MANAGED BY:
JUMAT
22 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 11 Juli 2019 13:58
Kisah Pasangan Tunanetra di Banjarbaru Perjuangkan Anak Bersekolah Negeri

Anak Sempat Gagal Masuk, Lalu Mengadu ke Sekdaprov

DEMI ANAK: Pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan Johar Latifah, 40, serta putrinya Noorfilah Fahmi saat berbincang dengan Kepala SMAN 2 Banjarbaru, Ehsan Wasesa. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Ini kisah pilu pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan Johar Latifah, 40. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, keduanya berupaya menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Meski mengalami kendala, akhirnya perjuangan mereka berujung manis.

 -- SUTRISNO, Banjarbaru --

Rabu (10/7) kemarin, pasangan suami istri warga Jalan Parambaian, Kelurahan Sungai Ulin, tersebut datang ke SMAN 2 Banjarbaru untuk kembali mendaftarkan anak mereka. Setelah sebelumnya gagal, lantaran tempat tinggalnya kalah dekat dengan pendaftar lain dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Keduanya memberanikan diri mencoba mendaftarkan anaknya lagi, meski masa PPDB telah usai. Karena, diberi jaminan oleh Sekdaprov Kalsel Abdul Haris bahwa putri mereka akan diterima di sekolah yang beralamat di Jalan Perhutani, Kelurahan Mentaos itu.

"Diminta Pak Sekda mendaftar lagi. Setelah sebelumnya kami mengadu ke beliau, lantaran anak kami tidak diterima akibat aturan zonasi," kata Fahmi, didampingi istri dan anaknya.

Kedatangan mereka tampak diterima langsung oleh Kepala SMAN 2 Banjarbaru Ehsan Wasesa. Pasangan suami istri yang kesehariannya bekerja sebagai tukang pijat itu kemudian menyerahkan berkas pendaftaran ke panitia PPDB.

Beberapa menit kemudian, panitia PPDB menyampaikan bahwa anak mereka dapat diterima di SMAN 2 Banjarbaru. Keduanya pun tidak bisa menyembunyikan rasa haru, kala mengetahui anaknya bisa masuk ke sekolah negeri. "Alhamdulillah, akhirnya diterima," ucap Fahmi.

Dengan berlinang air mata, dia menceritakan bagaimana jerih payah mereka untuk bisa memasukkan anak ke sekolah negeri. "Kami sangat ingin anak melanjutkan pendidikan di sekolah negeri. Sebab, kalau swasta biayanya mahal," ujarnya.

Karena itulah, ketika nama anak mereka tidak ada di daftar peserta yang diterima pada PPDB SMAN 2 Banjarbaru Jumat (5/7) tadi, keduanya langsung mempertanyakannya ke pihak sekolah. "Sekolah bilang yang menentukan adalah sistem. Kalau mau mengubahnya, kami disarankan untuk berkonsultasi ke Dinas Pendidikan," ucap Fahmi.

Tanpa pikir panjang, mereka kemudian mendatangi Dinas Pendidikan Kalsel yang berlokasi di Kompleks Perkantoran Pemprov Kalsel. Sayangnya, mereka tidak mendapatkan kabar gembira saat itu. "Pihak dinas juga tidak bisa memasukkan anak saya di SMAN 2 Banjarbaru. Malah, menyuruh kami mendaftar di SMAN 1 Gambut yang jaraknya sangat jauh dari rumah kami. Katanya di sana masih ada bangku yang kosong," bebernya.

Merasa tidak mendapatkan solusi di Disdik Kalsel, mereka berdua kemudian mendatangi Kantor Setdaprov Kalsel untuk menemui Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Namun, di sana mereka diterima oleh Sekdaprov Kalsel Abdul Haris.

"Kami ceritakan keinginan kami untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri ke Sekda. Beliau paham dan meminta kami mendaftarkan anak ke SMAN 2 Banjarbaru lagi. Alhamdulillah hari ini (kemarin) diterima," ucap Fahmi.

Istri Fahmi, Johar Latifah mengaku lega anaknya bisa diterima di sekolah negeri. Sebab, jika sekolah di swasta mereka kemungkinan kesulitan untuk membiayainya. "Sekolah negeri 'kan gratis. Di swasta saya ada tanya, katanya biaya masuknya lima jutaan," ujarnya.

Dia menuturkan, kalau memang anaknya tidak diterima di sekolah negeri mereka sebenarnya memiliki rencana tetap akan menyekolahkannya. Walaupun harus berutang untuk membayar biaya masuk di sekolah swasta. "Iya, kami sudah berencana mencari pinjaman ke pembiayaan. Alhamdulilah, ternyata anak bisa masuk di sekolah negeri," tuturnya.

Dengan diterimanya anak keduanya itu di SMAN 2 Banjarbaru, maka kini ada dua anak mereka yang bersekolah di sana. "Kakak laki-lakinya juga sekolah di sini, sekarang kelas tiga. Kami ingin dia kuliah, kalau nanti lulus SMA," paparnya.

Selain, Noorfilah Fahmi dan kakaknya. Pasangan tunanetra itu juga menyekolahkan anak bungsunya di SD. Dengan begitu, mereka kini harus membiayai sekolah tiga anak.

Ditanya, apakah pendapatan mereka cukup untuk membiayai sekolah ketiga anaknya? Johar Latifah menggelengkan kepala. Menurutnya, tidak mungkin hanya dengan bekerja sebagai tukang pijat bisa membiayai sekolah tiga anak. "Kalau barengan ada bayaran, kami selalu kebingungan mencari pinjaman. Jalan satu-satunya ya ke peminjaman yang ada bunganya," ujarnya.

Lanjutnya, pinjaman itu mereka cicil setiap bulan hingga lunas. Namun, ketika sekolah anaknya ada bayaran lagi. Mereka terpaksa mencari pinjaman lagi. "Kayak itu terus. Tapi, menurut kami tidak apa-apa asalkan anak bisa bersekolah," katanya.

Dia menyampaikan, mereka berupaya untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya agar suatu saat dapat meninggikan derajat keluarga. "Kami tidak ingin mereka seperti kami. Karena, penglihatan mereka normal," ucapnya.

Disinggung, berapa pendapatan mereka perbulan sebagai tukang pijat. Johar menyebut tak menentu. Tergantung jumlah pasien yang mereka dapatkan. "Kalau dihitung rata-rata mungkin Rp2 juta kami dapatkan berdua selama sebulan," ujarnya.

Johar dan Fahmi sendiri menjadi pijat keliling di Banjarbaru dan Martapura. Dari rumahnya di Sungai Ulin, mereka bisa berjalan kaki sampai Landasan Ulin dan Astambul untuk mencari pasien. "Itu kami lakukan demi bisa menyekolahkan anak," ungkap Johar.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Banjarbaru Ehsan Wasesa setelah mengetahui bagaimana kondisi Johar dan Fahmi, berencana menggratiskan semua biaya untuk Noorfilah. "Nanti daftar ulang. Menebus seragam dan lain-lain, saya yang tanggung," bebernya.

Dia juga akan mengupayakan agar Noorfilah mendapatkan beasiswa sepenuhnya. "Dengan begitu, bapak dan ibu nanti tak perlu lagi mencari utang untuk biaya anaknya," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Sabtu, 16 November 2019 11:33

Menganut Agama Balian, Kepala Adat Patikalain: Tak Apa-apa Keluarga Pilih Agama Berbeda, Asal Diterapkan Sebaik-baiknya

MALAM mulai merayap di Desa Patikalaian, Jumat (8/11) pekan lalu,…

Sabtu, 16 November 2019 11:26

Sisi Lain Desa Patikalain: Indung Sambi, Sang Legenda Hidup

PENDUDUK Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)…

Sabtu, 16 November 2019 10:59

Margarita, Pejuang Pendidikan Usia Dini dari Pedalaman Hulu Sungai Utara

Bila di kota pendidikan anak usia dini telah menjamur, di…

Kamis, 14 November 2019 10:45

Selamat Jalan Pilar Smart City Banjarbaru

Kota Banjarbaru khususnya di lingkup Pemerintahan Kota (Pemko) berduka. Kepala…

Selasa, 12 November 2019 11:10

Kisah Polisi Berbagi Bubur Tiap Jumat: Semua Gratis, Bisa Dibawa Pulang

Lengkap berpakaian dinas kepolisian. Tak ketinggalan senjata api menghiasi pinggang,…

Minggu, 10 November 2019 09:57

Tradisi Baayun Maulid di Kubah Basirih: Ada Peserta dari Riau dan Jakarta

Agar anak cepat tertidur, orang tua zaman dulu senang mengayunkan…

Minggu, 10 November 2019 09:25

Lady Fire: Awalnya Malu, Lalu Ketagihan

Namanya saja Lady Fire, jelas menyangkut kaum hawa. Di sini…

Sabtu, 09 November 2019 05:43

Mengunjungi Rumah Perajin Besi di Kuin Selatan: Dipejamkan Sakit, Melek Juga Nyeri

Kuin Selatan terkenal dengan kerajinan besinya. Di perkampungan asli Banjar…

Jumat, 08 November 2019 11:54

Manfaatkan Cepu-Cepu, Waspadai Agen Ganda

Diberi waktu empat belas untuk mengungkap minimal empat kasus narkoba,…

Selasa, 05 November 2019 13:35

Masih Ada Rumah Tanpa Listrik di Banjarmasin

Tinggal bersama anak bungsu, Sabariah, mengklaim telah berumur seratus tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*