MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 17 Mei 2019 11:38
Berbincang dengan Nelayan Tanjung Selayar di Musim Tenggara
Jangankan Baju Baru, Buat Makan Saja Susah
PERBAIKI JALA: Ahmad memintal tali membuat perangkap kepiting. Musim angin tenggara biasa dimanfaatkan nelayan untuk memperbaiki jala. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Angin tenggara berembus kencang. Pondok Ahmad di tepi pantai bergetar hebat. Sudah banyak bagang rubuh. Anak lelakinya tidur beralaskan mimpi. Jangankan baju baru lebaran, buat makan saja susah.

Oleh ZALYAN SHODIQIN ABDI, Kotabaru

Ahmad tinggal di Desa Tanjung Pelayar Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Sekitar 120 kilometer dari pusat kota. Pesisir desa Ahmad persis menghadap tenggara.

Sejak awal Ramadan, tenggara berembus. Ini musim paling ditakuti para nelayan Tanjung Pelayar. Juga Teluk Kemuning, Tanjung Lalak dan sekitarnya.

Angin tenggara kurang ramah. Menampar keras deretan bangunan bagang para nelayan. Bagang terbuat dari bambu, untuk menangkap ikan teri dan cumi di laut.

Tenggara datang, Ahmad dan ribuan nelayan bagang terpaksa kerja lain. Memaksa diri ke bagang, risikonya bisa nyawa.

Ahmad sejak tenggara datang, mulai merajut tali temali. Membuat perangkap kepiting. Turun pagi, siang atau sore memeriksa perangkap.
"Puasa tidak bisa full. Cepat haus."

Kamis (16/5) petang kemarin. Dengan bibir kering, didampingi anak lelakinya yang masih SD, Ahmad bercerita. "Ya, biasa dapat kepiting lima ekor," getirnya.

Berapa harga lima ekor itu? Katanya tergantung ukuran. Anggap saja Rp40 ribu. Sehari dapat segitu, cukup buat apa?

"Makanya itu. Jangankan untuk beli baju baru lebaran. Buat makan saja susah," nyaring suara Supaidah. Istri Ahmad datang dari pondok menemani suaminya.

Hasil bagang bulan lalau bagaimana? Kata suami istri itu, sudah habis. Hasil bagang memang lumayan. Tapi biaya operasional juga tinggi.

Bagang dibangun dari bambu. Biasanya tahan setahun. Biayanya Rp15 juta. Sekitar itu. Uang hasil penjualan teri disisihkan dulu buat membangun bagang di musim depan, sisanya untuk makan sehari-hari.

"Bagang itu tidak pasti. Minggu ini kita dapat misalnya lima juta. Nanti minggu yang lain tidak dapat. Hasil setahun cukup buat hidup saja," kata Sahmad, rekan Ahmad.

Sama dengan Ahmad. Sahmad juga mengaku risau. Anaknya tiga orang. Semua masih sekolah. Berbicara baju lebaran, matanya berkaca-kaca."Terpaksa habis lebaran ini saya ke kota. Kerja bangunan. Angin ini sampai lepas Agustus baru teduh," ujarnya.

Sahmad tidak punya ladang luas. Tidak ada pilihan bagi dia. Nelayan menurut pria ini harus punya keahlian lain selain mencari ikan.

"Kalau tidak punya kerjaan lain, menderita," ucapnya.

Sementara ini Sahmad belum ke kota. Dia mengaku ingin puasa dulu. Urusan dunia, soal baju lebaran, dia serahkan sama Tuhan saja.

Sekarang Sahmad seperti Ahmad. Kerja apa yang ada. Jika ada tetangga perlu diadukkan semen. Atau turun ke muara laut pakai sampan. Cari kepiting. Kepiting dijual hasilnya dibelikan beras.

Tak terasa azan Magrib berkumandang. Jalanan sepi. Tapi pintu-pintu rumah terbuka. Radar Banjarmasin bisa melihat keluarga-keluarga nelayan berbuka puasa.

Rembulan bersinar. Posisinya naik seperempat langit di arah timur. Memantul keemasan warnanya. Masyarakat Tanjung Pelayar rata-rata dihuni warga suku Mandar. Mereka relijius, kebanyakan.

Anak-anak ramai SD ke masjid. Membawa pulpen dan kertas. A'mang kaum masjid sibuk. Dulu A'mang juga nelayan. Sejak diminta jadi pengurus masjid dia berhenti.

"Berat memang jadi nelayan. Kalau dipikir tidak akan cukup. Tapi kuasa Tuhan, hidup saja kita semua. Bisa saja kita makan," ujarnya.

Dari dulu parade nelayan bagang tidak berubah hidupnya. Syaripuddin akrab disapa Pudding mengatakan, perlu peran pemerintah.

"Selama ini mereka terpaksa jual murah teri-teri itu. Dapat dikeringkan langsung jual, tidak punya kekuatan negosiasi," paparnya.

Padahal ratusan ton teri mereka dijual kembali oleh para pengepul ke Jawa. Di Jawa diolah lagi teri itu jadi beberapa macam produk, dengan harga lebih mahal.

"Para pengepul dan pengusaha makanan teri yang panen. Mereka menikmati teri harga murah dijual harga tinggi. Kita tidak punya pengolahan itu," pasrahnya. (zal/ay/ema)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 10:13

Perlu Gila dalam Dosis yang Cukup

Ruang Kreatif menggelar road show. Kemarin (20/8) sore di Gedung…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:01

Semua Gembira dapat Buku Kalsel Cerdas

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor kembali turun ke desa-desa…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Bendera Negara Lain di HUT RI, Begitu Didatangi Ternyata Cuma Kakek Pasang Umbul-Umbul

Gara-gara pasang bendera yang ada warna biru-nya, sebuah rumah di…

Senin, 19 Agustus 2019 12:27

Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…

Kamis, 15 Agustus 2019 11:12

Dalam Hal Ini, Wakil Menteri Ingin Provinsi Lain Tiru Kalsel

Tak hanya menghadiri Hari Jadi ke 69 Kalsel, Wakil Menteri…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:49

Jangan Sembarangan Promosi, Pahami Karakter Wisatawan

Kementerian Pariwisata menggelar workshop, kemarin (14/8). Membahas strategi pemasaran wisata…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*