MANAGED BY:
SABTU
22 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 20 Juni 2017 17:06
Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

PROKAL.CO, Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Konon, salah satu desa terpencil ini dulunya pernah diganggu sesosok raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga.  Raksasa tersebut mereka beri nama: Raksasa Sugung. 

=============================

DONNY MUSLIM & MUHAMMAD RIFANI, Desa Rejosari, Tanah Bumbu

============================

Liputan di Desa Rejosari ini adalah kali pertama kami mengangkat topik menyoal urban legend atau kerap dikenal sebagai mitos. Terlepas dari kebenaran cerita, kami hanya bertugas melaporkan penuturan warga di lapangan. 

Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu ini konon dulunya pernah dihantui seorang raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga. Setiap orang yang melihatnya, pasti berujung jatuh sakit. Warga memberi nama raksasa tersebut: Raksasa Sugung. Kejadian ini terjadi di tahun 1980 an.

Menuju desa ini cukup mudah lantaran jalan sudah beraspal. Hanya sedikit jalan bebatuan yang kami lewati. Namun, soal jarak, Rejosari lumayan jauh dari Batulicin. Jaraknya 60 kilometer dari pusat Batulicin.  Sepanjang jalan, kami ditimpali pemandangan yang cenderung monoton. Sawit. Sawit. Dan sawit. Memang, Tanah Bumbu dikenal sebagai lahan subur untuk perkebunan sawit. 

Sampai di Rejosari, kami bertemu dengan Sunarto. Ia adalah salah seorang saksi sejarah fenomena munculnya raksasa tersebut. Pria berumur 77 tahun ini tampak masih bersemangat menceritakan pengalamannya dulu melihat warga setempat kocar-kacir dengan gangguan raksasa sugung. Awal kejadiannya itu saat kami pindah pada tahun 1982 karena program transmigrasi. Saat itu kondisi desa masih berupa hutan belantara," ujarnya. 

Awalnya, warga setempat tak merasa risau tinggal di Rejosari. Semuanya berjalan dengan damai. Warga menjalani kehidupan cukup baik dengan berkebun dan bertani. Namun, tak lama, raksasa tersebut muncul dan menghantui warga.

"Tubuhnya tinggi besar. Matanya cuma satu dan selalu menatap tajam. Warnanya hitam pekat," kenang Sunarto. 

Rupanya, raksasa tersebut tak suka wilayah kekuasaannya diambil alih warga. "Wilayah kekuasaannya itu di desa kami dan gunung batu itu," kata Sunarto sambil menunjuk gunung yang dekat dengan tempat tinggalnya. Gunung ini diberi nama Gunung Sugung. Gunungnya berupa perbukitan karst yang menjulang tinggi. 

Akibat gangguan raksasa tersebut, banyak warga yang memilih kembali ke Jawa untuk melanjutkan kehidupan. "Warga banyak yang tidak tahan dengan gangguannya, apalagi, mereka yang tinggal di dekat gunung sugung itu," ujarnya.

Lantaran geram, Sunarto dan warga sekitar mulai putar otak. Mereka mulai mencari cara bagaimana mengusir raksasa tersebut dari desa mereka. "Soalnya, ketika ada yang melihat, warga bisa-bisa jatuh sakit. Ada juga yang meninggal dunia," ungkapnya mengejutkan. "Jujur, membasmi tahayul semacm ini adalah hal yang paling sulit, warga-warga jadi goyah keimanannya," tambahnya.

Akhirnya, lima orang kiai dari Jawa didatangkan untuk menetralisir gangguan makhluk astral tersebut. "Lima orang tersebut bernama KH Ahmad Baitowi, KH Muhlisin, KH Muhammad Muzammil, KH Syarif Abdullah dan KH Nurhadi," tuturnya. Selain bertugas mengusir raksasa sugung, mereka juga aktif membimbing warga desa mengenai ilmu agama. "Mereka sudah meninggal, jadi tidak bisa ditemui," tambahnya.

Sejak kedatangan lima kiai tersebut, cukup mudah untuk mengusir raksasa tersebut kata Sunarto. "Setiap minggu, kami aktif melakukan kegiatan yasinan dan salat hajat, biasanya dipimpin secara bergilir oleh lima orang tersebut," tuturnya. 

Diceritakan Sunarto, memang pada awal kedatangan warga transmigran, ilmu-ilmu agama mereka masih terbilang belum begitu baik. "Kalau tidak ditangkal dengan ajaran agama lewat kedatangan para kiai, mungkin saja beberapa warga yang imannya minim akanmenyembah si raksasa itu," kata Sunarto terkekeh.

Sampai kapan warga Rejosari harus mempertahankan tradisi yasinan dan salat hajat untuk menangkal gangguan raksasa tersebut? "Hampir tiga tahun kami melakukan amalan yasinan dan salat hajat, ini perjuangan yang cukup berat selain melawan kejahilan manusia," tuturnya.

Hingga kini, Desa Rejosari sudah aman dari gangguan makhluk gaib. "Berkat bantuan lima kiai tersebut, kami sudah bebas dari gangguan makhluk gaib, keilmuan agama kami juga sudah berkembang, jasa-jasa para kiai luar biasa mengubah wajah Islam di Rejosari," tuturnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Jumat, 21 Juli 2017 17:12

Ini Alasan Mengapa Orang Banua Susah Menjadi Pramugari

Pramugari masih menjadi profesi idaman. Gaji besar dan bisa terbang ke mana-mana membuat pendaftar sekolah…

Kamis, 20 Juli 2017 15:52

Melihat Aktivitas Belajar di SDN Jawa 5 Pasca Kebakaran

Mengalami musibah kebakaran beberapa hari sebelum masa liburan berakhir, membuat pihak SDN Jawa 5 kelabakan.…

Kamis, 20 Juli 2017 15:12

Menengok Pemilihan Anggota Badan Permusyawaratan Desa di Kabupaten Balangan

Kabupaten Balangan menjadi pilot project penyelenggaraan pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa…

Rabu, 19 Juli 2017 19:37

Pasar Loak Mess Kalteng, Tetap Eksis di Tengah Gempuran Penjual Onderdil Baru

Saat ini penjual onderdil sepeda motor tersebar di pinggir pinggir jalan raya. Bahkan, ada yang berjualan…

Selasa, 18 Juli 2017 14:02

Di Pelosok Masih Ada Pasar Keliling, Bukan Semata untuk Jual Beli

Minggu (16/7) kemarin, sejuk kaki pegunungan di sebelah timur Pulau Laut. Tepatnya di Desa Seratak Kecamatan…

Sabtu, 15 Juli 2017 15:59

Kiprah Pebasket Banjarmasin Trisna Gama Putri di PT DBL Indonesia

Trisna Gama Putri sukses menembus Honda DBL Indonesia All Star dan dikirim ke Australia pada tahun 2008…

Jumat, 14 Juli 2017 11:21

Kisah Sukses Habib Zaid Shabab Merintis Bisnis Konter Handphone Syihab

Meski baru berusia 28 tahun, namun Habib Zaid Shahab telah sukses mengelola bisnis konter ponsel. Sekarang…

Kamis, 13 Juli 2017 14:36

Mengunjungi Sentra Perajin Atap Rumbia di Baringin A

Zaman yang sudah berubah membuat kerajinan tradisional tinggal ditekuni hanya oleh segelintir orang.…

Selasa, 11 Juli 2017 14:27

Begini Kiprah Mahasiswa ULM Melestarikan Budaya Banjar

Permainan tradisonal Banjar kian tergerus dengan perkembangan zaman. Di era teknologi sekarang ini,…

Jumat, 07 Juli 2017 11:14

Keren! Transformasi Rantau Baru Menjadi Kawasan Pariwisata

Kawasan Rantau Baru akan terus diperindah. Setelah tercipta danau buatan di tengahnya, pemerintah setempat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .