MANAGED BY:
SABTU
26 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 20 Juni 2017 17:06
Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

PROKAL.CO, Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Konon, salah satu desa terpencil ini dulunya pernah diganggu sesosok raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga.  Raksasa tersebut mereka beri nama: Raksasa Sugung. 

=============================

DONNY MUSLIM & MUHAMMAD RIFANI, Desa Rejosari, Tanah Bumbu

============================

Liputan di Desa Rejosari ini adalah kali pertama kami mengangkat topik menyoal urban legend atau kerap dikenal sebagai mitos. Terlepas dari kebenaran cerita, kami hanya bertugas melaporkan penuturan warga di lapangan. 

Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu ini konon dulunya pernah dihantui seorang raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga. Setiap orang yang melihatnya, pasti berujung jatuh sakit. Warga memberi nama raksasa tersebut: Raksasa Sugung. Kejadian ini terjadi di tahun 1980 an.

Menuju desa ini cukup mudah lantaran jalan sudah beraspal. Hanya sedikit jalan bebatuan yang kami lewati. Namun, soal jarak, Rejosari lumayan jauh dari Batulicin. Jaraknya 60 kilometer dari pusat Batulicin.  Sepanjang jalan, kami ditimpali pemandangan yang cenderung monoton. Sawit. Sawit. Dan sawit. Memang, Tanah Bumbu dikenal sebagai lahan subur untuk perkebunan sawit. 

Sampai di Rejosari, kami bertemu dengan Sunarto. Ia adalah salah seorang saksi sejarah fenomena munculnya raksasa tersebut. Pria berumur 77 tahun ini tampak masih bersemangat menceritakan pengalamannya dulu melihat warga setempat kocar-kacir dengan gangguan raksasa sugung. Awal kejadiannya itu saat kami pindah pada tahun 1982 karena program transmigrasi. Saat itu kondisi desa masih berupa hutan belantara," ujarnya. 

Awalnya, warga setempat tak merasa risau tinggal di Rejosari. Semuanya berjalan dengan damai. Warga menjalani kehidupan cukup baik dengan berkebun dan bertani. Namun, tak lama, raksasa tersebut muncul dan menghantui warga.

"Tubuhnya tinggi besar. Matanya cuma satu dan selalu menatap tajam. Warnanya hitam pekat," kenang Sunarto. 

Rupanya, raksasa tersebut tak suka wilayah kekuasaannya diambil alih warga. "Wilayah kekuasaannya itu di desa kami dan gunung batu itu," kata Sunarto sambil menunjuk gunung yang dekat dengan tempat tinggalnya. Gunung ini diberi nama Gunung Sugung. Gunungnya berupa perbukitan karst yang menjulang tinggi. 

Akibat gangguan raksasa tersebut, banyak warga yang memilih kembali ke Jawa untuk melanjutkan kehidupan. "Warga banyak yang tidak tahan dengan gangguannya, apalagi, mereka yang tinggal di dekat gunung sugung itu," ujarnya.

Lantaran geram, Sunarto dan warga sekitar mulai putar otak. Mereka mulai mencari cara bagaimana mengusir raksasa tersebut dari desa mereka. "Soalnya, ketika ada yang melihat, warga bisa-bisa jatuh sakit. Ada juga yang meninggal dunia," ungkapnya mengejutkan. "Jujur, membasmi tahayul semacm ini adalah hal yang paling sulit, warga-warga jadi goyah keimanannya," tambahnya.

Akhirnya, lima orang kiai dari Jawa didatangkan untuk menetralisir gangguan makhluk astral tersebut. "Lima orang tersebut bernama KH Ahmad Baitowi, KH Muhlisin, KH Muhammad Muzammil, KH Syarif Abdullah dan KH Nurhadi," tuturnya. Selain bertugas mengusir raksasa sugung, mereka juga aktif membimbing warga desa mengenai ilmu agama. "Mereka sudah meninggal, jadi tidak bisa ditemui," tambahnya.

Sejak kedatangan lima kiai tersebut, cukup mudah untuk mengusir raksasa tersebut kata Sunarto. "Setiap minggu, kami aktif melakukan kegiatan yasinan dan salat hajat, biasanya dipimpin secara bergilir oleh lima orang tersebut," tuturnya. 

Diceritakan Sunarto, memang pada awal kedatangan warga transmigran, ilmu-ilmu agama mereka masih terbilang belum begitu baik. "Kalau tidak ditangkal dengan ajaran agama lewat kedatangan para kiai, mungkin saja beberapa warga yang imannya minim akanmenyembah si raksasa itu," kata Sunarto terkekeh.

Sampai kapan warga Rejosari harus mempertahankan tradisi yasinan dan salat hajat untuk menangkal gangguan raksasa tersebut? "Hampir tiga tahun kami melakukan amalan yasinan dan salat hajat, ini perjuangan yang cukup berat selain melawan kejahilan manusia," tuturnya.

Hingga kini, Desa Rejosari sudah aman dari gangguan makhluk gaib. "Berkat bantuan lima kiai tersebut, kami sudah bebas dari gangguan makhluk gaib, keilmuan agama kami juga sudah berkembang, jasa-jasa para kiai luar biasa mengubah wajah Islam di Rejosari," tuturnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Kamis, 24 Mei 2018 12:57

Kisah Andra Fathur Rahman, Desainer Spesialis Gaun di Banjarmasin

Gaun menjuntai. Dengan sematan payet dan beberapa ornamen khas kain tile. Pemakainya sudah pasti memesona.…

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Senin, 21 Mei 2018 12:56

Ini Dia Sosok Dibalik Bubur Sabilal yang Melegenda

Bubur ayam sudah menjadi ciri khas Ramadan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Ribuan porsi disiapkan bagi…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .