MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Minggu, 12 Mei 2019 13:26
Kala Aruh Tak Lagi Berpengaruh

Di Balik Kemeriahan Aruh Bawanang Suku Dayak Meratus di Hulu Sungai Tengah

DIGELAR BILA HAJAT TERKABUL: Aruh Bawanang adalah ungkapan rasa syukur atas perolehan panen yang melimpah. Penghulu Balai Adat, Tuit, mengelilingi Langgatan Papatangkalak sembari membawa hasil alam. | Foto:Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Suku Dayak di Pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) biasa menyebut   aruh. Pelaksanaan selalu identik dengan pesta untuk ungkapan syukur atau tolak bala. Saat aruh yang berpusat di Balai Adat digelanya, desa penyelenggara bakal ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru. Sayangnya, semakin tak terlihat perwakilan pemerintah untuk upacara adat ini.

============================== 

WAHYU RAMADHAN, Muara Hungi

==============================

Muara Hungi tampak semarak pada Sabtu (4/5) malam. Desa yang berjarak 33 kilometer dari Barabai, pusat Kabupaten HST itu merayakan Aruh Bawanang. Acara itu dilaksanakan tiga hari tiga malam mulai Sabtu hingga Selasa (7/5) pagi. Aruh Bawanang adalah ungkapan rasa syukur atas perolehan panen yang melimpah.

“Tiga hari termasuk sebentar. Biasanya sampai duabelas hari,” tutur Utut. Dia adalah salah seorang balian di Desa Muara Hungi. Dalam aruh, balian bertugas menghubungkan dunia bawah dengan dunia atas. Termasuk, urusan dengan roh manusia yang telah meninggal.

Lelaki 70 tahun, ini menjelaskan, Aruh Bawanang juga dikenal dengan nama Aruh Ganal. Artinya, upacara adat besar. Disebut demikian karena dilaksanakan besar-besaran oleh seluruh warga desa. Juga, dihadiri oleh undangan yang berasal dari desa-desa lainnya. Sementara Aruh Kecil, dilakukan hanya di lingkungan keluarga saja.

“Aruh Bawanang hanya digelar apabila hasil panen sesuai dengan harapan warga. Selain sebagai rasa syukur, Bawanang, dimaksudkan untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar di tahun mendatang bisa kembali mendapatkan hasil panen yang melimpah. Kemudian, berharap dijauhkan dari segala bahaya, penyakit dan makhluk perusak,” ujarnya. Dia juga menambahkan, jika hasil panen tidak sesuai harapan, warga hanya menggelar Aruh Kecil. Atau, malah tidak diadakan sama sekali.

Sabtu malam itu, Balai Adat ramai. Beberapa warga tampak sibuk mempersiapkan pernik-pernik aruh. Mulai dari hidangan untuk masyarakat hingga aksesori terpenting yang oleh warga setempat disebut Langgatan Papatangkalak. Atau, induk dari wadah sesaji.

Wadah itu terbuat dari potongan bambu berbentuk segi empat bertingkat. Dalam upacara adat tersebut, Langgatan Papatangkalak digantungkan di tengah-tengah balai. Dihiasi dengan untaian daun kelapa yang menguning dan hiasan lain dari kain serta dedaunan.

“Dibuat persegi empat. Harapannya bisa melindungi seluruh warga dari marabahaya yang datang dari berbagai penjuru,” ungkap Haris. Lelaki berumur 41 tahun itu merupakan kepala adat Suku Dayak se-Kecamatan Batang Alai Timur (BAT).

Menjelang dimulainya aruh, Balai Adat yang bernama resmi Putra Balian, tersebut penuh sesak oleh warga berbagai usia. Mereka antusias mengikuti upacara adat kali ini. Acara dibuka oleh para balian yang duduk mengelilingi Langgatan Papatangkalak. Di antara mereka terdapat pemimpin balian, yakni penghulu Balai Adat. Dia duduk beralaskan tikar. Mulut lelaki berumur 73 tahun bernama Tuit itu komat-kamit. Bersamaan dengan itu, bunyi-bunyian dari Gandang dan Kalimpat yang ditabuh membahana di dalam ruangan.

“Dia memberitahu kepada Yang Maha Kuasa bahwa upacara dimulai,” bisik Rusadi, ketua RT 1 Desa Muara Hungi. Selain minta izin kepada Yang Maha Kuasa agar upacara berjalan lancar, menurut dia, Tuit juga mengundang roh nenek moyang atau datu untuk mengikuti acara.

Setelah itu, Tuit dan para balian asyik mengusap Gelang Hiang di atas kepulan asap kemenyan. Beberapa saat kemudian, Tuit dan para balian yang sedari tadi duduk, lantas bangkit. Wajah para balian mendongak ke atas dan ke depan Langgatan Papatangkalak. Badan mereka sedikit membungkuk dan kedua tangan dilipat ke belakang seperti menggendong. Tiba-tiba, mereka mengentak-entakkan kaki ke lantai.

Diiringi gemerincing Hiang, tabuhan Gandang dan Kalimpat, batandik (mengentak-entakkan kaki, Red) malam itu semakin semarak ketika orang tua, anak muda, serta anak-anak ikut ambil bagian. Lelaki dan perempuan turut serta menari memutari Langgatan Papatangkalak.

“Ini namanya ritual babangsai. Tarian bergembira,” ujar Haris.

Babangsai berlangsung selama sekitar lima menit. Setelah itu, tinggal Tuit dan para balian yang melanjutkan ritual. Mereka masih tetap mengentak-entakkan kaki. Terkadang berhenti sejenak dengan tangan memegang Langgatan Papatangkalak. Para balian terdengar nyaring mengucapkan mantra.

Ada berbagai macam ritual yang dilakukan oleh Tuit dan para balian pada Sabtu malam itu sampai esok paginya. Ada Mangguguhan, Mandewata, Mamutir, dan ditutup dengan Sangkuwanang. Semuanya, menyimbolkan hal-hal yang berkaitan dengan hasil panen melimpah, doa serta harapan. Itu terlihat saat seluruh balian di bawah komando Tuit mengelilingi Langgatan Papatangkalak sembari membawa hasil alam. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, dan padi yang bagus.

“Bagi kami, padi yang bagus ibarat anak kandung yang bertahun-tahun merantau kemudian pulang ke rumah. Kedatangannya kami rindukan, kami sayangi, bahkan kami rayakan,” ungkap Haris.

Melihat dari kemeriahannya, tidak sedikit biaya yang dibutuhkan warga pada saat pelaksanaan aruh. Sebagai contoh, untuk tiga hari tiga malam pelaksanaan aruh di Desa Muara Hungi, saja warga desa secara urunan menyediakan biaya paling sedikit Rp10 juta.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua RT 1 Desa Muara Hungi, Rusadi. Lelaki berumur 33 tahun yang akrab disapa Kintil ini menjelaskan, sebelum pelaksanaan aruh, pihaknya kerap melayangkan proposal kepada Pemerintah setempat. Isinya, terkait permohonan bantuan dana. Namun, tak ada satu pun proposal permohonan yang ditanggapi.

“Undangan untuk menghadiri kegiatan pun, juga selalu kami sampaikan. Tapi tak ada satu pun pejabat yang mau datang,” ungkapnya.

Kintil mengatakan, ia bisa paham. Sulitnya akses jalan serta tak adanya jaringan komunikasi, tentu menjadi salah satu pertimbangan seorang pejabat berkunjung, untuk menyaksikan pelaksanaan aruh. Namun setidaknya, ada perwakilan dari Pemerintah yang bisa menyaksikan secara langsung.

“Jadi tidak hanya termakan kabar. Lagi pula, Aruh Adat juga termasuk tradisi serta budaya yang harus dilestarikan,” ucapnya.

Mendatangi pelaksanaan aruh di kawasan Kabupaten HST, gampang-gampang susah. Sebagai contoh, menuju Desa Muara Hungi. Meski desa yang dihuni oleh sekitar 40 kepala keluarga ini hanya berjarak 33 kilometer dari pusat Kabupaten HST yakni Barabai, perjalanan paling cepat bisa ditempuh dengan memakan waktu dua jam. Belum termasuk apabila jalanan diguyur hujan. Bisa dipastikan, perjalanan bakal memakan waktu yang lebih lama. Terlebih lagi, akses jalan yang didominasi tanah bercampur bebatuan, hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Melewati jembatan gantung, serta kawasan perbukitan yang memiliki jalan berliku, menanjak dan menurun.

Lantas,bagaimana dengan jaringan komunikasi dan listrik? Warga Desa Muara Hungi, umumnya hanya bisa menggunakan sarana komunikasi pada saat berada di kawasan Birayang. Mereka, berada di kawasan tersebut satu kali dalam sepekan. Turun gunung, sekadar membeli kebutuhan di rumah. Saat itulah, mereka menggunakan kesempatan untuk menghubungi sanak keluarga yang ada di beberapa daerah.

“Kalau listrik, kami memakai pembangkit listrik tenaga surya. Dibangun sejak tahun 2014, digunakan ketika malam hari,” tambah Kintil.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Adat Kecamatan BAT, Haris, menambahkan bahwa Aruh Bawanang, digelar hanya benar-benar apabila hajat warganya terkabul. Maka pelaksanaan belum tentu ada sekali dalam setahun. Dia juga mengatakan, kalua pun pelaksanaan aruh tidak mendapat bantuan, bukan berarti aruh tak dapat terlaksana.

“Ibarat kita bernazar, kalau tidak dilaksanakan, maka kita bisa celaka. Terus terang, kami selalu berharap Pemerintah bisa datang untuk berhadir ketika diundang. Selama saya menjabat sebagai Kepala Adat di Kecamatan BAT, tak ada satu pun pejabat Pemerintah yang datang. Saya sendiri sempat heran. Kalau toh ada yang kurang berkenan, setidaknya bisa disampaikan,” ucapnya.

Haris berharap, ke depannya pelaksanaan aruh di Kabupaten HST punya tempat serta mendapat perhatian. Layaknya aruh yang kerap digelar Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong.

Pelaksanaan aruh yang digelar di Kabupaten HST, pada umumnya selalu menjadi pembicaraan dan perhatian banyak pihak ketika pelaksanaannya. Di satu sisi, kebudayaan serta tradisi leluhur ini patut dilestarikan. Namun sayang, pelaksanaan aruh kerap disusupi oleh praktik perjudian. Jenisnya pun beragam. Mulai dari judi kartu hingga dadu. Umumnya, praktik judi berada tidak jauh dari lokasi Balai Adat yang menjadi pusat kegiatan aruh digelar. Tak tanggung-tanggung, praktik judi berlangsung setiap malam, selama pelaksanaan aruh.

“Seperti yang tahun lalu terjadi di daerah Kecamatan Hantakan. Kalau masih ada praktik seperti itu, dikhawatirkan bakal dimanfaatkan oknum. Bungkusnya Aruh Adat, tidak tahunya malah praktik judi. Yang kasihan kan Aruh Adatnya,” ujar Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata HST, Wahyudi Rahmad. Ketika ditemui Radar Banjarmasin, Senin (6/5) siang.

Dalam pelaksaan aruh, Pemerintah setempat juga mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten HST tentang pelaksanaan aruh adat serta kearifan lokal di Kabuten HST. Yang disahkan pada 11 Juli 2016 lalu. Dalam peraturan tersebut, dengan jelas melarang adanya kegiatan bersifat judi yang dapat merusak kemurnian serta kesakralan pelaksanaan aruh. Tertuang pada Bab V Pasal 16.

Senada dengan hal tersebut, Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan HST, Chairiah, yang juga ditemui Radar Banjarmasin Senin (6/5) siang, menambahkan bahwa hingga saat ini, tak ada satu pun proposal terkait kegiatan adat yang sampai ke tempatnya. Terlebih lagi, kabar yang berkembang di masyarakat, terkait aruh yang diidentikkan dengan adanya praktik judi, menjadikan salah satu pertimbangan pemerintah untuk mendukung atau bahkan memfasilitasi aruh.

“Kalau pun nanti ingin memasukkan proposal, hendaknya latar belakang kegiatan diisi dengan jelas dan rinci. Dengan begitu, bisa dilihat kegiatannya apa saja. Kemudiaan kalau sifat acaranya tahunan, maka sebaiknya disampaikan setahun lebih dahulu agar dapat dimasukkan dalam perencanaan anggaran,” tuntasnya.

 

Lengan Manusia, Diganti Ketan Satu Meter

 

Di bagian paling bawah Langgatan Papatangkalak, berjejer rapi ruas bambu sepanjang satu meter. Di dalamnya, ada beras ketan yang sudah matang. Oleh warga desa, beras ketan yang sudah matang itu disebut lamang. Setiap gelaran aruh, lamang selalu ada dan dimasak oleh warga desa.

 

Kepala Adat Suku Dayak Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), Haris, menuturkan bahwa ada sebuah legenda yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu yang berada di dalam bambu satu meter itu bukan lamang. Melainkan, potongan lengan manusia.

 

“Namun, oleh Balian Mumburaya Walu, yang merupakan suhu dari para Balian, diganti dengan beras ketan untuk disajikan kepada para tamu undangan,” tuturnya. Selain jadi hidangan, lamang itu juga menjadi bagian dari sesaji.

 

Balian Mumburaya Walu, menurut Haris, bernegosiasi dengan para arwah leluhur untuk mengganti lengan manusia dengan lamang. Sebagai balian, dia mengatakan bahwa apabila aruh ingin tetap ada, maka arwah leluhur tak boleh meminta lengan manusia sebagai sesaji. Jika tetap memaksa, bisa jadi tidak ada siapapun yang bakal mau menggelar aruh atau melalukan pemujaan lagi.

 

“Pada saat ritual Aruh Bawanang, ada waktu di mana penghulu Balai Adat membawa Lamang Batara (ketan yang dimasak berwadahkan potongan bambu sepanjang satu meter sebanyak empat buah, Red) bersamaan dengan cahaya lilin. Itu, sebagai simbol datangnya pencerahan alias solusi,” urai Haris.

 

Lantas, kapan Aruh Bawanang kerap digelar? Untuk menetapkan hari dan tanggal pelaksanaan, masyarakat bermusyarah bersama kepala desa dan kepala adat. Tapi, pada umumnya, Aruh Bawanang digelar antara tanggal 1-15. Masyarakat setempat percaya bahwa rezeki selalu meningkat bila upacara dilaksanakan pada tanggal tersebut. (war/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 16:22
Pemkab Tabalong

Pramuka Perangi Sampah Plastik

TANJUNG – Ribuan anggota Pramuka Kabupaten Tabalong menyatakan perang terhadap…

Rabu, 21 Agustus 2019 16:21
Pemkab Tabalong

Hari Pramuka Dimeriahkan Karnaval

TANJUNG – Hari Pramuka ke 58 di Kabupaten Tabalong diperingati…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:45

Kepala Dinas Ikut Berkontes di Pilkada HST, Bagaimana Status PNS-nya?

BARABAI - Salah satu kontestan yang digadang-gadang bakal meramaikan bursa…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:32

Janji Urus Tambang di Rantau Bakula, Dinas ESDM Malah 'Angkat Tangan'

BANJARBARU - Berjanji ingin meninjau lokasi tanah retak di Desa…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:26

PPP Incar Kepala Daerah di 3 Tempat

BANJARMASIN - Partai Persatuan Pembangunan yang pernah menjadi salah satu…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:03

Bersihkan Sampah di Sungai Belasung, PUPR Akan Kerahkan Pasukan Turbo

BANJARMASIN - Menanggapi permintaan warga untuk membersihkan sampah menumpuk di…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:09

6 Jemaah Meninggal, 6 Jemaah Dipulangkan Duluan

BANJARBARU - Jemaah Haji Debarkasi Banjarmasin Kelompok Terbang (Kloter) 01,…

Rabu, 21 Agustus 2019 08:55

Spanduk Diikat di Pohon, Aktifis: Harusnya Tokoh Publik Beri Contoh Baik

BANJARBARU - Semenjak momen Hari Raya Idul Adha 1440 H…

Rabu, 21 Agustus 2019 08:52
PARLEMENTARIA

Dewan: Mengikat Spanduk di Pohon Jangan Dibiarkan

BANJARBARU - Fenomena maraknya spanduk yang diikat di pohon-pohon jalur…

Rabu, 21 Agustus 2019 08:47
Pemkab Tanah Bumbu

Pelayanan Disdukpencapil Semakin Baik

BATULICIN - Antrean layanan administrasi kependudukan di Kantor Dinas Kependudukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*