MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 10 Juli 2019 11:15
Banua Local Pride, Geliat Anak Muda Kalsel mengenalkan Brand Lokal

Saling Bantu Meski Beda Brand

GABUNGAN PULUHAN BRAND: Tiga orang penjaga toko eksis di depan booth Banua Local Pride dalam gelaran bazar UMKM di Lapangan Murjani Banjarbaru, beberapa waktu lalu. | Foto: Muhammad Rifani/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Berbisnis di industri yang sama. Sekumpulan anak muda Banua membentuk perkumpulan. Meski berbeda brand, tak ada persaingan. Mereka sama-sama memajukan merek lokal.

-- Oleh: MUHAMMAD RIFANI, Banjarbaru --

Merek lokal kian dikenal. Itulah mungkin kalimat yang tepat merepresentasikan industri clothing Indonesia sekarang. Di Banua pun, wabah bangga menggunakan ataupun membangun brand lokal kian tumbuh.

Ini bukan tak beralasan. Pasalnya, tercatat ada lebih dari 30 brand lokal yang mengudara dalam industri ini. Mulai dari kaos, celana, topi, tas hingga sepatu diproduksi para pelaku industri kreatif ini.

Merasa punya kesamaan jalur bisnis, brand-brand asal Banua ini membentuk perkumpulan. Mereka menyebutnya Banua Local Pride (BLP). Total ada 35 brand berbagai jenis dan tema yang tergabung.

Menurut dua orang founder BLP, M Miradzie alias Azie "mrdz" dan Jazuli Rahman alias Ijong "Little Dreamer". BLP digagas untuk menyatukan visi. Visinya jelas: memajukan dan mengenalkan lebih luas brand lokal umumnya, brand banua khususnya.

Diterangkan Azie, BLP tercetus sekitar delapan bulan lalu. Tepatnya kisahnya ketika ia dan beberapa brand banua lainnya mengikuti sebuah gelaran event di Murjani.

"Kita ini punya brand ada yang dari tahun 2012. Tapi antar brand di Banua ini malah jarang saling kenal. Padahal satu daerah, kesannya seperti main sendiri-sendiri. Akhirnya saya, Ijong dan bersama beberapa rekan tercetus mau membentuk wadah," bukanya.

Saat itu kata Azie, selain ia dan Ijong. Turut ada empat anak muda pemilik brand Kalsel lainnya yang berpartisipasi. Yakni Ridho "Ucok" Fahlevi dari Furze, lalu M Fajrin alias Sultan Tanjung dari Antipop, Aulia Rahman alias Ilung dari Blob dan Mas Wid dari Khalifah.

"Kita sepakat buat bangun BLP. Lambat laun rekan-rekan yang punya brand orisinil sendiri kita ajak. Alhamdulillah sekarang sudah ada sekitar 35 brand yang bergabung," cerita Azie.

Berbisnis di satu ekosistem tentu tetap sebuah kompetisi. Namun tegas Ijong, di BLP mereka ingin mengikis persaingan bisnis yang tidak fair.

"Kita memang berbeda-beda brand bahkan daerah. Ada dari Banjarmasin Banjarbaru hingga Tabalaong. Tapi kita satu visi untuk saling support antar brand lokal. Ini juga untuk memajukan ekonomi kreatif Kalsel," bebernya.

Bahkan klaim Ijong, dengan bergabungnya brand-brand di satu wadah. Banyak dampak positif yang mereka kantongi. Selain silaturahmi antar pemilik, BLP ujarnya jadi tempat saling sharing dan bertukar pikiran.

"Kami melihat bahwa banyak rekan atau anak muda di Kalsel yang berniat membuat brand sendirim Tapi kadang bingung harus memulainya dari mana dan memasarkannha. Nah di BLP inilah kita coba mengakomodir itu, misalnya bisa menitip jualan di toko-toko rekan atau sharing soal market," katanya.

Adanya BLP pun tambah Azie juga membuat mereka lebih banyak masuk dalam sebuah event atau acara. Semisal katanya yang baru-baru tadi di gelaran Bazar UMKM di Lapangan Murjani Banjarbaru dari 3-7 Juli.

"Alhamdulillah tawaran buat event bertambah. Ini angin segar bagi rekan-rekan yang berbisnis di brand lokal juga untuk mempromosikan produknya. Juga jadi satu wadah (BLP) ini kita bisa saling bantu banyak hal," ungkapnya.

Lantas bagaimana perkembangan brand lokal di Kalsel dari perspektif mereka? Baik Azie atau Ijonh bersepakat jika saat ini brand lokal makin dikenal. Dibanding beberapa tahun lalu, brand lokal jauh lebih "enak" penjualannya di era sekarang.

Memang kata Azie dan Ijong di level Nasional brand lokal lagi jaya-jayanya. "Ini salah satu faktornya, akhirnya mewabah ke Kalsel. Tapi juga faktor lainnya jika sisi kualitas dan konsep yang ditawarkan brand lokal makin berkembang dan berhasil memincut pembeli, khususnya anak muda," papar Ijong.

Memang tak bisa ditampik masih ada yang terkesan meragukan bahkan mencibir brand lokal. Lumayan sering mereka ditanyai harga retail dari sebuah brand lokal.

"Ada sih yang mencibir misalnya: kok brand lokal mahal. Ya itu sebenarnya kembali ke subjektifitas seseorang. Yang jelas kita ingin mengedukasi bahwa brand lokal itu jauh lebih berkembang serta dengan mendukung lewat membeli itu juga berkontribusi terhadap ekonomi kreatif daerah," sebut Azie.

Diceritakan Azie dan Ijong lagi. Walau sudah ada lebih dari 30 brand yang tergabung, masih ada brand yang menolak bergabung. Mereka menjawab jika ini soal perbedaan visi.

"Ya kita tidak memaksakan. Itu hanya soal visi brandnya. Kalau kita di BLP yang ditekankan bagaimana membawa brand lokal itu bisa makin dikenal dan tentunya dipercaya masyarakat sendiri," kata mereka.

Adapun beber Azie, brand-brand selain mereka yang telah bergabung seperti Minority Unit, Rupaka, Droom Winkel, Sunday Chips, TBLGH Apparel, Dead Devil, Beast Club, Enviture, EARF, Zent4, FTRSE, Ninety Vibrate, Your Heritage, Male Store, Ethnix serta banyak brand lainnya.

Lantas apa harapan BLP terhadap industri clothing di Kalsel? Baik Azie dan Ijong menginginkan pemerintah punya perhatian terhadap brand lokal. Sebab kata mereka, industri clothing lokal juga jadi salah satu identitas serta bagian dari ekonomi kreatif asli Banua.

"Tentu harapan kita brand-brand lokal bisa diterima bahkan mendominasi. Untuk mewudujkan ini selain kepercayaan konsumen juga ada dorongan dari pemangku kebijakan," jujurnya. (ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*