MANAGED BY:
MINGGU
15 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT
GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok
MENUNGGU WAKTUNYA: Seorang petani di Kelurahan Gambut Barat, membersihkan rumput liar yang mengganggu tanaman padinya. Bila tidak ada kendala, padi-padi yang ditanam di kawasan ini sudah bisa dipanen di akhir bulan Agustus mendatang.

PROKAL.CO, Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan Selatan. Namun itu lampau. Saat ini, petani bisa dengan mudah menjual tanah mereka. Sekali lagi asalkan harganya cocok.

---

Matahari cukup terik siang itu. Seorang wanita berusia 40-an sedang sibuk menyingkirkan rumput liar dari sela-sela padi yang baru ditanamnya. Dia segera menoleh ke Radar Banjarmasin yang sedari tadi memperhatikan.

“Lahan ini tidak dijual, Pak,” ucapnya seperti heran melihat seorang berpakaian necis dengan kemeja, celana kain dan sepatu berdiri di pematang sawah yang saat itu sedang terendam air setinggi lutut.

Bini Mahdi, dia memperkenalkan namanya, mengatakan sawah itu adalah peninggalan orang tuanya. “Masih mau dipakai buat bertani,” ucap warga Handil Durian Desa Kayu Bawang Kecamatan Gambut itu.

Diapit perumahan di samping kiri dan kanan, lenyapnya sawah di sana seperti hanya tinggal masalah waktu. Dalam lima tahun terakhir, alih fungsi lahan dari pertanian ke perumahan marak terjadi di sepanjang Jalan Irigasi Kecamatan Gambut, termasuk di Desa Malintang Baru, lokasi sawah yang digarap Bini Mahdi.

Bini Mahdi memang mengakui sampai saat ini belum ada niat untuk menjual lahan pertanian seluas 17 borongan itu. Selain menjadi warisan, lahan itu juga miliknya bersama empat saudaranya yang lain tersebut. “Kecuali tawaran harganya tinggi, kemungkinan akan kami lepas,” tandasnya malu-malu.

Bini Mahdi memang realistis. Melihat bagaimana perumahan menggerus wilayah pertanian di sana, dia tidak melihat peluang sebagai petani lagi. Keberadaan perumahan di sekitar sawahnya memberi dampak negatif terhadap siklus tanam dan tumbuh kembang padi.

Sudah bertani semenjak 25 tahun lalu, Bini Mahdi merasakan bagaimana kondisi lingkungan di sekitar sawah berpengaruh pada siklus tanam di lahan tadah hujan.

Biasanya musim tanam sudah masuk saat bulan Maret, namun dalam beberapa tahun terakhir, mulai bergeser. Saat ini dia baru bisa menanam padi di bulan Juni lantaran ketinggian air pada bulan Maret masih sepinggang orang dewasa.

Dulu, kata dia, saat memasuki bulan Maret air sudah surut, sekarang sampai bulan Juni air masih selutut orang dewasa. Tergolong masih tinggi untuk menanam anak padi. Tinggi air untuk menanam anak padi maksimal semata kaki.“Apa mungkin karena adanya perumahan ini ya sehingga air tidak mengalir?” dia bertanya-tanya.

Maraknya pembangunan industri properti berupa perumahan, diketahui Arsyad berlangsung sejak akhir tahun 2016 lalu. Saat itulah industri properti mulai menjamur. Masyarakat yang berada di dekat pembangunan perumahan khawatir hal ini berdampak pada pengairan di persawahan.

Air yang menggenangi area persawahan tidak lagi surut. Alias, hanya menggenangi kawasan itu-itu saja. Airnya dari hari ke hari menjadi semakin dalam.“Ini secara tidak langsung juga membuat masyarakat kesulitan untuk menanam padi,” tuntasnya.

Alih fungsi lahan yang tadinya subur dan produktif masih sedang berjalan di Gambut. Selama 5 tahun terakhir, areal bercocok tanam berkurang 567 hektare. Catatan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjar. Tahun 2018, luasan lahan pertanian tersisa 8.452 hektare dari 9.019 hektare pada 2014 lalu.

Menyusutnya lahan pertanian karena Gambut secara wilayah memang menanggung beban sebagai penyangga dua kota: Banjarmasin dan Banjarbaru. Kondisi geografis itu membuat posisinya yang unik terancam oleh permukiman penduduk, pergudangan, perkantoran, perhotelan dan pusat perbelanjaan

Di Desa Kayu Bawang, Kelurahan Gambut, perkembangan properti juga begitu pesat. Rumah-rumah dengan tipe kecil menggantikan hamparan sawah. Sekretaris Desa (Sekdes) Kayu Bawang, Muhammad Arsyad, mengaku hanya bisa pasrah meski diakuinya perumahan membuat warga kesulitan menanam padi karena air tak surut-surut di sawah.

“Saya bisa apa, segala sesuatu yang menyangkut perizinan ada pada pejabat di atas (dinas terkait, red),” keluhnya. Dia menerangkan, mayoritas lahan pertanian di kawasan Desa Kayu Bawang tidak lagi milik warga setempat. Pemiliknya ada yang tinggal di Banjarmasin, Martapura, bahkan ada yang berada di Arab Saudi.

Selain kepemilikan tanah yang kini bukan lagi milik warga setempat, harga tanah yang ditawarkan para pengusaha industri properti pun cukup menggiurkan. Warga susah untuk menolak. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sepuluh atau limabelas tahun ke depan,” tuturnya.

Masyarakat di Kecamatan Gambut, umumnya mengenal istilah borongan untuk menghitung luas tanah lahan persawahan. Dalam satu borongan luasnya mencapai 17 meter persegi. Arsyad mengungkapkan, harga tiap satu borongan yang ditawarkan oleh para pengusaha industri properti bervariasi. mulai dari Rp5 juta, Rp7 juta, Rp8 juta hingga puluhan juta. Tergantung di mana letak tanah lahan persawahan berada.

“Ada ungkapan yang cukup populer dalam jual beli tanah di sini, bila tanah mencari uang, maka harga tanah bakal murah. Namun sebaliknya, harga bakal melambung tinggi apabila uang yang mencari tanah,” katanya terkekeh.


Ada kesan lahan pertanian di Gambut sengaja tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya agar sewaktu-waktu dilego ke pengembang. Istilah setempat: ditaungkan.

“Faktor taungnya sawah atau sementara tidak ditanami biasanya karena air terlalu dalam, lahannya sudah tidak subur. Bisa juga tidak diizinkan pemiliknya ditanami padi,” terang Mantri Tani Kecamatan Gambut Enny Risanthi.

Enny Risanthi mengatakan walau lokasi tanah sulit dijangkau dan jauh dari Jalan A Yani ternyata tidak menurunkan minat pembeli. Paling murah Rp5 juta tiap borongan, tertinggi Rp50 juta. Harga ini berlaku pada lokasi jauh dari akses jalan utama.

Ia mencontohkan lahan pertanian di Desa Guntung Papuyu, Kecamatan Gambut. Sepengetahuannya, paling murah harga tanah di pinggir jalan desa Rp50 juta perborongan. Sedangkan arah Desa Tambak Sirang Laut sekitar Rp30 juta/perborong. Akurasi harga itu, ujarnya, tergantung tawar menawar.

“Petani cepat punya uang dengan jual tanah, melepas tanah langsung sehamparan sekitar 200 borongan. Harga makin tinggi ketika letak tanah di tepi Jalan A Yani, Rp1 juta per meternya,” sahut Enny.

Yana (50), warga di Malintang Baru mengaku dia bahkan sudah menolak beberapa developer yang mengincar tanahnya.

"Saya meminta harga Rp32 juta perborongan. Sementara tawaran developer hanya di kisaran Rp20 an juta," katanya yang mengaku memang berniat menjual lahan tetapi hanya dengan harga tinggi. "“Saya rasa sudah cukup lama bertani, sekarang ingin menikmati hasil saja," ucapnya.

Kalau tanah laku, untuk apa uangnya? "Rencana buat umrah, kalau bisa naik haji. Anak kami juga tidak mungkin meneruskan bertani, sekarang semuanya sudah kerja kantoran,” tutup Yana.

Firmansah, Kasi Pengelolaan Lahan dan Air (PSA) dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjar mengatakan punya cara mengetahui sebuah lahan telah laku. “Kami tidak mengetahui lahan yang dijual. Ciri lahan itu mau ditanami, biasanya petani ngomong sama kami. Bila mereka diam itu tanda tanah telah laku,” ucapnya.(why/war/mam/ema/ran/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…

Selasa, 03 September 2019 11:49

Ibnu Sina Tantang Siswa Menulis tentang Banjarmasin

10 detik awal yang dilakukan 79 persen generasi milenial saat…

Minggu, 01 September 2019 09:59

Begini Sensasi Naik Helikopter Pengebom Air

Setiap hari di musim kemarau helikopter pengebom air berpatroli di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*