MANAGED BY:
SENIN
19 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 02 Januari 2019 10:35
Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Si Kembar Tiga yang Hilang

BUKAN TUGU INI: Tugu Nol Kilometer di Jalan Sudirman. Banyak yang mengira di sini lah dulu Monumen Perang Banjar berdiri. Dugaan itu meleset. Posisi sebenarnya berada di seberang, di halaman kantor gubernur lama (foto kanan). Foto repro monumen dari buku Bandjarmasin Tempo Doeloe karya Mansyur (foto kiri).

PROKAL.CO, Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di internet, pasti pernah melihat monumen gotik ini. Namanya Monumen Perang Banjar. Di mana sisa bangunan itu sekarang? 

BANJARMASIN adalah kota tua. Usianya kini 492 tahun. Setahun lebih tua dari Jakarta. Namun, tak banyak peninggalan bersejarah yang bisa diselamatkan.

Penyesalan itu terlontar dari mulut Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. Dia mengambil contoh Monumen Perang Banjar yang dulu berdiri di alun-alun kota. Persis di depan kediaman Residen Banjarmasin. Kini menjadi kantor gubernur di Jalan Sudirman.

Tak jauh dari situ, berdiri Fort Van Tatas (Benteng Tatas). Simbol dari pencaplokan Belanda di Tanah Banjar. Kini menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

"Saya beberapa kali menanyakan keberadaan monumen itu pada tetua dan sejarawan. Sayang, memang tak bisa ditemukan lagi. Jejaknya benar-benar sudah menghilang," ujarnya.

Ketertarikan Ibnu bermula dari sebuah fakta sejarah. Monumen itu ternyata kembar tiga. Satu dipancang di Batavia (Jakarta), satu lagi di Padang, dan terakhir di Banjarmasin. "Ketiganya dikirimkan langsung dari Belanda," imbuhnya.

Sejarah mencatat, monumen itu diresmikan pada 19 Februari 1867. Terbuat dari besi tuang. Dindingnya dipenuhi relief. Lantainya dilapisi marmer. Sementara bagian atasnya runcing dihias salib kecil. Kental oleh pengaruh arsitektur kuno Eropa bergaya gotik.

Pemerintah Hindia Belanda membangun monumen untuk mengenang banyaknya serdadu mereka yang gugur selama Perang Banjar.

Dalam versi Belanda, peperangan itu hanya berlangsung dari tahun 1859 sampai 1863. "Meski singkat, ini bukti betapa dahsyatnya Perang Banjar," tegasnya.

Ibnu pun berandai-andai, jika monumen itu masih ada, tentu bukan sekadar menjadi objek wisata. Tapi juga menjadi pelajaran bagi anak dan cucu. "Artinya Belanda menganggap perlawanan orang Banjar itu sangat sengit," pungkasnya.

Beberapa orang kerap salah paham. Mengira lokasi Monumen Perang Banjar berada di Siring Nol Kilometer, Jalan Sudirman. Kebetulan, di samping panggung terbuka siring, berdiri tugu besar berwarna putih.

Maklum, tugu itu tidak dilengkapi prasasti yang memuat penjelasan kepada pengunjung. Padahal, namanya adalah Tugu Nol Kilometer.

"Tidak. Posisi monumen diperkirakan di seberang tugu. Di halaman kantor gubernur yang lama," kata Mansyur, dosen sejarah dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, kemarin (1/1).

Posisinya terungkap dari beberapa foto tua yang disimpan Tropenmuseum, Belanda. Foto-foto itu diambil sekitar tahun 1890. Dari model manusia yang berdiri di samping monumen, ditaksir ketinggiannya antara tujuh sampai delapan meter.

Kisah monumen ini ditulis Mansyur dalam buku berjudul Bandjarmasin Tempo Doeloe: Sketsa Kecil dari Bingkai Masa Lalu. Buku setebal 219 halaman itu diterbitkan Mei 2018 tadi oleh Rujak Center for Urban Studies.

"Pendirian monumen ini sebetulnya merupakan usulan Letnan TM Verspijck. Dialah pemimpin ekspedisi Perang Banjar. Merujuk pada jurnalnya tertanggal 5 Februari 1960 di Amuntai dan 2 Maret 1860 di Banjarmasin," beber pria berkacamata itu.

Sempat terjadi perdebatan, di mana mestinya monumen itu ditempatkan. Usulan pertama, Martapura. Alasannya, kota ini terpandang di mata bangsawan Banjar. Mengingat di sana berdiri keraton kesultanan.

Usulan kedua, Banjarmasin. Belanda menilai, dalam waktu yang lama, kota ini bakal terus dikunjungi pendatang. Alasan itu rupanya sudah cukup kuat.

Mansyur sanggup menghidupkan adegan peresmian monumen dengan banyak rincian. Ketika tiba di Banjarmasin, monumen diarak awak kapal Angkatan Laut Belanda. Dibantu oleh garnisun setempat.

Kesempatan untuk pidato peresmian diserahkan pada Mayor Infanteri Schuack. Dia menyatakan, monumen ini saksi dari keberanian dan kesetiaan armada kepada ratu. Sambutan kelar, dilantunkan lagu kebangsaan.

"Jenis logam dan gaya yang sama ditemukan pada Monumen Waterlooplein di Batavia dan Monumen Michielsplein di Padang," tukas Mansyur. Ke mana monumen itu kini? "Monumen Perang Banjar diperkirakan hancur ketika Jepang menginvasi Banjarmasin," jawabnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…

Kamis, 15 Agustus 2019 11:12

Dalam Hal Ini, Wakil Menteri Ingin Provinsi Lain Tiru Kalsel

Tak hanya menghadiri Hari Jadi ke 69 Kalsel, Wakil Menteri…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:49

Jangan Sembarangan Promosi, Pahami Karakter Wisatawan

Kementerian Pariwisata menggelar workshop, kemarin (14/8). Membahas strategi pemasaran wisata…

Rabu, 14 Agustus 2019 11:41

Malam Hari Raya, Mereka Harus Padamkan Api Hingga Subuh

Menjadi bagian dari satgas penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)…

Selasa, 13 Agustus 2019 11:55

Merayakan Iduladha di Pulau Bromo, Daging Kurban Jadi Makanan Langka

Suasana Iduladha masih terasa. Setidaknya bagi warga Pulau Bromo, Kelurahan…

Sabtu, 10 Agustus 2019 11:45

Mendengar Cerita Pemuda-pemuda Yang Terpilih di DPRD Tapin

Sekarang ini para pemuda berlomba-lomba untuk bisa duduk di kursi…

Jumat, 09 Agustus 2019 11:24

Daliyati, Harapan Baru Juhu, Desa terpencil di Hulu Sungai Tengah

Gelar Ahli Madya Keperawatan akhirnya diraih Daliyati dengan predikat sangat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*