MANAGED BY:
RABU
27 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 22 Juni 2017 16:58
Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan
NEGERI RATU ELIZABETH – Penulis di salah satu sudut Kota Sheffield yang ramah

PROKAL.CO, style="margin: 0px; font-size: 12px; line-height: normal; font-family: Helvetica;"> 

Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan pembimbing Tesis saya, Dr Simon Rushton, untuk mendiskusikan bab pertama tesis. Saya buru-buru mengeset alarm agar tidak bangun terlalu siang dan bisa berdiskusi dengan pembimbing dengan serius.

 

AHMAD RIZKY M. UMAR, Sheffield

 

Sesampainya di kampus, pukul 9 pagi, saya bertemu dengan pembimbing yang juga aktif sebagai Peneliti di Chatham House, lembaga Think Tank Kerajaan Inggris yang berspesialisasi dalam kajian Politik Global. Simon (di Inggris, kita memang memanggil dosen dengan nama depan dan beliau juga santai-santai saja) memang dikenal sebagai ahli dalam kajian politik kesehatan global, terutama di negara-negara dunia ketiga, dan berkaitan dengan tema Tesis yang sedang saya kerjakan. Setelah menunggu beberapa saat karena ada uji coba alarm kebakaran di kampus, saya akhirnya bertemu dengan dosen di ruangannya. 

Kala itu, dia membuka bimbingan dengan satu pertanyaan, "How is Ramadan going on? You are fasting in 19 hours aren't you?" (Bagaimana Ramadan-mu? Kamu puasa 19 jam kan?). Bimbingan berjalan serius, tapi lancar dan rileks. Mungkin karena Pak Pembimbing tahu saya puasa.

Hal ini membuat saya terkejut. Karena bahkan di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia pun, jarang dosen pembimbing yang bertanya kepada mahasiswanya apakah dia puasa (malah mahasiswa yang bisa jadi lebih sering bertanya ke pembimbing soal kapan dia harus bimbingan). Puasa 19 jam, di negeri minoritas di mana banyak orang tidak puasa dan harus mengerjakan Tesis pula, tidak terasa berat karena semangat toleransi yang kuat.

Begitu juga di rumah. Semua teman satu flat (rumah kos) saya adalah non-Muslim dan orang Inggris. Namun, mereka biasa-biasa saja ketika saya harus bangun di tengah malam untuk memasak atau sekadar memanaskan makanan untuk sahur. Bahkan, ketika Idul Fitri tiba, teman saya yang bersebelahan kamar berkata, "Id Mubarak, Umar!"

**

Berpuasa di negeri dimana siang hari di musim panas jauh lebih panjang daripada malam hari memang punya tantangan-tantangannya sendiri. Kita harus mempersiapkan sahur tengah malam karena Azan subuh sudah berkumandang di pukul 02.30. Ketika saya berjalan kembali ke rumah sepulang Salat Subuh, sekitar pukul 4, hari sudah terang. Buka puasa baru dilakukan pukul 9.30 malam. Total waktu paling lama berpuasa adalah 19 jam, yang harus dilakukan di musim panas. Plus di negeri di mana Muslim adalah minoritas.

Beruntung, saya tinggal di kawasan yang dekat dengan komunitas Muslim. Di sana ada satu mesjid yang dikelola Komunitas Muslim dari Timur Tengah, yaitu Masjid Ar-Risalah. Mesjid ini rutin menggelar taklim (dalam bahasa Arab), buka puasa bersama, iktikaf dan (di 10 akhir Ramadan) sahur bersama.

Seperti halnya di Indonesia, buka puasa bersama dilakukan "urunan". Tapi yang membuat saya bahagia adalah nuansa persaudaraan yang sangat kental. Ketika buka bersama, ada jamaah yang membawa pizza dan membagikannya kepada jemaah lain. Ada yang membawa kurma. Ada yang membawa samosa. Semua saling berbagi.

Begitu juga sahur bersama. Dan ini tidak hanya soal makanan. Suatu ketika saya berjalan dari perpustakaan pukul 12 malam menuju Mesjid (saya harus mengerjakan Tesis sampai larut ketika itu). Tiba-tiba, ada seorang jamaah membawa mobil yang menghampiri saya. Dia berkata, "I saw you in Masjid yesterday, come with me, we can go together" (saya melihatmu di Masjid kemarin, ayo pergi bersama saya). Saya hanya bisa berterima kasih.

Dan komunitas Muslim serumpun (Indonesia dan Malaysia) juga tak ketinggalan. Setiap akhir pekan, masyarakat serumpun menggelar Pasar Ramadan di satu Community Centre, menjual makanan-makanan Indonesia dan Malaysia. Ada siomay, laksa, bubur khas Malaysia (yang mengingatkan saya pada bubur Bunda di Banjarmasin), hingga keropok lekor dan nasi kerabu. Pasar Ramadan ini sangat diminati mahasiswa dari Asia Tenggara dan tak jarang juga dari Inggris sendiri. Kendati harus membayar £1-£5 per makanan, kami puas karena dengan cara inilah kami bisa mengobat rindu pada kampung halaman.

Akhirnya, Idul Fitri pun tiba. Masyarakat Muslim di Sheffield menyambutnya dengan Salat Ied di Taman Ponderosa. Tak ada Takbiran. Khotbah dilakukan dengan dua bahasa. Selepas Salat, kami dijamu oleh satu mahasiswa PhD senior di rumahnya. Kemudian bersama-sama Masyarakat Indonesia di Sheffield, kami turut meramaikannya dengan halal bi halal. Lengkap dengan hidangan khas nusantara dari semua keluarga mahasiswa di Sheffield. Cukup untuk mengobat rindu Ketika berlebaran jauh dari keluarga dan kampung halaman.

 

Besok hari, tidak ada waktu libur. Saya kembali pada aktivitas rutin saya, bergelut dengan Tesis untuk menuntaskan studi. (by/ram)


BACA JUGA

Minggu, 17 September 2017 16:51

Mengenang Kejayaan Bioskop Tua di Banjarmasin

BANJARMASIN - Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya…

Minggu, 10 September 2017 20:43

Berkenalan dengan Komunitas Pecinta Anime di Banua

Setiap tampil di sebuah acara, para cosplayer selalu menjadi pusat perhatian. Kecantikan seperti komik…

Minggu, 10 September 2017 20:38

Bisnis Sawit di Tanbu Kembali Menggeliat

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal surganya penambang batu bara. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini…

Sabtu, 09 September 2017 15:40

Semakin Merosotnya Hutan Galam di Kabupaten Batola

Pembuatan pondasi bangunan di lahan rawa membutuhkan batang galam yang tak sedikit. Namun harga galam…

Jumat, 08 September 2017 15:12

Guru Sekolah Terpencil Keluhkan Minimnya Media Pembelajaran di Meratus

Daerah pedalaman tetap sulit untuk mendapatkan keadilan pemerataan pendidikan. Jika di kota, media pembelajaran…

Kamis, 07 September 2017 14:36

Gimana Nasib Mereka? Ibu Meninggal, Ayah Gangguan Jiwa

Usia mereka masih anak-anak, namun tiga bersaudara berinisial Z (11), R (5) dan V (3) tak lagi mendapatkan…

Rabu, 06 September 2017 14:30

Menyaksikan Tradisi Badandang di Desa Andhika: Dengung Menyayat di Atas Langit Tapin

Cuaca terik tidak menyurutkan keinginan ratusan pasang mata warga yang ingin melihat bedandang (layang-layang…

Senin, 04 September 2017 11:28

AKBP Suhasto, Kapolres Jago Mancing dan Suka Bertani

Bukan cuma jago taklukkan ikan di laut, AKBP Suhasto juga rupanya pandai memainkan arit di sawah. Sreet...,…

Minggu, 03 September 2017 12:22

Mengulik Kisah Ritual Kebal Tubuh di Kalsel: Bisa Kebal Sejak Lahir

Masyarakat Banjar kaya dengan berbagai macam fenomena dan ritual budaya yang bersifat khas. Salah satu…

Kamis, 31 Agustus 2017 09:39

AKP Amelia Afifi Bicara Tentang Polisi Wanita di Masa Kini

1 September menjadi hari yang selalu dikenang kaum perempuan di Indonesia sebagai awal kiprah perempuan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .