MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46
Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)
TAK BERASPAL: Untuk mencapai Desa Kiram Atas di pelosok kabupaten Banjar tidaklah mudah dan mulus. Jalanan utama hanya berupa tanah merah dan di beberapa titik dikasih bebatuan. Jika hujan tiba, sudah dipastikan jalan akan becek dan sangat sukar dilewati. Kondisi seperti ini sudah dirasakan warga selama puluhan tahun lamanya. | Foto : Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok Kabupaten Banjar ini punya tradisi khusus menyalakan lampu pelita ketika Ramadan akan segera berakhir. Apa makna dibaliknya?

===============================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Desa Kiram Atas, Kabupaten Banjar

===============================================================

Ekspedisi Islam di wilayah Banua Anam tuntas sudah. Namun, rute Tanah Laut hingga Kotabaru masih menunggu untuk dijajal. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami tertarik dan memutuskan untuk singgah ke salah satu desa melihat tradisi unik ketika Ramadan yang kian tergerus zaman.

Desa Kiram Atas adalah pilihan destinasi kami. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Banjar ini menjadi pilihan lantaran mereka masih mempertahankan tradisi menyalakan lampu pelita kala malam-malam terakhir bulan Ramadan.

Menuju desa ini tak mudah. Jaraknya kurang lebih 40 kilometer dari Martapura. Jalannya tak beraspal. Penuh bebatuan dan tanjakan. Letak desa di kaki Gunung Pamaton yang terkenal mistis menambah suram kondisi perjalanan. Apalagi, kami berangkat pada malam hari. Tak ada lampu penerangan sama sekali.

Gunung Pamaton mempunyai nilai sejarah yang kuat bagi masyarakat Banjar. Konon, gunung ini dulunya menjadi benteng pertahanan para pejuang Tanah Banjar. Sumber lain mengatakan gunung ini gerbang masuk menuju kerajaan gaib. Alamak! Membaca cerita-cerita tersebut di internet membuat suasana menjadi agak mencekam. Alhamdulillah, selama perjalanan tak ada hal ganjil yang kami temui. Kami sampai dengan selamat di Desa Kiram Atas.

Desa ini jauh dari kata maju. Kondisi jalanan belum beraspal. Hanya tanah merah dan bebatuan kecil. Listrik baru masuk sekitar 10 tahun yang lalu. Jumlah kepala keluarga di desa ini juga hanya 200 orang. "Memang sedikit penduduknya, jauh dari keramaian," kata Jamhor, salah satu tetuha kampung desa ini.

Pria berumur 70 tahun ini yang menemani kami selama di desa. Ia menjelaskan kepada kami tentang salah satu tradisi Ramadan yang mereka pegang, yaitu menyalakan lampu pelita di malam-malam akhir Ramadan. Tradisi ini sudah mereka pegang sejak zaman dulu. "Sudah lupa dimulai tahun berapa, yang pasti sudah puluhan tahun" kata pria yang kami temui di kios kecil di depan rumahnya itu.

Bahan lampu pelita hanya terbuat dari kaleng susu bekas yang diberi sumbu. "Lalu dikasih minyak tanah di dalamnya. Tidak ada yang spesial, tapi tradisi ini dulu ramai dilaksanakan oleh warga," kata dia sambil mempraktikkan cara menyalakan lampu pelita.

Jamhor mengatakan biasanya masyarakat menyalakan lampu ini ketika mendapati malam-malam ganjil di akhir Ramadan. "Jadi misalnya malam 21, 23, 25, dan seterusnya," jelasnya.

Tradisi ini diselenggarakan untuk mengingatkan masyarakat bahwa Ramadan harus dilalui dan diakhiri dengan sukacita. Apalagi, malam-malam terakhir Ramadan identik dengan malam Lailatul Qadar.

Namun, awalnya, tradisi ini memang dilaksanakan lantaran di desa memang tidak ada listrik yang masuk. "Jadi kita pakai lampu pelita untuk menerangi kampung. Sekarang listrik sudah masuk, jadi sudah sangat jarang yang menyalakannya" ujarnya terkekeh.

Biasanya lampu pelita diletakkan di teras rumah atau di ruang tengah di dalam rumah. "Terserah yang punya lampu, mau ditaruh di mana," ujarnya. Lampu pelita dibiarkan menyala sampai bahan bakar minyak tanah habis tak tersisa. "Lalu, hal itu kemudian diulangi di malam ganjil berikutnya," tuturnya.

Apakah tradisi ini juga dilaksanakan lantaran desa mereka berada di Gunung Pamaton yang terkenal akan hal-hal mistisnya? "Tidak, tidak ada sama sekali, tradisi ini murni karena kita ingin menyambut dan mengakhiri Ramadan dengan penuh suka cita," tegas Jamhor.(ma/dye/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .