MANAGED BY:
RABU
27 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 21 Juni 2017 15:45
Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

PROKAL.CO, style="margin: 0px; font-size: 12px; line-height: normal; font-family: Helvetica;">Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah Bumbu. Hingga sekarang, belum ada yang benar-benar tau kebenaran bagaimana sejarah dan ceritanya.

 

 

DONNY MUSLIM & MUHAMMAD RIFANI, Desa Mantewe, Tanah Bumbu

 

 

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju Desa Mantewe. Beberap kilometer dari Desa Rejosari yang kami kunjungi kemarin. Namun, urusan kondisi jalan Desa Mantewe terbilang berbeda dari Rejosari.  Jalannya buruk, pada sebagian ruas. Sialnya, kami harus menjajal jalan yang rusak tersebut untuk sampai ke Makam Keramat Kain Hijau. 

 

Makam ini adalah sebuah situs misterius yang terdapat di Desa Mantewe. Untuk sampai kesana, kami harus melewati jalan berlumpur. Letaknya terisolir dari pemukiman. Kami sempat terjatuh dan masuk dalam kubangan lumpur. Alhasil celana, sepatu hingga satu buah tas kamera jadi berlumur lumpur. 

 

Makam Keramat Kain Hijau menjadi pilihan kami lantaran makamnya masih menyimpan banyak misteri tak terjawab. Bangunan kubah makam hanya sederhana. Hanya di pagar kayu. Saat, kami mengunjunginya perasaan kami agak "berbeda". Auranya terasa aneh dan membuat bulu kuduk merinding. 

 

Sebenarnya, mengunjungi dan mencari tahu informasi tentang makam ini adalah tantangaan yang cukup besar.  Untungnya, kami bertemu dengan Haji Imuh dan Muhammad Baradir.mereka adalah tokoh yang menemukan makam ini pada tahun 2009 silam. 

 

Namun jangan kira kami langsung ketemu Haji Imuh. Kurang lebih hampir tiga jam sebelumnya kami harus kesana kemari buat mencari narasumber yang bisa menginformasikan makam ini. Tercatat ada tiga orang nama yang harus kamu temui dulu sebelum ke tempat Haji Imuh. 

 

“Kalian coba tanya-tanya informasi dengan Aran di desa 39 sana,” kata Yahya, narasumber yang pertama kami temui. Sesampainya di desa 39 (sebutan lain dari Desa Mantewe) kami langsung bertemu Aran. Namun lagi-lagi informasi nihil di dapat. Aran sama sekali tidak tahu mengenai sejarah dan cerita makam tersebut.

 

“Tapi ada paman aku yang mungkin tahu,” ucap Aran. Ternyata paman yang dimaksudnya adalah Haji Imuh. Jadi dibalik pertemuan kami dengan Haji Imuh, sosok Aran yang berperan. Lelaki asli mentewe ini yang menghubungkan kami dengan Haji Umuh.

 

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi. Motor di geber untuk balik ke Batu Licin menuju kediaman haji Imuh. Alamak, dari Mentewe harus balik lagi ke Mentewe buat menemui narasumber. Kurang lebih satu jam lamanya, kami bertemu dengan Haji Imuh dan Muhammad Baradir di rumahnya di Jalan Batu Benawa, Batu Licin.

 

"Makam ini adalah tempat bersemayamnya Pangeran Abdur Rahman, salah satu anak dari Raja Sultan Adam," ujar Baradir mengejutkan saat kami kunjungi di kediamannya. Kami sempat agak tak percaya. Namun ia berusaha meyakinkan. "Dulu saya pernah bermimpi ditemuinya, beliau memberi amanah kepada saya untuk mengurus makamnya," cerita Haji Imuh menambahkan.

 

Lantaran diberi amanah,  Haji Imuh beserta Baradir yang kala itu di motori oleh Almarhum Haji Dali langsung saja mencari makam tersebut di sekitaran Mantewe. Mereka melacak makam tersebut. "Saya cari-cari, sampai Almarhum Haji Dali menempel tangannya ke satu buah gundukan tanah," tuturnya. Ternyata, setelah Haji Imuh ikut menempel tangannya. "Keluar bau harum dan tangan saya hangat berasa dijabat seseorang," kata Haji Imuh. 

 

Lantas, setelah di diskusikan, akhirnya mereka yakin kalau itu makam sang pangeran. Tak lama, mereka bertiga langsung menancapkan sebuah nisan kayu ulin untuk menandakan makam tersebut adalah tempat bersemayamnya Pangeran Abdur Rahman. "Kami langsung buat ukiran namanya pada nisan," ceritanya. 

 

Namun, ada yang aneh ketika dirinya hendak menyematkan kain kuning di makamnya. Niatnya, mereka ingin memberi tanda bahwa makam tersebut makam keramat. "Saat saya sematkan, kain kuning tersebut terbang, beberapa kali kami coba terbang terus," ujarnya. 

 

Hingga akhirnya, almarhum Haji Dali dapat petunjuk dari mimpi untuk menyematkan kain hijau. "Kain hijau itu pertanda bahwa ilmu agamanya sudah berada pada level yang tingkat tinggi," katanya mengejutkan. Kami keheranan bukan main. Tak pernah kami menemukan sebuah makam berkain hijau. 

Konon, dulunya sejarah tempat ini memang menjadi tempat dibantainya Pangeran Abdur Rahman. Haji Imuh beserta temannya mendapat petunjuk dari mimpi bahwa peristiwa itu benar adanya. Namun, masih samar-samar siapa sosok yang membantainya.

 

“Kemungkinan saat zaman kerajaan dulu. Kalau yang membantainya bisa jadi dari kerajaan yang ada di daerah kabupaten Banjar,” kata Baradir bercerita. 

Disatu cerita ada juga kisah menarik yang diceritakan oleh Haji Imuh. Dia yang merupakan warga asli Mentewe ternyata pernah dapat cerita dari orang-orang terdahulunya di kampung. “Dulu itu katanya ada guru ngaji di desa. Namun saat penduduk memilih meninggalkan desa, dia memutuskan tinggal karena dalam kondisi sakit,” ceritanya.

 

Lantas apa hubungannya antara sosok guru ngaji dan pangeran Abdur Rahman. “Kita tidak tau kebenarannya bagaimana. Namun bisa jadi sosok guru ngaji itu adalah pangeran Abdur Rahman, namun terlepas dari teori ini, wallahu alam, hanya Allah yang tahu,” katanya.

 

 

Hingga kini, makam tersebut masih dirawat oleh warga sekitar. Sesekali, ada warga yang mendapat mimpi untuk terus merawat makamnya. Mengenai benar tidaknya kalau makam tersebut adalah peristirahatan terakhir dari Pangeran Abdur Rahman yang merupakan salah satu anak Raja Sultan Adam serta lokasi di sana jadi tempat pembantaian. Kembali lagi, wallahu’alam, hanya Tuhan yang tahu. Namun sepengalaman kami mendatangi lokasi makam, memang terasa aura dan energi yang beda. (mr-149/rvn)


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Senin, 04 September 2017 11:28

AKBP Suhasto, Kapolres Jago Mancing dan Suka Bertani

Bukan cuma jago taklukkan ikan di laut, AKBP Suhasto juga rupanya pandai memainkan arit di sawah. Sreet...,…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Kamis, 31 Agustus 2017 09:39

AKP Amelia Afifi Bicara Tentang Polisi Wanita di Masa Kini

1 September menjadi hari yang selalu dikenang kaum perempuan di Indonesia sebagai awal kiprah perempuan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .