MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 16 Juli 2019 11:50
Istri Sempat Keberatan, Penyelamat Buah Langka ini Akhirnya Dapat Kalpataru

Mohamad Hanif Wicaksono, Pahlawan Buah-Buahan Lokal dari Balangan (Bag-2)

PRESTASI: Muhammad Hanif saat menerima penghargaan Kalpataru dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla n di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (11/7). | DOK PRIBADI

PROKAL.CO, Dedikasi Mohamad Hanif Wicaksono dalam menyelamatkan buah lokal dan langka di Desa Marajai Kecamatan Halong agar tetap lestari akhirnya mengantarkannya meraih penghargaan Kalpataru tahun 2019.

--- Oleh: WAHYUDI, Balangan ---

RIMBUN pepohonan meneduhi iringan langkah kami saat Hanif mengajak Radar Banjarmasin melihat kekayaan tanaman buah di Desa Marajai.

Tidak perlu jauh masuk ke dalam hutan, karena di sepanjang pinggiran jalan desa sudah dapat dilihat beragam tanaman buah lokal. Dan hanya sekitar 500 meter dari badan jalan, kami sudah bisa mendapati tanaman buah yang langka.

Sayangnya saat ini belum musim buah. Selera akan sangat dimanjakan kalau berkunjung ke sini pada awal tahun, ketika bunga-bunga tanaman mulai bermekaran.

Penulis yang merupakan asli kelahiran dan tumbuh besar di banua, merasa tersipu karena tidak tahu salah satu nama tanaman yang ditanyakan Hanif. Tinggi pohonnya mencapai 15 meter dengan diameter 50 Cm. Berdaun sedang dan tebal. Kebetulan saat ini belum berbuah.

“Ini silulung, nama latinnya baccaurea angulata. Kerabat dari buah kapul. Bulat mengerucut. kulit merah daging, sedangkan warna buahnya putih-bening. Rasanya asam manis,” rinci Hanif.

Terus terang, kata Hanif, dalam mempublikasikan buah-buahan lokal ini ia cukup kesulitan dalam menemukan nama latinnya. Padahal ini penting, untuk mempermudah identifikasi. Sebab kalau menggunakan nama kampung, belum tentu namanya sama antara kampung satu dengan kampung lainnya.

“Saya mencoba cari referensi ke mana-mana. Minta masukan juga ke kawan-kawan ahli taksonomi, untuk mengelompokkan jenis buahan tersebut, sehingga bisa diberi nama latin sesuai jenisnya. Misalkan kalau jenis durian maka akan didahului dengan nama durio, dan lainnya,” jelas Hanif.

Tak sekadar mengenalkan, Hanif juga melakukan pembibitan. Mengajak dan mengajarkan warga desa, terutama para pemudanya untuk membuat persemaian bibit. Baik dari cabutan, cangkokan induk, maupun biji.

Banyak yang berminat untuk membeli indukan buah lokal ini. Paling banyak dari luar negeri. Namun dengan tegas ia tolak. Kalau itu terjadi, katanya, maka tidak menutup kemungkinan nantinya yang mulanya buah lokal Kalsel malah didatangkan dari luar banua.

“Walaupun saya bukan asli sini, tapi rasa terusik juga kalau itu sampai terjadi,” tandasnya.

Ia mengambil satu contoh kasus, buah kasturi yang merupakan asli Kalimantan Selatan malah dibudidayakan secara serius di Florida. Sementara di lokal tidak diperhatikan.

Kepala Desa Marajai, Adi Setiawan mengaku, kedatangan Hanif di desanya memberikan dampak positif terhadap kemajuan desa dan masyarakat.

“Kami akan serius menjadikan desa ini sebagai desa wisata flora. Sebagai langkah awal kami memberikan kesadaran kepada masyarakat agar sadar wisata, semoga kedepannya dapat dukungan penuh dari pemerintah daerah,” harapnya.

Apa yang dilakukan Hanif ini jelas memberi dampak besar terhadap pelestarian lingkungan, sehingga mendapat dukungan dari banyak pihak. Namun, penolakan pertama justru datang dari keluarga, istri dan anak-anak.

Dewi Ratna Hasanah, istri Hanif, mengaku awalnya agak keberatan dengan hobi suaminya. Karena menurutnya Hanif kelayapan enggak jelas, bukannya jadi duit malah menyerap dana pribadi. Mengganggu keuangan keluarga.

“Kalau pulang ke rumah dikira bawa oleh-oleh, malah bibit tanaman. Tapi akhirnya mendukung. Anak-anak saja sekarang yang sering protes kenapa bapak jarang di rumah, walaupun akhirnya mengerti setelah dijelaskan berkali-kali,” ungkapnya.

Geliat Hanif sebagai pelestari tanaman langka dan pembudidaya tanaman buah lokal, rupanya disorot oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Balangan. DLH Kabupaten Balangan kemudian mengusulkan Hanif di ajang penilaian Kalpataru 2019. Dia satu-satunya yang mewakili Provinsi Kalsel, dan akan bersaing dengan 150 calon penerima dari provinsi lain di Indonesia.

Kepala Dinas LH Balangan, Musa mengatakan, Hanif diusulkan dalam kategori Pengabdi Lingkungan, karena ia telah melampaui tugas pokok fungsinya sebagai PNS. Dia melakukan pengelolaan keanekaragaman hayati di Kabupaten Balangan, padahal itu bukan tugasnya.

Kegiatan yang dilakukan Hanif adalah menyelamatkan tanaman buah lokal dan langka serta membudidayakannya, secara tidak langsung mengembangkan wisata lokal Desa Marajai melalui wisata alam.

“Bukan hanya di Balangan dan Kalsel, ia juga memberikan kontribusi besar terhadap kabupaten dan provinsi lain, dalam wilayah jelajah pengelolaan keanekaragaman hayati,” kata Musa.

Setelah melewati proses seleksi, Hanif didaulat menjadi salah satu dari 10 penerima penghargaan Kalpataru. Sesuai dengan surat resmi tertanggal 1 Juli 2019 yang dilayangkan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Budiarto, kepada Gubernur Kalsel.

Anugerah tertinggi bidang lingkungan hidup ini, langsung diserahkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla kepada Hanif, dalam pembukaan pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (11/7 tadi.

Atas penghargaan ini, Hanif tentunya mengaku bersyukur. Ia berharap bisa lebih berkembang dan membantu masyarakat lebih luas. “Intinya semakin bermanfaat semakin baik,” tukasnya.

Satu yang paling ia harapkan dari Desa Marajai, penduduknya berkembang selaras dengan alam. Tidak merusak hutan. Tanpa tambang, sawit dan pengganggu lingkungan lainnya.(ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 10:47

74 Tahun Indonesia Merdeka, Desa Sakadoyan Belum Menikmati Listrik

74 tahun Indonesia merdeka, namun Desa Sakadoyan di Kotabaru masih…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:44

Publik Helsinki dan Tallin Antusias Simak Kisah Bekantan

Sekali lagi Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) berkesempatan mengenalkan Bekantan ke…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:13

Perlu Gila dalam Dosis yang Cukup

Ruang Kreatif menggelar road show. Kemarin (20/8) sore di Gedung…

Rabu, 21 Agustus 2019 09:01

Semua Gembira dapat Buku Kalsel Cerdas

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor kembali turun ke desa-desa…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Bendera Negara Lain di HUT RI, Begitu Didatangi Ternyata Cuma Kakek Pasang Umbul-Umbul

Gara-gara pasang bendera yang ada warna biru-nya, sebuah rumah di…

Senin, 19 Agustus 2019 12:27

Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota…

Senin, 19 Agustus 2019 10:25

Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati…

Minggu, 18 Agustus 2019 10:05

Melihat Aksi Ibu-Ibu Meriahkan HUT Kemerdekaan: Setahun Sekali, Buat Apa Malu

Memperingati HUT Kemerdekaan RI, berbagai lomba digelar di kompleks-kompleks perumahan.Peserta…

Jumat, 16 Agustus 2019 14:09

Persiapan Upacara Bendera di Bawah Laut di Pulau Kerayaan Kotabaru

Memang di level nasional. Upacara pengibaran bendera merah putih di…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:30

Peneliti Banjarbaru Uji Kandungan Akar Bajakah yang Viral Sebagai Anti Kanker

Doktor Eko sempat kaget. Tumbuhan yang pernah ia uji di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*