MANAGED BY:
RABU
18 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 11 Mei 2019 15:06
Mengenal Sosok Ketua MUI HSU KH Said Masrawan Lc

Terkesan Tarawih di Masjid Amru Bin Ash Mesir

LIBURAN : Said Masrawan (duduk dua dari kiri) saat momen libur atau Ramadhan dinikmati mahasiswa Indonesia untuk berlibur di Kompeks Pyramid Mesir. | Foto Retro : Koleksi Said untuk Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Tidak semua pelajar mampu lolos dalam beasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Seleksi yang ketat, tak membuat Said Masrawan muda tak ciut untuk mencoba. Sampai akhir tembus di kampus tertua di Dunia itu, dan merasakan Ramadhan di benua Afrika.

Oleh: Muhammad Akbar, Amuntai

Sosok KH Said Masrawan Lc MA merupakan figur yang sangat sederhana. Ia adalah Ketua Majelis Ulama Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dikenal ramah dan terbuka dengan semua kalangan. Termasuk menerima kunjungan wartawan ini di kantornya.

Padahal alumni Ponpes Rakha Amuntai 30 tahun yang lalu ini, mempunyai jadwal padat, baik sebagai narasumber, dosen dan mengisi undangan ke masjid selama bulan Ramadan. "Saya masih ada kegiatan mengisi ceramah. Kalau mau bisa ketemu jam 14.30 wita. Kita ketemu di kantor (Kantor Kementerian Agama HSU, red)," ujarnya menjawab permohonan wawancara koran ini, Senin (6/5) tadi.

Sebelumnya, penulis juga pernah mewawancara KH Said Masrawan, beberapa waktu sebelumnya terkait kasus ajaran sesat yang tengah ditangani MUI. Namun kali ini, Radar Banjarmasin akan mengangkat kisah Muallim Said -demikian ia biasa disapa- saat belajar di Mesir.

"Banyak kisahnya, tapi ada beberapa yang spesial selama Ramadan,” ujar tokoh kelahiran Sungai Tabukan, 46 tahun silam.

Diantaranya soal salat tarawih. Menurutnya masjid-masjid di sana sangat bervariasi. Ada yang satu malam satu juz, ada juga yang satu rakaat imam hanya membaca lima atau bahkan tiga ayat, langsung rukuk. Soal rakaat, juga seperti di Indonesia, ada yang 8 dan 20.

"Jadi kalau Ramadan, saya dan teman-teman Kalimantan berkeliling dari masjid ke masjid. Naik bus untuk safari Ramadan," ujar Muallim Said yang mengambil jurusan Syariah di Al-Azhar sejak tahun 1991 sampai dengan 1995 silam.

Dari sekian banyak masjid, paling berkesan adalah tarawih di Masjid Amru Bin Ash di kota Fustat, Mesir. Seperti diketahui, Amru bin Ash adalah sahabat Nabi Saw yang membebaskan Mesir dari cengkraman Romawi dan ia kemudian diangkat menjadi wali Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab dan membangun masjid ini, 10 tahun setelah Rasulullah wafat. Inilah masjid pertama di Benua Afrika

“Masjid ini paling banyak jemaahnya, sampai tumpah ruah ke jalan raya,” kenangnya.

Selain daya tarik sejarah masjid tersebut, sang imam masjid juga sangat terkenal pada masa itu. Dia adalah Syekh Muhammad Jibril.

"Salat 20 rakaat dengan bacaan surah satu juz selama 1,5 jam. Khusyuk. Bacaan beliau merdu dan sering membuat terharu, jemaah pun sampai menangis,” ujarnya.

Soal kuliner, di Mesir juga ada semacam pasar Ramadan, letaknya di tepian sungai Nil. Makanan favorit Muallim Said saat itu adalah kue kering Fulldemis, kue khas Mesir bercitarasa manis. Juga roti Hawash, roti yang dipanggang dengan isi daging cincang, bisa daging domba atau sapi. “Rasanya sangat menggugah selera saat berbuka,” kenang Muallim Said.

Orang Mesir juga senang dengan tradisi Maidaturahman, mengajak orang berbuka puasa, siapa saja yang lewat akan diajak. Jamuan gratis yang biasanya dihidangkan di depan toko.

"Mereka mengajak berbuka sampai kami bingung, saking banyaknya orang Mesir yang menawarkan untuk berbuka bersama. Ini salah satu kesenangan mahasiswa saat Ramadan tiba," ujar Muallim Said yang waktu itu menjadi salah satu dari 33 pelajar Indonesia yang bisa masuk Al Azhar. Dari Kalimantan sendiri hanya dua orang termasuk dirinya.

Selama di Mesir, Muallim Said tinggal di asrama non Mesir. Isianya 1500 mahasiswa dari 81 negara. Pelajar Indonesia termasuk yang terbanyak menempati asrama tersebut, jumlahnya mencapai 300 orang.

Menariknya, perjalanan Muallim Said menuntut ilmu ternyata mirip dengan ulama kondang dari Riau, Ustaz Abdul Somad. Karena beliau juga sempat menuntut ilmu di Maroko, untuk meraih magister hadis. Bagaimana pengalamannya di negeri Maghribi, ikuti tulisan selanjutnya. (mar/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…

Selasa, 03 September 2019 11:49

Ibnu Sina Tantang Siswa Menulis tentang Banjarmasin

10 detik awal yang dilakukan 79 persen generasi milenial saat…

Minggu, 01 September 2019 09:59

Begini Sensasi Naik Helikopter Pengebom Air

Setiap hari di musim kemarau helikopter pengebom air berpatroli di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*