MANAGED BY:
RABU
27 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Jumat, 21 Desember 2018 11:29
Gak Disengat!! Sedot Madu Langsung Dari Sarang Lebah
TANTANGAN TERSENDIRI: Anak dari seorang wartawan ikut meminum madu langsung dari sarangnya.

PROKAL.CO, Di tengah perusahaan semen raksasa. Segerombol lebah terbang sibuk. Manusia mengusik. Meminum madu langsung dari sarang. Tanpa pengaman, gak pake jampi, tidak disengat.

Zalyan Shodiqin Abdi, KOTABARU

Puluhan wartawan yang diundang perusahaan semen belum lama tadi. Bukan sembarang undangan. Wartawan ditantang minum madu langsung di sarang. Sarang yang masih dihuni ribuan lebah berwarna hitam.

Senin (17/12) pagi. Puluhan jurnalis berangkat ke Desa Tarjun dari pelabuhan di Stagen Pulau Laut. Setengah jam di laut. Menyeberang ke Pulau Kalimantan.

Gedung-gedung perusahaan semen menjulang di seberang. Di tepi pesisir hutan bakau. Asap produksi membumbung tinggi. Perusahaan itu jika malam hari, lampu-lampunya kontras dengan sekitarnya. Semarak, tinggi menjulang. Terlihat superior.

Turun dari fery kami menggunakan roda dua. Penulis lupa memakai helm. Debu dan bau semen tercium. Tumpukan batubara bahan bakar mesin raksasa perusahaan, terlihat menggunung.

Sekitar lima belas menit. Di tepi jalan. Kami disambut karyawan perusahaan. Diajak seremoni penanaman jagung. Panas menyengat. "Jadi kapan minum madu?," tanya seorang wartawan tak sabar.

Andai kami tidak tahu ada acara minum madu, mungkin tidak begitu gelisah menunggu proses foto-foto menanam jagung. Tapi dari awal, bayangan madu terus menggoyang.

Jelang Zuhur kami melesat. Masuk ke areal perusahaan. Penulis duluan. "Tempat biasa dekat persimpangan. Tahu saja kan?," ujar karyawan perusahaan. Tapi masa setahun tidak sebentar. Penulis lupa jalan. Sesat. Balik kanan.

Ternyata lokasi minum madu tidak jauh dari gerbang masuk perusahaan. Di sana sudah bergerombol manusia. Menunduk-nunduk. Memegang sedotan.

Alamak. Mereka meminum langsung madu dari sarangnya. Lebah beterbangan di kepala. Di mulut. Di dahi. Penulis bergidik. Para wartawan meminum tanpa penutup wajah.

"Tenang. Itu lebah Trigona SP. Tidak ada sengatnya. Di sini namanya lebah kelulut," ujar Manajer Teguh Iman Basuki.

Penasaran. Penulis mencobanya. Mendekat ke sarang. Benar, tidak ada sengatan. Sedotan diberikan. Disuruh cucuk ke sarang, dan disedot. Sruuup. Penulis kaget. Rasanya kecut dan pahit. Madu kelulut itu rasanya aneh. Manisnya ada, tapi sedikit. Encer.

"Jangan salah. Ini tinggi khasiatnya. Dulu saya pernah sakit dada. Minum ini sembuh," kata seorang perempuan. Dia istri jurnalis yang sudah berusia paruh baya.

Kata Imam, rasa masam karena lebah kelulut meminum sari bunga dari tanaman hutan pesisir. Dari bunga bakau dan lainnya.

Madu itu sudah lama mereka budidayakan. Satu koloni bersarang di sebuah kotak kayu terbuka. Bibitnya dari Desa Langadai, dekat Tarjun. Warga lokal sudah lebih dulu. Perusahaan datang, membina mereka. Begitu pengakuan karyawan.

Madu kelulut itu sudah dijualbelikan. Satu botol kecil mahal. Rp140 ribu. Hampir tiga kali lipat ketimbang madu lainnya. Kata Imam beberapa minggu sudah bisa panen satu koloni sarang. Tapi dari penelusuran penulis, satu koloni hanya mampu menghasilkan satu sampai dua liter per tahunnya. Sedikit sekali.

Madu ini di Jawa dikenal dengan sebutan madu klanceng. Nama lokal di sana lebah klanceng. Sudah banyak berita. Pengusaha klanceng panen uang kencang ke kantongnya. Hasil jualan madu.

Permintaan klanceng di pasaran kencang. Karena katanya, kelulut itu punya lebih banyak kandungan propolisnya. Propolis adalah salah satu zat dari liur lebah yang dipercaya berkhasiat tinggi.

Jadi wajar harganya mahal. Selain produksinya sedikit. Juga kandungan propolisnya yang lebih tinggi daripada madu biasa.

Cara membudidayakannya sederhana. Kalau tak mau repot kata Imam, bisa beli koloni lebah lengkap dengan sarangnya. Satu sarang kayu, ratusan ribu. Bisa dibawa jauh asal tidak terguncang keras.

Imam berharap, di sana nanti bisa jadi sentra besar madu kelulut. Dipadukan dengan konsep wisata hutan bakau. Wisatawan bisa merasakan lebat bakau sambil minum madu. Pulang beli madu. Uang mengalir.

Penulis sempat hitung-hitungan. Di toko online satu liter harganya Rp400 ribu. Satu sarang bisa dua liter setahun. Artinya jika punya 10 sarang, setahun dapat uang Rp8 juta. Lumayan.

Perawatan lebah kelulut tidak ribet katanya. Yang penting banyak pohon yang punya getah. Seperti nangka. Juga jarak sarang jangan terlalu rapat. Jika rapat kelulut akan bersaing. Daya terbangnya tidak jauh Trigona SP ini.

Pulang-pulang, penulis termenung. Usaha kelulut membayang. Juga usaha teman wartawan senior, yang katanya sedang coba-coba budidaya kurma. "Satu pohon kurma hasilnya bisa sama dengan satu hektare sawit," kata Imam Hanafi, wartawan berjanggut putih.

Imam, kadang membuat banyak wartawan muda bingung. Imam lebih menonjol naluri usahanya daripada tulisannya. Seperti saat minum madu, dia antusias bertanya prospek usaha itu. Seolah mau beli banyak sarang, dan dipelihara di tempat tinggalnya.

Tahun ini entah mengapa. Banyak wartawan muda mengeluh. Dapur megap-megap. Semua ingin punya usaha sendiri. "Berharap gaji kantor habis bayar bensin dan tetek bengek dapur saja," kata Masduki, wartawan berbadan gempal berkacamata.

Kata dia jika ada usaha, ada pemasukan tambahan, menulis jadi enak. "Merdeka kita," ujarnya. Merdeka? Maksudnya bagaimana? Begini: liputan dan menulis sesuka hati, yang asyik-asyik. Tidak perlu capek-capek bermanis muka liputan acara seremoni membosankan, sekadar dapat honor dari empunya acara satu lembar uang merah gambar Sukarno.

Masduki dan beberapa wartawan lain ke perusahaan membawa anak-anak mereka. Sengaja. Kebetulan di akhir acara makan siangnya dekat kolam renang. Minum gratis madu, dan menyenangkan anak mandi di kolam. Mumpung bisa gratis.


BACA JUGA

Kamis, 30 Januari 2020 11:43

HPN 2020 di Kalsel, Jokowi Bakal Tanam Pohon di Forest City

Puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, pada 6…

Kamis, 30 Januari 2020 11:15

Gotong Royong, Warga Tapin Pasang Lampu Hias di Jalur Menuju Haul

RANTAU - Inisiatif warga Jalan Cangkring Kelurahan Rantau Kanan Kecamatan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:19

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

BANJARMASIN - Unit Pelayanan Teknis Dinas Taman Budaya (UPTD Tambud)…

Rabu, 29 Januari 2020 11:59

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

MARTAPURA - Bupati Banjar, Khalilurrahman berencana memamerkan barang-barang peninggalan Nabi…

Rabu, 29 Januari 2020 09:27
Dafam Q Hotel

Ratusan Anak Peringati HGN di Dafam

BANJARBARU - Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 diperingati setiap 25…

Selasa, 28 Januari 2020 15:54

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

BANJARMASIN - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memperpanjang…

Selasa, 28 Januari 2020 10:44

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

Hadirnya seorang anak di tengah keluarga menjadi anugerah tak ternilai.…

Selasa, 28 Januari 2020 09:57

Datangi SMK, Agar Pelajar Tak Terjerumus Narkoba

BANJARMASIN - Tim Dokkes Polda Kalsel menyambangi SMKN 4 Banjarmasin…

Selasa, 28 Januari 2020 09:56

Semakin Sukses dan Diberkahi

BANJARMASIN- Kemarin menjadi hari yang spesial bagi seluruh karyawan Radar…

Selasa, 28 Januari 2020 09:53

Tingkatkan Kemampuan, 35 Penyidik Polresta Banjarmasin Dilatih

BANJARMASIN - Demi meningkatkan kemampuan SDM Polresta Banjarmasin, digelar pelatihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers