MANAGED BY:
MINGGU
25 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Minggu, 18 Juni 2017 18:03
Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa
AJARKAN ALQURAN: Hendra Lim (kanan) mengajar salah seorang warga Tionghoa membaca Alquran. Dia adalah penyuluh agama di Parit Baru, Tanah Laut.

PROKAL.CO, Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut juga tak mau kalah. Di pinggiran Pleihari, ada majelis ta'lim yang menampung warga muslim keturunan tionghoa untuk belajar agama Islam.

================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Parit Baru, Tanah Laut

================================================

Cuaca Kota Pelaihari sore itu (9/6) sedang terik-teriknya. Hawa panas begitu menyergap tubuh. Namun, kami harus berangkat menuju Parit Baru, salah satu kawasan yang ada di pinggir kota Pelaihari. Ardian Hariansyah, wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Tanah Laut merekomendasikan kawasan tersebut untuk dikunjungi. "Di sana ada pengajian mualaf dari etnis Tionghoa," sarannya.

Letaknya 10 kilometer dari pusat Tanah Laut. Berada di pinggir kota, Parit Baru dikenal sebagai pemukiman etnis Tionghoa. Warga Tionghoa dari berbagai latarbelakang keyakinan hidup rukun dalam satu komplek.

Motor kami berhenti di depan sebuah langgar. Nama langgarnya Darul Muhajirin. Langgarnya kecil. Ukurannya 6x4 meter. Tak ada ornamen atau warna dominan merah layaknya langgar atau masjid tionghoa pada umumnya. Namun, kata Ardian, langgar ini adalah satu-satunya tempat yang dijadikan warga muslim tionghoa di area sana untuk melakukan aktivitas keagamaan.

Benar belaka. Saat memasuki ruang induk langgar, kami melihat belasan warga tionghoa sedang khusyuk belajar membaca Iqra dengan dipandu seorang penyuluh agama. "Dari Radar Banjarmasin ya? Silakan tunggu dulu, masih ada antrian warga yang mau belajar iqra," kata Marliani menyapa kami. Perempuan berumur 44 tahun ini adalah penyuluh agama untuk warga muslim tionghoa.

Selama menunggu Marliani selesai, pandangan kami tertuju pada perempuan tionghoa tua yang sedang serius belajar membaca Iqra jilid pertama. Nama muslimnya Siti Aisyah. "Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Ho," ucapnya terbata-bata. "Kho bukan Ho, pian harus pake tenggorokan untuk menyebut hurufnya," kata Marliani dengan lembut mengajari perempuan berumur 77 tahun tersebut.  Aisyah tak henti-henti mengulanginya.

Aisyah bercerita, ia tertarik memeluk agama Islam lantaran melihat ajarannya yang sejuk dan penuh kedamaian. "Saya tertarik memeluk Islam dari lubuk hati paling dalam," ujarnya dengan nada lirih.

Tak lama,  seorang pria tionghoa datang menghampiri kami. Ia mengenakan peci, baju koko, dan celana kain berwarna krem. "Hendra Lim," ujarnya tersenyum sambil menyodorkan tangan tanda perkenalan diri. Ternyata, pria ini adalah seorang penyuluh agama yang membantu Marliani. "Saya sudah lama memeluk Islam dan ikut mengajar warga-warga tionghoa," kata pria berkacamata ini.

Diceritakan Hendra, Marliani dan dirinya memang getol memberikan ilmu dan pelajatan tentang agama Islam di Parit Baru. "Majelis Ta'lim untuk etnis Tionghoa ini memang sudah lama kami bentuk, sejak tahun 2013 sampai sekarang," tuturnya. Mereka biasanya melakukan pengajian setiap hari Jum'at hingga Minggu di Langgar Darul Muhajirin.

Jumlah jamaah majelis ta'lim yang mereka dirikan sudah sekitar 100 orang. "Tapi ini kan sedang puasa, warga muslim tionghoa lainnya ada yang beraktivitas lain. Jadi, rata-rata yang hadir sekitar tiga puluh orang," ujar Hendra

Namun, jangan kira  perjuangan mendirikan majelis ta'lim etnis tionghoa ini ditempuh dengan cara yang mudah. Awal pada tahun 2013, majelis ini sepi peminat. "Tidak lebih dari 10 orang yang datang," ceritanya.

 Menurut Hendra, pihaknya harus melakukan strategi "jemput bola" untuk menarik jamaah. "Jadi dari rumah ke rumah memberi tahu, mengadakan bakti sosial dan lainnya," kata dia. Cara seperti ini ternyata cukup efektif untuk mendapatkan jamaah. "Sampai sekarang jumlahnya sudah ratusan, kami berjuang selama satu tahun untuk mencari jamaah," tuturnya mengingat-ingat masa-masa awal perjuangannya.

Hingga kini, majelis ta'lim yang digelutinya berkembang pesat. Selain jadi wadah belajar membaca Al-qur'an,  majelis ini juga sering mengadakan pengajian yang membahas ilmu-ilmu dasar ajaran Islam. "Biasanya belajar Fiqh, seperti tata cara salat dan wudu," tuturnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Kamis, 08 Juni 2017 03:49

Ekspedisi Islam Jilid 3: Bangun Masjid Dengan Penuh Keringat (Bagian 11)

  Perjuangan mendirikan masjid pertama di Desa Loksado penuh dengan cucuran keringat warganya.…

Rabu, 07 Juni 2017 02:56

Ekspedisi Islam 3: Islam dan Hadirnya Urang Dagang (Bagian 10)

Perkembangan Syiar Islam di Loksado tak hanya melulu lewat perantara para habaib. Perananan para pedagang…

Selasa, 06 Juni 2017 20:18

Ekspedisi Islam Jilid III: Tradisi Balarut dan Dakwah Antar Generasi

  Sungai Amandit menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di beberapa kawasan Loksado. Para habaib…

Minggu, 04 Juni 2017 17:28

Ekspedisi Islam Jilid III: Datu Muning dan Semangat Anti-Kolonialisme (Bagian 9)

Syekh Muhammad Ilyas geram melihat penjajah datang. Semangat anti-kolonialisme yang dimilikinya berhasil…

Jumat, 02 Juni 2017 13:12

Mengunjungi Warung Ramadan di Desa Bincau

Remaja Masjid Assobirrin memanfaatkan bulan suci ini untuk menggalang dana. Dengan cara membuka Warung…

Rabu, 31 Mei 2017 14:25

Perubahan Arsitektur Rumah Banjar Ketika Islam Masuk

Filosofi arsitektur Bubungan Tinggi setelah Islam masuk tak berubah, yang berbeda hanya penampilan.…

Selasa, 30 Mei 2017 15:58

Perajin Tas Purun Rantau: Bahan dari Kalteng, Lokal hanya untuk Tikar

Berbagai macam kerajinan tangan ada di Kabupaten Tapin. Salah satunya kerajinan tas purun di Desa Sungai…

Senin, 29 Mei 2017 16:14

Mengunjungi Budidaya Madu Kelulut Simpur

Banyak cara yang bisa dilakukan para petani untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Salah satunya dengan…

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .