MANAGED BY:
SABTU
20 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Senin, 19 Juni 2017 16:24
Ekspedisi Islam 3: Berawal Dari Sistem Perdagangan Barter (Bagian 24)
MENANTANG: Satu-satunya pilihan menuju desa Riam Adungan hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang.

PROKAL.CO, Jika titik liputan ekspedisi diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan medan, Riam Adungan sudah dipastikan menjadi juaranya. Salah satu desa terpencil di kabupaten Tanah Laut ini harus ditempuh dengan menjajal jalur tambang dan sawit. Bagaimana dengan perkembangan syiar Islam di sana?

====================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Riam Adungan, Tanah Laut

===================================================

"Gila!" kata itu menjadi favorit kami untuk mengutuk akses menuju Desa Riam Adungan. Satu-satunya pilihan menuju desa tersebut hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang. Akhirnya, mau tak mau, kami harus menempuh jalur tersebut dibawah teriknya matahari siang itu.

Jarak dari gerbang areal pertambang menuju desa tak tanggung-tanggung membuat badan remuk, kurang lebih 50 kilometer. Medannya sulit. Jalannya penuh dengan bebatuan yang siap menghempas motor kalau tidak hati-hati. Debu-debu akibat truk yang lalu lalang juga menimpali wajah kami tanpa ampun. Tak sedikit titik jalanan yang sangat becek.

Kurang lebih 2 jam menyusuri jalanan tak beraspal. Akhirnya kami sampai di Riam Adungan. Kami memutuskan untuk rehat di tepian jalan desa. Walaupun berada di dekat areal sawit dan pertambangan, desa ini cukup banyak dihuni masyarakat. Rumah-rumah warga berjejer rapi. Urusan pekerjaan,  mayoritas warga desa memilih berkebun dan bertani.

Soal keyakinan, penduduknya rata-rata memeluk Muslim. Namun, tak sedikit juga warga adat dayak yang masih memegang teguh kepercayaan Kaharingan lantaran posisi desa yang berada di kawasan pegunungan meratus.

Dipilihnya Desa Riam Adungan sebagai titik liputan ekspedisi kali ini bukan tanpa alasan. Sebelum tahun 1975, desa ini seratus persen masih  dihuni oleh masyarakat adat. Lalu, menurut cerita, pasca tahun 1975 datanglah para pedagang muslim ke desa ini untuk menyiarkan ajaran Islam dengan menggunakan jalur sungai.

"Para pedagang waktu itu memakai sampan dan melawan arus Sungai Kintap yang deras untuk sampai ke desa kami," ujar Hasani sambil menunjuk Sungai Kintap yang masih jernih. Pria berumur 51 tahun ini jadi satu-satunya narasumber yang bisa diajak berbincang setelah kami sibuk berkeliling mencari orang yang tahu persis sejarah desa. Kami berbincang dengannya di tepian sungai yang penuh bebatuan.

Uniknya, sistem perdagangan pada waktu itu masih berupa barter. Padahal rupiah di tahun itu sudah lahir.  "Jadi kami bertukar barang yang kami miliki seperti atap rumah yang terbuat dari daun dengan bahan sembako yang mereka punya," tuturnya. Mereka mengaku sulit untuk mendapatkan uang di kawasan terpencil tersebut. "Makanya, kita pakai sistem barter, " ujar Hasani.

Salah satu tokoh dagang yang menyebarkan ajaran Islam bernama Syamsi. Ia adalah warga asli Kintap. Pedagang sekaligus guru agama getol mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat adat. "Masyarakat adat rata-rata tertarik dengan perilaku para pedagang muslim yang baik serta jujur dalam bergaul, rata-rata begitu," paparnya. Syamsi mengajarkan tata cara peribadatan dalam Islam dan berbagi pengetahuan tentang Islam yang ajarannya lemah lembut dan penuh kedamaian setiap kali ia datang.

Akhirnya, pasca 1975 terjadi Islamisasi besar-besaran. Hampir sebagian warga desa memeluk Islam. Hamsan, pembakal atau kepala desa ketiga desa Riam Adungan  yang saat itu ikut memeluk Islam juga memberikan pengaruh atas bertambahnya warga yang memilih Islam sebagai jalan kehidupan.

Sejak saat itu, syiar Islam terus berkembang di Riam Adungan. Kepala desa beserta warga setempat sepakat untuk mendirikan sebuah langgar sederhana dari kayu ulin. Guru-guru pengajian pun tak lupa didatangkan untuk menambah riuh peradaban Islam di salah satu pedalaman Tanah Laut ini. Hingga akhirnya satu buah masjid berdiri kokoh di pusat desa.

Lantas, bagaimana dengan warga yang masih memegang teguh kepercayaan adat setempat? "Mereka tak ada masalah dengan kami, malah kami hidup rukun dengan mereka, kita terlalu membuang waktu untuk berdebat soal kepercayaan," kata dia. (mr-149-rvn)


BACA JUGA

Jumat, 19 Januari 2018 16:07

Buntut Susi Izinkan Cantrang, Nelayan Kotabaru Minta Kepastian

Walaupun Menteri Susi Pudjiastuti sudah mengizinkan alat tangkap cantrang, tapi nelayan di Banua khususnya…

Jumat, 19 Januari 2018 16:00

Menggiurkan! Pemko Incar Pajak Danau Seran dan Caramin

BANJARBARU - Sejak dibuka pada tahun 2016, destinasi wisata Danau Seran dan Danau Caramin hingga kini…

Jumat, 19 Januari 2018 15:52
Parlementaria

Dewan Minta Pemko Dukung Kegiatan Kepemudaan

BANJARBARU - DPRD Banjarbaru mempertanyakan komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membangun bidang…

Jumat, 19 Januari 2018 15:51
Pemko Banjarbaru

Bunda PAUD Hadiri Sosialisasi Permenkes

BANJARBARU - Bunda PAUD Banjarbaru Hj Ririen Nadjmi Adhani, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru…

Jumat, 19 Januari 2018 15:44

Stop Melanggar Lalu Lintas! Anda Diawasi CCTV

BANJARMASIN – Yang terbiasa melanggar mesti buru-buru tobat.  Sebab, ada kamera pengintai…

Jumat, 19 Januari 2018 15:39

WAW..!! Rp30 M Hanya untuk Kunker DPRD Banjarmasin

BANJARMASIN - APBD 2018 sedang defisit. Wajar jika semua SKPD dituntut ngirit. Namun, aturan itu tak…

Jumat, 19 Januari 2018 15:34

Tolak Tambang, Aksi Demo Berlangsung Panas di Kotabaru

KOTABARU - Gelombang penolakan terhadap tambang terjadi di mana-mana. Di Kotabaru, penolakan tambang…

Jumat, 19 Januari 2018 15:14

Aksi Tolak Tambang, Pendemo Kirim Paket Recehan ke Menteri ESDM

BANJARMASIN - Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta bakal dikejutkan paket cantik…

Jumat, 19 Januari 2018 15:04

Ada Parade Jukung Hari Ini di Siring Pierre Tendean

Bagaimana jadinya jika ada parade jukung. Pastinya bakal asyik untuk disaksikan. Pemandangan itulah…

Jumat, 19 Januari 2018 14:53

Soal Meratus, DPRD HST Sepakat Melawan Pusat

BARABAI – Perlawanan terhadap kebijakan pemerintah pusat terus mengalir. Penolakan terhadap pertambangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .