MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 22 Juni 2017 16:58
Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan
NEGERI RATU ELIZABETH – Penulis di salah satu sudut Kota Sheffield yang ramah

PROKAL.CO, style="margin: 0px; font-size: 12px; line-height: normal; font-family: Helvetica;"> 

Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan pembimbing Tesis saya, Dr Simon Rushton, untuk mendiskusikan bab pertama tesis. Saya buru-buru mengeset alarm agar tidak bangun terlalu siang dan bisa berdiskusi dengan pembimbing dengan serius.

 

AHMAD RIZKY M. UMAR, Sheffield

 

Sesampainya di kampus, pukul 9 pagi, saya bertemu dengan pembimbing yang juga aktif sebagai Peneliti di Chatham House, lembaga Think Tank Kerajaan Inggris yang berspesialisasi dalam kajian Politik Global. Simon (di Inggris, kita memang memanggil dosen dengan nama depan dan beliau juga santai-santai saja) memang dikenal sebagai ahli dalam kajian politik kesehatan global, terutama di negara-negara dunia ketiga, dan berkaitan dengan tema Tesis yang sedang saya kerjakan. Setelah menunggu beberapa saat karena ada uji coba alarm kebakaran di kampus, saya akhirnya bertemu dengan dosen di ruangannya. 

Kala itu, dia membuka bimbingan dengan satu pertanyaan, "How is Ramadan going on? You are fasting in 19 hours aren't you?" (Bagaimana Ramadan-mu? Kamu puasa 19 jam kan?). Bimbingan berjalan serius, tapi lancar dan rileks. Mungkin karena Pak Pembimbing tahu saya puasa.

Hal ini membuat saya terkejut. Karena bahkan di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia pun, jarang dosen pembimbing yang bertanya kepada mahasiswanya apakah dia puasa (malah mahasiswa yang bisa jadi lebih sering bertanya ke pembimbing soal kapan dia harus bimbingan). Puasa 19 jam, di negeri minoritas di mana banyak orang tidak puasa dan harus mengerjakan Tesis pula, tidak terasa berat karena semangat toleransi yang kuat.

Begitu juga di rumah. Semua teman satu flat (rumah kos) saya adalah non-Muslim dan orang Inggris. Namun, mereka biasa-biasa saja ketika saya harus bangun di tengah malam untuk memasak atau sekadar memanaskan makanan untuk sahur. Bahkan, ketika Idul Fitri tiba, teman saya yang bersebelahan kamar berkata, "Id Mubarak, Umar!"

**

Berpuasa di negeri dimana siang hari di musim panas jauh lebih panjang daripada malam hari memang punya tantangan-tantangannya sendiri. Kita harus mempersiapkan sahur tengah malam karena Azan subuh sudah berkumandang di pukul 02.30. Ketika saya berjalan kembali ke rumah sepulang Salat Subuh, sekitar pukul 4, hari sudah terang. Buka puasa baru dilakukan pukul 9.30 malam. Total waktu paling lama berpuasa adalah 19 jam, yang harus dilakukan di musim panas. Plus di negeri di mana Muslim adalah minoritas.

Beruntung, saya tinggal di kawasan yang dekat dengan komunitas Muslim. Di sana ada satu mesjid yang dikelola Komunitas Muslim dari Timur Tengah, yaitu Masjid Ar-Risalah. Mesjid ini rutin menggelar taklim (dalam bahasa Arab), buka puasa bersama, iktikaf dan (di 10 akhir Ramadan) sahur bersama.

Seperti halnya di Indonesia, buka puasa bersama dilakukan "urunan". Tapi yang membuat saya bahagia adalah nuansa persaudaraan yang sangat kental. Ketika buka bersama, ada jamaah yang membawa pizza dan membagikannya kepada jemaah lain. Ada yang membawa kurma. Ada yang membawa samosa. Semua saling berbagi.

Begitu juga sahur bersama. Dan ini tidak hanya soal makanan. Suatu ketika saya berjalan dari perpustakaan pukul 12 malam menuju Mesjid (saya harus mengerjakan Tesis sampai larut ketika itu). Tiba-tiba, ada seorang jamaah membawa mobil yang menghampiri saya. Dia berkata, "I saw you in Masjid yesterday, come with me, we can go together" (saya melihatmu di Masjid kemarin, ayo pergi bersama saya). Saya hanya bisa berterima kasih.

Dan komunitas Muslim serumpun (Indonesia dan Malaysia) juga tak ketinggalan. Setiap akhir pekan, masyarakat serumpun menggelar Pasar Ramadan di satu Community Centre, menjual makanan-makanan Indonesia dan Malaysia. Ada siomay, laksa, bubur khas Malaysia (yang mengingatkan saya pada bubur Bunda di Banjarmasin), hingga keropok lekor dan nasi kerabu. Pasar Ramadan ini sangat diminati mahasiswa dari Asia Tenggara dan tak jarang juga dari Inggris sendiri. Kendati harus membayar £1-£5 per makanan, kami puas karena dengan cara inilah kami bisa mengobat rindu pada kampung halaman.

Akhirnya, Idul Fitri pun tiba. Masyarakat Muslim di Sheffield menyambutnya dengan Salat Ied di Taman Ponderosa. Tak ada Takbiran. Khotbah dilakukan dengan dua bahasa. Selepas Salat, kami dijamu oleh satu mahasiswa PhD senior di rumahnya. Kemudian bersama-sama Masyarakat Indonesia di Sheffield, kami turut meramaikannya dengan halal bi halal. Lengkap dengan hidangan khas nusantara dari semua keluarga mahasiswa di Sheffield. Cukup untuk mengobat rindu Ketika berlebaran jauh dari keluarga dan kampung halaman.

 

Besok hari, tidak ada waktu libur. Saya kembali pada aktivitas rutin saya, bergelut dengan Tesis untuk menuntaskan studi. (by/ram)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…

Sabtu, 23 Juni 2018 12:12

Kiprah Youtuber Banua Meraih Silver Play Button dan Sukses dari Youtube

Di era digital sekarang, dunia maya tidak hanya menjadi tempat memanjakan mata, melainkan juga bisa…

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Rabu, 06 Juni 2018 12:53

Geliat Kerajinan Tanggui Pesisir Utara di Banjarmasin

Di balik sumpeknya kehidupan perkotaan. Tepian Utara Kota Banjarmasin ternyata masih menyimpan kearifan…

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .