MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 16 Juni 2017 15:14
Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga
MAKAM: Makam Habib Abdurrahman Alkaff. Semasa hidupnya, ulama ini mempunyai peran besar terhadap perkembangan Islam di punggung Pegunungan Meratus wilayah Balangan.

PROKAL.CO, Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib Abdurrahman Alkaff yang peduli terhadap nasib warga yang dikepung para penjajah membuat masyarakat tertarik memeluk ajaran Islam.

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Desa Panyambaran Hulu, Balangan

"Sudah berkunjung ke makam Habib Abdurrahman Alkaff, belum?" tanya Ustadz Badar ketika kami ingin pamit dari Kampung Mualaf di Desa Halong, Kabupaten Balangan kemarin. Diceritakan Badar, habib tersebut mempunyai peran besar terhadap perkembangan Islam di punggung Pegunungan Meratus wilayah Balangan. "Makamnya tak jauh dari desa ini, kalau mau sekalian pulang saja," saran dia. Tak ingin buang kesempatan, kami memutuskan untuk langsung melipir ke makam habib tersebut.

Lokasi kubahnya memang tak jauh dari Desa Halong. Tepatnya, di Desa Panyambaran Hulu. Konon, Panyambaran Hulu adalah desa yang cukup lumayan tua lantaran sudah dihuni sejak 200 tahun lalu. Soal jarak tempuh, desa ini berjarak sekitar 30 kilometer jika dari Paringin, pusat Kabupaten Balangan.

Sampai di makam kami berkeliling sejenak. Makam Habib Abdurrahman berada di dalam kubah bergabung dengan makam-makam lain. Bau kembang kubur masih terasa pertanda makam ini banyak dikunjungi orang lain. "Cari makam siapa mas?" salah seorang pria menanyai kami. Ternyata, pria tersebut adalah juriat dari sang habib. Namanya Habib Haris Fadillah. "Santai dulu di tempat saya," sarannya. Kami ngobrol di kediamannya yang terletak 20 meter dari pemakaman.

"Soal riwayat hidup habib, ya? Wah kalau itu saya tak janji bisa bicara banyak, orang-orang terdahulu yang lebih tahu," ujarnya yang tampak masih muda. Memang kami akui, salah satu kesulitan dalam ekspedisi jilid ketiga kali ini adalah minimnya fakta sejarah lantaran berada lokasi liputan berada di wilayah-wilayah pinggiran. Namun, Haris Fadillah tak mau bikin kami kecewa. Berbekal cerita yang didapatnya dari almarhum neneknya, ia mencoba menerangkan sejarah yang ia tahu sedikit demi sedikit.

Menurut Haris, Desa Panyambaran ini adalah desa yang dulunya penuh dihuni masyarakat adat Pegunungan Meratus. "Benar kata orang-orang, desa ini sudah ada sejak 200 tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu kemungkinan ada penghuninya," kata dia. Sekitar tahun 1800 tersebut, datanglah seorang pedagang dari Hadramaut yang juga keturunan dari Rasulullah. "Beliau bernama Habib Abdurrahman Assegaf," jelasnya.

Awalnya, Abdurrahman datang untuk sekadar berdagang saja. Ia biasanya menggunakan sampan dari Sungai Balangan untuk menjajakan barang dagangannya ke desa-desa yang ada di wilayah pegunungan. "Banyak yang dijualnya, terutama sembako-sembako yang sulit didapat masyarakat pegunungan," ujarnya.

Lantaran asyik berdagang, ia akhirnya menetap di Desa Penyambaran. Ilmu-ilmu keagamaan yang dimiliki habib membuatnya melancarkan misi dakwah ke masyarakat sekitar. Metode dakwah yang digunakan Habib Abdurrahman adalah berdakwah ketuk pintu. Hal itu dilakukannya selepas ia selesai berdagang. "Ia datang dari rumah ke rumah untuk bergaul dan akhirnya masyarakat adat sekitar tertarik untuk memeluk Islam," kata dia.

Habib Abdurrahman juga mendirikan Langgar di Desa Penyambaran. "Namanya At-Taqwa, langgar tersebut menjadi langgar tertua untuk daerah Penyambaran dan sekitarnya, sudah beberapa kali dipugar dari yang awalnya hanya sekadar ulin," ujarnya.

Saat penjajah Belanda melakukan invasi ke wilayah Penyambaran dan sekitarnya, Habib Abdurrahman memilih untuk menetap dan berjuang bersama masyarakat sekitar untuk melawan penjajah. "Habib Abdurrahman waktu itu adalah sosok yang terpandang, jadi beliau enggan meninggalkan wilayah dakwahnya," kata Haris. Ia aktif melakukan dakwah kepada masyarakat agar tidak mudah patah semangat dengan serangan dari para penjajah.

Salah satu kehebatan dari Habib Abdurrahman ini adalah bisa menyembunyikan warga ketika akan mendapat serangan dari penjajah. "Ketika masyarakat berlindung ke Habib Abdurrahman, para penjajah pasti tidak bakal melihat habib dan warga secara fisik, tidak bakal kelihatan," ujarnya. Penjajah akhirnya kewalahan. Hal itu membuat para penjajah tak ingin membiarkan warga sekitar tetap hidup di Desa Panyambaran.

Lantaran pengaruh dakwah kuat dari Habib Abdurrahman, hingga kini masyarakat Desa Penyambaran dan sekitarnya sudah rata-rata memeluk agama Islam. "Setiap tahun terus bertambah karena masuknya pendakwah-pendakwah lain, tapi, cerita Habib Abdurrahman perlu ditulis karena jasanya menyiarkan ajaran Islam di daerah pegunungan," ujar Haris. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .