MANAGED BY:
SABTU
26 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 26 Maret 2016 11:17
Menyusuri Kiprah Orang Alabio dan Gaya Hidupnya
KOKOH - Gudang Hirang masih berdiri kokoh melawan zaman. Siapa sangka naluri dagang warga Alabio bermula di Gudang Hitam ini.

Masyarakat Alabio dikenal sebagai pedagang ulung seantero Borneo bahkan nasional. Namun naluri itu muncul seiring masuknya Partai Masyumi sekitar 1955 sampai dengan 1965 lalu. Gimana kaitan cerita antara bakat dagang dan partai bisa saling terkait, berikut ulasan singkat-nya.

-------------------------------------------------

MUHAMMAD AKBAR,  Amuntai

-------------------------------------------------

Alabio itu, itik, mebel, situs sejarah, agamis hingga naluri dagang warga yang melegenda. Daerah penghasil Itik Alabio itu, berada sekitar tujuh kilometer dari kota induk Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kecamatan ini memiliki penduduk yang berprofesi mayoritas sebagai pedagang, mengalahkan profesi lainnya.

Ternyata naluri dagang itu, muncul saat Partai Masyumi yang pernah eksis dalam perjalanan demokrasi bangsa Indonesia di daerah Alabio diperkirakan 1955 sampai 1965 sebelum partai tersebut dibubarkan pemerintah kala itu.

Diinfokan saat itu, partai islam ini memiliki badan usaha yang saat itu menyediakan kebutuhan sehari baik itu sembako dan kelengkapan pribadi misalkan pasta gigi.

Kondisi Alabio yang merupakan daerah berat karena sebagian besar rawa dan sungai memaksa warga Alabio saat itu harus pintar-pintar mencari peluang usaha yang menjanjikan, berdagang jadi hal paling diminati warga di waktu itu.

Tokoh masyarakat Alabio, H Ahdiat Gazali Rahman MH, mau bercerita seputar naluri dagang orang Alabio yang dikenal luar biasa hebat. Menurutnya, naluri itu muncul karena hadirnya Gudang Hirang atau Gudang Hitam milik Partai Masyumi yang dinamai warga kala itu Gudang Hirang Bermasyumi.

"Dulu masyarakat disini (Alabi

---------- SPLIT TEXT ----------

o) hanya bertani musiman saat air surut, maklum daerah ini dikelilingi rawa. Tanpa bertanam mereka menjadi nelayan. Begitu profesi sebenarnya warga Alabio saat itu," kata Ahdiat pada Radar Banjarmasin Kamis (24/3) tadi.

Hasilnya tidak terlalu membantu ekonomi waktu itu. Tapi nilai agamis dan sikap amanah yang dimiliki warga Alabio membuat warga beralih profesi menjadi penjual kecil-kecilan sembako yang meminta modal ke Bermasyumi.

"Karena lurus (amanah) membuat Bermasyumi waktu itu, mau memberikan barang (sembako) dan alat kebersihan tubuh misalkan pasta gigi dan sabun mandi untuk didagangkan warga Alabio. Dimulai saat itu, orang Alabio dikenal pandai dalam berdagang," kata Ahdiat yang keseharian bekerja sebagai kepala sekolah SMA ternama di HSU.

Menurut pria berkepala plontos ini, dari Gudang Hirang, aneka barang kebutuhan dijajakan warga Alabio ke beberapa titik di Banua Enam saat ini, sebab Alabio waktu itu merupakan kota pelabuhan sungai.

Pada saat barang ludes terjual, maka warga saat itu kembali ke Gudang Hirang untuk membayar nilai barang yang telah diambil pada badan usaha Bermasyumi begitu seterusnya sampai akhirnya Partai Masyumi tidak lagi menjadi bagian dari proses demokrasi kala itu. "Jadi sebenarnya bakat dagang warga Alabio lahir dari sebuah kepercayaan badan usaha sebuah partai. Namun menjadi naluri pada generasi muda Alabio sampai saat ini. Bahkan Alabio dikenal sebagai pemukiman pedagang di Kalsel, Kaltim bahkan sampai ke Surabaya dan Jakarta," ucapnya.

Sementara itu, dari pengamatan penulis di lokasi Gudang Hirang, di Komplek Pasar Alabio, gudang yang memang berwarna hitam itu masih berdiri kokoh melawan zaman, gudang itu berukuran tiga kali lapangan futsal. Bangunan yang luar biasa besar pada zaman-nya.

---------- SPLIT TEXT ----------

Dibangun dengan campuran kayu ulin dan seng yang telah dilapisi cat khusus berwarna hitam. Cat yang tersebut membawa gudang tersebut terlihat berwarna gelap (hitam), sehingga nama gudang hirang-pun itu tersematkan sampai sekarang oleh masyarakat setempat.

Saat ini gudang bersejarah itu, tetap menjadi gudang sebagai mana fungsinya dulu. Hanya saja Partai Masyumi yang dulu menempati gudang tersebut sudah tidak terdengar lagi gumam-nya pasca partai itu dibekukan pemerintah saat itu. (al/ram)


BACA JUGA

Jumat, 04 November 2022 09:48

Banjarbaru 23 Tahun jadi Kota Administratif, Terlama di Indonesia

Sebelum akhirnya menjadi Kotamadya di penghujung tahun sembilan puluhan. Ada…

Jumat, 04 November 2022 09:45

Banjarbaru, Nama Sementara yang Dicetuskan Van der Pijl yang Kemudian Langgeng

Nama itu keluar secara spontan dari Van der Pijl ketika…

Jumat, 15 Juli 2022 11:24

Kisah Pencari Burung di Hutan Kotabaru dan Tanbu, Dipancing Pakai Burung, Ketemu Mahluk Gaib Diam Saja

Belum banyak orang tahu, mencari burung di hutan sangat banyak…

Selasa, 07 Juni 2022 11:22

Siti Farida, Perempuan Kalsel yang Rutin Berenang di Sungai Aare, Permisi Pada Penjaga Sungai

“Datu-Datu, ulun permisi handak bekunyung di sini.” Mantra itu diucapkan…

Minggu, 17 April 2022 20:30

Munggu Ringkit Perlu Surau dan Pengajar Agama

Jauh di perbatasan, nasib warga Dusun Munggu Ringkit belum semulus…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers