MANAGED BY:
JUMAT
18 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Selasa, 07 Mei 2019 15:51
Selalu Ditelepon Ayah Saat Sahur
Nidya Nur Guspita

PROKAL.CO, Mengawali bulan Ramadan, sebagai mahasiswa perantauan memang bukan hal yang gampang. Momen sahur dan berbuka merupakan dua hal yang sering membuat anak indekos jadi 'baper'. Jauh dari keluarga, makan sahur dan berbuka tanpa kedua orang tua (ortu).

Hal itu ‘memaksa’ mahasiswa perantauan untuk melakukan segala aktivitas sendirian. Dari mulai menyiapkan santap sahur dan menu berbuka. Semua serba mandiri. Senin (6/5) menjadi awal puasa bagi seluruh muslim di Indonesia. Mengawali drama bagi anak indekos khususnya sobat muda Nidya Nur Guspita saat menyantap makanan sahur.

“Sekarang saya harus mandiri. Sore-sore harus ke pasar membeli sayur untuk dimasak. Tapi, biasanya juga langsung beli lauknya aja. Jadi, waktu sahur tinggal dipanasi,” cerita Nidya mahasiswa ULM asal Kota Sampit Kalimantan Tengah.

Yang menjadi haru bagi Nidya Nur Guspita adalah saat tiba waktu sahur. Dering teleponnya berbunyi keras ketika ada seseorang yang menelepon dan mengingatkan sudah waktunya sahur.

“Itu telepon dari ayah saya. Jadi sebelum sahur, saya selalu ditelepon ayah untuk mengigatkan makan. Saya selalu merasa rindu, mengingat kebiasaan di rumah, yang biasa makan bersama-sama sekrang hanya saya sendiri,”katanya.

Untuk mengobati kegalauannya, biasanya sehabis menyantap sahur. Nidya langsung menghubungi temannya di group WhatsApp. Saling berbagi foto menu sahur menjadi penghibur kesedihan gadis yang memiliki senyum manis tersebut.

“Group organisasi saya kalau waktu sahur pasti ramai. Jadi, agak berkurang rasa kesepiannya,”ujarnya.
Bukan saat sahur saja. Waktu berbuka pun menjadi rutinitas yang harus dijalani Nidya. Untuk menyiasati, Nidya mengajak teman-teman kelasnya berbuka bersama. Ya, anggap saja untuk menemani gadis kelahiran 14 Agustus 1999 ini makan.

“Untuk berbuka saya lebih memilih bareng teman. Cukup sahurnya saja yang sendiri. Saya harus mulai beradaptasi dengan suasana dan rutinitas baru sebagai anak perantauan,”kisahnya.

Bukan hanya Nidya. Hal serupa juga dirasakan oleh Nor Fikriah. Mahasiswa smester akhir di ULM tersebut memiliki cerita tersendiri menjelang sahur.

“Iya, sudah empat tahun puasa di kota orang. dan itu sudah melatih saya agar tegar. Walaupun perasaan rindu berat makan bersama keluarga tidak bisa dihindari. Apalagi, ibu saya setiap sahur selalu menelepon. Walaupun sudah lama tapi tetap aja pengen nangis. Maklum cewek,”ungkapnya.(mal/ema)


BACA JUGA

Rabu, 07 Oktober 2015 07:14

Blender Hancurkan Narkotika

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Bak membuat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*