MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 09 Juli 2019 12:08
Pernah Nekat Melaut saat Pasang, Terapung di Laut Empat Hari

Sehari Bersama Nelayan Pulau Laut di Musim Pasang

LIBUR MELAUT: Maudus (kiri) bersama Jafar memintal jala di rumah kemarin siang. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Beberapa hari terakhir gelombang di perbatasan Selat Makassar lumayan tinggi. Banyak kapal berdaya tampung 12 ton istirahat di Kotabaru. Kesempatan tidak melaut digunakan banyak nelayan untuk memperbaiki jala.

-- Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Laut --

Maudus pria paruh baya bersama anak buahnya, Jafar, Senin (8/7) memilih istirahat. Lepas Zuhur mereka duduk di pelataran rumah, persis di pinggir muara Desa Hilir Muara. Sekitar dua kilometer dari pusat kota di Kotabaru.

Istri Maudus duduk di depan pintu. Mengamati suaminya bekerja. "Tidak mesti libur. Kadang nelayan memaksa diri tetap ke laut kalau uang dapur habis," ujar Maudus.

Gelombang katanya tidak bisa diprediksi. Tapi memang ada musimnya. Jelang Agustus sampai Oktober biasanya tinggi.

Maudus harus benar-benar jeli membaca alam. Mereka melaut ke laut lepas. Sekitar 70 mil. "Itu sudah di perbatasan selat Makassar. Kalau nelayan yang pakai balapan (perahu mesin) mereka dekat saja, di selat cari udang."

Jika nelayan balapan ke laut sehari saja, Maudus bisa lima hari. Sekali berangkat, modal habis Rp5 juta. Solar, makan dan rokok. Satu kapal berisi hingga tujuh orang nelayan.

Maudus punya kapal sendiri. Dia bosnya. Hasil penjualan ikan setelah potong ongkos jalan dibagi dua. Maudus dapat satu bagian, anak buah rame-rame dapat satu bagian. "Sekali melaut ya ratusan ribu saja dapat. Makanya, kadang kami maksa tetap turun ke laut biar gelombang tinggi. Apalagi yang rumahnya kontrak," kata Jafar.

Maudus pun pernah memaksa diri. Awalnya sang istri, Hasniah bercerita. "Pernah hampir dikira meninggal bapaknya," ujarnya.

Tujuh tahun silam, di bulan Agustus. Maudus diminta mengantar kapal tua ke Makassar. Kapal tua itu dibeli murah oleh pengusaha Sulawesi. "Awalnya memang gak mau berangkat. Gelombang tinggi waktu itu. Cuma semua akomodasi sudah disiapkan."

Itung-itung nambah pemasukan buat setoran tabungan haji, Maudus berangkat dengan tiga orang rekannya. Benar yang dia khawatirkan, di Selat Makassar ombak menghantam ganas.

Entah hantaman ke berapa. Brak! Haluan kapal pecah. Cepat sekali. Kapal karam. Maudus dan tiga orang kawannya sempat mengambil serpihan kayu.

Tidak ada daratan terlihat. Gelombang masih ganas. Timbul tenggelam. Minum air laut. Persis adegan film The Perfect Storm. "Di situ kami merasa dekat sekali dengan Tuhan," kenang Maudus. Malam ke tiga, seorang rekan hilang. "Dia sepertinya gak kuat lagi. Sudah tua dan memang sakit-sakitan. Dia meninggal di laut."

Air mata Hasniah meleleh di pipi mendengar kisah suaminya itu. "Zaman itu gak ada hape. Kami mengira bapaknya sudah meninggal," ucapnya.

Pasangan suami istri itu baru naik haji tahun 2017 tadi. Maudus tidak merokok. Pandai menyisihkan uang. Empat anaknya semua sekolah. Beberapa sedang kuliah di Makassar.

Ia berharap pemerintah mau membuka usaha di daerah. Seperti pengalengan ikan. Supaya harga ikan stabil. "Kami ini susah kayanya. Ikan banyak harga jatuh. Ikan sedikit, mahal, tapi mencarinya bertaruh nyawa," timpal Jafar.

Jafar hanya nelayan kecil. Libur melaut dampaknya besar. Tidak ada pilihan selain beruang. "Ke bank ada, ke orang China ada. Anak masih kecil semua," akunya.

Nun di ujung Selatan, Senin kemarin juga. Fahrul pemuda asal Kerasian melaju memakai balapan ke Pulau Laut. Pagi-pagi ia berangkat, menghindari angin kencang.

Fahrul pusing tujuh keliling. Pengeluarannya melebihi pemasukan. Istrinya melahirkan tepat di musim angin kencang. Setengah jam sampai ia di dermaga Tanjung Lalak. Dijemput keluarga istri. Berkendara ke Desa Lontar Timur, sekitar 40 kilometer.

Di rumah mertua, Fahrul langsung memburu bayinya. Belum ada sebulan umurnya. Satu juta rupiah upah bidannya. "Masih menganggur, bagang belum aktif," ujarnya.

Nelayan bagang, hanya semusim dalam setahun. Di Kerasian musimnya awal tahun. Angin kencang nelayan libur. Membelanjakan sisa keuntungan bagang. Jika habis mereka kerja serabutan, apa saja asal bisa bertahan hidup. (ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 19 September 2019 11:48

Guntung Damar, Ajang Pertempuran Tersengit Melawan Karhutla

Guntung Damar lagi-lagi menjadi salah satu lahan gambut di Banjarbaru…

Minggu, 15 September 2019 12:45

Mencoba Cantik dalam Kabut Asap

Kabut asap tak hanya menimbulkan permasalahan lingkungan. Bagi kaum hawa,…

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*