MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 27 Juni 2019 11:02
Misteri Pulau Sawangi di Kelurahan Batulicin Tanah Bumbu
Ditakuti Gerombolan Penjahat, Dijaga Manusia Gaib
BANYAK LEGENDA: Pulau Sawangi yang terletak di Kelurahan Batulicin Kecamatan Batulicin Kabupaten Tanbu ini menyerupai bentuk ular sawa. (kiri) Abdul Rahim | Foto: Karyono/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Konon, Pulau Sawangi terbentuk setelah perkelahian antara buaya dan ular sawa. Pulau ini juga menyimpan banyak misteri yang hingga kini masih belum terpecahkan.

-- Oleh: Karyono, Batulicin --

 PULAU Sawangi terletak sekitar 1 KM saja dari Kota Batulicin. Jika hendak menuju kesana, pengunjung bisa menggunakan speed atau kelotok. Perjalanan menggunakan speed hanya ditempuh sekitar 10 menit dan kelotok sekitar 30 menit perjalanan. Pulau ini terlihat kecil, namun luasnya bisa mencapai ratusan hektare.

H Abdul Rahim (46), putra pribumi Pulau Sawangi menceritakan legenda terbentuknya Pulau Sawangi. Awalnya terjadi perkelahian antara buaya dan ular sawa di Muara Batulicin. Begitu ular sawa tewas, nyangkut diatas gusung (batu-batu bercampur tanah dan pasir) atau pulau-pulau kecil.

Pulau-pulau kecil tadi ditumbuhi tanaman hingga akhirnya menjadi sebuah pulau yang diberi nama Pulau Sawangi. Sementara buayanya larut terbaru arus sungai.

“Sampai sekarang memang menjadi sejarah, kenapa dinamakan Pulau Sawangi. Jadi bukan Pulau Sewangi seperti yang disebut kebanyakan orang. Sawa-nya itu wangi setelah terbentuk pulau,” ujar H Abdul Rahim dikediaman pribadinya di Jalan Pelabuhan Speed Desa Sejahtera Kecamatan Simpang Empat, kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Sekilas, orang akan melihat Pulau Sawangi memang menyerupai buaya. Namun jika diamati keseluruhan pulau tersebut memang menyerupai ular sawa.

Kembali diceritakan H Abdul Rahim, Pulau Sawangi menyimpan banyak misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Rentetan kejadian dialami warga maupun keluarganya sendiri saat berada di pulau ini. Dia menceritakan beberapa contohnya.

“Tahun 1990, waktu saya masih duduk dibangku SMA, kami delapan orang, 2 guru dan 6 murid sekolah kemping di pulau itu. Selama dua hari dua malam, kami tersesat di sana. Padahal kemping kami dipinggir pantai sebelah timur,” cerita H Abdul Rahim.

Untungnya, waktu itu dia bersama yang lain membawa air minum dan makanan. Akhirnya dia ditemukan ibunya sendiri yang dikenal waktu itu sebagai orang pintar. “Waktu ditemukan, posisi kami berada di dekat kuburan habaib,” katanya.

Seorang warga Kotabaru juga pernah hilang selama satu minggu di pulau itu. Syukurnya, saat ditemukan lelaki itumasih dalam keadaan hidup, meski kondisi badannya sudah lemah. "Saat ditemukan, tubuh orang tua ini bersandar di kayu-kayu besar dalam hutan.

“Orang tua itu cerita katanya mutar-mutar saja di pulau itu. Setelah dua hari tersesat, dia sempat pingsan, namun setelah sadar dia mengaku dibawa orang ke dalam sebuah istana yang megah. Katanya disana banyak orang, pokoknya rame lah. Bahkan dia tidak mau pulang, katanya sudah ramai disana,” kenang H Abdul Rahim.

Masih cerita orang tua tadi, di dalam istana tersebut duduk seorang datuk bertubuh besar diatas kursi raja. “Datuknya ini bersorban dan jenggotnya panjang. Tubuhnya tinggi besar. Mungkin datuk ini yang menjaga pulau ini,” jelasnya.

Cerita menghilang ini juga dialami ibunya sendiri. Waktu tidur, tahu-tahu tubuhnya diangkat makhluk gaib. Waktu itu, H Abdul Rahim masih duduk dibangku SD. “Kalau ibu saya menghilangnya cuma satu hari satu malam saja. Ibunya mengaku dibawa ke dalam sebuah istana tempat datuk tadi,” terangnya seraya mengatakan kejadian orang sesat di pulau itu sudah banyak terjadi.

Menurutnya, jika berkunjung ke pulau ini tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang jorok, apalagi menceritakan tentang perempuan.

Dia mengatakan satu-satunya pulau yang tidak pernah dinaiki gerombolan penjahat di masa revolusi dulu adalah Pulau Sawangi. Waktu masih kecil, dia melihat langsung gerombolan mau mendatangi pulau tersebut, namun setiap mau datang, pulau tersebut seperti hilang dan berubah menjadi lautan.

“Jadi kalau ada orang yang berniat jahat tidak bisa datang ke pulau ini,” jelasnya.

Anggota DPRD Tanbu tiga periode ini mengatakan sudah tujuh generasi menghuni Pulau Sawangi. Bahkan, generasi pertama sudah bercocok tanam di pulau tersebut. Tahun 2009 saat menjabat sebagai Anggota DPRD Tanbu periode pertama, pernah menghadap kepada Kementerian Kehutanan. Dia minta agar status Pulau Sawangi sebagai hutan cagar alam, diturunkan menjadi kawasan pariwisata.

Namun, hingga kini permintaan itu tidak pernah dikabulkan. Padahal, ujar H Abdul Rahim, di sekitar pulau tersebut terdapat banyak makam-makam ulama dan habaib yang sudah berumur ratusan tahun. “Bapaknya bapak saya dikubur disana. Kakeknya kakek saya juga dikubur disana. Datuk saya juga dikubur di Pulau Sawangi,” ujarnya.

Namun, perjuangannya untuk merubah status cagar alam menjadi kawasan pariwisata tidak berhenti sampai disini saja. Dia bertekad akan tetap berjuang hingga Pulau Sawangi menjadi kawasan pariwisata. (kry/ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 10:47

74 Tahun Indonesia Merdeka, Desa Sakadoyan Belum Menikmati Listrik

74 tahun Indonesia merdeka, namun Desa Sakadoyan di Kotabaru masih…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:44

Publik Helsinki dan Tallin Antusias Simak Kisah Bekantan

Sekali lagi Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berkesempatan mengenalkan Bekantan ke…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:13

Perlu Gila dalam Dosis yang Cukup

Ruang Kreatif menggelar road show. Kemarin (20/8) sore di Gedung…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:01

Semua Gembira dapat Buku Kalsel Cerdas

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor kembali turun ke desa-desa…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Bendera Negara Lain di HUT RI, Begitu Didatangi Ternyata Cuma Kakek Pasang Umbul-Umbul

Gara-gara pasang bendera yang ada warna biru-nya, sebuah rumah di…

Senin, 19 Agustus 2019 12:27

Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*