MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 01 Juni 2019 12:25
Perjalanan Dakwah Ketua MUI Tanbu KH Muhammad Fadli Muis
Sempat Jualan Minyak Harum Supaya Bisa Beli Kitab
KH M Fadli Muis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanbu yang juga pendiri Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin yang terletak di Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat.

PROKAL.CO, Lahir dari keluarga sederhana, KH M Fadli Muis harus berjuang untuk menuntut ilmu di Pesantren Darussalam Martapura. Tempat yang jauh dari tanah kelahirannya di Tanjung Batu, Kelumpang Tengah, Kabupaten Kotabaru.

--- Oleh: Karyono, Batulicin ---

SOSOK KH M Fadli Muis memang sangat familiar di Kabupaten Tanbu. Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanbu yang juga pendiri Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin yang terletak di Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat.

Sosoknya bersahaja dan dikenal ramah kepada setiap orang. Tutur katanya sangat santun, menghormati yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda.

Semasa kecil, Guru Fadli-begitu biasa disapa-tinggal di sebuah kampung yang terletak di Desa Tanjung Batu, Kelumpang Tengah, Kabupaten Kotabaru. Mengawali pendidikan di sekolah dasar kampung kelahirannya, ia dikenal sebagai anak pandai, selalu menjadi juara kelas. Begitu pula ketika di Madrasah Tsanawiyah, ulama kelahiran Tanjung Batu, Kotabaru 24 April 1969 ini selalu ranking.

Melihat prestasinya, seorang kerabat orang tua Guru Fadli memintanya untuk masuk sekolah umum, supaya kelak menjadi seorang insinyur. “Kebetulan beliau memiliki usaha tambak ikan,” kenang Guru Fadli kepada Radar Banjarmasin, Kamis (31/5) sore.

Namun, permintaan itu ditolak orang tua Guru Fadli yang menginginkan anaknya mendalami ilmu agama. Apalagi melihat kebiasaan Guru Fadli yang banyak menghabiskan waktu di musala di samping rumah. Bahkan, ketika usianya 15 tahun, ia sudah sering memimpin salat tarawih.

“Ayah memang berkomitmen menyekolahkan anaknya di sekolah agama saja. Ujar beliau ‘untuk bekal saya mati nanti. Kalau sekolah umum, kelak kalau sudah kerja dan menerima gaji yang enak dia sama istrinya saja, sedangkan saya tidak. Sementara kalau sekolah agama, anak saya menjadi alim, saya bisa mendapatkan pahalanya’. Memang dorongan orang tua itu sangat luar biasa,” ujar Guru Fadli.

Akhirnya, walaupun dengan kondisi ekonomi terbatas, Guru Fadli dikirim untuk menimba ilmu di Ponpes Darussalam Martapura pada bulan Juli tahun 1985. Bukan jarak yang dekat, saat ini saja, menurut Google map jarak Tanjung Batu – Martapura nyaris 400 kilometer jika melewati Tanbu, Tala dan Banjarbaru dengan waktu tempuh 10 jam.

Sedangkan ketika itu, Guru Fadli harus menempuh perjalan melewati laut, sehari semalam naik kapal.

“Sebenarnya sangat berat meninggalkan orang tua di rumah, namun karena ingin menimba ilmu agama, akhirnya saya berangkat juga,” terangnya.

Jauhnya jarak, membuat ia baru bisa pulang kampung setahun sekali. Komunikasi dengan keluarga juga sangat terbatas, belum ada telepon. Pilihan melewati surat, atau kalau ada keperluan mendesak, dengan telegram.

“Orang tua kirim uang sebulan sekali, itu pun bisa salah alamat, karena nama M Fadli Muis ada 3 orang waktu itu. Jadi pernah satu bulan tidak dapat kiriman, karena dikira punya kawan yang sama namanya,” kenangnya.

Sadar dengan kondisi orang tua yang pas-pasan, Guru Fadli berusaha mandiri dengan berjualan minyak wangi. “Kalau pulang kampung, saya diberi uang lebih oleh keluarga ayah. Uang tersebut saya belikan minyak harum (wangi, Red), kemudian dijual kembali kepada teman di ponpes. Hasilnya untuk membeli kitab,” ceritanya.

Ia juga harus menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran di pesantren, tanpa mata pelajaran umum satupun. “Agak kaget juga, perlu dua tahun untuk menyesuaikan diri, sehingga bisa mendalami kitab-kitab yang diajarkan di Darussalam,” ungkapnya.

Setelah 9 tahun, pendidikan di Ponpes Darussalam tuntas, Guru Fadli ingin melanjutkan ke Bangil, Jawa Timur. Namun kali ini, ayahnya tak sanggup lagi membiayai. Ia pun diminta pulang kampung. Tak lama setelah ia kembali, tahun 1995 keluarganya pindahan ke Kota Batulicin.

Di sinilah Guru Fadli mulai membuka majelis taklim di rumahnya, membacakan kitab, meski jemaahnya baru 8-12 orang. Ia juga mulai diminta khutbah dan ceramah. “Malam Ahad majelis bapak-bapak, sedangkan Ahad sore majelis ibu-ibu. Hingga saat ini masih tetap berjalan. Istikamah Alhamdulillah,” katanya.

Tapi karena jemaah yang semakin banyak, mencapai 600 orang setiap kalinya, kegiatan majelis dipindahkan ke masjid yang ada di lingkungan Ponpes Pesantren Zaadul Muttaqiin yang didirikan Guru Fadli.

Berawal di tahun 2000-an, Guru Fadli punya keinginan untuk mendirikan pondok pesantren. Jemaah mendukung niat baik tersebut, ada yang menyumbang tanah seluas 2 hektare. Dari situ lahan ponpes berkembang menjadi 4 hektare.

Awal tahun 2004 peletakan batu pertama pembangunan, tahun 2005 mulai penerimaan murid baru. Sehingga kini usia ponpes sudah 14 tahun. Kawasan ponpes yang dulunya hutan belantara, sekarang sudah ramai jadi permukiman warga.

“Ponpes awalnya diikuti 11 santri, namun sekarang jumlah santri putra dan santri putri di ponpes tersebut sebanyak 400 orang,” sebut Guru Fadli.

Perjalanan mendirikan Ponpes ini pun sempat tidak mulus. Panitia yang ditunjuk untuk pembangunan ponpes sempat bubar. Akhirnya Guru Fadli sendiri yang mengelolanya. Dia berkeyakinan, pembangunan ponpes yang ada hingga saat ini karena adanya campur tangan dari Allah SWT.

“Sebenarnya ponpes ini masih butuh dana yang cukup banyak, setiap tahun menghabiskan Rp600 juta sampai Rp800 juta. Belum lagi dana rutin yang dibutuhkan setiap bulan yang mencapai Rp45 juta,” paparnya.

Dana tersebut digunakan untuk gaji guru, bayar listrik, bayar satpam, biaya makan, sementara santri hanya dipungut uang SPP sebesar Rp50 ribu saja, itupun setiap bulan tidak semua yang bayar SPP.

“Dari 400 santri, palingan yang bayar hanya 300 orang, karena disitu ada anak yatim, anak orang susah, anak Habib, Sayed, mereka tidak kami mintai SPP. Tapi alhamdulillah berkat bantuan para donatur, kegiatan di ponpes ini tetap berjalan. Kami yakin kegiatan keagamaan seperti ini pasti dibantu oleh Allah SWT,” pungkasnya. (kry/ema)


BACA JUGA

Minggu, 15 September 2019 12:45

Mencoba Cantik dalam Kabut Asap

Kabut asap tak hanya menimbulkan permasalahan lingkungan. Bagi kaum hawa,…

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…

Selasa, 03 September 2019 11:49

Ibnu Sina Tantang Siswa Menulis tentang Banjarmasin

10 detik awal yang dilakukan 79 persen generasi milenial saat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*