MANAGED BY:
KAMIS
20 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 11 Juni 2019 17:00
Inilah Panta, Minuman Kebanggaan Generasi 80-an
Panta 'Legend' Kini Cuma Diolah Berdasarkan Pesanan
MASIH BERTAHAN: Sayuti adalah satu dari segelintir pembuat minuman Panta yang masih bertahan di Banjarmasin. Sekalipun bisnis itu sudah sangat lesu. | Foto: Maulana/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Panta sebenarnya minuman tradisional. Pada masanya, usaha rumahan pembuatan Panta menjamur di Banjarmasin. Seiring waktu, minuman manis ini kalah bersaing oleh minuman kemasan yang lebih praktis.

--- Ditulis: MAULANA, Banjarmasin ---

TAK mudah mencari pembuat Panta yang masih bertahan. Salah satunya adalah Sayuti, 60 tahun. Dia masih membuat Panta dari sebuah rumah di Gang Maluku Jalan Sulawesi, Banjarmasin Tengah.

Usaha rumahan ini berdiri sejak tahun 1978. Mereknya Panta UDIPA. Sekarang berganti menjadi Panta Sport. Namun, merek itu sebetulnya cuma julukan. Karena tak ada label atau logo yang ditempelkan pada botol minuman.

Sayuti mengolah enam varian rasa. Rasa apel, pisang ambon, anggur, salak, jeruk, hingga kopi. Ketika penulis mengunjunginya kemarin (9/6), Sayuti sedang sibuk membersihkan botol-botol Panta kosong.

Di ujung teras rumah dengan hanya mengenakan kolor coklat. Sambil menggosok botol, dia mengisap kretek. Tempat produksi ini sebenarnya rumah milik saudaranya. Rumahnya sendiri berada di Sungai Bilu, Banjarmasin Timur.

"Memang Panta ini laris manis pada zamannya. Tapi sekarang sudah kalah bersaing. Jika saya tak salah ingat, penurunan pembeli dimulai sejak tahun 1995," ungkapnya.

Panta kalah karena kurang praktis. Minuman ini dimasukkan dalam botol kaca limun yang rawan pecah. Dari segi rasa, Panta sangat manis. Dengan sentuhan sensasi soda.

"Bisnis ini mulai lesu sejak kemunculan minuman es kocok. Apalagi jumlah pedagangnya banyak," imbuhnya. Pesaing yang dimaksudnya berkeliling dari sekolah sampai ke gang-gang.

Dulu, Sayuti sanggup memproduksi 125 peti sehari. Satu peti berisi 24 botol Panta. Atau setara tiga ribu botol. Sekarang, dia hanya menjalankan proses produksi tiga atau empat kali dalam sebulan.

"Jauh! Penjualannya turun sekali. Sekarang cuma 40 peti. Itu pun tak produksi setiap hari," tambahnya.

Urusan harga, Panta sangat terjangkau. Hampir tak ada kenaikan harga berarti. Saat berjaya, tiga dekade lalu, per botol dijual Rp500 hingga Rp750. Sekarang cuma dijual Rp2 ribu.

"Terserah pelanggan mau menjual berapa ke pembelinya. Karena untuk sekali produksi saya cuma perlu beberapa ratus ribu rupiah. Jujur, saya tak pernah menghitung-hitung modalnya berapa," kisahnya.

Peminat Panta kebanyakan datang dari daerah pinggiran kota. Seperti Belitung, Alalak, dan Kuin. Sayuti bertekad untuk terus membuat Panta. Selama masih ada peminat yang datang untuk memesan.

"Soal rasa, biarlah pembeli yang menilai. Selama ini, mereka bilang rasa Panta buatan saya berbeda dengan yang lain. Saya sendiri tak pernah mencicipi. Kecuali ada yang menyebut Panta-nya hambar," imbuhnya.

Untuk komposisi, Sayuti menggunakan gula, aroma perasa, Co2, dan ekstrak buah. Masa kedaluwarsa Panta mencapai tiga bulan. "Tanda-tandanya adalah perubahan rasa dan aroma," ujarnya.

Sayuti asli orang Jombang, Jawa Timur. Dia merantau karena diminta seorang kawan menjalankan usaha Panta di Banjarmasin. Pada awalnya, usaha ini dimiliki banyak orang. Sekarang, dia hampir-hampir seorang diri meneruskannya.

"Kala itu teman saya bercerita. Dia punya kenalan orang Banjarmasin. Sudah membeli mesin produksi Panta, tapi tak bisa mengoperasikan. Saya lalu diajak gabung," kenangnya.

Temannya pula yang memaksanya untuk menetap di Kalimantan. "Logat Jawa saya sampai-sampai hilang. Gara-gara setiap hari berkumpul bersama orang Alabio," candanya. (at/ema)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 12:23

Selebgram Jelajahi Tempat-tempat Wisata di Kalimantan; Kemana-mana Naik Roda Dua, Ditimpuk Batu Saat Melintasi Jalan Sunyi

Peraih gelar Putri Pariwisata Favorit Palangkaraya Tahun 2018, Hana Pira…

Selasa, 18 Februari 2020 10:43

Cetak Pemuda Berakhlak Demi Tangkal Radikalisme

Suasana Alam Roh, Kiram Park, kemarin (17/2) ramai sekali. Banyak…

Senin, 17 Februari 2020 11:02

Mengenal Legislator yang Suka Menulis: Sebagai Pedoman Sesama Anggota Dewan

Salah satu tugas anggota DPRD adalah membuat peraturan daerah. Apapun…

Minggu, 16 Februari 2020 06:58

Kalsel Bakal Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Semoga ini bisa menjadi solusi, agar sistem kelistrikan di Banua…

Sabtu, 15 Februari 2020 10:11

Perjalanan Biker Sirath Touring Borneo Lintas Tiga Negara

Hasrat mencapai puncak Pulau Kalimantan menggunakan sepeda motor akhirnya tercapai.…

Kamis, 13 Februari 2020 12:00

Gaduk, Minuman Oplosan yang Kebal Regulasi: Bisa Bikin Mati Mendadak, Tengah Malam Bisa Jual Lebih Mahal

Fungsinya sudah jelas. Alkohol tunggal dengan kadar mencapai 95% bukan…

Kamis, 13 Februari 2020 10:35

Biker Banua Terkesan Kemulusan Aspal Negeri Jiran

Perjalanan tiga anggota Biker Sirath dari Banjarmasin menuju Tip of…

Rabu, 12 Februari 2020 12:27

Nasib Bendungan Pipitak Jaya yang Direncanakan Bakal Tanggulangi Banjir Tapin

Dikerjakan sejak tahun 2015 silam. Bendungan Pipitak Jaya, yang terletak…

Selasa, 11 Februari 2020 11:36

Pamer Buah-Buah Langka, Ada Buah yang Tidak Bisa Diperjualbelikan

Marajai, desa yang terletak di lereng pegunungan Meratus ini, menunjukkan…

Minggu, 09 Februari 2020 10:08

Kebakaran Beruntun 4 Gedung Sekolah di HST: Curiga Disengaja, Datangkan Tim Ahli Forensik dari Surabaya

Kebakaran yang menghanguskan gedung sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers