MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Rabu, 04 Oktober 2017 14:58
Fenomena "Bystander Effect" di Banua, Nonton, Ambil Foto, lalu Pergi
BANYAK PENONTON: Kecelakaan di Banjarbaru, Senin (2/10) tadi.

PROKAL.CO, Kepekaan mulai menjadi sesuatu yang langka di Banua. Masyarakat cenderung tak ambil pusing, dan hanya suka menonton. Mereka memilih menjadi bystander.

----

Kecelakaan terjadi di daerah jembatan kembar Banjarbaru, Senin (2/10) siang. Sebuah pikap terjun ke sungai setelah sebelumnya menyenggol pengendara motor. Sopirnya terjebak di dalam kabin. Masyarakat pun mulai berdatangan. Pengendara berhenti karena penasaran. Saking banyaknya yang menonton, peristiwa ini menimbulkan kemacetan panjang.

Meski banyak yang menonton, hanya beberapa orang yang berinisiatif turun tangan. Yang lain, berdiri menyaksikan. Kebanyakan bahkan melakukan mengambil gambar melalui gawainya. Ada yang melakukan streaming siaran langsung.

Sejam baru sopir yang terjebak itu bisa dikeluarkan. itu pun, dikeluarkan oleh Basarnas yang dihubungi untuk menolong. Momen -momen dramatis pertolongan disaksikan masyarakat yang semakin lama, semakin banyak. Semuanya penasaran dan menjadikan itu tontonan menarik.

Fenomena sosial ini memang sedang banyak disorot di banyak daerah. Istilahnya bystander effect. Bystander bisa dipahami sebagai pengamat kejadian. Umumnya, orang-orang enggan menolong karena berharap ada orang lain yang akan menolong. Celakanya, hal ini justru menyulitkan para penolong. Seringkali, karena kerumunan yang banyak, tim rescue tak bisa menembus dan membuat korban kehabisan darah atau masuk masa sekarat.

Erwin, salah seorang warga Martapura, mengatakan dia pernah mendapati kejadian kecelakaan tabrakan di tengah jalan. Dengan sigap, dia turun dari motornya bersama tiga orang lainnya yang dekat karena melihat tidak ada yang mau turun. "Ujung-ujungnya, saya digelandang, ditanyai, apakah saya yang menabrak," ucapnya yang mengatakan jera berusaha menolong orang di jalan.

Dosen Psikologi Abnormal FKIP ULM (Universitas Lambung Mangkurat), Muhammad Arsyad mengatakan memang banyak orang yang sekarang cenderung lekas-lekas mengeluarkan ponsel alih-alih menolong korban. "Iya, boleh jadi ini fenomena bystander effect," katanya kepada Radar Banjarmasin seraya menambahkan orang-orang memotret atau memvideo lalu berlomba-lomba mempostingnya ke Instagram atau Facebook dengan caption ala kadarnya. Postingan itu bisa dibagikan berulang-ulang dan mendapat ratusan komentar dalam waktu sekian menit.

Pendapat yang menarik diutarakan Dosen Sosiologi UIN (Universitas Islam Negeri) Antasari Aulia Aziza. Bukan soal bystander effect atau matinya empati, Aulia melihatnya sebagai cara baru untuk berempati di era digital.

Secara naluriah, individu ingin eksistensinya diakui di lingkungan sosialnya. "Untuk memperoleh pengakuan itu dalam kondisi faktual sekarang, saya harus update informasi. Ikut memposting atau berkomentar," jelasnya.

Ada kepuasan ketika postingan itu mendapat banyak like, ditonton ribuan netizen, dan dibagikan berulang-ulang. "Dan ini fenomena universal di era digital sekarang," ujarnya.

Aulia juga enggan memvonis. Ini bukan soal benar atau salah, berdosa atau berpahala. "Beda cerita kalau ditarik ke budaya lokal kita yang religius, jelas negatif. Karena agama kan menyuruh kita bertindak, menolong korban lebih dulu," tambahnya.

Ia hanya meminta masyarakat untuk lebih dewasa. Sebelum memposting, memilah mana yang boleh dibagikan dan mana yang sebaiknya disimpan. Gambar atau video yang sadis, berdarah, atau vulgar sebaiknya jangan diposting.

"Niat awal ingin menolong masyarakat, agar keluarga atau kawan korban lekas mengetahui informasi insiden. Ternyata malah menyakiti perasaan keluarga. Pikirkan dulu dampaknya sebelum memposting," tegas pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut. (fud/ay/ran)


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 15:44
SMK PP Negeri Banjarbaru

4 Guru SMK-PP Negeri Banjarbaru Ikuti Seminar Nasional Hortikultura di ULM

Banjarmasin - SMK-PP Negeri Banjarbaru mengirimkan wakilnya dalam Seminar Nasional…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:54

Teroris Berpotensi Masuk ke Kalsel, TNI-Polri dan Pemda Gelar Apel Kesiapsiagaan

Suara ledakan berulang kali terdengar di Lapangan Mako Satuan Brimob…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:50

SDM Jadi Fokus Pembangunan Kalsel 2020

BANJARMASIN – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RPBD) Pemprov…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:46

LOWONGAN CPNS: Pemprov Kalsel Siapkan 1.900 Kursi

BANJARMASIN – Pemerintah menyediakan 100 ribu kursi untuk calon pegawai…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:40

Kaltim Kandidat Ibukota Indonesia, Jokowi: Masih Tunggu Kajian Lagi

BANJARMASIN – Meski Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:37

Tunggu Usulan Ketua DPRD Sementara

BANJARMASIN - Pemenang pileg April tadi bakal dilantik 9 September…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:28

Jabatan Berakhir, Mobil Dinas Anggota Dewan Ditarik

BANJARMASIN - Masa jabatan anggota DPRD Kalsel akan berakhir. Semua…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:15

Banjarmasin Segera Punya Bus Trans, Target Beroperasi: Tahun 2020

BANJARMASIN – Bus Trans Banjarmasin mulai diwujudkan. Namun, bertahap. Dinas…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:49
SMK PP Negeri Banjarbaru

PWMP 2019, SMKPP N Banjarbaru Bentuk 15 Kelompok Baru

Banjarbaru - Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) SMK-PP Negeri…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:29

Demo Mahasiswa UIN: Ini Universitas, Bukan Pasar!

BANJARMASIN – Demo dilakukan puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*