MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 16 Maret 2019 09:33
Selamatkan Meratus, Lakukan Aksi Serentak Tulis Surat ke Presiden

Selamatkan Meratus, Selamatkan Kehidupan

MENATAP RISAU: Potret seorang perempuan penduduk Desa Kiyu, Kecamatan Batang Alai Timur saat pulang dari kebunnya di kaki pegunungan Meratus di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Jumat (15/3) kemarin.

PROKAL.CO, Gaung penyelamatan kawasan Pegunungan Meratus dari kelapa sawit dan tambang, terus berkumandang. Kali ini, pegiat lingkungan bersama masyarakat, akan menggelar aksi serentak menulis surat untuk Presiden Republik Indonesia, Minggu (17/3) besok pagi di Lapangan Dwi Warna Barabai.

-------------

Tidak hanya di Kabupaten HST, aksi bertajuk Menyelamatkan Meratus Menyelamatkan Kehidupan, ini juga digelar serentak di 13 Kabupaten/Kota yang ada di Kalsel, serta di berbagai daerah lainnya yakni Balikpapan, Palangkaraya, Tangerang, Jakarta, Bogor, Surabaya, Papua, Yogyakarta, Bandung, Malang, dan lain-lain.

Juru bicara koordinator aksi, Nursiwan, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan salah satu bentuk gerakan Save Meratus yang hingga kini terus dikumandangkan. Ada pun inti dari surat yang bakal ditulis, yakni meminta Presiden RI menyelamatkan kawasan Pegunungan Meratus dengan cara membersihkan Meratus dari pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, hingga hal-hal yang dirasakan mampu membuat Pegunungan Meratus menjadi rusak.

“Melalui aksi serentak yang digelar, kami berharap agar pemerintah lebih memerhatikan serta dengan cepat mengupayakan agar banyaknya kerusakan alam dan lingkungan yang terjadi berbagai di kawasan Pegunungan Meratus bisa dihentikan,” ucapnya, kepada Radar Banjarmasin, di kediamannya kemarin (15/3).

Nursiwan juga menambahkan, dibandingkan gerakan yang pernah terjadi di Kalsel bahkan di Indonesia, gerakan Save Meratus berumur jauh lebih panjang. Tidak tanggung-tanggung, hingga kini gerakan Save Meratus sudah memasuki tahun kedua. Membentang sepanjang 650 Kilometer dan melintasi delapan kabupaten di Kalsel hingga ke Kaltim, kawasan Pegunungan Mertus telah mengalami kerusakan luar biasa. “Kami tidak ingin, kerusakan yang ditimbulkan bertambah parah,” tuntasnya.

Selain pelaksanaan aksi yang bakal digelar serentak besok (17/3), belum lama tadi sejumlah organisasi bersama komunitas di Kalsel yang tergabung dalam gerakan Save Meratus, juga menerbitkan Supersemar atau Surat Perintah Selamatkan Meratus. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan bahwa kawasan Pegunungan Meratus harus terbebas dari izin pertambangan dan perkebunan monokultur skala besar.

“Supersemar merupakan bagian dari perjuangan masyarakat Kalsel untuk menyelamatkan kawasan Pegunungan Meratus yang menjadi benteng terakhir hutan Kalsel dari ancaman ekspansi pertambangan dan perkebunan,” ujarnya.

Dalam Supersemar, ada lima poin desakan yang ditujukan kepada pemerintah, yakni segera mencabut izin tambang dan izin perkebunan monokultur di Pegunungan Meratus, segera akui, hormati wilayah adat dan hak masyarakat adat Dayak Meratus. Kemudian, setop izin baru yang akan menghancurkan Meratus, wujudkan masyarakat adat Dayak Meratus yang sejahtera dan bermartabat dengan mengacu kearifan lokal yang berkeadilan, serta semua pihak untuk tetap solid dan komitmen dalam perjuangan.

Perlu diketahui, hingga kini, hanya Pegunungan Meratus di kabupaten HST saja yang masih bertahan, terbebas dari pertambangan. Hal tersebut, tidak terlepas dari upaya berbagai elemen masyarakat hingga Pemerintah setempat yang konsisten menegaskan bahwa Kabupaten HST tidak boleh dicederai oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan sawit.

“Oleh karena itu, beragam kegiatan untuk tetap menggaungkan Save Meratus pun kerap digelar. Bahkan, para seniman muda turut ambil bagian demi mengkampanyekan gerakan Save Meratus dengan mengadakan lapak seni dan sastra di panggung bertema lingkungan,” tambah Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten HST, Muhammad Yani.

Edukasi Generasi Muda

Aksi nyata juga dilakukan oleh pegiat lingkungan di Kabupaten Tapin, Gunawan, warga Kecamatan Bungur berencana Sabtu (16/3) hari ini menggelar sosialisasi di SMPN 1 Binuang tentang pentingnya menjaga Meratus.

"Kita ingin menyadarkan generasi muda, pentingnya pegunungan Meratus untuk masa depan," katanya, Jumat (15/3) kepada Radar Banjarmasin.

Menurut pria berkepala plontos ini, Meratus adalah rumah kita yang harus di jaga, kalau sudah rusak, maka kita akan terkena dampaknya.

"Kita lihat di beberapa wilayah di Kalsel sudah banyak terkena dampaknya karena pegunungan Meratus di tambang," ucapnya.

Diungkapkan Ogun –sapaan akrabnya- dari delapan Kabupaten di Kalsel yang masuk wilayah Meratus, cuma Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang belum ada masuk pertambangan maupun kelapa sawit.

"Tapi di sana sudah diincar beberapa pengusaha untuk di tambang, oleh sebab itulah walaupun kita berada di Tapin, kita harus ikut menjaganya," jelasnya, seraya berkata kalau buka kita siapa lagi yang akan menjaganya.

Bagaimana dengan di Tapin? Diakui Ogun daerahnya memang sudah banyak aktivitas pertambangan yang jalan, namun dari sekian banyak itu masih ada daerah-daerah pegunungan yang masih asri kesejukannya. "Itu berada di beberapa Desa yang ada di Kecamatan Piani," ucapnya.

Di sana masih banyak ekosistem yang harus di jaga, seperti burung langka yaitu Enggang, Uwa-uwa dan pohon-pohon besar.

"Kita juga ingin memberitahukan kepada generasi muda bahwa di daerah kita masih ada kehidupan langka ini, yang semestinya jangan sampai punah," ujarnya.

Ia juga memberitahukan kalau Meratus habis di tambang, maka kehidupan ekosistem ini tidak akan ada lagi. "Tidak hanya itu, kehidupan masyarakat dayaknya pun bisa terganggu," jelasnya. (dly/ema)


BACA JUGA

Kamis, 21 November 2019 12:19

Lawan Petahana, Denny Optimis Dapat Perahu

BANJARMASIN – Meski belum mendapat kepastian tiket untuk maju di…

Kamis, 21 November 2019 12:16

Jadi Biang Macet, Warga Diminta Maklumi Proyek Jembatan Sungai Lulut

BANJARMASIN – Jembatan Sungai Lulut yang menjadi biang kemacetan di…

Kamis, 21 November 2019 12:11

Cinta dan Restu Orang Tua Saja Tak Cukup, Mau Menikah Harus Bersertifikat Dulu, Juknisnya Sedang Ditunggu

BANJARBARU - Mulai tahun 2020, menikah tak cukup hanya bermodalkan…

Kamis, 21 November 2019 12:02

Syarat CPNS: Prodi Tidak Harus Terakreditasi

BANJARBARU - Kabar gembira bagi pendaftar CPNS 2019 yang belum…

Kamis, 21 November 2019 11:55

Buku Soal CPNS Laris Manis, Banyak Toko Kehabisan Strok

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019 membawa berkah bagi…

Kamis, 21 November 2019 11:51

BAHAYA..! Jembatan Kuin Mulai Miring, Pagar Tampak Rapuh, Besi Banyak Lepas, Papan Ulin Renggang

BANJARMASIN - Kampung Kuin terkenal berkat objek wisata religinya. Yakni…

Kamis, 21 November 2019 11:44

Proyek Rehab Pasar Tungging Terlambat, Masih Menunggu Pemindahan Tiang PLN

BANJARMASIN - Tiang-tiang penyangga rangka atap Pasar Tungging sudah mulai…

Kamis, 21 November 2019 11:40

IRONI..! Di Kota Seribu Sungai, Tak Ada Armada Pengangkut Sampah Sungai

BANJARMASIN - Dijuluki Kota Seribu Sungai, sayangnya, masih banyak sampah…

Kamis, 21 November 2019 11:35

14 Miliar untuk BPJS Warga Miskin, Dinsos Jadi Penjaga Gawang

BANJARMASIN - Pemko mengalokasikan Rp14,1 miliar untuk pembayaran iuran BPJS…

Kamis, 21 November 2019 11:21

Listrik Naik, PLN Diserbu Massa

BANJARBARU - Kantor Wilayah PLN Kalselteng di Panglima Batur Banjarbaru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*