MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Kamis, 18 Juli 2019 08:57
Limbah Mendidih Perusahaan Sawit Bocor, Cemari Sungai di Pulau Laut Timur
CEMARI LINGKUNGAN: Asisten Kepala Perusahaan Sawit BSS, Salahuddin, memperhatikan limbah pabrik di sungai desa. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMNASIN

PROKAL.CO, KOTABARU - Semburan limbah sawit panas meresahkan warga Desa Gunung Aru, Pulau Laut Timur. Limbah buangan dari sebuah perusahaan sawit ini mencemari sungai dan mengancam lingkungan sekitar.

Selasa (16/7) petang tadi, Hafidz Halim, seorang aktivis lingkungan menemukan semburan limbah panas persis di belakang pabrik, di atas anak sungai. Saat itu dia sedang mengecek kebenaran kabar dari warga desa.

Begitu melihat kondisinya, Halim mendadak cemas. Dia teringat kejadian yang sama beberapa tahun silam. Saat itu ikan-ikan juga mendadak mati yang diduga karena keracunan air pembuangan dari perusahaan sawit.

Perusahaan sawit di Kecamatan Pulau Laut Timur, adalah BSS yang merupakan grup Minamas. Halim dua tahun silam berhasil membongkar kasus gatal-gatal yang mendera warga di sana karena terkena limbah kelapa sawit yang meracuni sungai.

Bagi warga Desa Gunung Aru dan Pulau Laut Timur secara umum, sungai adalah denyut nadi perekonomian. Hamparan sawah menggunakan sungai sebagai pengairan. Kecamatan ini dikenal penghasil ikan air tawar terbanyak di Pulau Laut.

Halim sendiri segera mengontak rekan-rekannya. Selasa (16/7) pagi tadi, mereka menelisik ke lapangan. Benarlah, mereka menemukan anak sungai penuh tumpukan kotoran berwarna hitam.

Radar Banjarmasin juga memantau ke lokasi. Sekitar satu kilometer dari pabrik sawit, Halim bersama tiga orang rekannya berdiri di tepi kali, menunjuk endapan air berwarna hitam. Baunya memang menyengat. Seperti mencekik tenggorokan. "Aku menduga ini dari kolam dekat pabrik itu," kata Halim.

Tidak lama kemudian, datang seorang pria memakai helm putih. Berbaju pekerja. Rupanya Halim meneleponnya untuk datang. "Bisa gak pimpinan perusahaan ke sini. Biar dia lihat," pinta Halim kepada pria yang ternyata Asisten Kepala Salahuddin.

Asisten Kepala bertubuh kurus itu mengatakan, pimpinan sudah dihubungi. Namun ada kesibukan di kantor. Halim lantas mengajaknya sama-sama mencari sumber limbah yang mencemari sungai.

Halim mengarahkan rekan-rekannya ke belakang pabrik. Tahun lalu katanya, air di kolam limbah sempat meluber ke luar. Dia menduga kejadian yang sama terulang kembali kali ini.

Memakai roda dua, termasuk Salahuddin berkendara ke belakang pabrik. Kendaraan ditaruh di tepi jalan. Sekitar 150 meter dari pabrik, kontur tanah berbentuk tebing. Di bawah tebing sebuah anak sungai. Airnya hitam. Tanah di pinggirnya juga dinodai semacam cairan hitam yang mengental. Air menyembur ke atas terlihat berasap. Mengeluarkan suara menggelegak. Semburan itu persis dari dalam sungai.

Ternyata ada pipa melintas dari pabrik ke kolam yang ditanam di dalam tanah dan membentang ujung lainnya ke dalam sungai. Diduga, perusahaan membuang limbahnya ke sungai desa.

Salahudin sendiri membantah tuduhan itu. Dia mengaku tidak mengetahuinya. Dia segera menelepon pekerja di pabrik dan meminta keran limbah ditutup.

Magrib lewat, Salahuddin pamit salat. Halim dan kawan-kawannya menjelajah sekitar kolam. Mereka mencari dari mana asal limbah itu. Apakah semata-mata dari pabrik atau malah air di kolam atas turun lagi.

"Pokoknya kami bermalam di sini. Sampai pimpinan perusahaan turun lihat sendiri. Kalau wartawan mau pulang silakan, kami kasih kabar perkembangannya," kata Halim.

Bulan terang. Pabrik menyala terang. Tiang-tiang listrik dengan cahaya lampu menyinari jalan-jalan utama pabrik kelapa sawit terbesar di Pulau Laut itu. Pemandangan di perumahan karyawan malam itu terkesan syahdu. Berada di ketinggian. Langit luas. Anak-anak ke warung berbelanja, mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Halim dan rekan-rekannya masih di sana. Memutar film laga di laptop. Masih menunggu pimpinan perusahaan datang untuk menjelaskan asal limbah.

Tidak lama datang Salahuddin. Dia memantau pancuran limbah mendidih di sungai. Menurutnya, katup-katup limbah pabrik sudah ditutup usai Magrib. Namun saat itu limbah mendidih masih ke luar. Salah seorang pekerja perusahaan mengorek ke dalam sungai dan mendapatkan pipa pembuangan.

Ternyata di dalam sungai itu ada sambungan pipa. Salahuddin menduga, di bagian sambungan ada yang rusak. Cangkul kemudian diselipkan ke celah sambungan itu. Air limbah berhenti memancar.

Ketika para pekerja ingin lebih jauh menggali sekitar pipa, warga dan Halim meminta itu dihentikan. Mereka meminta pimpinan perusahaan di pabrik hadir dan melihat langsung kondisi ini. Pekerja sesaat terlihat ragu. Namun akhirnya memilih pergi, Kecuali Salahuddin.

Tidak lama kemudian, air limbah tiba-tiba mengalir kembali. Lebih deras. Semburannya lebih tinggi dua kali lipat.

Salahuddin kemudian menelepon ke pabrik sawit. Menanyakan apa yang terjadi. Ternyata pintu limbah kembali dibuka. Alasannya memastikan, bahwa air itu dari pabrik, bukan dari kolam.

Warga pun protes keras. Menurut mereka tindakan itu menambah kandungan limbah yang mengalir ke sungai. Mereka juga protes kenapa pimpinan perusahaan belum datang. Salahuddin pun balik kanan, akunya mau ke kantor, dan berjanji berusaha pimpinan mau ke lapangan.

Saat itu terdengar bunyi air mengalir dari atas. Rupanya ada aliran bersih dari pabrik ke sungai. Warga yang melihat menduga, itu dilakukan perusahaan untuk membersihkan sungai. Warga sendiri terus menunggu hingga pukul 12 malam.

Rabu (17/7) siang kemarin, Halim mengabarkan Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru turun ke lapangan. Juga ada polisi. "Besok (hari ini) pengambilan sampel (air sungai) lagi," ujarnya.

Kepala Dinas LH Kotabaru Arif Fadillah belum memberikan keterangan terkait masalah dugaan limbah itu. Humas Minamas Group di Jakarta, Clara dihubungi mengatakan mereka sedang memeriksa di lapangan. Clara menambahkan, akan segera memberi kabar jika sudah dapat kronologi kejadian. (zal/ran/ema)

loading...
BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 10:28

Jabatan Berakhir, Mobil Dinas Anggota Dewan Ditarik

BANJARMASIN - Masa jabatan anggota DPRD Kalsel akan berakhir. Semua…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:15

Banjarmasin Segera Punya Bus Trans, Target Beroperasi: Tahun 2020

BANJARMASIN – Bus Trans Banjarmasin mulai diwujudkan. Namun, bertahap. Dinas…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:49
SMK PP Negeri Banjarbaru

PWMP 2019, SMKPP N Banjarbaru Bentuk 15 Kelompok Baru

Banjarbaru - Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) SMK-PP Negeri…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:29

Demo Mahasiswa UIN: Ini Universitas, Bukan Pasar!

BANJARMASIN – Demo dilakukan puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN)…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:27

Putar Balik Makin Jauh, U-Turn VDP dan PJR Bakal Ditutup

BANJARBARU - Arus lalu lintas (lalin) di Kota Banjarbaru kian…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:18

Disdik Cari Lahan 3 Hektare, Untuk SMP di Sungai Besar

BANJARBARU – Kebutuhan adanya SMP negeri di wilayah Kelurahan Sungai…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:15
Pemko Banjarbaru

Gelar Forum Konsultasi Publik untuk Evaluasi Pelayanan

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru H Nadjmi Adhani, Kamis (22/8) tadi…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:10
Pemkab Tanah Bumbu

Pererat Persaudaraan Antar Kader PKK

BATULICIN - Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-74 Tahun 2019,…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:08
Pemkab Tanah Bumbu

WBK dan WBBM Bukan Sekadar Seremoni

BATULICIN - Sebagaimana usulan yang sudah ditetapkan Kemenpan RB, ada…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:03

Hadiah Lomba HUT RI Dibagikan

BATULICIN - Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tanah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*