MANAGED BY:
MINGGU
15 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Sabtu, 01 Juni 2019 09:51
Kasus Pencabulan Santriwati: Berharap Keluarga Korban Lain Angkat Bicara
Ilustrasi

PROKAL.CO, BARABAI - Kasus pencabulan, kerap menghantui anak-anak. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), pencabulan bahkan dilakukan oleh oknum pengasuh di salah satu Pondok Pesantren di Kecamatan Limpasu.

TA (8) dan KA (12), berjalan lambat di sekitar Taman Juwita, Jumat (31/5) pagi. Keduanya, asyik melihat bunga-bunga kecil yang berada di kawasan taman. Hanya berjarak tiga meter dari kedua bocah tersebut, H Khairullah (40), duduk mengawasi.

Baik TA dan KA, keduanya merupakan dua dari empat korban tindak asusila yang diduga dilakukan oleh AJM (61). Pengasuh di salah satu Pondok Pesantren yang terletak di Kecamatan Limpasu. Oleh aparat Kepolisian Resor (Polres) HST, AJM ditetapkan sebagai tersangka, kemudian ditahan sejak 23 Mei lalu, terkait dugaan pencabulan terhadap santriwatinya.

Didekati penulis, kedua korban yakni TA dan KA, sontak bergerak sedikit menjauh. Kepada penulis, H Khairullah, membeberkan bahwa keduanya terkadang tidak ingin didekati, bahkan terkesan menjaga jarak apabila berbicara dengan laki-laki.

“Sejak melakukan pelaporan sampai kini, keduanya lebih sering murung. Apabila ditanya, juga terkadang tidak nyambung,” ujar lelaki yang akrab disapa H Uwah, ini.

Melihat hal itu, Uwah mengaku khawatir dengan psikologis korban. Mengingat hingga kini belum ada melakukan pemeriksaan lanjutan terkait psikologis terhadap keduanya. Saat ini, dia mengaku sangat ingin agar psikologis keduanya diperiksa.

“Saya yakin mereka trauma. Mereka perlu pengobatan, tapi saya tidak tahu harus ke mana mencari pihak berwenang dan bagaimana mengurusnya,” ungkapnya.

Perlu diketahui, pada wawancara yang dilakukan penulis Kamis (30/5) lalu, melalui Uwah, TA mengaku tidak dapat mengingat di mana pertama kalinya tindakan pencabulan dilakukan. Yang diingatnya, hanya dua tempat. Yakni kantin pondok, saat kondisi sepi dan di sebuah rumah.

“Sebelum berhubungan, TA, ditawari oleh pelaku berbelanja di kantin. Dia juga dijanjikan baju baru dan sejumlah uang. Oleh TA, pelaku kerap disebut abah,” tutur H Uwah. Dia menambahkan, perlakuan bejat tersebut tidak hanya dilakukan sekali. Namun berkali-kali.

Lantas, bagaimana kasus pencabulan tersebut terbongkar? Kejadian bermula sepekan sebelum Bulan Ramadan. Saat itu, KA yang merupakan anggota keluarga H Uwah, kabur dari pondok pesantren bersama dengan TA. Lantas, KA dan TA, membeberkan alasan mengapa mereka kabur dari pondok pesantren. “Mendengarnya, saya benar-benar marah,” ujarnya.

Perlakuan yang didapat KA, serupa dengan perlakuan yang diterima oleh SL (16), Korban asal Balangan. Namun, kasus SL terjadi pada 2017 lalu dan berujung damai. Melihat kembali ada kasus dengan pelaku yang sama, SL bersama keluarganya ikut kembali melaporkan,” bebernya.

Ada pun perlakuan yang lebih parah, menimpa dua korban. Yakni, TA asal Kalimantan timur dan SR (19) asal Kabupaten Barito Kuala. Bersama SR, maka ada empat laporan korban. Hingga saat ini, H Uwah menduga masih ada korban lainnya. Hanya saja, khawatir atau ketakutan untuk melapor. Dia berharap, dengan adanya laporan ini, keluarga korban lainnya bakal angkat bicara.

Keterangan Tersangka Kerap Berubah

Kepolisian Resor Hulu Sungai Tengah (Polres HST), terus mendalami kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum Pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan Limpasu.

Kepada Radar Banjarmasin, Kemarin (31/5) sore, Kapolres HST, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sabana Atmojo, melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal, Iptu Sandi, mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan masih ada korban lainnya, selain dari empat korban yang melapor.

Hal tersebut didasari karena pada saat pemeriksaan, keterangan pelaku selalu berubah-ubah. Meski begitu, melalui dasar alat bukti yang ada sebelumnya, pihaknya mengatakan sudah cukup untuk menjerat AJM (61), sebagai tersangka dan melakukan penahanan.

AJM dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35, Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Adapun hukuman penjara yakni lebih dari 5 tahun.

“Menangani kasus ini, kami tidak bisa buru-buru. Karena kami masih terus melakukan penyidikan,” ujar Sandi. Dia menambahkan, hal itu pula yang menjadi alasan, mengapa pihak Polres HST hingga sekarang belum melakukan ekspos kasus.

Sementara itu, sebagai pelapor, H Khairullah atau H Uwah, mengatakan bahwa dirinya kembali dimintai keterangan oleh pihak Polres HST. Kali ini, dengan membawa kedua korban yakni TA (8) dan KA (12).

“Korban dipertemukan dengan tersangka untuk ditanyakan, apakah benar bahwa AJM melakukan pencabulan terhadap korban. Dan korban TA, menyatakan benar bahwa memang AJM yang melakukan,” tutur Uwah, kemarin (31/5). Selain dimintai keterangan, menurut Uwah, pihak Polres HST, juga mengamankan baju korban TA sebagai pelengkap alat bukti.

Diberitakan sebelumnya, AJM merupakan seorang pengasuh salah satu pondok pesantren di Kecamatan Limpasu. AJM ditahan oleh pihak Polres HST dan telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan anak di bawah umur. Hingga saat ini, ada empat korban yang melakukan pelaporan. Yakni TA (8) warga asal Kaltim, KA (12) warga asal Barabai, SL (16) warga asal Kabupaten Balangan dan SR (19) warga asal Barito Kuala. (war/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 14 September 2019 14:34

419 Hotspot Kepung Kalsel, Terbanyak Selama 2019

BANJARBARU - Semakin hari, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di…

Sabtu, 14 September 2019 14:31

Pengadaan Barang dan Jasa Peluang Korupsi Tertinggi

BANJARMASIN – Pengadaan barang dan jasa pemerintah menjadi celah korupsi…

Sabtu, 14 September 2019 14:25

Undangan Viral, Acara Kontes Waria Batal

RANTAU - Sebaran undangan kontes waria yang rencananya dilaksanakan di…

Sabtu, 14 September 2019 14:12

EKSIS...!! Begini Nih....Modus Baru PSK Banjarmasin

Komandan Peleton II Satpol PP Banjarmasin, Rizkan Wahyudi mengatakan, ada…

Sabtu, 14 September 2019 14:09

Dikira Razia Sudah Usai, Ternyata...

BANJARMASIN - Operasi Patuh Intan 2019 berakhir, jangan dikira takkan…

Sabtu, 14 September 2019 14:07

Petandi Dan Aparat Desa Bersekongkol Edarkan Narkoba, Disimpan dalam Kotak Sandal

BANJARMASIN - Seorang petani dan seorang aparat desa bersekongkol mengedarkan…

Sabtu, 14 September 2019 09:40

Koruptor RS Datu Sanggul Dieksekusi

RANTAU - Kejaksaan Negeri (Kejari) Tapin berhasil mengamankan satu terpidana…

Jumat, 13 September 2019 16:03

Taluk Talaran Diserang Api, BPK Kewalahan, Nenek ini Sampai Ikut Turun Padamkan Api

MARABAHAN - Dalam tiga hari belakangan, Marabahan hampir dikepung api.…

Jumat, 13 September 2019 11:51

Perangi Karhutla, Helikopter Rusak, Sekarang Masih Terongok

BANJARBARU - Helikopter pengebom air yang melakukan pemadaman kebakaran lahan…

Jumat, 13 September 2019 11:48

Pesawatnya Tertunda Karena Kabut Tebal, Wakapolri: Karhutla di Kalsel Sudah Meluas, Pembakaran Ini Ada Kesengajaan

Banjarbaru - Kabut asap yang menebal membuat penerbangan di bandara…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*