MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Jumat, 01 Maret 2019 12:22
Ini Perkembangan Kasus Penyiraman Air Keras Pejabat Kemenkum HAM
Ilustrasi

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Sidang kasus penyiraman air keras ke wajah pejabat Kanwil Kemenkum HAM Kalsel digelar di Pengadilan Negeri Banjarmasin, kemarin (28/2). Kali ini lima saksi dan tiga terdakwa dihadirkan.

Paling disorot adalah terdakwa kedua, Rahmadi. Oknum polisi yang dulu aktif di Polsekta Banjarmasin Barat. Sama seperti tersangka lainnya, Rahmadi dituduh bersekongkol dalam penganiayaan pada 20 November 2018 silam.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Kalsel, Asep Syarifuddin menjadi korban. Muka Asep melepuh setelah disiram air keras di halaman parkir Capung Cafe and Resto di perempatan Jalan S Parman dan Jalan Tarakan.

Seusai persidangan, Rahmadi bisa tersenyum lega. Karena semua saksi memberikan keterangan yang meringankan.

Mereka adalah Aini, pedagang air keras. Tarmiji, pedagang sepeda motor di kawasan Teluk Tiram. Lalu ada Khairil, juru parkir kafe. Bersama Anggraini, barista kafe dan Lisda, kasir kafe.

Kelima orang ini menyatakan tak pernah melihat sosok Rahmadi. Baik sebelum maupun sesudah peristiwa penyiraman. "Saya menjual air keras seharga Rp22 ribu sebotol kepada seorang pria gondrong. Itu pertama kalinya dia datang. Dia bukan pelanggan," ungkap Aini.

Aini memperoleh pasokan air keras dari Pasar Ujung Murung. Dia sudah menjual cairan kimia berbahaya itu sejak tahun 80-an. Pelanggannya kebanyakan pemilik toko perhiasan emas. Air keras lazim dipakai untuk memurnikan emas. "Saya tak pernah bertanya mau dipakai apa air keras itu," imbuhnya.

Sedangkan Tarmiji, menerima transfer Rp26 juta untuk motor Honda CBR. Motor itulah yang kemudian dipakai eksekutor penyiraman. "Seingat saya ditransfer melalui rekening BCA," ujarnya.

Sementara karyawati kafe lebih banyak mengingat detil seusai penyiraman. Lisda ingat, Asep makan sendirian. Dia juga tidak mengobrol dengan pengunjung kafe lain. "Wajah korban berasap. Tercium bau menyengat. Saya ikut membantu membersihkan wajahnya dengan air wastafel di bar," kata Lisda.

Anggraini juga tidak melihat aksi penyiraman. Dia hanya mendengar teriakan minta tolong. "Korban mengenakan baju warna putih. Ada bercak-bercak merah," ujarnya.

Keterangan serupa juga disampaikan Khairil. Yang pertama kali menolong korban. "Saya belum pernah melihat terdakwa berkeliaran di sekitar kafe," tegasnya.

Bagi pengacara terdakwa, Sugeng Ari Wibowo, ini merupakan modal yang bagus. "Dari penjualan air keras, penjualan sepeda motor, hingga hari penyiraman, tak satu pun saksi yang pernah melihat terdakwa. Ini keterangan yang meringankan," ujarnya.

Bagi Sugeng, kasus ini keteranganipaksakan untuk disidangkan. Ketiga terdakwa bukanlah dalang atau eksekutor. Pelaku utama justru masih diburu. "Jadi ketiga orang ini ikut terbawa-bawa hanya karena apes. Kan aneh," imbuhnya.

Contoh, terdakwa lain yaitu Wahidin yang membantu pembelian sepeda motor. Lalu Kartasasmita yang menunjukkan lokasi penjualan air keras. Sedangkan Rahmadi diduga masih memiliki hubungan keluarga dengan pelaku. Bagi Sugeng, peran ketiga terdakwa ini terbilang minimal.

Sementara itu, ketika dicegat wartawan, jaksa penuntut memilih untuk tidak berkomentar. Majelis hakim persidangan ini diketuai oleh Eddy Cahyono. (fud/ran)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 08:40

Menengok Pusat Produksi Rinjing di Nagara: Pernah Produksi Wajan Khusus untuk Haulan Guru Sekumpul

<p><em>Ibu rumah tangga pasti mengenal alat masak yang satu ini. Ya, wajan atau rinjing…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*