MANAGED BY:
MINGGU
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 22 Februari 2019 10:12
Kamu Harus Tahu!! Sejarah Arak-arakan Naga di Ulu Benteng
KESURUPAN: Warga mengangkat naga yang dinaikin penganten bisa kesurupan.

Tak peduli tua-muda, kaya-miskin, tradisi baarak penganten di Ulu Benteng, Marabahan, masih menggunakan tradisi lama. Para penganten diarak keliling kampung menggunakan naga.

-----------------------------------------------

AHMAD MUBARAK, Marabahan

-----------------------------------------------

Bagi kalian yang ingin mempersunting warga Ulu Benteng, siap-siap diarak keliling kampung menggunakan naga. Naga?

Naga yang digunakan untuk baarak penganten di Ulu Benteng adalah rangkaian kayu dan bambu yang dihiasi berbagai kain untuk membentuk naga.

Untuk membuat naga, sangat mudah bagi warga setempat. Warga Ulu Benteng sangat ahli untuk membuat naga. Yang dibuat hanya badan naga. Sedangkan bagian kepala dipinjam kepada pemiliknya.

Arak-arakan menggunakan naga, biasanya diiringi dengan tabuhan hadrah. Naga yang diarak bersama penganten ditopang puluhan warga. Warga secara bersama-sama mengangkat naga sepanjang jalan.

Saat diarak warga inilah, penganten yang menaiki naga harus siap mental dan tenaga yang ekstra. Pasalnya warga yang mengikat naga, bisa kesurupan menggoyang-goyangkan naga secara brutal. Bahkan tidak jarang penganten hampir terjatuh dari tempat duduknya.

Ada lelucon yang umum di sana. Karena kerasnya menggoyang naga, tidak jarang malam pertama, penganten harus ke tukang urut, karena sakit pinggang.

"Saat diarak harus pegangan yang kuat, naga seperti odong-odong tetapi dengan gerakan yang brutal," ujar Randi, warga Ulu Benteng yang pernah diarak menggunakan naga.

Randi menambahkan tidak bisa menolak keinginan orang tuanya untuk bearak penganten menggunakan naga. Semua warga di Ulu Benteng juga sama.

"Namanya sudah menjadi tradisi, pasti sudah melekat di masyarakat," ujarnya.

Masih eksisnya baarak naga membuat penulis penasaran asal usul naga ini. Penulis mencoba menemui pemilik kepala naga di Ulu Benteng.

Kepala naga ini di miliki Mastoni (80),wanita tetua masyarakat Ulu Benteng RT10 Kelurahan Marabahan. Mastoni menceritakan asal usul tradisi baarak naga.

Menurut Mastoni, tradisi baarak penganten menggunakan naga sudah sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sebelum dirinya lahir di dunia.

"Naga ini sudah digunakan untuk arak-arakan penganten sejak jaman ibu saya dulu sekitar 100 tahun yang lalu."

Mastoni mengungkapkan naga pertama kali di perkenalkan oleh mendiang mertuanya. Karena ibu mertuanya sering diganggu sesosok naga. Sehingga dibuat kepala naga yang dijadikan sebagai arak-arakan penganten.

"Mendiang ibu mertua sering saat mandi di jamban, merasa diselimuti naga, sepintas terlihat sepintas tidak," ceritanya yang mengatakan mertua lelakinya yang pertama membuat dengan maksud mengusir gangguan itu, sebelum kemudian tradisi membuat kepala naga diteruskan mendiang suaminya.

Berkaitan dengan kepala naga yang ada sekarang, Mastoni mengungkapkan naga yang ada sekarang merupakan generasi ketiga.

Pembuatan kepala naga diiringi ritual. Kayu yang dijadikan untuk kepala naga didapatkan mengapung di Ttitian jamban.

Bahkan menurut cerita Mastoni, saat mengukir kayu menjadi kepala naga, suaminya hanya asal-asalan. Bahkan tidak ada contoh kepala naga atau kebiasaan mengukir naga. Sosok seperti naga selalu ada di benak dan pikirannya.

Diakhir cerita, Mastoni menceritakan, almarhum suaminya berpesan agar kepala naga disimpan dan di rawat. Serta tidak meminta bayaran untuk peminjaman kepala naga.

"Mereka yang meminjam kepala naga untuk arak-arakan penganten tidak dipungut biaya, "ujarnya yang mengaku sebagian pemberian masyarakat yang menggunakan kepala naga diteruskan ke masjid.

Kepala naga yang dimiliki Mastoni sempat ingin dimiliki Museum Lambung Mangkurat.

"Sudah beberapa kali dinas terkait ingin memiliki naga ini, untuk diarsipkan," ujarnya yang terpaksa menolak karena kepala naga hanya ada satu dan masih di gunakan warga.(mr-152/by/ran)


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 17:21

Cerita Jarkuni si Penarik Becak, Wong Cilik dengan Pesan Besar

Sebagai penarik becak, kehidupan Jarkuni memang serba sulit. Tapi bukan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 15:26

Dari Banjar Mural Festival 2021; Menggantung Harapan di Dinding Beton

Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum.…

Rabu, 13 Oktober 2021 16:13

Noer Arief, Imam Masjid yang Sukses Bisnis Budidaya Lebah Kelulut

Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan.…

Rabu, 13 Oktober 2021 15:56

Baru Kulit, Belum Menyentuh Isi

Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer…

Selasa, 12 Oktober 2021 14:52

Si Pencabut 40 Nyawa

Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang…

Jumat, 08 Oktober 2021 15:16

Dulu Kandang Itik, Sekarang Tempat Lahirnya Hafiz Quran

Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi…

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56

Beda Anak Dulu dan Sekarang

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji.…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:37

Nasib Guru Pendidikan Agama Islam yang Terancam Tak Diperpanjang Kontraknya

Memakai seragam hitam putih dan peci hitam, Fahriadi berjalan pelan…

Kamis, 30 September 2021 09:59

Kala Ilung Tutup Semua Rawa di Paminggir, Penumpang Sampai Terpaksa Bermalam di Kapal

Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana…

Rabu, 29 September 2021 12:48

Berpenghasilan Rp600ribu Perbulan Untuk Biaya Sekolah

Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers