MANAGED BY:
MINGGU
22 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Rabu, 28 November 2018 09:51
Berstatus Internasional, Maskapai Bersiap Jejaki Rute Luar Negeri
SIAP STATUS INTERNASIONAL: Bangunan kantor Angkasa Pura pada proyek pengembangan Bandara Syamsudin Noor. Bandara kebanggaan Kalsel ini diwacanakan akan menjadi bandara internasional.

PROKAL.CO, BANJARBARU - Jelang pengoperasian pada Oktober 2019, maskapai penerbangan mulai bersiap mengambil peluang untuk membuka penerbangan internasional dari dan ke bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru.

Salah satu yang getol melakukan penjajakan adalah Maskapai Air Asia. Perusahaan penerbangan berbiaya rendah ini dalam waktu dekat akan datang berkunjung ke bandara Syamsudin Noor untuk melakukan observasi.

"Mereka ingin melihat market kita," ucap Kepala Departemen Operasi dan Pelayanan bandara Syamsudin Noor, Ruly Artha kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Dia mengatakan sejatinya maskapai swasta milik pengusaha Malaysia Tony Fernandez itu sudah lama siap melayani penerbangan internasional ke Kuala Lumpur. Hanya saja, terkendala dengan status bandara Syamsudin Noor yang belum menjadi bandara Internasional.

Dalam catatan Radar Banjarmasin, rencana penerbangan Banjarmasin - Kuala Lumpur ini telah dimulai sejak 2013 lalu. Saat itu, manajemen Air Asia datang langsung ke Kalsel untuk mengkomunikasikan rencana mereka melayani penerbangan direct Banjarmasin- Kuala Lumpur.

Pemprov yang antusias telah menyiapkan perangkat perizinan ke Kementerian Perhubungan untuk menjadikan status Syamsudin Noor sebagai bandara internasional.

Lima tahun berlalu, status tak kunjung keluar. Ruly mengatakan hingga saat ini perangkat perizininan itu masih berada di meja Dirjen Pehubungan Udara kementerian.

Apa yang menjadi kendala sehingga status bandara internasioanl tak kunjung terealisasi? Ruly berpandangan kesiapan infrastruktur bukanlah pertimbangan.

Status internasional justru bergantung pada faktor nonteknis. "parameter mereka adalah daya tarik wisata yang bisa menambah jumlah kunjungan turis asing masuk ke Kalsel," ucap Ruly.

Sejauh ini, dia mengapresiasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang menurutnya telah berjuang cukup keras untuk mengubah status bandara menjadi internasional.

Saat ini, terminal bandara Syamsuddin Noor baru bisa menampung 1,3 juta penumpang dengan jumlah pergerakan penumpang mencapai 3,6 pertahun. Jika bandara baru diluncurkan Oktober 2019 mendatang, kapasitas bandara cukup lega menampung 7 juta penumpang pertahun.

Pelbagai fasilitas baru sendiri bisa terlihat sudah hampir rampung. Antara lain masjid bandara yang kubahnya terlihat dari jalan A. Yani.

Demikian juga gedung adimistrasi, perkantoran, dan kantor pemadam kebakaran. Semuanya berdiri di lahan seluas sekitar 70 ribu meter persegi.

Ruly mengatakan pihaknya optimistis status internasional akan terwujud dalam waktu dekat, seiring dengan selesainya megaproyek pengembangan bandara.

"Marketnya udah masuk. Yang penting sekarang meningkatkan penumpang dan jumlah kunjungan dulu," tutupnya.

Pemprov sendiri hanya bisa menunggu. Pasalnya, segala persyaratan sudah sejak lama dilengkapi. Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Rusdiansyah mengaku, syarat dan proses pengajuan menjadikan Bandara Syamsudin Noor berlabel internasional sudah sampai ke pemerintah pusat.

Diantaranya layout bandara yang mengacu standar bandara internasional. “ Sampai sekarang belum turun status bandara internasional,” terang Rusdi kemarin.

Lambannya penetapan status bandara internasional dari pemerintah pusat, nilainya karena beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah berkaitan dengan pertahanan keamanan negara.

“Kami pun hanya bisa menunggu, tak ada pula kabar dari pemerintah pusat, harus dilengkapi apa lagi,” tukasnya.

Pihaknya sangat mengharapkan, ketika bandara sudah selesai tahun 2019 mendatang, label bandara internasional pun sudah turun dari Kementerian Perhubungan.

“Kami berharap, demikian, sebelum bandara selesai sudah ada status ini. Sehingga tak perlu lagi mengurus pengajuan,” harap Rusdi.

Berbicara syarat, Rusdi menerangkan, konsep pengembangan bandara Syamsudin Noor sendiri sudah mengacu bandara internasional.

Salah satunya bangunan ruang tunggu antara penerbangan domestik dan luar negeri dibuat terpisah. Begitu pula, terkait kepabeanan, pihak angkasa pura sebutnya membangun terminalnya.

“Panjang Run Way hingga masukan dari Angkatan Udara pun sudah memungkinkan sebagai bandara internasional. Tapi ya, tetap saja statusnya tak turun dari menteri,” keluhnya.

Rusdi mengungkapkan, sejauh ini tak ada kendala yang menghambat belum ditetapkannya bandara Syamsudin Noor menjadi bandara internasional.

Terlebih, proposal yang pihaknya sampaikan ke Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, tak ada yang harus diperbaiki. Jika ada faktor lain yang menghambat pun dia tak mengetahuinya, karena kementerian tak memberikan informasi.

Pengajuan status bandara internasional sendiri sebutnya, sejak setahun lalu. Ketika, pengembangan bandara Syamsudin Noor mulai dikerjakan. “Saya lupa tepatnya. Yang pasti usai ground breaking lalu, semangat untuk menjadikan bandara internasional kami lakukan,” terangnya.

Tak hanya sekali menanyakan status bandara internasional ke kementerian, Rusdi menyebut sudah berkali-kali. Bahkan ketika itu melibatkan Komisi III DPRD Kalsel.

“Saya bersama anggota DPRD sudah berapa kali ketemu dengan pihak kementerian, namun katanya sudah di meja menteri. Tapi sampai sekarang tak ada kabar,” tuturnya.

 Dia menjanjikan, untuk mendorong percepatan mendapatkan label bandara internasional, dalam waktu dekat pihaknya berencana akan kembali mendatangi pihak kementerian perhubungan.

“Kami berharapnya sebelum bandara selesai, status itu sudah didapat. Sehingga tak perlu lagi mengurus untuk mendapatkan label bandara internasional ketika bandara selesai,” ujarnya.

Pemerintah pusat sendiri terkesan berhati-hati memberi status bandara internasional. Bahkan di 2017 lalu, ada beberapa bandara yang dicabut status internasionalnya karena dianggap sudah tak efektif untuk penerbangan internasional.

Keduanya yakni Bandara Hanandjoeddin di Belitung dan Bandara Frans Kaisiepo di Biak. (mof/ay/ran)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*