MANAGED BY:
SENIN
09 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 07 April 2019 09:12
Pemprov Dukung Haramkan PUBG
Ilustrasi PUBG

PROKAL.CO, BANJARMASIN -  Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendapat dukungan moral dari Pemprov Kalsel. Atas rencana fatwa haram game online bergenre perang. Alasannya, kecanduan game bisa menyebabkan anak-anak akrab dengan tindakan kekerasan. 

"Saya menyambut positif. Semangat kajian fatwa itu bagus. Artinya ada upaya mengatasi kecanduan game pada anak," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kalsel, Husnul Hatimah. 

Salah satu yang disasar adalah PUBG. Player Unknown's Battle Ground. Game bergenre battle royale yang bisa dimainkan secara solo atau tim secara daring. PUBG telah menjadi idola baru di kalangan gamer remaja dan dewasa. 

Husnul sudah lama mengkhawatirkan fenomena "generasi menunduk". Sanggup menghabiskan waktu berjam-jam bersama smartphone untuk game dan media sosial. "Kecanduan itu membuat anak menjadi asosial. Bagi kesehatan juga enggak bagus. Jadi malas bergerak," ujarnya. 

Diakuinya, P3A belum menerima satu pun laporan terkait kasus kecanduan game yang parah di Banua. Tapi jangan menunggu korban jatuh dulu untuk bertindak. "Anak-anak rentan tepapar konten negatif dari game. Seperti kekerasan dan pornografi," ujarnya. 

Bukan berarti Husnul anti gadget. Era digital adalah keniscayaan. Dia menyadari betul fakta itu. "Gadget toh juga membantu anak belajar dan mencari informasi," tukasnya. 

Selama ini, P3A lebih fokus pada sosialisasi. Memahamkan orang tua agar bijak mengawasi penggunaan smartphone dan internet oleh anak. Misalkan pemberlakuan aturan jam tayang di rumah. 

Kapan anak diizinkan memegang smartphone dan kapan dilarang. "Persis seperti kita dulu. Kapan boleh menonton televisi. Kapan harus belajar dan beranjak tidur," kisahnya. 

Perlu pula pengalihan perhatian anak. Orang tua mengajak ngobrol, bercanda, membaca buku, atau rekreasi ke alam terbuka. "Intinya, anak harus paham bahwa smartphone itu hanya pinjaman. Harus ditegaskan itu milik orang tua," pungkas Husnul. 

Sebenarnya, pelarangan PUBG dan game sejenisnya sudah diberlakukan pada beberapa negara. Tapi di Indonesia menjadi heboh lantaran digagas MUI. Menggunakan label haram dan halal dengan dalil agama. Sontak, MUI menjadi sasaran bully netizen.

 

Kecanduan Game Mengundang Depresi 

 

Ini kisah nyata. Saksinya adalah oleh Dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Arsyad. Dia pernah menemui kasus pelajar SMP di Banjarmasin yang menderita kecanduan game online level akut. 

"Anak ini mengaku sampai lupa makan gara-gara bermain game. Biasanya mulai bermain sejak jam 8 malam. Baru berhenti pas azan subuh," kata dosen yang menganpu mata kuliah Psikologi Abnormal pada Prodi Bimbingan dan Konseling tersebut. 

Di sekolah, sorot mata remaja ini selalu tampak mengantuk. Kerap jatuh tertidur di kelas. Sulit fokus terhadap pelajaran yang dipaparkan guru. "Jumlah temannya terus berkurang. Karena dia hanya tertarik berteman dengan sesama gamer. Memprihatinkan," sesalnya. 

Setelah ditelusuri Arsyad, game online rupanya telah menjadi pelarian dari permasalahan khas anak muda yang dihadapinya. Ketika ibunya coba menegur, si anak mendadak liar dan tak sungkan memulai pertengkaran. 

"Bayangkan, jika remaja pecandu game seperti ini semakin banyak? Kita sedang membicarakan generasi penerus bangsa," tegas lulusan Universitas Gadjah Mada itu. 

Dari sudut pandang ilmu psikologi, Arsyad menyebut kecanduan game online sebagai pemicu gangguan mental. Memicu kecemasan berlebih, prestasi menurun, konflik keluarga, dan mengakrabkan anak pada kekerasan. Dampak fatal berupa isolasi diri dan depresi. 

Siapa yang harus disalahkan? Arsyad menunjuk muka orang tua. Banyak orang tua yang membelikan gadget sejak usia dini guna membungkam celotehan anak-anaknya. Pola asuh yang jelas-jelas keliru. 

"Padahal, gadget pada usia yang belum tepat akan menjadi racun. Perlahan, orang tua dipaksa menghadapi masalah yang lebih rumit. Orang tua harus mengevaluasi diri. Jangan melulu menyalahkan anaknya," tegasnya.   (fud/ran)


BACA JUGA

Senin, 09 Desember 2019 07:14

Festival Akustik Digelar di Marabahan

MARABAHAN – Komunitas Bumi Ijejela Project menggelar Festival Akustik di…

Minggu, 08 Desember 2019 08:52

Festival Jukung Tahun Ini Bertaraf Internasional

BANJARMASIN- Meriah dan kental dengan nuansa kebudayaan. Kesan itu dirasakan…

Kamis, 05 Desember 2019 07:07

PMI Banjarmasin Terima Hibah Mobil

BANJARMASIN -  Keinginan  Palang Merah Indonesia (PMI) Banjarmasin untuk terus…

Rabu, 04 Desember 2019 20:42
PT PLN Kalselteng

PLN Luncurkan Program KSKT Go

BANJARBARU - PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Kalimantan Selatan…

Rabu, 04 Desember 2019 10:56

Peduli Sampah itu Keren

BANJARMASIN - Yayasan Kompas Borneo Hijau menggelar diskusi publik. Temanya…

Selasa, 03 Desember 2019 15:34
SMKN PP Banjarbaru

Antusiasme 328 Siswa SMK-PP N Banjarbaru Ikuti UAS Berbasis Online

Banjarabaru, - Sebanyak 328 siswa SMK-PP Negeri Banjarbaru dari kelas…

Selasa, 03 Desember 2019 12:28

Tengkorak Manusia Purba Ditemukan di Kotabaru, Buktikan di Banua Juga Ada Kehidupan Prasejarah

BANJARBARU - Bukti adanya kehidupan prasejarah di Banua terus bertambah.…

Selasa, 03 Desember 2019 06:30

Jumat, BPBD Banjarmasin Serahkan Bantuan untuk Sebuku

BANJARMASIN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin akan menyerahkan…

Selasa, 03 Desember 2019 06:04

Rindam Gembleng 308 Siswa Calon Tamtama, Dari Kalsel Hingga Kaltara

BANJARBARU - Pendidikan Pertama Pendidikan Pertama Tamtama TNI AD Gelombang…

Senin, 02 Desember 2019 10:44

Dari 999 Masjid, Mesjid di HKSN Jadi yang Terbaik

BANJARMASIN - Masjid Muhammadiyah Al Muhajirin di Jalan HKSN Kelurahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.