MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Senin, 19 Juni 2017 16:24
Ekspedisi Islam 3: Berawal Dari Sistem Perdagangan Barter (Bagian 24)
MENANTANG: Satu-satunya pilihan menuju desa Riam Adungan hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang.

PROKAL.CO, Jika titik liputan ekspedisi diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan medan, Riam Adungan sudah dipastikan menjadi juaranya. Salah satu desa terpencil di kabupaten Tanah Laut ini harus ditempuh dengan menjajal jalur tambang dan sawit. Bagaimana dengan perkembangan syiar Islam di sana?

====================================================

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Riam Adungan, Tanah Laut

===================================================

"Gila!" kata itu menjadi favorit kami untuk mengutuk akses menuju Desa Riam Adungan. Satu-satunya pilihan menuju desa tersebut hanya bisa melalui jalur sawit dan tambang. Akhirnya, mau tak mau, kami harus menempuh jalur tersebut dibawah teriknya matahari siang itu.

Jarak dari gerbang areal pertambang menuju desa tak tanggung-tanggung membuat badan remuk, kurang lebih 50 kilometer. Medannya sulit. Jalannya penuh dengan bebatuan yang siap menghempas motor kalau tidak hati-hati. Debu-debu akibat truk yang lalu lalang juga menimpali wajah kami tanpa ampun. Tak sedikit titik jalanan yang sangat becek.

Kurang lebih 2 jam menyusuri jalanan tak beraspal. Akhirnya kami sampai di Riam Adungan. Kami memutuskan untuk rehat di tepian jalan desa. Walaupun berada di dekat areal sawit dan pertambangan, desa ini cukup banyak dihuni masyarakat. Rumah-rumah warga berjejer rapi. Urusan pekerjaan,  mayoritas warga desa memilih berkebun dan bertani.

Soal keyakinan, penduduknya rata-rata memeluk Muslim. Namun, tak sedikit juga warga adat dayak yang masih memegang teguh kepercayaan Kaharingan lantaran posisi desa yang berada di kawasan pegunungan meratus.

Dipilihnya Desa Riam Adungan sebagai titik liputan ekspedisi kali ini bukan tanpa alasan. Sebelum tahun 1975, desa ini seratus persen masih  dihuni oleh masyarakat adat. Lalu, menurut cerita, pasca tahun 1975 datanglah para pedagang muslim ke desa ini untuk menyiarkan ajaran Islam dengan menggunakan jalur sungai.

"Para pedagang waktu itu memakai sampan dan melawan arus Sungai Kintap yang deras untuk sampai ke desa kami," ujar Hasani sambil menunjuk Sungai Kintap yang masih jernih. Pria berumur 51 tahun ini jadi satu-satunya narasumber yang bisa diajak berbincang setelah kami sibuk berkeliling mencari orang yang tahu persis sejarah desa. Kami berbincang dengannya di tepian sungai yang penuh bebatuan.

Uniknya, sistem perdagangan pada waktu itu masih berupa barter. Padahal rupiah di tahun itu sudah lahir.  "Jadi kami bertukar barang yang kami miliki seperti atap rumah yang terbuat dari daun dengan bahan sembako yang mereka punya," tuturnya. Mereka mengaku sulit untuk mendapatkan uang di kawasan terpencil tersebut. "Makanya, kita pakai sistem barter, " ujar Hasani.

Salah satu tokoh dagang yang menyebarkan ajaran Islam bernama Syamsi. Ia adalah warga asli Kintap. Pedagang sekaligus guru agama getol mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat adat. "Masyarakat adat rata-rata tertarik dengan perilaku para pedagang muslim yang baik serta jujur dalam bergaul, rata-rata begitu," paparnya. Syamsi mengajarkan tata cara peribadatan dalam Islam dan berbagi pengetahuan tentang Islam yang ajarannya lemah lembut dan penuh kedamaian setiap kali ia datang.

Akhirnya, pasca 1975 terjadi Islamisasi besar-besaran. Hampir sebagian warga desa memeluk Islam. Hamsan, pembakal atau kepala desa ketiga desa Riam Adungan  yang saat itu ikut memeluk Islam juga memberikan pengaruh atas bertambahnya warga yang memilih Islam sebagai jalan kehidupan.

Sejak saat itu, syiar Islam terus berkembang di Riam Adungan. Kepala desa beserta warga setempat sepakat untuk mendirikan sebuah langgar sederhana dari kayu ulin. Guru-guru pengajian pun tak lupa didatangkan untuk menambah riuh peradaban Islam di salah satu pedalaman Tanah Laut ini. Hingga akhirnya satu buah masjid berdiri kokoh di pusat desa.

Lantas, bagaimana dengan warga yang masih memegang teguh kepercayaan adat setempat? "Mereka tak ada masalah dengan kami, malah kami hidup rukun dengan mereka, kita terlalu membuang waktu untuk berdebat soal kepercayaan," kata dia. (mr-149-rvn)


BACA JUGA

Selasa, 22 Agustus 2017 16:33

Innalillah.. Dua Jemaah Banua Dikabarkan Meninggal Dunia

BANJARMASIN - Berita duka datang dari Mekkah. Dua jemaah haji asal Banua dikabarkan telah meninggal…

Selasa, 22 Agustus 2017 16:07

Taksi Online Boleh Mengantar ke Bandara, Tapi Tak Boleh Menjemput

Meski sukses menjadi layanan transportasi idaman di berbagai daerah, kehadiran taksi online di Banua…

Selasa, 22 Agustus 2017 12:13

Proyek Tak Ada Anggaran, Bina Marga Masih Tutup Mulut

KOTABARU - Kisruh pekerjaan pemeliharaan jalan di Kecamatan Pulau Laut Timur terus berlanjut. Warga…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:57

Perekrutan di RS Idaman Dijamin Bebas Titipan dan Intrik

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani memberi garansi perekrutan pegawai Rumah Sakit Idaman…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:50

Nadjmi: Setop Ribut Tanah Uruk di Bandara Syamsudin Noor

BANJARBARU - Polemik tanah uruk untuk pengembangan Bandara Syamsudin Noor berlanjut. Diulas di media…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:40

Tanbu Gelar Tablig Akbar Dalam Rangka HUT RI ke-72

BATULICIN - Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menggelar Tablig Akbar dalam rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:38

HUT RI ke-72 Momentum Membangun Daerah

BATULICIN - Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72 bertema Indonesia Kerja Bersama. Dengan tema…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:37

Ini Dia Tiga Reperda Disahkan DPRD Tanbu

BATULICIN - Sebanyak tiga buah Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tahun 2017 mendapat persetujuan…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:14
Kabar Batola

Kepala BPKAD Batola: Barang yang Dimanfaatkan Masyarakat Harus Diretribusi

MARABAHAN - Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Barito Kuala (Batola)…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:09

Kelotok Karam, Tiga Orang Tenggelam

MARABAHAN - Sebuah kelotok yang ditumpangi 9 orang tenggelam di Perairan Sungai Barito, Desa Belandean,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .