MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 20 Juni 2017 17:06
Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

PROKAL.CO, Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Konon, salah satu desa terpencil ini dulunya pernah diganggu sesosok raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga.  Raksasa tersebut mereka beri nama: Raksasa Sugung. 

=============================

DONNY MUSLIM & MUHAMMAD RIFANI, Desa Rejosari, Tanah Bumbu

============================

Liputan di Desa Rejosari ini adalah kali pertama kami mengangkat topik menyoal urban legend atau kerap dikenal sebagai mitos. Terlepas dari kebenaran cerita, kami hanya bertugas melaporkan penuturan warga di lapangan. 

Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu ini konon dulunya pernah dihantui seorang raksasa. Ia mendatangi setiap rumah warga. Setiap orang yang melihatnya, pasti berujung jatuh sakit. Warga memberi nama raksasa tersebut: Raksasa Sugung. Kejadian ini terjadi di tahun 1980 an.

Menuju desa ini cukup mudah lantaran jalan sudah beraspal. Hanya sedikit jalan bebatuan yang kami lewati. Namun, soal jarak, Rejosari lumayan jauh dari Batulicin. Jaraknya 60 kilometer dari pusat Batulicin.  Sepanjang jalan, kami ditimpali pemandangan yang cenderung monoton. Sawit. Sawit. Dan sawit. Memang, Tanah Bumbu dikenal sebagai lahan subur untuk perkebunan sawit. 

Sampai di Rejosari, kami bertemu dengan Sunarto. Ia adalah salah seorang saksi sejarah fenomena munculnya raksasa tersebut. Pria berumur 77 tahun ini tampak masih bersemangat menceritakan pengalamannya dulu melihat warga setempat kocar-kacir dengan gangguan raksasa sugung. Awal kejadiannya itu saat kami pindah pada tahun 1982 karena program transmigrasi. Saat itu kondisi desa masih berupa hutan belantara," ujarnya. 

Awalnya, warga setempat tak merasa risau tinggal di Rejosari. Semuanya berjalan dengan damai. Warga menjalani kehidupan cukup baik dengan berkebun dan bertani. Namun, tak lama, raksasa tersebut muncul dan menghantui warga.

"Tubuhnya tinggi besar. Matanya cuma satu dan selalu menatap tajam. Warnanya hitam pekat," kenang Sunarto. 

Rupanya, raksasa tersebut tak suka wilayah kekuasaannya diambil alih warga. "Wilayah kekuasaannya itu di desa kami dan gunung batu itu," kata Sunarto sambil menunjuk gunung yang dekat dengan tempat tinggalnya. Gunung ini diberi nama Gunung Sugung. Gunungnya berupa perbukitan karst yang menjulang tinggi. 

Akibat gangguan raksasa tersebut, banyak warga yang memilih kembali ke Jawa untuk melanjutkan kehidupan. "Warga banyak yang tidak tahan dengan gangguannya, apalagi, mereka yang tinggal di dekat gunung sugung itu," ujarnya.

Lantaran geram, Sunarto dan warga sekitar mulai putar otak. Mereka mulai mencari cara bagaimana mengusir raksasa tersebut dari desa mereka. "Soalnya, ketika ada yang melihat, warga bisa-bisa jatuh sakit. Ada juga yang meninggal dunia," ungkapnya mengejutkan. "Jujur, membasmi tahayul semacm ini adalah hal yang paling sulit, warga-warga jadi goyah keimanannya," tambahnya.

Akhirnya, lima orang kiai dari Jawa didatangkan untuk menetralisir gangguan makhluk astral tersebut. "Lima orang tersebut bernama KH Ahmad Baitowi, KH Muhlisin, KH Muhammad Muzammil, KH Syarif Abdullah dan KH Nurhadi," tuturnya. Selain bertugas mengusir raksasa sugung, mereka juga aktif membimbing warga desa mengenai ilmu agama. "Mereka sudah meninggal, jadi tidak bisa ditemui," tambahnya.

Sejak kedatangan lima kiai tersebut, cukup mudah untuk mengusir raksasa tersebut kata Sunarto. "Setiap minggu, kami aktif melakukan kegiatan yasinan dan salat hajat, biasanya dipimpin secara bergilir oleh lima orang tersebut," tuturnya. 

Diceritakan Sunarto, memang pada awal kedatangan warga transmigran, ilmu-ilmu agama mereka masih terbilang belum begitu baik. "Kalau tidak ditangkal dengan ajaran agama lewat kedatangan para kiai, mungkin saja beberapa warga yang imannya minim akanmenyembah si raksasa itu," kata Sunarto terkekeh.

Sampai kapan warga Rejosari harus mempertahankan tradisi yasinan dan salat hajat untuk menangkal gangguan raksasa tersebut? "Hampir tiga tahun kami melakukan amalan yasinan dan salat hajat, ini perjuangan yang cukup berat selain melawan kejahilan manusia," tuturnya.

Hingga kini, Desa Rejosari sudah aman dari gangguan makhluk gaib. "Berkat bantuan lima kiai tersebut, kami sudah bebas dari gangguan makhluk gaib, keilmuan agama kami juga sudah berkembang, jasa-jasa para kiai luar biasa mengubah wajah Islam di Rejosari," tuturnya. (mr-149/rvn/ema)


BACA JUGA

Jumat, 15 Desember 2017 15:23

Setengah Hari di Hutan Mangrove Langadai Kelumpang Hilir Kotabaru

Tombak ulin yang tengahnya berlubang mereka angkat ke depan wajah. Kemudian mereka tiup pangkalnya,…

Jumat, 15 Desember 2017 14:46

Kisah Atlet Paralympic Balangan Berprestasi di Nasional dan Internasional

Atlet National Paralympic Committe (NPC) asal Kabupaten Balangan, menjadi buah bibir pada perhelatan…

Rabu, 13 Desember 2017 15:15

Melihat Kiprah Kelompok Dukungan Sebaya Pengidap HIV/AIDS

Bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), bercerita secara terbuka tentang penyakit yang dialaminya bukanlah…

Selasa, 12 Desember 2017 14:22

Pengalaman Danlanal TNI AL Banjarmasin Selama Mengikuti Kursus Militer di Inggris

Komandan Pangkalan TNI AL Banjarmasin, Kolonel Laut (P) Oky IZ Dipura bergabung dalam kursus NATO (Pakta…

Senin, 11 Desember 2017 13:14

Melihat Tradisi Mandi Kebal di Hulu Sungai Selatan

Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) selain akrab dengan tradisi membawa senjata tajam (sajam)…

Senin, 11 Desember 2017 10:38

Wayang Kulit Banjar Hibur Pengunjung Perpusda

Asam pauh dalima pauh, rama-rama batali banang. Ndiiiiiiih yaaaaaing. Ikam jauh aku jauh, sama-sama…

Sabtu, 09 Desember 2017 16:36

Aksi Bagi Nasi Bungkus dari Komunitas Sijum

Ada komunitas unik di Kota Amuntai. Para personelnya rutin membagikan nasi bungkus setiap Jumat pagi.…

Jumat, 08 Desember 2017 18:37
Mereka Mantap jadi Pegulat (Bagian II, Habis)

Gulat Tak Sekadar Prestasi, Tapi juga Ladang Rezeki

Gulat tak hanya memenuhi harapan atlet muda yang perlu perbaikan rezeki. Namun, membuka pintu bagi atlet…

Kamis, 07 Desember 2017 16:27
Mereka Memilih jadi Pegulat (1)

Dibesarkan Loncat Indah, tapi Sukses di Gulat

Ina menoreh prestasi di loncat indah, tapi kemudian jenuh dan kepincut gulat. Sedangkan Adam harus memberontak…

Rabu, 06 Desember 2017 12:05

Meriahnya Perayaan Baayun Maulid di Masjid Nurul Amilin

Ribuan manusia berjejal di Masjid Nurul Amilin, di Jalan Kelayan B Timur, Kelurahan Haur Kuning, Kecamatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .