MANAGED BY:
SELASA
27 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 17 Februari 2018 17:44
Sambut Kedatangan Dewa Rezeki, Bakar Uang Emas lalu Begadang
RAYAKAN IMLEK: Warga Tionghoa di Banjarmasin, sembahyang menyambut tahun baru di Kelenteng Po An Kiong, kemarin (16/2) dini hari.

BANJARMASIN - Dari film kungfu di dataran Cina, kita sering melihat warga Tionghoa membakar uang kertas. Tradisi serupa juga hadir di Banjarmasin dalam perayaan Imlek, tahun baru kalender Tionghoa.

Seperti yang tampak di Kelenteng Po An Kiong di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah, Jumat (16/2) dini hari. Di sana, sembahyang menyambut tahun baru dilaksanakan tepat pada pergantian hari, jam 12 malam.

Pemilihan jenis, bentuk dan tahapan membakar uang kertas itu jelas tak bisa sembarangan. Setiap laku punya makna. Pertama-tama, harus dibedakan antara uang kertas emas (Kim Cua) dan uang kertas perak (Gin Cua).

"Kim Cua dibakar untuk persembahan kepada dewa-dewi. Sedangkan Gin Cua dibakar untuk arwah leluhur. Dewa tak layak mendapat uang perak. Makanya malam ini yang dibakar semuanya uang emas," jelas budayawan Tionghoa, Lim Ho Tjiang yang ikut bersembahyang di Po An Kiong yang lebih dikenal masyarakat Banjarmasin dengan nama Kelenteng Pasar.

Bukan hanya perbedaan warna, uang kertas itu juga dilipat-lipat hingga memunculkan bentuk menarik. Seperti kapal-kapalan, bunga teratai, gunung dan buah nenas.

Bentuk ini ternyata bukan sekadar aksesoris. Ditegaskan lelaki 62 tahun itu, tiap-tiap bentuk memiliki makna. Membawa doa berbeda yang hendak dipanjatkan si pembakar. "Misal kapal, maknanya adalah keselamatan," ujarnya.

Sementara teratai mewakili kesucian. Gunung bermakna kekayaan, memohon rejeki yang berlimpah. Dan buah nanas sebagai simbol kemuliaan. "Sebenarnya, membakar uang berbentuk kapal sudah cukup untuk kehidupan kita. Terkadang ada yang tidak mengerti, menginginkan keselamatan tapi malah membakar teratai," imbuhnya.

Namun, adapula yang membakar uang emas tanpa bentuk khusus, hanya dalam lembaran-lembaran terikat. Bentuk paling biasa ini pun ternyata juga membawa doa khusus kepada dewa. "Lembaran-lembaran panjang itu untuk berkah panjang umur," tukas warga Pasar Lama ini.

Pembakaran uang kertas ini dilakukan pada tahapan akhir sembahyang. Ho Tjiang bersedia merunutnya. Pertama, umat Tionghoa berdiri memegang dupa pada detik-detik jelang pukul 00.00.

Begitu waktunya tiba, pengurus kelenteng memukul kencang beduk kecil di tiang kiri kelenteng. Bunyi ini menjadi tanda dimulainya sembahyang. "Sebagai tanda dibukanya langit," ujarnya.

Sedangkan di tiang kanan kelenteng, bergantung lonceng. Lonceng itu dibunyikan untuk mengakhiri ritual sembahyang. Sebagai tanda langit kembali ditutup. Kadang-kadang, beduk dan lonceng ini dibunyikan secara bersamaan.

Kedua, dilanjutkan dengan persembahan minyak untuk dituangkan pada kuali lampu kelenteng. Minyak ini boleh dibawa dari rumah, bisa pula diambil dari lapak yang telah disediakan kelenteng. Imbalannya, umat memberi derma secara sukarela pada kelenteng.

Kuali ini menyalakan sumbu lilin kecil berbentuk bunga teratai. Ada tiga lampu, yakni lampu langit, lampu bumi dan lampu manusia. Ketiganya dijaga agar jangan pernah padam. Pemberian minyak ini mengandung doa, agar jalan hidup si pemberi senantiasa disoroti cahaya terang.

Ho Tjiang punya cerita unik di balik minyak ini. Pernah ada orang Hulu Sungai Tengah, bukan peranakan Tionghoa, datang kemari memohon izin mengambil sedikit minyak untuk dibawa pulang. "Dia menunjukkan kulit tubuhnya yang terkena penyakit. Katanya buat batatamba (pengobatan). Kami izinkan selama bisa membantu," kisahnya.

Ketiga, barulah menyalakan sepasang lilin untuk bumi dan manusia. Membakar dupa untuk sembahyang. Dan terakhir, keempat, mempersembahkan uang kertas emas untuk dibakar.

"Terkadang, ada yang keliru memahami urutan ini. Menyalakan lilin dan dupa dulu, baru menuangkan minyak. Sulit dicegah karena sudah menjadi kebiasaan," tukasnya.

Mendekati jam satu dini hari, semua ritual sembahyang telah tuntas ditunaikan. Sebagian beranjak pulang ke rumah, sebagian lagi bertahan di kelenteng sembari menahan kantuk. Padahal udara Banjarmasin sedang dingin-dinginnya lantaran terus diguyur hujan deras.

Ini rupanya tradisi, bukan sekadar begadang untuk ngopi atau ngobrol. "Orang Tionghoa percaya pada malam Imlek dewa rejeki telah turun ke bumi. Kami begadang untuk menyambutnya," pungkas Ho Tjiang. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 27 September 2022 11:30

Masyarakat Rem Belanja Gara-gara Harga Pada Naik, BPS: Inflasi Meningkat

Pedagang di Pasar Bauntung Kecamatan Tanjung Kabupaten Tabalong merasakan betul…

Selasa, 27 September 2022 11:25

Banjir Halong Menelan Korban, Anak Perempuan 12 Tahun Ditemukan Tewas

Banjir yang melanda Desa Baruh Panyambaran Kecamatan Halong Kabupaten Balangan…

Selasa, 27 September 2022 11:24

Balai Kota di Banjarmasin Dulunya Pangkalan Angkatan Laut Jepang

 Masih dalam suasana peringatan hari jadi kota ke-496, ada baiknya…

Selasa, 27 September 2022 11:20

Wajib Punya Aplikasi atau e-Money Kalau Mau Naik Bus Trans Banjarbakula

Tak punya aplikasi TemanBus atau kartu e-Money, jangan harap bisa…

Selasa, 27 September 2022 11:18

Barabai Langganan Calap, Masalahnya di Drainase dan Tata Kelola Kota

Setiap hujan deras dengan durasi lama, sebagian titik di pusat…

Senin, 26 September 2022 11:11

Masalah Sampah di Banjarmasin Kian Pelik, Penyebabnya Warga Tak Mau Ribet

 Rabu (21/9) pagi, tak jauh dari Pasar Kuripan, becak-becak diparkir…

Senin, 26 September 2022 11:07

Siaga Banjir..!! Beberapa Wilayah di Kalsel Sudah Terendam

Hujan yang mengguyur Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sejak subuh…

Sabtu, 24 September 2022 11:42

Video Syur Pasangan Sesama Jenis Hebohkan Banjarmasin, Ini Kata Sosiolog

Beredarnya video syur pasangan sesama jenis yang dilakukan oknum mahasiswa…

Sabtu, 24 September 2022 11:41

Heboh Video Mesum Sesama Jenis, Pelakunya Oknum Mahasiswa di Banjarmasin

Video tak senonoh viral di media sosial. Pemerannya bukan perempuan…

Sabtu, 24 September 2022 11:39

Gara-gara ini Hari Jadi Banjarmasin Digeser ke 28 September

 Puncak perayaan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke 496, bakal dihelat…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers