MANAGED BY:
KAMIS
23 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 05 Juli 2017 17:06
Sainul Hermawan, Mengkaji Balamut Meraih Doktor

Tujuh Tahun Meriset Lamut, Begadang dan Promotori Lamut

DOKTOR PALAMUTAN: Sainul Hermawan (empat dari kanan) usai mempertahankan disertasi Balamut di gedung Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Senin (3/7).

PROKAL.CO, Sainul Hermawan bisa jadi doktor yang langka. Dosen ULM dan kritikus sastra Kalsel, Sainul Hermawan ini menjadi doktor dengan penelitian kepada tradisi sastra Balamut Kalsel yang terancam hilang.

 ----------------------------------------------------

RANDU ALAMSYAH, Banjarbaru

-----------------------------------------------------

 

Sainul Hermawan sudah tertarik meneliti tentang Lamut sejak 2010 lalu. Saat itu dia sedang mencari objek penelitian untuk studi doktoralnya. Pilihan jatuh pada Lamut karena memang belum ada yang melihat seni Balamut dari perspektif perlawanan atau resistensi budaya. Sainul harus bergegas. Karena para pelaku Balamut saat ini sudah usia-usia tua.

 

Pada tahun 1980an, ada puluhan palamutan di Kalimantan Selatan. Namun sejak tahun 2010, jumlah palamutan hanya tinggal 5 orang di seluruh Banua. Pilihan Sainul pun jatuh kepada Gusti Jamhar Akbar sudah berusia sepuh.

 

Gayung bersambut, kegelisahan akan regenerasi yang putus membuat Jamhar menyambut baik niat Sainul untuk meneliti tentang dunia yang digelutinya sejak usia 12 tahun itu. Jamhar merupakan satu-satunya palamutan yang paling tua dengan koleksi cerita yang paling banyak. Sainul pun mulai mempelajari Lamut. Lamut merupakan seni cerita bertutur yang dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.

 

Karena Lamut memang biasanya dibawakan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh, dia rela begadang semalaman suntuk untuk mendengarkan Jamhar Balamut. Dari pengalaman-pengalaman mendengarkan dan mempelajari Lamutitu, Sainul melihat pentingnya Lamut ini dibangkitkan kembali sebagai sebuah seni tradisi bertutur khas Banjar.

 

Dulu sekali, memang kesenian Lamut hidup dan sama semaraknya dengan seni tutur Banjar lainnya. Lamut sama populernya dengan Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun. Sayangnya, dibanding seni tutur tradisi lainnya, Lamut justru terancam akan lebih dulu hilang. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara regenerasi berlamut mandek.

 

Anak-anak muda tak lagi tertarik memainkannya, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru. Semangat membangkitkan kembali itulah yang membuat Sainul dalam lima tahun terakhir ini menjadi tukang kampanye aktif untuk Palamutan. Dia membawa Jamhar tampil di berbagai macam acara, resmi maupun tak resmi. Di sekolah maupun gedung pemerintahan. Di Banua dan di luar daerah.

 

Sainul menjadi promotor tunggal bagi Lamut. Tentu saja, dia kerapkali membiayai dari kantongnya sendiri yang hanya sebagai dosen ULM. Penampilan-penampilan Balamut Jamhar kemudian didokumentasikan dan diunggahnya di halaman khusus yang dibuatnya di media sosial.

 

Tanggapan dan dukungan untuk kerja-kerjanya diapresiasi dari banyak pemerhati budaya dan otoritas budaya. Puncaknya, pada Oktober 2015 lalu, saat dia diminta oleh Asosiasi Tradisi Lisan mendampingi Jamhar tampil di Jakarta, dalam kesempatan itu Lamut mendapat Sertifikat Budaya 2015 sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Kalsel. Bagi Sainul sendiri ini sudah keberhasilan setengah jalan.

 

Seni bertutur bukan sekadar hiburan, tetapi juga ada banyak nilai yang merepresentasikan identitas kebanjaran. Pria kelahiran Sumenep, 43 tahun lalu itu melihat Lamut juga mengusung konsep keterbukaan masyarakat Banjar atas perbedaan suku dan budaya.

 

Sebagai tradisi yang mempertemukan berbagai unsur budaya yang berbeda baik itu Dayak, Banjar, Jawa dan Melayu; Islam Hindu dan Kaharingan, tradisi balamut merepresentasikan identitas kebanjaran yang telah lama dipahami sebagai muara dari berbagai percampuran kebudayaan.

 

Dalam kondisi itu, Sainul melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan Lamut, tersembunyi dalam bait dan terbang yang dibawakan. "Tradisi Lamut ini melawan segala upaya politik identitas yang ingin mengesensialkan satu corak identitas tertentu terhadap identitas Banjar," ucapnya saat mempertahankan disertasi berjudul Resistensi dalam Tradisi Lisan Balamut Varian Gusti Jamhar Akbar di gedung Fafultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depk, 3 Juli lalu.

 

Di hari itu, Sainul sukses menyandang gelar sebagai Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya dalam studi tentang Lamut. Bagaimana perasaan setelah berjuang tujuh tahun? "Tacabut Kasusuban," ucapnya.

 

"Saya bersyukur bisa menyandang pribahasa ini karena sepanjang studi saya bukan hanya sibuk mengisi kognisi tetapi juga mengasah afeksi. Saya tak kuasa mencabut kasusuban sendirian.

 

Tercabutnya kasusuban itu tidak lepas dari jasa baik para guru saya: Mina Elfira, Ph.D, Dr. Talha Bachmid, Tommy Christomy, Ph.D., Dr. M. Yoesoef, Dr. Pudentia MPSS, Prof. H. Rustam Effendi, Ph.D, Dr. Achadiati, Dr. Benny H. Hoed (alm.). Kepada mereka saya ingin mempersembahkan ucapan terima kasih ini," ucapnya puas. (ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 23 November 2017 14:50

Mengunjungi Danau Biru Berwarna Hijau di Desa Pugaan Tabalong

Kabupaten Tabalong memiliki objek wisata buatan yang cukup menjanjikan sebagai destinasi rekreasi keluarga.…

Rabu, 22 November 2017 09:23
Mengenal Grup Musik Panting Ading Batuah, Angkinang, HSS

Konsisten Melatih Panting Sejak Usia Dini

Ada banyak ragam kesenian daerah yang dapat kita nikmati dan hingga kini masih terjaga. Salah satunya…

Minggu, 19 November 2017 10:39

Jalan Panjang Nelayan Berjuang Merancang Alat Penangkap Ikan

BANJARBARU - Puluhan nelayan kecil yang tergabung dalam Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru beberapa…

Rabu, 15 November 2017 15:30

Wahyudi, GM Bandara Syamsuddin Noor yang Baru Bertugas

Namanya pendek dan mudah diingat, Wahyudi. Mantan General Manager Bandara El Tari Kupang itu buka-bukaan…

Rabu, 15 November 2017 11:13

Mengenal Komunitas N Gage Lovers Banjarmasin

bentuk yang unik, bak mangkuk yang dibelah, membuat handphone (HP) Jadul berupa N Gage sangat digemari.…

Selasa, 14 November 2017 15:12

Werner Laule - Siti Farida Elyanor, pasangan Jerman-Kelua yang Suka Bertualang

Werner Laule dan Siti Farida Elyanor berlibur di Banua sejak 28 September lalu. Pasangan Jerman-Kelua…

Selasa, 14 November 2017 12:19

Pangeran Muhammad Noor Gagal Lagi Jadi Pahlawan Nasional

Perjuangan Pangeran Muhammad Noor dalam merebut kemerdekaan tak berbeda dengan pahlawan nasional lain…

Selasa, 14 November 2017 11:27

Kelas Inspirasi GMC + di SMP Islam Terpadu Qardhan Hasana

Dono Prasetyo menjadi General Manager sebuah hotel berbintang dalam usia begitu muda. Ia percaya, sukses…

Jumat, 10 November 2017 11:33

Sukiman, Pahlawan Pendidikan dari Wilayah Paminggir

Kalau ikhlas semua jadi enteng dan nyaman. Itu semboyan penguat asa Sukiman dalam menjalani perannya…

Jumat, 10 November 2017 11:07

Menengok Kelompok Perajin di Kampung Purun Banjarbaru

Satu tahun sudah destinasi wisata Kampung Purun di Kelurahan Palm, Banjarbaru diperkenalkan. Bagaimanakah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .