MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 05 Juli 2017 17:06
Sainul Hermawan, Mengkaji Balamut Meraih Doktor

Tujuh Tahun Meriset Lamut, Begadang dan Promotori Lamut

DOKTOR PALAMUTAN: Sainul Hermawan (empat dari kanan) usai mempertahankan disertasi Balamut di gedung Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Senin (3/7).

PROKAL.CO, Sainul Hermawan bisa jadi doktor yang langka. Dosen ULM dan kritikus sastra Kalsel, Sainul Hermawan ini menjadi doktor dengan penelitian kepada tradisi sastra Balamut Kalsel yang terancam hilang.

 ----------------------------------------------------

RANDU ALAMSYAH, Banjarbaru

-----------------------------------------------------

 

Sainul Hermawan sudah tertarik meneliti tentang Lamut sejak 2010 lalu. Saat itu dia sedang mencari objek penelitian untuk studi doktoralnya. Pilihan jatuh pada Lamut karena memang belum ada yang melihat seni Balamut dari perspektif perlawanan atau resistensi budaya. Sainul harus bergegas. Karena para pelaku Balamut saat ini sudah usia-usia tua.

 

Pada tahun 1980an, ada puluhan palamutan di Kalimantan Selatan. Namun sejak tahun 2010, jumlah palamutan hanya tinggal 5 orang di seluruh Banua. Pilihan Sainul pun jatuh kepada Gusti Jamhar Akbar sudah berusia sepuh.

 

Gayung bersambut, kegelisahan akan regenerasi yang putus membuat Jamhar menyambut baik niat Sainul untuk meneliti tentang dunia yang digelutinya sejak usia 12 tahun itu. Jamhar merupakan satu-satunya palamutan yang paling tua dengan koleksi cerita yang paling banyak. Sainul pun mulai mempelajari Lamut. Lamut merupakan seni cerita bertutur yang dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.

 

Karena Lamut memang biasanya dibawakan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh, dia rela begadang semalaman suntuk untuk mendengarkan Jamhar Balamut. Dari pengalaman-pengalaman mendengarkan dan mempelajari Lamutitu, Sainul melihat pentingnya Lamut ini dibangkitkan kembali sebagai sebuah seni tradisi bertutur khas Banjar.

 

Dulu sekali, memang kesenian Lamut hidup dan sama semaraknya dengan seni tutur Banjar lainnya. Lamut sama populernya dengan Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun. Sayangnya, dibanding seni tutur tradisi lainnya, Lamut justru terancam akan lebih dulu hilang. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara regenerasi berlamut mandek.

 

Anak-anak muda tak lagi tertarik memainkannya, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru. Semangat membangkitkan kembali itulah yang membuat Sainul dalam lima tahun terakhir ini menjadi tukang kampanye aktif untuk Palamutan. Dia membawa Jamhar tampil di berbagai macam acara, resmi maupun tak resmi. Di sekolah maupun gedung pemerintahan. Di Banua dan di luar daerah.

 

Sainul menjadi promotor tunggal bagi Lamut. Tentu saja, dia kerapkali membiayai dari kantongnya sendiri yang hanya sebagai dosen ULM. Penampilan-penampilan Balamut Jamhar kemudian didokumentasikan dan diunggahnya di halaman khusus yang dibuatnya di media sosial.

 

Tanggapan dan dukungan untuk kerja-kerjanya diapresiasi dari banyak pemerhati budaya dan otoritas budaya. Puncaknya, pada Oktober 2015 lalu, saat dia diminta oleh Asosiasi Tradisi Lisan mendampingi Jamhar tampil di Jakarta, dalam kesempatan itu Lamut mendapat Sertifikat Budaya 2015 sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Kalsel. Bagi Sainul sendiri ini sudah keberhasilan setengah jalan.

 

Seni bertutur bukan sekadar hiburan, tetapi juga ada banyak nilai yang merepresentasikan identitas kebanjaran. Pria kelahiran Sumenep, 43 tahun lalu itu melihat Lamut juga mengusung konsep keterbukaan masyarakat Banjar atas perbedaan suku dan budaya.

 

Sebagai tradisi yang mempertemukan berbagai unsur budaya yang berbeda baik itu Dayak, Banjar, Jawa dan Melayu; Islam Hindu dan Kaharingan, tradisi balamut merepresentasikan identitas kebanjaran yang telah lama dipahami sebagai muara dari berbagai percampuran kebudayaan.

 

Dalam kondisi itu, Sainul melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan Lamut, tersembunyi dalam bait dan terbang yang dibawakan. "Tradisi Lamut ini melawan segala upaya politik identitas yang ingin mengesensialkan satu corak identitas tertentu terhadap identitas Banjar," ucapnya saat mempertahankan disertasi berjudul Resistensi dalam Tradisi Lisan Balamut Varian Gusti Jamhar Akbar di gedung Fafultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depk, 3 Juli lalu.

 

Di hari itu, Sainul sukses menyandang gelar sebagai Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya dalam studi tentang Lamut. Bagaimana perasaan setelah berjuang tujuh tahun? "Tacabut Kasusuban," ucapnya.

 

"Saya bersyukur bisa menyandang pribahasa ini karena sepanjang studi saya bukan hanya sibuk mengisi kognisi tetapi juga mengasah afeksi. Saya tak kuasa mencabut kasusuban sendirian.

 

Tercabutnya kasusuban itu tidak lepas dari jasa baik para guru saya: Mina Elfira, Ph.D, Dr. Talha Bachmid, Tommy Christomy, Ph.D., Dr. M. Yoesoef, Dr. Pudentia MPSS, Prof. H. Rustam Effendi, Ph.D, Dr. Achadiati, Dr. Benny H. Hoed (alm.). Kepada mereka saya ingin mempersembahkan ucapan terima kasih ini," ucapnya puas. (ay/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 11:41

Indahnya Pesona Dayak Meratus di Desa Kapul

Akhir Maret tadi, Pesona Dayak Meratus digelar di Desa Kapul, Kecamatan Halong. Ini kali keempat saya…

Jumat, 06 April 2018 14:10

Gubernur Bantu Modal Usaha Kakek-Nenek yang Asuh Dua Cucu di Kotabaru

Jafar, 50, tidak dapat menyembunyikan isak tangisnya. Rabu (4/4) tadi, Radar Banjarmasin menyerahkan…

Jumat, 06 April 2018 12:03

GEMES..! Radhika Dhafi Pratama, si Model Cilik Berprestasi

Kecil-kecil cabai rawit. Meski masih berusia 5 tahun, Radhika Dhafi Pratama sudah banyak meraih prestasi…

Kamis, 05 April 2018 12:11

Noor Ainah, Wakil Pantomim dari Banjarmasin

Motivasi Noor Ainah untuk bermain pantomim begitu polos. Dia ingin mejeng di halaman koran. Dilihat…

Rabu, 04 April 2018 14:48

Masyarakat Bingung Menyelamatkan Peninggalan Sejarah di Desa Pipitak Jaya

Desa Pipitak Jaya akan tenggelam karena pembangunan bendungan. Masyarakat bingung ingin menyelamatkan…

Selasa, 03 April 2018 15:03

Sulitnya UNBK di Pelosok Pulau, Puluhan Kilometer Cari Sinyal

Edi Rohaedi mesti menempuh puluhan kilometer mencari sinyal internet. Ujian nasional di SMK pelosok…

Selasa, 03 April 2018 14:54

Mengenal Shintya Subhan, Penerjemah Bahasa Isyarat

Dengan gerakan tangan, bibir dan mata, seorang interpreter bisa membuka jendela wawasan kaum difabel.…

Senin, 02 April 2018 17:27

Menelusuri Kesaktian Orang Mandar di Pesisir Kalsel

Pernah dengar kesaktian orang Mandar? Ternyata kesaktian itu ada yang berasal dari ilmu hitam. Tapi…

Senin, 02 April 2018 16:15

Kisah Perjuangan Kakek Nenek Mengasuh Cucu Yatim Piatu

Di usia senja, Jafar dan Nurbayah harus kehilangan anak satu-satunya dan menantu. Mereka kini mesti…

Sabtu, 31 Maret 2018 08:13

Mengikuti Sebagian Penggarapan Film Dokumenter Hidden Of Tapin

Tak banyak yang tahu tentang Kabupaten Tapin, kecuali soal batu bara. Nah, beberapa pemuda mencoba memperkenalkannya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .