MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 18 Juni 2017 18:03
Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa
AJARKAN ALQURAN: Hendra Lim (kanan) mengajar salah seorang warga Tionghoa membaca Alquran. Dia adalah penyuluh agama di Parit Baru, Tanah Laut.

PROKAL.CO, Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut juga tak mau kalah. Di pinggiran Pleihari, ada majelis ta'lim yang menampung warga muslim keturunan tionghoa untuk belajar agama Islam.

================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Parit Baru, Tanah Laut

================================================

Cuaca Kota Pelaihari sore itu (9/6) sedang terik-teriknya. Hawa panas begitu menyergap tubuh. Namun, kami harus berangkat menuju Parit Baru, salah satu kawasan yang ada di pinggir kota Pelaihari. Ardian Hariansyah, wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Tanah Laut merekomendasikan kawasan tersebut untuk dikunjungi. "Di sana ada pengajian mualaf dari etnis Tionghoa," sarannya.

Letaknya 10 kilometer dari pusat Tanah Laut. Berada di pinggir kota, Parit Baru dikenal sebagai pemukiman etnis Tionghoa. Warga Tionghoa dari berbagai latarbelakang keyakinan hidup rukun dalam satu komplek.

Motor kami berhenti di depan sebuah langgar. Nama langgarnya Darul Muhajirin. Langgarnya kecil. Ukurannya 6x4 meter. Tak ada ornamen atau warna dominan merah layaknya langgar atau masjid tionghoa pada umumnya. Namun, kata Ardian, langgar ini adalah satu-satunya tempat yang dijadikan warga muslim tionghoa di area sana untuk melakukan aktivitas keagamaan.

Benar belaka. Saat memasuki ruang induk langgar, kami melihat belasan warga tionghoa sedang khusyuk belajar membaca Iqra dengan dipandu seorang penyuluh agama. "Dari Radar Banjarmasin ya? Silakan tunggu dulu, masih ada antrian warga yang mau belajar iqra," kata Marliani menyapa kami. Perempuan berumur 44 tahun ini adalah penyuluh agama untuk warga muslim tionghoa.

Selama menunggu Marliani selesai, pandangan kami tertuju pada perempuan tionghoa tua yang sedang serius belajar membaca Iqra jilid pertama. Nama muslimnya Siti Aisyah. "Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Ho," ucapnya terbata-bata. "Kho bukan Ho, pian harus pake tenggorokan untuk menyebut hurufnya," kata Marliani dengan lembut mengajari perempuan berumur 77 tahun tersebut.  Aisyah tak henti-henti mengulanginya.

Aisyah bercerita, ia tertarik memeluk agama Islam lantaran melihat ajarannya yang sejuk dan penuh kedamaian. "Saya tertarik memeluk Islam dari lubuk hati paling dalam," ujarnya dengan nada lirih.

Tak lama,  seorang pria tionghoa datang menghampiri kami. Ia mengenakan peci, baju koko, dan celana kain berwarna krem. "Hendra Lim," ujarnya tersenyum sambil menyodorkan tangan tanda perkenalan diri. Ternyata, pria ini adalah seorang penyuluh agama yang membantu Marliani. "Saya sudah lama memeluk Islam dan ikut mengajar warga-warga tionghoa," kata pria berkacamata ini.

Diceritakan Hendra, Marliani dan dirinya memang getol memberikan ilmu dan pelajatan tentang agama Islam di Parit Baru. "Majelis Ta'lim untuk etnis Tionghoa ini memang sudah lama kami bentuk, sejak tahun 2013 sampai sekarang," tuturnya. Mereka biasanya melakukan pengajian setiap hari Jum'at hingga Minggu di Langgar Darul Muhajirin.

Jumlah jamaah majelis ta'lim yang mereka dirikan sudah sekitar 100 orang. "Tapi ini kan sedang puasa, warga muslim tionghoa lainnya ada yang beraktivitas lain. Jadi, rata-rata yang hadir sekitar tiga puluh orang," ujar Hendra

Namun, jangan kira  perjuangan mendirikan majelis ta'lim etnis tionghoa ini ditempuh dengan cara yang mudah. Awal pada tahun 2013, majelis ini sepi peminat. "Tidak lebih dari 10 orang yang datang," ceritanya.

 Menurut Hendra, pihaknya harus melakukan strategi "jemput bola" untuk menarik jamaah. "Jadi dari rumah ke rumah memberi tahu, mengadakan bakti sosial dan lainnya," kata dia. Cara seperti ini ternyata cukup efektif untuk mendapatkan jamaah. "Sampai sekarang jumlahnya sudah ratusan, kami berjuang selama satu tahun untuk mencari jamaah," tuturnya mengingat-ingat masa-masa awal perjuangannya.

Hingga kini, majelis ta'lim yang digelutinya berkembang pesat. Selain jadi wadah belajar membaca Al-qur'an,  majelis ini juga sering mengadakan pengajian yang membahas ilmu-ilmu dasar ajaran Islam. "Biasanya belajar Fiqh, seperti tata cara salat dan wudu," tuturnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Minggu, 20 Agustus 2017 13:19

Sejarah Panjang Kain Sasirangan: Hasil Bertapa Patih Lambung Mangkurat 40 Hari 40 Malam

Seperti kain nusantara umumnya, kain sasirangan punya banyak cerita. Kain khas Kalsel ini dipercaya…

Sabtu, 19 Agustus 2017 12:25

Hunting Bareng di  Desa Wisata Wadian Tambai Halong

Keelokan Desa Wisata Wadian Tambai, Kabupaten Balangan, yang menyimpan ragam seni  dan budaya serta…

Jumat, 18 Agustus 2017 16:33

Begini Kemeriahaan Hari Kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan

Hari Kemerdekaan menjadi hari yang selalu ditunggu para narapidana setiap tahunnya. Alasannya lebih…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:54

Ketika Warga Angkasa Gelar Apel Sendiri

Upacara bendera 17 Agustus bukan milik kantor pemerintah atau sekolah semata. Itulah yang coba dibuktikan…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:37

Ketika Tahanan Polsekta Banjarmasin Timur Ikut Rayakan Kemerdekaan RI

Para tahanan Polsekta Banjarmasin Timur juga bisa merasakan kemeriahan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Bahkan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 15:30

Melihat Kondisi Rehabilitasi Pecandu Narkoba di Kalsel

Meski gencar diperangi, kasus-kasus narkoba di Kalsel terus meningkat. Hukuman mati yang diterapkan…

Kamis, 10 Agustus 2017 11:14

Mengenal Komunitas Yamaha Vixion Club Indonesia Chapter Seribu Sungai

BANJARMASIN – Jika club motor pada umumnya melakukan touring di wilayah perkotaan dengan menyusuri…

Rabu, 09 Agustus 2017 15:02

Rio, Remaja Penderita Leukimia Perlu Pengobatan

Di saat teman-teman sebayanya sedang asik menikmati masa sekolah, M Rio Ramadhan terbaring lemas di…

Sabtu, 05 Agustus 2017 18:10

Kisah Jambret Muda yang Sudah Tiga Kali Masuk Penjara

Baru berumur 18 tahun, LB sudah punya riwayat kejahatan yang panjang. Aksi terakhirnya menjambret di…

Kamis, 03 Agustus 2017 15:46

Kisah Ahmad Sofyan, Tukang Urut yang Akhirnya Naik Haji

Kisah perjuangan yang luar biasa dari orang biasa, untuk pergi berhaji mampu memotivasi siapapun. Seperti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .