugut memeluk Islam, maka tidak ada yang menjaga semua itu," ujarnya. Namun, Datu Ugut berjanji di akhir zaman nanti ia akan masuk agama Islam apabila hutan-hutan serta benda gaib sudah aman. Ia juga mengingatkan warga-warga Dayak yang belum memeluk Islam untuk menghormati kegiatan syiar Islam di Tabalong.

Akhirnya, tiga bersaudara yang sepakat memeluk ajaran Islam diminta Khatib Dayan untuk berpencar. Datu Ranggama kebagian wilayah pelosok Tabalong seperti Tanjung, Tanta, Murung Pudak, Upau, Haruai, Muara Uya, hingga perbatasan Kaltim. Sementara Datu Ugap dan Siti Marhaji berangkat ke Kelua dan Balangan untuk menyiarkan ajaran Islam di sana. "Sebenarnya belum ada Tabalong dan Balangan waktu itu. Wilayah masih berada di naungan Hulu Sungai Utara," jelasnya.

Menurut Mahyuni, di desa Puain Kanan inilah pertama kalinya Islam masuk di Tabalong. "Setelah Datu Ranggama membaca dua kalimat syahadat, warga lainnya juga ikut memeluk agama Islam," ceritanya.  Ketokohan Datu Ranggama yang kuat dalam masyarakat Dayak setempat membuat warga sangat hormat dengannya. Hal ini membuat muallaf terus bertambah kala itu.

Lantaran pemeluk agama Islam terus bertambah, Datu Ranggama akhirnya mendirikan masjid untuk warga yang ingin menjalankan ibadah salat. Namanya Masjid Pusaka Nurul Iman. Masjid yang didirkannya sekaligus menjadi masjid pertama yang berdiri di Tabalong dan disaksikan sendiri oleh Khatib Dayan pembangunannya. "Ada dua versi soal masjid yang mana pertama berdiri, ada yang bilang bahwa Masjid Pusaka Banua Lawas adalah masjid yang pertama. Namun, fakta menurut penuturuan orang-orang di sini, masjid pusaka di Desa Puain Kanan adalah masjid yang pertama. Terlepas dari itu, kami cuma menyampaikan sejarah saja," kata Mahyuni. 

Perdebatan sejarah terjadi lantaran pembangunan masjid terjadi pada hari yang sama. Namun, dengan rentang waktu yang berbeda. "Jadi menurut sejarah di sini, pembangunan tiang guru di Masjid Pusaka Nurul Iman Desa Puain terjadi pada pagi hari. Sementara itu, pembangunan tian guru di Masjid Pusaka Banua Lawas terjadi pada siang hari," jelasnya.

Setelah masjid berdiri dilaksanakan. Datu Ranggama pergi ke berbagai tempat untuk terus belajar agama Islam. Ia sangat tertarik dengan ajaran Tasawuf dan Fiqh. Masjid Pusaka Nurul Iman tersebut dititipkannya pada seorang marbut masjid bernama Labai Lumiah. Ia juga berasal dari keturunan Dayak. 

Sayangnya, ditunggu-tunggu Datu Ranggama tak kunjung datang kembali ke desa. "Ia menghilang tidak tahu kemana sampai sekarang," ujarnya. Walhasil, kami agak kecele. Sebelum sampai di rumah Mahyuni, kami sebenarnya mengunjungi sebuah makam yang bertuliskan nama Datu Puain atau Datu Ranggama pada papan plangnya. "Itu bukan makam Datu Ranggama yang sebenarnya. Itu adalah makamnya Labai Lumiah, marbut masjid yang menjaga masjid peninggalan Datu Ranggama," kata dia. Pantas saja, makamnya tak begitu terawat dengan baik.

Soal papan plang yang berada di dekat makam, Mahyuni mengatakan bahwa pihak yang memasang plang sudah diberitahukannya bahwa Datu Ranggama atau Datu Puain tidak dimakamkan di sana. "Namun, masih saja dipasang dan tidak dicabut-cabut. Saya juga tak berani mencabut karena takut bermasalah," ujarnya keheranan. 

Namun, bagi warga yang punya keimanan kuat, mereka pasti mengatakan bahwa sosok Datu Ranggama pasti selalu muncul di masjid. "Hanya warga Desa Puain Kanan pilihan saja yang memiliki kesempatan untuk melihat Datu Ranggama," ungkapnya. Diceritakan, sosok datu yang satu ini memiliki perawakan yang besar dengan wajah sangar. Tingginya berukuran 2,5 meter lebih. Hal ini dibuktikan dengan baju peninggalannya yang masih disimpan baik di Masjid Pusaka Nurul Iman. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .