MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 11 Juli 2019 13:58
Kisah Pasangan Tunanetra di Banjarbaru Perjuangkan Anak Bersekolah Negeri

Anak Sempat Gagal Masuk, Lalu Mengadu ke Sekdaprov

DEMI ANAK: Pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan Johar Latifah, 40, serta putrinya Noorfilah Fahmi saat berbincang dengan Kepala SMAN 2 Banjarbaru, Ehsan Wasesa. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Ini kisah pilu pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan Johar Latifah, 40. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, keduanya berupaya menyekolahkan anak setinggi-tingginya. Meski mengalami kendala, akhirnya perjuangan mereka berujung manis.

 -- SUTRISNO, Banjarbaru --

Rabu (10/7) kemarin, pasangan suami istri warga Jalan Parambaian, Kelurahan Sungai Ulin, tersebut datang ke SMAN 2 Banjarbaru untuk kembali mendaftarkan anak mereka. Setelah sebelumnya gagal, lantaran tempat tinggalnya kalah dekat dengan pendaftar lain dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Keduanya memberanikan diri mencoba mendaftarkan anaknya lagi, meski masa PPDB telah usai. Karena, diberi jaminan oleh Sekdaprov Kalsel Abdul Haris bahwa putri mereka akan diterima di sekolah yang beralamat di Jalan Perhutani, Kelurahan Mentaos itu.

"Diminta Pak Sekda mendaftar lagi. Setelah sebelumnya kami mengadu ke beliau, lantaran anak kami tidak diterima akibat aturan zonasi," kata Fahmi, didampingi istri dan anaknya.

Kedatangan mereka tampak diterima langsung oleh Kepala SMAN 2 Banjarbaru Ehsan Wasesa. Pasangan suami istri yang kesehariannya bekerja sebagai tukang pijat itu kemudian menyerahkan berkas pendaftaran ke panitia PPDB.

Beberapa menit kemudian, panitia PPDB menyampaikan bahwa anak mereka dapat diterima di SMAN 2 Banjarbaru. Keduanya pun tidak bisa menyembunyikan rasa haru, kala mengetahui anaknya bisa masuk ke sekolah negeri. "Alhamdulillah, akhirnya diterima," ucap Fahmi.

Dengan berlinang air mata, dia menceritakan bagaimana jerih payah mereka untuk bisa memasukkan anak ke sekolah negeri. "Kami sangat ingin anak melanjutkan pendidikan di sekolah negeri. Sebab, kalau swasta biayanya mahal," ujarnya.

Karena itulah, ketika nama anak mereka tidak ada di daftar peserta yang diterima pada PPDB SMAN 2 Banjarbaru Jumat (5/7) tadi, keduanya langsung mempertanyakannya ke pihak sekolah. "Sekolah bilang yang menentukan adalah sistem. Kalau mau mengubahnya, kami disarankan untuk berkonsultasi ke Dinas Pendidikan," ucap Fahmi.

Tanpa pikir panjang, mereka kemudian mendatangi Dinas Pendidikan Kalsel yang berlokasi di Kompleks Perkantoran Pemprov Kalsel. Sayangnya, mereka tidak mendapatkan kabar gembira saat itu. "Pihak dinas juga tidak bisa memasukkan anak saya di SMAN 2 Banjarbaru. Malah, menyuruh kami mendaftar di SMAN 1 Gambut yang jaraknya sangat jauh dari rumah kami. Katanya di sana masih ada bangku yang kosong," bebernya.

Merasa tidak mendapatkan solusi di Disdik Kalsel, mereka berdua kemudian mendatangi Kantor Setdaprov Kalsel untuk menemui Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Namun, di sana mereka diterima oleh Sekdaprov Kalsel Abdul Haris.

"Kami ceritakan keinginan kami untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri ke Sekda. Beliau paham dan meminta kami mendaftarkan anak ke SMAN 2 Banjarbaru lagi. Alhamdulillah hari ini (kemarin) diterima," ucap Fahmi.

Istri Fahmi, Johar Latifah mengaku lega anaknya bisa diterima di sekolah negeri. Sebab, jika sekolah di swasta mereka kemungkinan kesulitan untuk membiayainya. "Sekolah negeri 'kan gratis. Di swasta saya ada tanya, katanya biaya masuknya lima jutaan," ujarnya.

Dia menuturkan, kalau memang anaknya tidak diterima di sekolah negeri mereka sebenarnya memiliki rencana tetap akan menyekolahkannya. Walaupun harus berutang untuk membayar biaya masuk di sekolah swasta. "Iya, kami sudah berencana mencari pinjaman ke pembiayaan. Alhamdulilah, ternyata anak bisa masuk di sekolah negeri," tuturnya.

Dengan diterimanya anak keduanya itu di SMAN 2 Banjarbaru, maka kini ada dua anak mereka yang bersekolah di sana. "Kakak laki-lakinya juga sekolah di sini, sekarang kelas tiga. Kami ingin dia kuliah, kalau nanti lulus SMA," paparnya.

Selain, Noorfilah Fahmi dan kakaknya. Pasangan tunanetra itu juga menyekolahkan anak bungsunya di SD. Dengan begitu, mereka kini harus membiayai sekolah tiga anak.

Ditanya, apakah pendapatan mereka cukup untuk membiayai sekolah ketiga anaknya? Johar Latifah menggelengkan kepala. Menurutnya, tidak mungkin hanya dengan bekerja sebagai tukang pijat bisa membiayai sekolah tiga anak. "Kalau barengan ada bayaran, kami selalu kebingungan mencari pinjaman. Jalan satu-satunya ya ke peminjaman yang ada bunganya," ujarnya.

Lanjutnya, pinjaman itu mereka cicil setiap bulan hingga lunas. Namun, ketika sekolah anaknya ada bayaran lagi. Mereka terpaksa mencari pinjaman lagi. "Kayak itu terus. Tapi, menurut kami tidak apa-apa asalkan anak bisa bersekolah," katanya.

Dia menyampaikan, mereka berupaya untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya agar suatu saat dapat meninggikan derajat keluarga. "Kami tidak ingin mereka seperti kami. Karena, penglihatan mereka normal," ucapnya.

Disinggung, berapa pendapatan mereka perbulan sebagai tukang pijat. Johar menyebut tak menentu. Tergantung jumlah pasien yang mereka dapatkan. "Kalau dihitung rata-rata mungkin Rp2 juta kami dapatkan berdua selama sebulan," ujarnya.

Johar dan Fahmi sendiri menjadi pijat keliling di Banjarbaru dan Martapura. Dari rumahnya di Sungai Ulin, mereka bisa berjalan kaki sampai Landasan Ulin dan Astambul untuk mencari pasien. "Itu kami lakukan demi bisa menyekolahkan anak," ungkap Johar.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Banjarbaru Ehsan Wasesa setelah mengetahui bagaimana kondisi Johar dan Fahmi, berencana menggratiskan semua biaya untuk Noorfilah. "Nanti daftar ulang. Menebus seragam dan lain-lain, saya yang tanggung," bebernya.

Dia juga akan mengupayakan agar Noorfilah mendapatkan beasiswa sepenuhnya. "Dengan begitu, bapak dan ibu nanti tak perlu lagi mencari utang untuk biaya anaknya," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 19 September 2019 11:48

Guntung Damar, Ajang Pertempuran Tersengit Melawan Karhutla

Guntung Damar lagi-lagi menjadi salah satu lahan gambut di Banjarbaru…

Minggu, 15 September 2019 12:45

Mencoba Cantik dalam Kabut Asap

Kabut asap tak hanya menimbulkan permasalahan lingkungan. Bagi kaum hawa,…

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…

Perekonomian Akumulatif Bakal Capai 7,63 Persen

DPRD Balangan Resmi Memiliki Unsur Pimpinan Definitif

Sehari-hari Bergaul dengan Racun

Guntung Damar, Ajang Pertempuran Tersengit Melawan Karhutla

4000 Hektare Lahan Sudah Terbakar, Sahbirin: Tak Mungkin Pemerintah Bekerja Sendiri

Digdaya di Munas HIPMI, Mardani Terpilih jadi Ketua, Bisa jadi Jalan Masuk Pengusaha Daerah ke Pentas Nasional

Jaga Santri dari ISPA, Dinkes Kalsel Bagikan Masker

Saidi Mansyur Incar 2 Kursi PDIP Kabupaten Banjar

Kemenag Ingin Hapuskan Materi Perang di Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, Ponpes di Banua Menolak

Komandan Yonif 623 Berganti, Danrem: Danyon Harus Banyak Ide dan Gagasan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*