MANAGED BY:
SABTU
19 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 14 Februari 2019 11:20
Menilik Pembuatan Wayang Kulit Banjar di Kabupaten HST

Diperlukan Ritual Tertentu, Semar dan Arjuna Harus Lebih Dulu

PENERUS TRADISI: Taufik Rahman Hidayat saat membuat Wayang Kulit Banjar. Dia tak hanya bisa membuat tetapi juga bisa mendalang.

PROKAL.CO, Taufik Rahman Hidayat tak hanya piawai memainkan Wayang Kulit Banjar. Sudah tak terhitung jumlah wayang kulit yang pernah dibuatnya. Dia berharap kesenian wayang tetap lestari.

------------------------------------------------------

WAHYU RAMADHAN, Desa Panggung

------------------------------------------------------

Dalam dunia pewayangan, dalang berarti seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan wayang. Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun temurun dari leluhurnya. Begitu pula Taufik Rahman Hidayat atau yang akrab disapa Dalang Upik.

Lelaki asal Desa Panggung, Kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah ini mendapatkan ilmu pewayangan bukan dari bangku sekolah. Tapi, justru dari sang ayah, Dalang Saderi, yang kerap memboyong Dalang Upik ke tiap pertunjukan wayang.

"Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, sudah dikenalkan ayah dengan wayang. Beranjak setelah lulus Tsanawiyah, mulai ikut memasarkan wayang. Mulai dari memainkan wayang (mendalang, red), sampai menjadi perajin wayang," ungkapnya, ketika ditemui Radar Banjarmasin, di kediamannya kemarin (13/2) siang.

Menemui lelaki kelahiran 4 Juli, ini cukup gampang. Kediamannya, berdampingan dengan Posko Pemadam Kebakaran Pandawa, di pinggir jalan kawasan Desa Panggung.

Kiri kanan jalan, ramai masyarakat menjual hasil kerajinan tangan. Mulai dari sapu ijuk hingga celengan warna-warni berbagai bentuk dan ukuran.

Di kalangan para dalang, perajin Wayang Kulit Banjar disebut dengan nama Tatah Suging, atau pemahat wayang. Untuk membuat wayang, menurut Dalang Upik sulitnya kurang lebih sama dengan memainkan wayang. Alias tak bisa sembarangan.

Mulai dari keahlian menggambar, pemilihan kulit hewan yang dipakai, hingga memasuki proses pemahatan.

Terkait bahan yang digunakan untuk membuat wayang, Kalimantan selatan punya filosofi tersendiri.

Di Jawa, bahan yang digunakan untuk membuat wayang terkenal dari kulit kerbau. Sementara di Banua, identik memakai dua kulit hewan. Yakni, sapi atau kambing.

"Orang tua dahulu mengatakan sapi dan kambing, bisa diarak di mana saja. Mau di desa atau di kota tak masalah. Dengan harapan, Wayang Kulit Banjar bisa tampil di mana saja," tuturnya.

Memasuki tahap pembuatan, kulit yang dipotong sesuai ukuran besar wayang tak bisa langsung dipahat. Melainkan, dibersihkan dahulu dari bulu-bulu yang menempel. Kemudian, direndam menggunakan air yang sudah dicampur kapur selama beberapa saat, agar kulit yang cukup alot menjadi lembek.

Setelah direndam, kulit diangkat dan dilebarkan dengan memaku tiap sisinya agar permukaan kulit jadi datar. Tinggal dikeringkan. Kalau cuaca panas, penjemuran kulit cukup memakan waktu tiga hari.

"Selanjutnya, baru digambar untuk memudahkan proses pemahatan," jelas lelaki yang mengidolakan tokoh wayang Santiaki Arya Fatma Nagara.

Sosok wayang yang satu ini, digambarkan berbadan kekar. Memakai mahkota di kepalanya, serta memiliki sifat tegas dan berkomitmen tinggi.

Proses pemahatan sendiri tak bisa langsung dilakukan. Dalang Upik, tak menampik dalam membuat wayang dia melakukan ritual tertentu.

Salah satunya yakni menyediakan piduduk atau sesajen dengan harapan, proses pembuatan wayang tidak mengalami kesulitan atau hambatan.

"Piduduk biasnya terdiri dari beras, gula, telur ayam kampung, kelapa, benang warna kuning atau hitam yang disesuaikan dengan niat si pembuat wayang, kemudian jarum dan garam," ujarnya.

Sementara dalam proses pembuatan wayang, yang biasanya dibuat lebih dahulu adalah tokoh Semar dan Arjuna. Alasannya, karena kedua tokoh tersebut merupakan wayang yang disakralkan dalam mitologi Wayang Kulit Banjar.

Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu tokoh wayang, bisa memakan waktu sampai sepuluh hari.

Sebagai contoh, Dalang Upik, menyebutkan tokoh Bagong, yang bisa dibikin dalam waktu tiga hingga lima hari karena tidak banyak pahatan. Sementara yang paling sulit, membuat tokoh Arjuna dan Gunungan, yang banyak pahatan.

"Kalau membuat sampai seisi penuh peti yang umumnya dipesan yakni berisi 60, 65 atau 99 tokoh, bisa memakan waktu enam bulan atau lebih," ungkapnya.

Para pemesan, selain datang dari warga banua, juga datang dari daerah Sumatera dan Jakarta. Di tahun 2018 tadi, Upik Dalang, mengaku banyak mendapat pesanan dari daerah tersebut.

Ada dalam bentuk satuan maupun rombongan (sepeti, red). Untuk rombongan, yang berisi tokoh lengkap harganya tak main-main, busa sampai puluhan juta rupiah.

"Kalau satuan, harganya mulai dari Rp200ribu hingga lebih. Tergantung tingkat kesulitan," tuturnya.

Bila satuan, umumnya pemesan hanya minta dibuatkan tokoh Semar dan Arjuna sebagai penghias dinding rumah. Menurut Dalang Upik, kedua tokoh tersebut menjadi perlambang asal muasal kehidupan.

Seperti halnya segala sesuatu yang melingkupi pagelaran wayang, yang penuh dengan filosofi berupa alam serta isi di dalamnya.

Melihat hasil karya Dalang Upik, kemudian membandingkannya dengan Wayang Kulit Jawa, tentu ada perbedaan yang sangat mencolok.

Misalnya, dari segi pengecatan. Wayang Kulit Jawa, tampak rapi dan lebih modis. Sementara pada Wayang Kulit Banjar, pengecatan justru tak terlalu diutamakan.

Hal itu karena dari segi penampilan, Wayang Kulit Banjar mengandalkan terpaan lampu blencong (lampu dengan sumbu api berbahan bakar minyak, red) yang menghasilkan bayangan wayang.

Bayangan itulah yang disaksikan oleh para penonton pada pertunjukan Wayang Kulit Banjar. Catnya pun hanya menggunakan cat minyak dengan warna kuning keemasan, merah, hitam, putih dan cokelat, yang banyak dijual di pasaran.

"Rata-rata Wayang Kulit Banjar pasti gosong karena kerap disentuh lampu blencong. Berbeda dengan penampilan Wayang Kulit Jawa yang diterangi lampu neon," tuturnya kemudian terkekeh.

Dalam kesenian Wayang Kulit Banjar dikenal dua jenis pertunjukan, Wayang Karasmin dan Wayang Sampir. Fungsi kedua pertunjukan berbeda pula.

Wayang Karasmin, dihelat murni untuk hiburan. Sementara Wayang Sampir, dihelat untuk suatu hajat tertentu atau untuk ritual.

Lantas, apa saja yang membedakan Wayang Kulit Banjar dengan Wayang Kulit Jawa? Dalang Upik, merunutnya satu demi satu.

Pertama, ukuran wayang di sini lebih kecil. Hanya separuhnya saja dari wayang milik Jawa. Kedua, komponen nada. Wayang Kulit Jawa mengenal dua jenis musik, Salindro dan Belok. Sedangkan Wayang Kulit Banjar hanya memainkan Salindro.

Ketiga, posisi penonton Wayang Kulit Jawa berada di belakang Dalang. Dan Wayang ditampilkan disinari cahaya lampu neon, menampilkan secara utuh bentuk wayang.

Sementara Wayang Kulit Banjar, posisi penonton ada di depan, seperti yang dituturkan sebelumnya para penonton menyaksikan pertunjukan wayang melalui layar yang hanya menampilkan bayangan wayang saja. Dihasilkan dari terpaan lampu blencong ke arah layar.

Keempat, isi cerita. Wayang Kulit Jawa saklek pada pakem Mahabrata dan Ramayana. Sementara Dalang di sini, selain bersumber dari kedua cerita itu, juga sering menampilkan cerita karangan (carang). Carang inilah yang menjadi primadona masyarakat Banjar.

"Kelima, yakni menggunakan Bahasa Banjar," tuntasnya.

Meski begitu, dalam tiap pagelaran Wayang Kulit Banjar, tak mudah mencerna tuturan sang dalang. Seolah-olah, mereka menggunakan versi Bahasa Banjar yang lebih tua.

Beberapa kosa kata sudah jarang terdengar. Lantaran bahasa percakapan sehari-hari kita telah campur aduk dengan Bahasa Indonesia.

Dengan suara serak, cempreng, dan terkadang melengking, dalang mengajak penonton untuk tertawa terpingkal-pingkal. Melihat laku Semar dan kawan-kawan yang kocak.

Sesekali, penonton diajak diam dan merenung. Menyimak petuah yang dibawakan melalui pertunjukan wayang. Seakan membawa pesan bahwa Wayang Kulit Banjar masih bisa dinikmati dan harus terus dilestarikan.

Melihat perjalanan panjang pertunjukan seni Wayang Kulit Banjar, tak jarang membuat para seniman Banua angkat bicara. Salah satunya yakni datang dari seniman muda sekaligus pendiri kelompok penggerak seni asal Banua, Novyandi Saputra.

Dia berharap Wayang Kulit Banjar tak dipandang sekadar media hiburan. Karena sebenarnya punya nilai dimensional yang adiluhung sebagai tontonan, tuntunan, serta tatanan.

"Saya sangat menyayangkan apabila para pengambil kebijakan 'lalai' terhadap keberadaan Wayang Kulit Banjar," tuntasnya. (war/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 16 Oktober 2019 14:29

Pontang-Panting Rumah Sakit Pikirkan Skema Pembiayaan BPJS

Tunggakan klaim BPJS Kesehatan memusingkan banyak rumah sakit di Indonesia.…

Selasa, 15 Oktober 2019 13:03

Ofisial, Pelatih, dan Panitia Baku Hantam di Kejuaraan Karate

Keinginan Lemkari Kabupaten Banjar untuk menyelenggarakan kejuaraan karate bergengsi untuk…

Senin, 14 Oktober 2019 12:25

Berbincang dengan Kolektor Oeang Tempo Doeloe

Banting tulang siang dan malam demi Rupiah. Gali lubang lalu…

Minggu, 13 Oktober 2019 07:21

Lantunkan Ayat dengan Jari: Sudah Bisa Khatam, Ingin Terus Dalami Kitab Suci

Memiliki keterbatasan, bukan berarti kehilangan semangat. Buktinya, puluhan anggota persatuan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:01

Gratiskan Honor untuk Safrah Amal, Bila Tak Manggung Jualan Es Keliling

Banua kehilangan satu lagi seniman gaek yang konsisten di jalurnya,…

Selasa, 08 Oktober 2019 10:20

Kalayangan Pagat, Grup Band yang Kampanyekan #SaveMeratus

Melalui dua lagu berjudul Merakus dan Rimba Terakhir, band bergenre…

Selasa, 08 Oktober 2019 09:48

Pengakuan Sang Penikam Ayah Tiri: Sakit Hati Melihat Ibu Disakiti

Sang penikam ayah tiri, Arafiq (22) telah dijebloskan ke sel…

Senin, 07 Oktober 2019 13:01

Melihat Cara PDAM-PDAM se-Banua Bertahan dari Krisis Air di Musim Kemarau

Musim kemarau membuat semua daerah di banua dilanda kekeringan. Warga…

Sabtu, 05 Oktober 2019 12:22

Bangkai Kapal Perang Belanda Onrust di Sungai Barito Timbul

Bangkai Kapal Perang Belanda Onrust yang tenggelam tahun 1859, timbul…

Kamis, 03 Oktober 2019 12:24

Wamena Kerusuhan, Bagaimana Nasib Mahasiswa Papua di Kalsel?

Kerusuhan di Wamena membuat kekhawatiran warganya yang berada di perantauan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*