MANAGED BY:
MINGGU
18 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 11 Juni 2019 17:00
Inilah Panta, Minuman Kebanggaan Generasi 80-an
Panta 'Legend' Kini Cuma Diolah Berdasarkan Pesanan
MASIH BERTAHAN: Sayuti adalah satu dari segelintir pembuat minuman Panta yang masih bertahan di Banjarmasin. Sekalipun bisnis itu sudah sangat lesu. | Foto: Maulana/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Panta sebenarnya minuman tradisional. Pada masanya, usaha rumahan pembuatan Panta menjamur di Banjarmasin. Seiring waktu, minuman manis ini kalah bersaing oleh minuman kemasan yang lebih praktis.

--- Ditulis: MAULANA, Banjarmasin ---

TAK mudah mencari pembuat Panta yang masih bertahan. Salah satunya adalah Sayuti, 60 tahun. Dia masih membuat Panta dari sebuah rumah di Gang Maluku Jalan Sulawesi, Banjarmasin Tengah.

Usaha rumahan ini berdiri sejak tahun 1978. Mereknya Panta UDIPA. Sekarang berganti menjadi Panta Sport. Namun, merek itu sebetulnya cuma julukan. Karena tak ada label atau logo yang ditempelkan pada botol minuman.

Sayuti mengolah enam varian rasa. Rasa apel, pisang ambon, anggur, salak, jeruk, hingga kopi. Ketika penulis mengunjunginya kemarin (9/6), Sayuti sedang sibuk membersihkan botol-botol Panta kosong.

Di ujung teras rumah dengan hanya mengenakan kolor coklat. Sambil menggosok botol, dia mengisap kretek. Tempat produksi ini sebenarnya rumah milik saudaranya. Rumahnya sendiri berada di Sungai Bilu, Banjarmasin Timur.

"Memang Panta ini laris manis pada zamannya. Tapi sekarang sudah kalah bersaing. Jika saya tak salah ingat, penurunan pembeli dimulai sejak tahun 1995," ungkapnya.

Panta kalah karena kurang praktis. Minuman ini dimasukkan dalam botol kaca limun yang rawan pecah. Dari segi rasa, Panta sangat manis. Dengan sentuhan sensasi soda.

"Bisnis ini mulai lesu sejak kemunculan minuman es kocok. Apalagi jumlah pedagangnya banyak," imbuhnya. Pesaing yang dimaksudnya berkeliling dari sekolah sampai ke gang-gang.

Dulu, Sayuti sanggup memproduksi 125 peti sehari. Satu peti berisi 24 botol Panta. Atau setara tiga ribu botol. Sekarang, dia hanya menjalankan proses produksi tiga atau empat kali dalam sebulan.

"Jauh! Penjualannya turun sekali. Sekarang cuma 40 peti. Itu pun tak produksi setiap hari," tambahnya.

Urusan harga, Panta sangat terjangkau. Hampir tak ada kenaikan harga berarti. Saat berjaya, tiga dekade lalu, per botol dijual Rp500 hingga Rp750. Sekarang cuma dijual Rp2 ribu.

"Terserah pelanggan mau menjual berapa ke pembelinya. Karena untuk sekali produksi saya cuma perlu beberapa ratus ribu rupiah. Jujur, saya tak pernah menghitung-hitung modalnya berapa," kisahnya.

Peminat Panta kebanyakan datang dari daerah pinggiran kota. Seperti Belitung, Alalak, dan Kuin. Sayuti bertekad untuk terus membuat Panta. Selama masih ada peminat yang datang untuk memesan.

"Soal rasa, biarlah pembeli yang menilai. Selama ini, mereka bilang rasa Panta buatan saya berbeda dengan yang lain. Saya sendiri tak pernah mencicipi. Kecuali ada yang menyebut Panta-nya hambar," imbuhnya.

Untuk komposisi, Sayuti menggunakan gula, aroma perasa, Co2, dan ekstrak buah. Masa kedaluwarsa Panta mencapai tiga bulan. "Tanda-tandanya adalah perubahan rasa dan aroma," ujarnya.

Sayuti asli orang Jombang, Jawa Timur. Dia merantau karena diminta seorang kawan menjalankan usaha Panta di Banjarmasin. Pada awalnya, usaha ini dimiliki banyak orang. Sekarang, dia hampir-hampir seorang diri meneruskannya.

"Kala itu teman saya bercerita. Dia punya kenalan orang Banjarmasin. Sudah membeli mesin produksi Panta, tapi tak bisa mengoperasikan. Saya lalu diajak gabung," kenangnya.

Temannya pula yang memaksanya untuk menetap di Kalimantan. "Logat Jawa saya sampai-sampai hilang. Gara-gara setiap hari berkumpul bersama orang Alabio," candanya. (at/ema)


BACA JUGA

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…

Kamis, 15 Agustus 2019 11:12

Dalam Hal Ini, Wakil Menteri Ingin Provinsi Lain Tiru Kalsel

Tak hanya menghadiri Hari Jadi ke 69 Kalsel, Wakil Menteri…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:49

Jangan Sembarangan Promosi, Pahami Karakter Wisatawan

Kementerian Pariwisata menggelar workshop, kemarin (14/8). Membahas strategi pemasaran wisata…

Rabu, 14 Agustus 2019 11:41

Malam Hari Raya, Mereka Harus Padamkan Api Hingga Subuh

Menjadi bagian dari satgas penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)…

Selasa, 13 Agustus 2019 11:55

Merayakan Iduladha di Pulau Bromo, Daging Kurban Jadi Makanan Langka

Suasana Iduladha masih terasa. Setidaknya bagi warga Pulau Bromo, Kelurahan…

Sabtu, 10 Agustus 2019 11:45

Mendengar Cerita Pemuda-pemuda Yang Terpilih di DPRD Tapin

Sekarang ini para pemuda berlomba-lomba untuk bisa duduk di kursi…

Jumat, 09 Agustus 2019 11:24

Daliyati, Harapan Baru Juhu, Desa terpencil di Hulu Sungai Tengah

Gelar Ahli Madya Keperawatan akhirnya diraih Daliyati dengan predikat sangat…

Kamis, 08 Agustus 2019 11:26

Jembatan Barito Mulai Menua: Lantai Retak, Satker Giatkan Perbaikan

Tak terasa Jembatan Barito sudah lebih dari 22 tahun. Jembatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*