MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza
Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar
Aulia Aziza

PROKAL.CO, BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah topik yang tabu. Pertanyaan anak tentang seks akan dibungkam seketika oleh orang tua. Tapi di warung kopi, media sosial, bahkan di majelis taklim, humor yang menyerempet tema seks malah menjadi bumbu wajib percakapan. 

Aulia Aziza mengajar mata kuliah sosiologi agama di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. Alumni Universitas Gadjah Mada itu sedang meneliti seks dalam bahasa tutur orang Banjar. Topik yang seksi sekaligus sensitif. Apa yang sedang ia cari? 

Lahir tahun 1972 di Tanjung, Kabupaten Tabalong, penelitian itu dipicu kegelisahan saat remaja. "Ketika darah menstruasi pertama keluar, saya panik. Tapi orang tua hanya mengatakan, saya sudah resmi dibebani pahala dan dosa. Cuma itu penjelasannya," ungkapnya. 

Kemarin (16/3), penulis mengunjungi Aulia di rumahnya di Jalan Ahmad Yani kilometer 17. Dia berharap, riset itu tuntas pada Juli nanti. Masih banyak yang harus dikerjakan. Seperti mewawancarai sejumlah agamawan dan budayawan. 

Tapi benang merahnya mulai terlihat. "Masyarakat Banjar itu tertutup. Konservatif. Pertanyaan seks dicap tak sopan. Lebih-lebih jika dilontarkan anak perempuan. Dan saya tumbuh besar di tengah masyarakat seperti itu," imbuhnya. 

Hipotesisnya, tak ada yang namanya pendidikan seks di rumah orang Banjar. "Tak ada orang tua yang mau membahas apa itu masturbasi, proses pembuahan, atau aborsi," tambahnya. 

Dalam kenangannya, beberapa kawan mencari jawaban melalui novel porno. Guru di sekolah takkan segan-segan menjatuhkan hukuman keras. Bagi murid yang ketahuan sedang menikmati buku porno. "Padahal buku porno itu wujud upaya pencarian jawaban," ujarnya. 

Penelitian itu kian mendesak setelah Aulia menjadi ibu dari tiga anak. Dia kerap menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak tertua. "Sejak itu, penelitian ini berubah menjadi obsesi pribadi," akunya. 

Pada masa itu, tanda tanya tentang fungsi alat seksual dipuaskan oleh pelajaran biologi dari sekolah. Sekalipun para guru juga membahasnya dengan ekstra hati-hati. Wajar, karena mereka juga produk dari masyarakat tertutup ini. "Praktis, generasi saya terpaksa belajar seks secara otodidak," ujarnya. 

Memasuki era digital, sudah sewajarnya orang tua khawatir. Materi seks berhamburan di internet. Campur aduk dengan pornografi. "Jika orang tua zaman sekarang enggan ditodong pertanyaan soal seks, anak-anak bakal mencari jawabannya dari medsos. Dan jawabannya acapkali liar," jelasnya. 

Jawaban versi liar itu menggiring pada aksi coba-coba. Aulia pernah mewawancarai sejumlah pemilik apotik di Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Temuannya, penjualan kondom selalu meningkat pada malam tahun baru dan Valentine. "Sebagai ibu, saya resah mendengar fakta itu," ujarnya. 

Namun, Aulia tak mau menyalahkan orang tuanya. Dia menduga, topik seks menjadi tabu karena karakter masyarakat Banjar yang religius. Tapi setelah menjadi akademisi, dugaan itu terbantahkan. 

Dalam kajian teks Alquran dan Hadits, terutama pada bab fiqih, seks justru dibahas. Diulas secara rinci dan blak-blakan. Contoh, sebuah hadits menyatakan larangan kepada suami untuk menggauli istri dari arah belakang. Istilah kerennya seks anal. 

"Artinya, Islam saja tidak menabukan tema seks. Contoh, dalam kitab-kitab fiqih ada dibahas etika berhubungan badan. Seperti anjuran membaca doa khusus sebelum berhubungan," terangnya. 

Sikap ambigu juga berlaku dalam percakapan sehari-hari masyarakat Banjar. Pada banyak majelis taklim, penceramah lokal menjadikan seks sebagai bumbu wajib. "Humor yang agak cabul disambut dengan baik oleh pendengar. Dianggap menyegarkan. Selalu jitu untuk mengusir kantuk," ujarnya. 

Aulia berandai-andai, bakal ideal jika para ustadz ini menjadikan seks sebagai materi edukasi. Bukan cuma bahan banyolan untuk mengocok perut jemaah. 

Lelucon berbau seks juga kerap muncul di warkop dan medsos. Uniknya, anekdot tentang seks selalu mampu memecah kejenuhan. "Ketika orang-orang mulai bersitegang gara-gara politik, guyonan yang nyerempet seks bakal kembali menyatukan mereka," ujarnya tergelak. 

Semakin kontras saat menyinggung praktik komersialisasi seks. Yang diam-diam bergeliat di tengah masyarakat Banjar. Disimbolkan dengan eks lokalisasi Pembatuan dan warung jablay. "Tentu saja, itu cuma subjektivitas saya sebagai peneliti," tambahnya. 

Agar lebih kaya, sebagai sisipan, poligami juga ikut diteliti. Inspirasinya datang dari sebuah anekdot populer. Siapapun pasti pernah mendengarnya, minimal sekali seumur hidup. Bunyinya begini: punya satu istri itu wajar, dua istri artinya mulai belajar, tiga istri sudah kurang ajar, dan empat istri itulah orang Banjar. 

"Sebenarnya itu stigma negatif. Lucunya, saya malah termotivasi untuk membuktikannya. Anekdot itu benar atau enggak," tukasnya. Aulia menolak disebut feminis. Dia tak tergabung dalam barisan penolak poligami. "Salah ketika saya mengharamkan sesuatu yang sudah dihalalkan agama," tambahnya. 

Perihal referensi, Aulia mengaku berutang banyak pada buku karya Shereen El Feki. Judulnya Sex and The Citadel. Yang mengupas seks dalam budaya masyarakat Arab. Dia menemukan perbandingan-perbandingan berharga. 

Ternyata masyarakat Islam pernah bersikap terbuka terhadap diskusi seks. Terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah. "Beriringan dengan puncak kebudayaan dan pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam," jelasnya. 

Sedangkan dalam sejarah masyarakat Barat, dulu juga bersikap tertutup. Seks dibicarakan secara diam-diam. Pada kasus Barat modern, gerbong revolusi seks ditarik oleh media mainstream. Ditandai dengan kelahiran majalah Plaboy. 

"Awalnya Barat sangat tertutup. Kemudian berubah menjadi terlalu terbuka. Kebebasan seks diterima masyarakat luas. Bukan itu yang saya impikan," tegasnya. 

Aulia tak menghendaki hasil penelitian yang sekadar menarik untuk dibaca. Apalagi mengejar angka penjualan setelah hasil penelitian ini dibukukan. Motivasinya lebih serius dari itu. 

Dia sedang mencari format dan strategi pendidikan seks yang pas untuk karakter masyarakat Banjar. Yang bisa diterapkan orang tua di rumah, guru di sekolah, dan dai di masyarakat. "Ini demi anak-anak kita," pungkasnya. (fud/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*