MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 15 Juli 2019 11:07
Mohamad Hanif Wicaksono, Pahlawan Buah-Buahan Lokal dari Balangan

Istri Sempat Keberatan, Akhirnya Dapat Kalpataru

PEDULI BUAH LOKAL: Buah-buah lokal Kalimantan yang belum banyak dikembangkan. (kanan) Mohamad Hanif Wicaksono memperlihatkan buah-buahan lokal Kalimantan yang dibudidayakannya. | FOTO: WAHYUDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Namanya Mohamad Hanif Wicaksono. Usianya masih relatif muda, 36 tahun. Tapi berkat dedikasinya pada lingkungan, ratusan buah lokal dan langka dari hutan Balangan kini masih bisa lestari. Berikut kisah perjuangannya.

--- Oleh: WAHYUDI, Balangan. ---

BERGERAK dalam sunyi, istikamah dan tekun melestarikan tanaman buah-buahan lokal yang melimpah di Desa Marajai, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan. Itu dilakukan Hanif Wicaksono selama tujuh tahun terakhir.

Desa Marajai terletak di punggung gugusan pegunungan Meratus. Berjarak 60 Km dari Paringin, ibukota Kabupaten Balangan. Waktu tempuh 2 jam bila menggunakan sepeda motor. Akan lebih lama setengah jam kalau naik mobil, karena akses jalan yang belum sepenuhnya bersahabat.

Memasuki wilayah Desa Marajai, tampak Pegunungan Meratus begitu memesona. Sepanjang mata melepas pandang, hamparan hijau pepohonan bak permadani menyelimuti pegunungan yang membentang sepanjang 600 Km ini. Kabut tipis menari di atas pepohonan, menunggu matahari yang lamat-lamat mulai meninggi.

Kepada setiap orang yang mau menemuinya, Hanif berpesan agar langsung menuju Kantor Kepala Desa, karena saat memasuki Desa Marajai ia sudah tidak bisa dihubungi lewat telepon. Sinyal telekomunikasi belum menjamah pemukiman terujung di Kecamatan Halong tersebut.

Setiba di kantor Kades setempat, Senin (8/7), pria dengan perawakan tinggi berkulit bersih, menyambut Radar Banjarmasin dengan jabat tangan dan senyuman hangatnya. Ayah tiga anak kelahiran Blitar 18 Agustus 1983 lalu ini, sudah bertugas di Desa Marajai sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) penyuluh Keluarga Berencana (KB) Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Balangan, sejak 2016.

Sembari menyodorkan segelas kopi yang siap disesap, ia mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan Desa Marajai. Belakangan desa ini menjadi buah bibir, dengan keanekaragaman buah lokalnya.

Hanif mengutarakan, Marajai merupakan desa tertinggal. Berdasarkan hasil pendataan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di tahun 2015, tercatat 70 persen warga sekitar belum mengenal huruf. Sedangkan yang prasejahtera mencapai 80 persen.

“Di sini temboknya lumayan tinggi untuk peningkatan kesejahteraan. Kalau desa pinggiran perkotaan kan bisa melalui pelatihan bikin makanan olahan misalnya, sementara kalau itu dilakukan di Marajai, siapa yang mau beli hasil makanan olahannya?” keluh Hanif.

Padahal Marajai, menurut Hanif, memiliki potensi besar di sektor buah-buahan, bahkan bisa jadi penyedia buah lokal terbesar di Kalsel. Namun potensi itu tidak terlihat oleh warga masyarakat setempat.

Hanif lantas menyebut, untuk durian saja ada beberapa jenis yang terdapat di Desa Marajai, seperti durian lahung (Durio dulcis), durian mantaula (Durio kutejensis) dan durian mahrawin (Durio oxleyanus).

Ada juga jenis tarap-tarapan. Seperti kulidang (Artocarpus lanceifolius roxb) dan puyian (Artocarpus rigidus). Buah khas lainnya adalah kapul (Baccaurea macrocarpa), kalangkala (Litsea garciae), gitaan/tampirik (Willughbeia angustifolia) serta kumbayau (Dacroydes rostrata).

Selain itu, kata dia, juga ada buah-buahan yang cuma teridentifikasi ada di Pegunungan Meratus. Yakni buah silulung (Baccaurea angulata), maritam (Nephelium ramboutan-ake), bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku (Dimocarpus longan subspecies malesianus) dan luing (Scutinanthe brunnea).

Diantaranya bahkan, ada lima yang terlangka, luying (Scutinanthe brunnea), tampang susu (Artocarpus limpato), silulung (Baccaurea angulata), lahung burung (Durio acutifolius) serta manja (Xantophyllum amoenum).

Dari sana ia kemudian termotivasi untuk mengarahkan warga sekitar agar membudidayakan buah-buahan lokal yang melimpah ruah. Upaya pertamanya memperkenalkan kekayaan Marajai, dengan menggandeng warga mengadakan Festival Buah Lokal, awal tahun 2019 tadi. Sukses.

“Sekarang harga buah di sini sudah naik, dari Rp2.000 menjadi Rp4.000 per buahnya. Lumayan meningkatkan ekonomi warga,” ucapnya semringah.

Dalam waktu dekat, kata sarjana komunikasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang tersebut, ia akan mengarahkan warga untuk membudidayakan durian jenis musang king. Harganya cukup mahal dan rasanya terkenal. Durian yang sempat tenar di film animasi Ipin Upin ini sejauh yang ia tahu belum ada di Kalsel. Padahal kontur tanah serta iklim di Desa Marajai sangat mendukung untuk pembudidayaannya.

Lalu, bagaimana bisa seorang penyuluh KB mengetahui tentang tanaman buah-buahan lokal sebegitu detail?

Tangannya sigap membuka laptop yang sedari tadi menganggur. Sengaja dibuka hanya saat ada keperluan penting. Di sini asupan listrik sangat langka. Belum stabil, baru satu tahun terakhir masuk ke desa.

Hanif memperlihatkan gambar buah limus, sejenis mangga, berukuran kecil, rasanya mirip kedondong. Buah lokal ini yang pertama kali ditemuinya saat ia memutuskan menetap di kampung halaman istrinya, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada pertengahan 2012.

Sebagai pendatang, Hanif mengaku penasaran dengan bermacam buah-buahan lokal yang tidak pernah ia temui sebelumnya.

"Mulai dari situlah saya terus mencari tahu jenis buah lokal lainnya, sekaligus mendokumentasikan lewat foto," ceritanya.

Tahun 2015, Hanif mencoba peruntungannya mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Balangan, dan lulus. Penempatan pertamanya sebagai PNS di Kecamatan Halong. Di sini ia kembali dipertemukan dengan berbagai jenis buah.

“Setelah menanyakan satu demi satu asal buah tersebut, kebanyakan berasal dari Desa Marajai. Semenjak saat itu, setiap akhir pekan saya khususkan untuk mencari buah-buahan lokal lainnya di sana. Saya juga menemukan rupanya ada buah yang langka," tutur Hanif.

Nasib seperti sangat merestui hobi baru Hanif. Setahun kemudian ia ditugaskan sebagai penyuluh KB di Desa Marajai. Sejak itu Hanif mulai menambah koleksi foto buah-buahan lokal, dan mendedikasikan diri dalam upaya melestarikan buah-buahan langka yang ada di Marajai.

Di desa yang dihuni 150 Kepala Keluarga ini, ia menemukan 160 jenis tanaman buah lokal. Diantaranya bahkan ada yang menjadi prioritas untuk dilestarikan oleh LIPI. Durio oxleyanus (Mahrawin) dan durio graveolens (Trako).

Dari melestarikan, Hanif mencoba mengenalkan jenis-jenis buah ini kepada publik. Karena ternyata, warga lokal pun tidak mengetahui nama dari kebanyakan jenis buah tersebut. Diyakininya, dengan banyaknya orang mengenal buah-buahan lokal dan langka, maka akan tergerak untuk menjaga dan melestarikannya.

Aktivitas Hanif dalam mempublikasikan jenis-jenis buah lokal ini lebih banyak melalui akun media sosialnya. Facebooknya : Hanif Wicaksono dan instagram : sano_cy.

Hanif pernah dua kali menerbitkan buku tulisannya tentang buah-buahan lokal ini. Terbitan pertama tahun 2016, judulnya "Potret Buah Nusantara" dicetak 1000 eksemplar, 500 diantaranya dibagikan ke undangan termasuk presiden dan kementerian pada acara Fruit Indonesia di Senayan.

Terbitan kedua tahun 2018. Bukunya kali ini berjudul "Buah Hutan Kalimantan Selatan. Sebuah Dokumentasi dan Upaya Konservasi".

“Buku kedua ini rencana dicetak dengan jumlah banyak, dan dibagikan ke sekolah dan perpustakaan di beberapa kabupaten/kota,” bebernya.

 

sambungan cer ke 2...//

Terus terang, kata Hanif, dalam mempublikasikan buah-buahan lokal ini, ia cukup kesulitan dalam menemukan nama latinnya. Ini penting, untuk mempermudah identifikasi. Sebab kalau menggunakan nama kampung, belum tentu namanya sama antara kampung satu dengan kampung lainnya.

“Saya mencoba cari referensi ke mana-mana. Minta masukan juga ke kawan-kawan ahli taksonomi, untuk mengelompokkan jenis buahan tersebut, sehingga bisa diberi nama latin sesuai jenisnya. Misalkan kalau jenis durian maka akan didahului dengan durio, dan lainnya,” jelas Hanif.

Tak sekadar mengenalkan, Hanif juga melakukan pembibitan. Mengajak dan mengajarkan warga desa, terutama para pemudanya untuk membuat persemaian bibit. Baik dari cabutan, cangkokan induk, maupun biji.

Diakuinya, banyak yang berminat untuk membeli indukan buah lokal ini. Paling banyak dari luar negeri. Namun dengan tegas ia tolak. Kalau itu terjadi, katanya, maka tidak menutup kemungkinan nantinya yang mulanya buah lokal Kalsel malah didatangkan dari luar banua.

“Walaupun saya bukan asli sini, tapi rasa terusik juga kalau itu sampai terjadi,” tandasnya.

Ia mengambil satu contoh kasus, buah kasturi yang merupakan asli Kalimantan Selatan malah dibudidayakan secara serius di Florida. Sementara di lokal tidak diperhatikan.

Kepala Desa Marajai, Adi Setiawan mengaku kedatangan Hanif di desanya sangat memberikan dampak positif terhadap kemajuan desa dan masyarakat.

“Kami akan serius menjadikan desa ini sebagai desa wisata flora. Sebagai langkah awal kami memberikan kesadaran kepada masyarakat agar sadar wisata, semoga kedepannya dapat dukungan penuh dari pemerintah daerah,” harapnya.

Apa yang dilakukan Hanif ini jelas memberi dampak besar terhadap pelestarian lingkungan, sehingga mendapat dukungan dari banyak pihak. Namun, penolakan pertama justru datang dari keluarga, istri dan anak-anak.

Dewi Ratna Hasanah, istri Hanif, mengaku awalnya agak keberatan dengan hobi suaminya. Karena menurutnya Hanif kelayapan enggak jelas, bukannya jadi duit malah menyerap dana pribadi. Mengganggu keuangan keluarga.

“Kalau pulang ke rumah dikira bawa oleh-oleh, malah bibit tanaman. Tapi akhirnya mendukung. Anak-anak saja sekarang yang sering protes kenapa bapak jarang di rumah, walaupun akhirnya mengerti setelah dijelaskan berkali-kali,” ungkapnya.

Geliat Hanif sebagai pelestari tanaman langka dan pembudidaya tanaman buah lokal, rupanya disorot oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Balangan.

Hal itu kemudian mendasari DLH Kabupaten Balangan untuk mengusulkan Hanif diajang penilaian Kalpataru 2019. Dan kemudian satu-satunya yang mewakili Provinsi Kalsel, bersaing dengan 150 calon penerima dari provinsi lain di Indonesia.

Kepala Dinas LH Balangan, Musa mengatakan, Hanif diusulkan dalam kategori Pengabdi Lingkungan, karena ia telah melampaui tugas pokok fungsinya sebagai PNS untuk melakukan pengelolaan keanekaragaman hayati di Kabupaten Balangan.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Hanif adalah menyelamatkan tanaman buah lokal dan langka serta membudidayakannya. Secara tidak langsung juga mengembangkan wisata lokal Desa Marajai melalui wisata alam.

“Bukan hanya di Balangan dan Kalsel, ia juga memberikan kontribusi besar terhadap kabupaten dan provinsi lain, dalam wilayah jelajah pengelolaan keanekaragaman hayati,” kata Musa.

Setelah melewati proses seleksi, Hanif didaulat menjadi salah satu dari 10 penerima penghargaan Kalpataru. Sesuai dengan surat resmi tertanggal 1 Juli 2019 yang dilayangkan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Budiarto, kepada Gubernur Kalsel.

Atas penghargaan ini, Hanif tentunya mengaku bersyukur. Ia berharap bisa lebih berkembang dan membantu masyarakat lebih luas.

“Intinya semakin bermanfaat semakin baik,” tukasnya.

Satu yang paling ia harapkan dari Desa Marajai, adalah kehidupan berkembang selaras dengan alam. Penduduk tidak merusak hutan. Tanpa tambang, sawit dan pengganggu lingkungan lainnya.(ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 10:47

74 Tahun Indonesia Merdeka, Desa Sakadoyan Belum Menikmati Listrik

74 tahun Indonesia merdeka, namun Desa Sakadoyan di Kotabaru masih…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:44

Publik Helsinki dan Tallin Antusias Simak Kisah Bekantan

Sekali lagi Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berkesempatan mengenalkan Bekantan ke…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:13

Perlu Gila dalam Dosis yang Cukup

Ruang Kreatif menggelar road show. Kemarin (20/8) sore di Gedung…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:01

Semua Gembira dapat Buku Kalsel Cerdas

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor kembali turun ke desa-desa…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Bendera Negara Lain di HUT RI, Begitu Didatangi Ternyata Cuma Kakek Pasang Umbul-Umbul

Gara-gara pasang bendera yang ada warna biru-nya, sebuah rumah di…

Senin, 19 Agustus 2019 12:27

Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*