MANAGED BY:
RABU
21 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 19 Mei 2019 10:22
Berbincang dengan Guru Haji Abul Hasan Desa Gadung Keramat Bakarangan
BERSAHAJA: Guru Haji Abul Hasan saat menerima Radar Banjarmasin untuk wawancara. Banyak foto-foto alim ulama menghiasi dinding rumahnya. | Foto: Rasidi Fadli/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Desa Gadung Keramat Kecamatan Bakarangan dari dulu terkenal akan banyaknya ulama dan salah satu daerah yang merupakan gudangnya ilmu, hal itulah yang mendorong guru Haji Abul Hasan membangun sebuah sekolah.

===================

RASIDI FADLI, Rantau.

===================

Untuk menemui sosok guru Haji Abul Hasan sangatlah mudah, karena rata-rata masyarakat Kecamatan Bakarangan Kabupaten Tapin sangat mengenal beliau.

Bahkan, saat penulis bertanya tempat tinggal guru Abul sapaan beliau kepada masyarakat, mereka langsung menunjukkan rumahnya, kebetulan ia lagi santai di pelataran rumah bersama salah satu warga.

Tidak sempat mengenalkan nama dan tujuan kedatangan penulis, guru Haji Abul Hasan langsung mempersilahkan penulis untuk masuk ke rumahnya.

Di dalam rumah kayu semi permanen ini terdapat banyak foto ulama-ulama yang ada di Kalsel dan salah satunya paling besar adalah foto guru Sekumpul. "Bisa saja aku menerangkan kisah hidupku, kemungkinan kurang tapi mun lebih tidak," guru Haji Abul membuka pembicaraan.

Ia bercerita, dulu di Desa Gadung Keramat Kecamatan Bakarangan ini merupakan daerah tumpukan ilmu, karena banyak alim ulama di sini, namun ketika mereka meninggal tidak ada lagi bisa meneruskan.

"Hal inilah yang mendorong saya untuk membangun sekolah sebagai wadah untuk tempat belajar, dengan harapan ada generasi penerus yang bisa membagi ilmunya," ungkapnya.

Namun sebelum itu, guru Abul Hasan kecil saat tamat sekolah dasar tahun 1960, terlebih dahulu menempuh pendidikan agama dengan menyerahkan ke madrasah di Pengaron dengan pengajarnya bernama guru Asmuni selama satu tahun.

"Sesudah di situ saya kemudian pindah ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura untuk sekolah selama 8 tahun dimulai dari 1962 sampai 1970," katanya.

Lalu setelah 1970 balik ke kampung halaman, enam tahun kemudian ke Keraton Martapura lalu ke Sekumpul untuk belajar agama dengan KH M Zaini Abdul Ghani atau Abah guru Sekumpul.

"Guru Sekumpul itu yang lebih ditekankan sidin kepada murid-muridnya adalah nasihat-nasihat dan adab-adab kepada orang tua dan guru. Apa yang sidin ajarkan waktu itu sangat melekat dalam ingatan,” ujar guru Abul yang ikut mengaji duduk dengan Guru Sekumpul selama 9 tahun.

Saat belajar dengan guru Sekumpul itu pula, keinginannya untuk membangun sekolah kembali terlintas di kepala, lalu meminta izin dengan guru Sekumpul untuk membangun sekolah di kampung halaman.

"Izin didapat, kemudian saya langsung membangun sekolah madrasah yang bernama As sa'adah," ucapnya.

Madrasah ini awalnya hanya bangunan biasa dan gurunya pun hanya dua orang, selanjutnya bangunannya diperbaiki berkat bantuan pengusaha H Sulaiman HB dan masyarakat. "Lalu madrasah ini semakin maju," ucapnya.

Berpikir mengenai dana, karena kehidupan sekolah tanpa dana tidak mungkin berjalan, lalu ia minta bantuan lagi kepada pengusaha Sulaiman HB untuk membangun sarang burung walet di sekolah.

"Ternyata tiga bulan kemudian sarang burung walet itu sudah berisi dan dapat dipanen," jelasnya.

Hasil dari sarang burung walet inilah yang membantu dalam menggaji atau membangun fasilitas sekolah ini. "Sejak saat itulah kami sudah bisa mandiri dan tidak ada bantuan lagi luar," ucap guru Abul Hasan.

Sekarang, karena faktor usia dan kesehatan, ulama kelahiran 7 November 1947 silam ini, sudah empat tahun terakhir tidak lagi bisa berkeliling untuk menyampaikan ceramah di sejumlah majelis taklim yang diasuhnya di daerah Tapin. "Sekarang saya mengajar di rumah saja," ucapnya.

Mengakhiri wawancara, ia pun berpesan ada tiga ilmu yang wajib dipelajari sebagai seorang muslim, pertama tauhid, kemudian fiqih dan tasawuf.

Kemudian untuk generasi muda sekarang ujarnya, harus memiliki dua ilmu. Ilmu agama dan ilmu dunia, keduanya harus seimbang. "Supaya saat kita mengejar dunia tidak sesat karena ilmu agamanya ada," pesannya. (by/bin)


BACA JUGA

Rabu, 21 Agustus 2019 10:13

Perlu Gila dalam Dosis yang Cukup

Ruang Kreatif menggelar road show. Kemarin (20/8) sore di Gedung…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:01

Semua Gembira dapat Buku Kalsel Cerdas

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor kembali turun ke desa-desa…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Bendera Negara Lain di HUT RI, Begitu Didatangi Ternyata Cuma Kakek Pasang Umbul-Umbul

Gara-gara pasang bendera yang ada warna biru-nya, sebuah rumah di…

Senin, 19 Agustus 2019 12:27

Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…

Kamis, 15 Agustus 2019 11:12

Dalam Hal Ini, Wakil Menteri Ingin Provinsi Lain Tiru Kalsel

Tak hanya menghadiri Hari Jadi ke 69 Kalsel, Wakil Menteri…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:49

Jangan Sembarangan Promosi, Pahami Karakter Wisatawan

Kementerian Pariwisata menggelar workshop, kemarin (14/8). Membahas strategi pemasaran wisata…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*